Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
389


__ADS_3

Gama menatap ku sambil menunjukan layar hpnya ke arahku tenyata yang telpon Ririn, hari ini ketiga orang ini telpon tidak karuan apalagi Ririn orangnya jarang telpon Gama jika tidak ada hal penting. Tapi entah kenapa perasaan ku tidak enak tiba-tiba pikiranku tertujuh kepada ibu apa terjadi sesuatu sama ibu makanya Dinda dan Ririn telpon.


"Kakak bagaimana ini Ririn yang telpon, kakak tahu sendiri bukan kalau Ririn paling tidak suka menelpon ku kalau tidak ada masalah darurat, atau mereka sudah tahu kakak kalau paman masuk rumah sakit sekarang kakak diam ya biar Gama angkat telpon dari Ririn." ujar Gama.


Aku hanya mengangguk dan membiarkan Gama mengangkat telpon dari Ririn tapi semua pembicaraan Gama dan Ririn aku dengar. Aku juga penasaran ada info penting apa sehingga mereka telpon terus dari tadi.


"Hallo kakak Gama, kakak kemana sih di telpon dari tadi bukannya di angkat. Kemana paman dan kakak Dava semua pengawal kok di telpon tidak ada satu pun yang angkat, hanya paman yang tidak Ririn telpon karena Ririn takut paman kenapa-kenapa " ujar Ririn baru juga di angkat Gama langsung dapat ceramah dari Ririn.


"Iya Rin ada apa memangnya ? Kenapa kamu telpon marah-marah sih kita kan lagi sibuk bukankah kamu tahu kalau kita lagi di hutan, ya pastilah telpon kamu tidak di angkat orang lagi berperang, ada apa sebenarnya bilang aja, baru di angkat telpon aja sudah ngomel aja " ujar Gama setenang mungkin.


"I...ini kakak...bibi kakak, bibi tiba-tiba pingsan dan sekarang Ririn dan kakak Dinda terus kakak Dea lagi di rumah sakit jangain bibi, tidak tahu kenapa bibi jatuh dari sofa sambil memengang dadanya setelah itu pingsan, cepatlah pulang ke rumah sakit tolong jangan beritahu paman dulu." Ujar Riri.


"Deg ibu pingsan"!

__ADS_1


"Apa.....bibi pingsan kok bisa Rin? Memangnya sebelum bibi pingsan bibi ngapain?" sentak Gama terkejut mendengar penjelasan dari Ririn, mendengar ibu masuk rumah sakit jantungku berdegup begitu kencang. Sekuat itukah ikatan batin antara ayah dan ibu sampai ayah yang kena tikam ibu juga yang merasakannya, padahal ibu belum sembuh total.


"Ririn juga tidak tahu kakak karena Ririn ke kantor, jadi Ririn di telpon sama kakak Dinda saat Ririn datang bibi sudah masuk ruangan, mami dirumah kalau papi ke kantor jadi sekarang kakak bibi masuk rumah sakit, Ririn juga tidak tahu penyebabnya dari tadi Ririn telpon kakak Dava pakek hp bibi tapi justru tidak di angkat, kakak Dinda juga telpon kakak Dava tapi sama saja tidak ada respon apakah ada kakak Dava disitu kakak Gama? Tolong beritahu kakak Dava segerah pulang." Ujar Ririn.


Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini pikiranku makin kacau, aku harus mengurus ayah secepatnya untuk di bawah ke rumah sakit keluarga Adinata saja agar bisa satu rumah sakit dengan ibu, ya Allah kenapa masalah datang silih berganti tidak ada hari tanpa masalah, padahal aku agak bernapas lega karena semua penjahat sudah kami singkirkan tapi kenapa masalah sebesar ini kembali datang menghampiri keluarga besar ku, ayah saja belum selesai di operasi.


Aku berpikir jika kita memiliki banyak kekayaan hidup kita tenang dan bahagia tapi ternyata aku salah. Justru semakin banyak kekayaan yang kita miliki banyak juga masalah datang menghampiri kita, ternyata lebih enak hidup sederhana dan apa adanya tapi hidup kita tenang dan aman dari pada punya banyak kekayaan tapi nyawah taruhan.


