
Saran dari seorang pengawal yang menyuruh mereka untuk membagi kelompok itu di anggap ide yang bagus. Pada akhirnya mereka mengikuti ide itu dan membagi sesuai dengan anjuran dari lengawal itu, sebagian naik keatas bersama beberapa polisi dan sebagian tunggu di bawah.
Untuk menjaga-jaga jika tiba-tiba terjadi sesuatu atau jebakan mereka bisa melumpuhkan mereka sekarang semua kamar sudah di periksa tinggal satu lagi yang belum. Tapi nona Hawari belum ketemu juga membuat nyonya Ziya tidak berhenti menangis memanggil nama putrynya.
Nyonya Ziya sejak dari rumah sampai lokasih tidak henti-hentinya menangais, sedangkan Dava tidak ikut karena tidak di ijinkan oleh Tuan Adinata jadi Dava di rumah tinggal bersama dengan susternya.
"Tuan naaf, semua kamar sudah kami periksa tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan nona Hawari didalam Tuan, sekarang tinggal satu ruang yang satu-satunya harapan kita lebih baik kita buka bersama, kemungkinan besar harapan ini kalau nona Hawari ada didalam masih dalam keadaan sehat Tuan" lapor seorang pengawal sekalian berikan harapan untuk Tuan dan nyonyanya.
Mereka semua bergegas kekamar itu kebetulan pintu kamar itu sudah agak lapuk jadi tidak susa-susa untuk mendobraknya. Lagian itu gedung tua jadi didalam juga agak sedikit bauh apek.
"Tuan biar saya yang membuka pintunya " Tuaj Adinata yang hendak mendobrak pintu itu langsung di cegah oleh seorang pengawal, pengawal itu gegas mendekati pintu kamar semua mata tertuju kepada kamar itu. Semua orang yang ada disitu tidak ada yang bersuara karena mereka juga tegang Tuan Adinata juga sudah siap mental jika benar putrynya ada didalam tapi kemungkinan sudah tidak beryawa ia harus kuat.
Brak....brak...!
Dua kali tendangan saja pintu langsung terbuka lebar, namun betapa syoknya semua orang yang ada disitu mendapati Hawari tergeletak di lantai dengan pakian yang sudah tidak beraturan dan luka lembam di sekujur tubuhnya bahakan sudah tidak bernyawa.
Nyonya Ziya yang melihat jazad putry nya langsung histeris dan menerobos masuk kedalam, nyonya Ziya tidak perdul bauh amis dan darah yang bercecer dimana-mana tapi rangsung merangkul tubuh putrynya yang sudah kakuh.
"Hawari......sayang bangun nak...bangun sudah tiga hari kamu tidak pulang ke rumah ibu sangat kuwatir sayang...bagun sayang.....siapa yang melakukan ini terhadap kamu bagun dan ceritakan kepada ibu dan ayah biar kita cari pelaku sama-sama... Bagun nak...dari kemarin ibu menunggumu nak kamu kemana aja, kamau pamit sama ibu dan ayah bahkan adikmu kalau kamu pergi sekolah kenapa kamu disini Hawari.....bagung"
"Ibu bersumpah...tidak akan mengampuni manusia berhati iblis yang sudah berani memperlakukan putry saya seperti ini..terkutuklah kalian semua kalian tidak akan punya turunan sampai selamanya
__ADS_1
Nyonya Ziya menangis sejadi-jadinya sambil memeluk jazad anaknya yang sudah kaku Tuan Adinata berdiri di samping istri dan anaknya dengan seluruh badannya bergetar hebat.
Walaupun tidak keluar suara tapi air mata Tuan Adinata mengalir dengan sendiriknya, hati ayah mana yang tidak hancur melihat putrynya terbujur kaku di lantai dengan luka penuhi tubuhnya.
Semenjak saat itu Tuan Adinata bertekad untuk menjadi orang yang dingin jahat.
"Argr....bajingan.....saya bersumpah demi nyawa saya...siapapun yang sudah melakukan hal keji ini terhadap putry saya, saya bersumpah saya akan menumpas dan membinasakan kalian tanpa tersisa dari keturunan kalian" itu adalah Sumpah Tuan Adinata terlihat jelas guratan kebencian terpancar di di wajahnya namun tanpa mereka sadari diantara semua orang yang hadir ada seseorang yang tersenyum sinis menatap ke arah Tuan Adinata dan nyonya Ziya.
"Erik tolong berikan kain yang kita bawah tadi dan balutkan ke tubuh putry saya." Tuan Adinata memerintahkan pak Erik untuk membawah kainnya.
Pak Erik Juga melakukan sesuai dengan perintah dari Tuan Adinata, setelah semua selesai Tuan Adinata dengan rasa sakit hati yang amat dalam ia mengendong jazad anaknya dan membawah ke mobil.
