Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
116


__ADS_3

Bu Anjani merasa kalau sekarang tidak ada satupun di rumah itu menghargainya karena ini baru pertama kali keluarga Winata tidak sarapan bersama jadi bu Anjani merasa frustasi dengan kondisi kehidupan keluarganya saat ini, bu Anjani merasa semenjak suami dan anak bungsunnya tidak tinggal lagi di kediaman keluarga Winata semuanya beruba drastis.


Tidak ada canda tawa tidak ada kehangatan dan keharmonisan dirumah itu apa lagi sekarang di tambah lagi anak dan menantunya tidak ada seorangpun yang menghargainya saat ini bu Anjani merasa sendiri dan kesepian karena anak-anaknya sudah tidak rama seperti dulu lagi. Justru sekarang anak dan menantunya berbalik menyerangnya.


"Apakah perubahan terjadi terhadapa Lexza dan Dea karena efek dari tidak ada mas Evan di rumah apakah perbuatan aku menyingkirkan mas Evan dari dunia adalah kesalahan besar, yang aku lakukan jadi aku akan mendapatkan karena atas perbuatan aku tapi tidak mungkin aku tidak percaya dengan yang namanya karma, karma itu tidak berlaku untukku mungkin ini semua terjadi karena ulah anak kurang ajar itu sudah menghasut Dea dan Lexza aku harus temui dia nanti biar aku kasih pelajar kepadanya, tapi aku harus cari dia dimana ya aku tidak tahu dia tinggal di kolom jembatan bagian mana, ini semua pasti ulah dia yakin aku"


"Aku harus cari tahu dia tinggal di tempat kumu mana biar aku datangi kurang ajar betul anak itu berani-beraninya dia menghasut Dea awas aja kamu."


Pergilah Cari Dinda biar dia menghajarmu bu Anjani apalagi saat ini Dinda lagi emosi


Bu Anjani kaget dari lamunannya dan menatap Maya yang masih setia berdiri disitu membuat mata bu Anjanu melotot hampir mau keluar.


"Hey pembantu ngapain kau masih berdiri disitu heran ya bisa-bisanya kamu lihat Lexza pergi tapi gak bilang sama saya" bentak Anjani membuat Maya kanget.


"Ma..maaf Nya saya pikir nyonya sudah diberitahu"

__ADS_1


"Pergi sana saya tidak butuh cerama murahanmu" bentak bu Anjani mengusir Maya.


Maya gegas pergi meninggalkan bu Anjani masih setia duduk dimeja makan dan terpaksa pagi ini Anjani sarapan sendiri.


"Ternyata kalau sarapan sendiri begini rasanya tidak enak, tapi mau bagaimana lagi semua sudah pada pergi sekarang tidak ada harga diri aku lagi di mata mereka"


Setelah selesai makan bu Anjani bangkit dari duduknya dan gegas keluar dari rumah dengan hati yang gunda gulana, ia masih memikirkan perubaham terjadi pada kedua anak dan menantunya yang sekarang tidak menghormatinya sama sekali.


Bu Anjani sedih bercampur kecewa pengen memarahi anak-anaknya tapi justru kalau bu Anjani marah bukannya kondisi makin membaik tapi justru makin memburuk. Itu yang membuat bu Anjani kembali berpikir untuk berbicara keras dengan kedua anaknya.


"Jangan sampai Dea mengambil semuanya lebih baik secepatnya aku membalikan nama mas Evan dan Dea atas nama saya saja supaya saat Dea keluar dari rumah ini dia tidak membawah apa-apa sedangkan semua bisnis milik aku dan Lexza, masa Lexza sudah dari kecil di anggap anak kandung sama mas Evan tapi pas pembangian hak waris Lexza tidak dapat apa-apa.


Saat ini bu Anjani menuju ke kantor untuk menangani semua kakacauan yang terjadi saat ini karena kalau di diamin justru itu akan mengakibatkan perusahaan benar-benar gulung tikar, dan perusahaan Adinata grup akan akuisisi perusahaan Winata grup mana mau bu Anjani yang gila harta itu dia tidak akan mau jatuh miskin jadi apapun yang dia lakukan agar perusahaan kembali normal seperti biasa tapi itu tidak akan mungkin, karena memang sekarang perusahaan benar-benar sudah bangkrut.


"Aku harus minta tolong sama Tuan Adinata untuk membantuku apalagi kami sudah kerja sama jadi pasti dia mau membantuku, tapi aku minta agar aku tetap menjadi pemimpim di perusahaan Winata grup apalagi sampai sekarang belum ada meeting direksi untuk memilih pemimpin baru di perusahaan Winata grup jadi pasti semua direksi akan memilih aku."

__ADS_1


"Aku tidak boleh nyerah aku harus tunjukan kepada mereka semua kalau aku yang pantas jadi pemimpin di perusahaan Winata grup, enak saja itu perusahaan suami saya masa orang lain yang jadi pemimpin terus semua usahaku selama ini sampai melakukan kejahatan terhadap suamiku demi memenuhi keinginanku sia-sia begitu enak saja."


Sedangkan di tempat lain Dea dalam perjalanan menuju ke restoram yang sudah di tentukan oleh Dava dan Dinda jadi Dea tidak sibuk untuk mencari tempat lagi.


Dea yang melihat rekomendasi restoran dari Dinda terkejut karena restoran terbaik di negara ini makanya Dea bertanya-tanya dalam hati siapa Dava sebenarnya apakah Dava itu sebenarnya anak orang kaya tapi ia menutupi indentitasnya.


"Wah...restoran bintang lima benar-benar deh Dinda dan Dava setelah Dinda keluar dari rumah hidupnya sangat bahagia aku bersyukur dia tidak menderita lagi karena dia mendapatkan suami yang sangat menyayanginya, aku tidak perlu mencari tahu dari mana mereka mendapatkan uang untuk mereka bertahan hidup tapi aku yakin Dava sebenarnya bukan orang sembarangan tapi dia sengaja menyembunyikan identitasnya untuk menguji kesetiaan Dinda dan dia mau melihat apakah keluarga Dinda menerimanya dengan tulus atau tidak."


"Ya Tuhan berikan kebahagiaan kepada adikku karena sudah sekian lama dia menderita oleh kelakuan ibu, biarkan dia memiliki kehidupan yang baik dan suaminya tetap menyayanginya sampai maut memisahkan mereka, hanya itu doaku Tuhan ampuni dosa dan salahku juga yang sudah menyakiti hatinya. Tapi sejujurnya aku juga sakit saat melakukan semua itu aku yakin engkau tahu isi hatiku Tuhan yang tulus terhadapa adikku."


Dea menuju ke restoran bintang lima Dea rencana nanti dia yang akan mentraktir Dinda dan Dava makan sebagai permintaan maafnya terhadap mereka berdua. Tapi yang jelas itu tidak mungkin terjadi karena restoran itu adalah milik keluarga Adinata jadi mana mungkin mereka bayar justru makan gratis.


sesampainya Dea di parkiran restoran Dea keluar dari mobil dan masuk kedalam restoran Dea sempat membuang pandangan kesekeliling tapi tidak menemukan orang yang ia cari, akhirnya Dea membuka hpnya dan ingin menghubungi Dinda namun belum sempat Dea hubungi ada sebuah tangan kecil dan mulus menepuk pundaknya dengan lembut.


Membuat Dea kanget dan menoleh sambil membulatkan matanya

__ADS_1


__ADS_2