"Iya Rin matikan saja nanti kakak bicara dengan kakak Dava, bagaimana nanti kami cepat pulang tolong bilang kakak ipar tetap tenang ya jangan panik semua akan baik-baik saja. Jangan lupa selalu kasih kabar soal perkembangan bibi ya Rin kalau semua sudah selesai kami segerah pulang." Ujar Gama langsung mengakhiri panggilannya dengan Ririn.


Aku tidak menangapi pertanyaan dari Gama karena jujur pikiran ku saat ini sangat kalut, entah mikirin kondisi ayah atau ibu yang sama-sama di rawat di rumah sakit yang berbedah dan sama-sama penting bagiku aku tidak bisa meninggalkan ayah sendirian disini sedangkan aku juga pengen ada di samping ibu.


"Tuan muda Gama, Tuan muda Dava tolong tenangkan pikiran dulu pervayalah sama dokter pasti dokter melakukan yang terbaik, kita tunggu hasil dari dokter kalau nanti kondisi Tuan besar agak stabil setelah operasi kita langsung keluar dari rumah sakit ini dan kembali ke rumah sakit keluarga Tuan muda. Soalnya saya juga merasa Tuan besar tidak mungkin lama-lama di rawat di sini secepatnya harus rujuk" ujar asisten Arfan.

__ADS_1


Badanku sangat lemas rasanya tulang-tulang sendi ku mau lepas, pikiranku saat ini kacau sekarang ayah masih disini sedangkan ibu juga sangat membutuhkan kami jadi harus bagaimana, apakah aku harus pulang dan biarkan ayah disini aku juga tidak tega, tidak! Aku pulang harus dengan ayah apapun yang terjadi aku tidak mau ayah tinggal disini.


Saat aku termenungg datang rombongan yang baru tiba dari hutan, ternyata ketua Heri dan anak buahnya juga ikut bersama sehingga rumah sakit di penuh banyak orang, ayah mertua dan Rafa juga turut hadir dan langsung memeluk ku bersama ayah mertua.


"Nak bagaimana dengan kondisi besan apa kata dokter" tanya ayah, rasanya aku mendapatkan sandaran yang kuat akhirnya pertahanan aku runtuh, air mata ini tidak bisa ku tahan lagi aku tidak peduli dengan wibawah ku di depan para pengawal karena aku rasa beban di pundak ini sangatlah berat.


"Ayah...saat ini ayah Adinata masih di tangani oleh dokter masih menjalani operasi rasanya Dava tidak kuat menghadapi ini semua ayah, saat ini ibu juga masuk IGD jadi Dinda lagi di rumah sakit juga, Dava hanya menunggu ayah selesai operasi langsung rujuk saja ayah" ujarku


Ayah mertua terkejut mendengar kalau ibu juga saat ini lagi di rumah sakit, pasti ayah mertua juga tidak menyangkah hal itu terjadi.


"Loh kok bisa nak, memangnya besan perempuan sakit apa sehingga masuk rumah sakit, tunggu ayah telpon ibu Riska untuk ke rumah sakit kasian Dinda sendirian disana kita belum bisa pulang kalau besan belum selesai operasi."


"Tidak perlu telpon ibu Riska ayah karena sekarang yang menjaga di rumah sakit Dinda, Ririn dengan kakak Dea tadi Ririn kembali wa Gama katanya Elsa juga mau ke rumah sakit sama bibi, jadi mereka sudah banyak. Karena nanti secepatnya ayah harus keluar dari sini " ujarku

__ADS_1


"Sabar ya nak, percayalah setelah besam sembuj semua kembali bahagia karena tidak ada polemik lagi mungkin ini cobaan terakhir untuk menguji kamu nak, kita sama-sama berdoa saja ya nak semoga besan secepatnya sadar." ujar ayah mertua.


__ADS_2