Kejadian itu benar-benar ditutup dengan rapat-rapat sampai Hawari selesai di makamkan, namun belum tiga hari Hawari meninggal paman Admaja tiba-tiba menghilang sedangkan Tuan Adinata mengetahui jika beberapa orang suruhan seseorang yang melakukan itu terhadap Hawari. Sehingga Tuan Adinata membunuh semua orang itu bersama dengan semua keluarganya.
Namun sampai sekarang paman Admaja belum di ketahui dimana keberadaannya. Hanya saja waktu Tuan Adinata membantai keluarga pelaku seorang pelaku sempat mengatakan jika orang yang membayar mereka adalah orang yang ingin menguasai semua harta benda Tuan Adinata. Dan bisa jadi suatu saat dia akan kembali.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian dan siapa bos kalian, jika kalian tidak mau beritahu berarti bukan hanya kalian yang mati tapi juga semua keluarga kalian yang ikut mati, kalian harus bertanggung jawab dengan perbuatan kalian"
"Bajingan jangan cobak-coba menyentuh keluarga saya, saya yang bersalah jadi jika anda mau bunuh saya silakan tapi jangan anda apa-apain keluarga saya mereka tidak tahu apa-apa."
"Glek...." belum selesai pria itu bicara kepalanya sudah pisah dengan tubuhnya bukan hanya pria itu tapi keluarga dan semua sanak saudaranya di tumpas oleh keluarga Adinata.
__ADS_1
Semua orang yang melakukan hal keji terhadap Hawari itu sekitar lima orang tapi sayangnya satu lolos hanya keluarganya saja yang di tumpas oleh Tuan Adinata, namun dari antara keempat orang yang meninggal itu seseorang yang berani membuka mulut yang mengatakan jika orang yang menyuruh mereka adalah orang yang masih ada ikatan dengan keluarga Adinata.
Semenjak kepergian Hawari membuat nyonya Ziya drop sering memanggil-manggil nama putrynya dan sempat di rawat di rumah sakit karena sempat juga depresi karena masih syok dengan apa yang menimpah putry kesayangannya.
"Putry ibu....pulanglah nak Ibu menunggumu di rumah jangan pergi tinggalkan ibu. Ibu sangat menyayangimu jangan nenyiksa ibu jangan bandel nak, cepat pulang jangan sampai ibu marah sama kamu ya nak cepat pulang, nanti ibu yang antar kamu sekolah."
Tuan Adinata yang melihat kondisi istrinya semakin hari semakin memburuk akhirnya Tuan Adinata membawa nyonya Ziya ke psikolok untuk mengobati istrinya. Karena bukan hanya nyonya Ziya tapi juga Dava, Dava juga trauma melihat kakaknya.
Dava sudah mengerti karena umurnya sudah sepuluh tahun. Karena nyonya Ziya di bawah terus ke psikolok akhirnya kembali sehat seperti sedia kala.
Jadi seiring berjalannya waktu nyonya Ziya kembali pulih hanya saja nyonya Ziya tidak mau ada yang menyebut Nama putrinya lagi takutnya kembali syok. Bukannya ingin melupakan tapi pada saat nyonya Ziya mendengar nama itu ia mengingat kembali perlakuan sadis terjadi pada putrynya
Begitu juga dengan Dava, apalagi kakaknya sangat baik dan juga sangat menyayanginya jadi Dava juga syok berat saat itu membuat Tuan Adinata hampir putus asa menghadapi kondisi keluarganya.
Dava sampai sakit dan sempat tidak mau bicara dengan siapapun karena menurut Dava semua manusia itu jahat buktinya kakak kesayangannya dibunuh oleh orang yang tidak punya hati nurani. Dava juga sempat tidak mau dekat dengan siapapun selain orang tuanya dan pak Erik selain dari pada itu Dava tidak mau mendekati mereka.
Sehingga itu juga yang membuat Tuan Adinata dan nyonya Ziya sedikit posesif terhadap Dava. Dan mereka juga tidak mau memperkenalkan Dava ke publik karena mereka masih takut nanti musu kembali datang dan mengincar Dava lagi.
Tapi sekarang Dava sudah dewasa dan sudah bisa melindungi dirinya sendiri bahkan pengawalan juga sangat ketat karena Tuan Adinata tidak mau apa yang sudah menimpah putrynya kembali menimpah putranya, jadi saatnya perkenalkam ke publik karena Tuan Adinata sudah siap untuk kembalu menghadapi musu.
Bahkan Tuan Adinata berharap kali ini mereka harus tahu siapa bosnya. Kalau sudah dapat tidak perlu lapor polisi biar mereka sendiri yang menyiksa dan membunuhnya perlahan di dalam penjara bawah tanah. dan pelaku menanggung apa yang sudah dia perbuat Tuan Adinata juga pengen tahu motif dalam pembunuhan putrynya.
__ADS_1