
Mas Tahir, lucu bukannya selama ini mas Tahir sudah tahu sifat asli ibu Anjani, kenapa bicara begitu tapi memang aku tidak salahkan mas tahir juga karena mas Tahir belum lihat bukti makanya bisa bicara begitu.
"Nak karena kamu belum lihat buktinya makanya kamu tidak percaya tapi ayah tidak perlu jelasin sama kamu nanti kamu juga akan tahu jika sudah waktunya. Hanya saja pesan ayah kalian hati-hati karena wanita itu jahat jadi pasti dia merencanakan sesuatu terhadap kalian berdua apalagi kalian berdua masih tinggal disana.
Tapi kalian berdua tenang saja sebentar lagi perempuan itu akan angkat kaki dari rumah itu dengan anak perempuannya dan suaminya. Kalau mereka tidak mau biarkan mereka tinggal di rumah sebagai pelayan dan semua pelayan yang ada di rumah pecat semua. Ayah mau lihat seperti apa kehidupan mereka setelah mereka terusir dari rumah dan tidak punya apa-apalagi, ayah juga mau berikan pelajaran kepada perempuan itu.
"Tapi ayah selepas dari masalah apapun itu, Tahir tetap di pihak ayah karena selama ayah tidak di rumah Tahir tahu betapa liciknya ibu. Tahir sampai heran kenapa ibu bisa setengah itu ingin menghabisi ayah, dan kenapa selama ini ayah tidak beritahu Tahir biar bisa membantu ayah, dan kalau soal ayah bilang biarkan ibu anjani menjadi pelayan di rumah itu ideh bagus juga tapi jangan sampai lah ayah."
Dari tadi kami ngobrol aku selalu perhatikan mata tante Riska yang selalu mencuri pandang dengan ayah mertua...wah...bisa di jomblangin nih, apalagi ayah mertua adalah ayah yang sangat baik jadi kalau ayah mertua nikah dengan tante Riska aku orang yang pertama setujuh karena suaminya tante Riska sudah meninggal juga karena sakit.
Ternyata bukan hanya tante Riska yang curi pandang, tapi ayah mertua juga dari tadi bicara sama kami tapi sesekali lirikan matanya ke arah tante Riska, padahal bukannya duduk berjauhan kami semua duduk mengellilingi meja di tengah.
"Besan maaf selama ini saya tidak perna datang kesini bukan karena saya tidak mau, hanya saja saya masih menghindari orang-orang yang ingin menghabisi nyawa saya, tapi sekarang saya sudah menyiapkan semuanya dan saya akan menghadapi mereka." Ujar ayah mertua.
"Tidak masalah besan saya maklumi dan sekarang besan datang kesini saja ini suatu kebahagiaan buat kami sekeluarga, putry kami Dinda bahagia sudah cukup" jawab ayah.
__ADS_1
Ayah beralih menatap Rafa dan tante Riska untuk memperkenalkan ayah kepada mereka.
"Riska, Rafa. Ini Tuan Winata ayah kandungnya Dinda dan Dea ujar ayah membuat tante Riska membulatkan matanya dengan sempurna apakah tante Riska belum mengenal ayah mertua?"
"Iya om Rafa kenal walaupun hanya lihat fotonya saja, tapi sekarang Rafa sudah ketemu langsung dengan orangnya, ternyata Tuan Winata gantengan yang asli dari pada difoto hehehe" ujar Rafa mengundang tawa.
"Ah...masa sih nak, sepertinya kamu salah lihat deh...jelekan yang asli kali hehehe, oh ya, jangan panggil Tuan sama saya, panggil saya om kalau memang kamu mau dan ibu kamu yang cantik ini tidak keberatan boleh kamu manggil dengan sebutan ayah"
"Ayah......."? Jujur ngakak banget kami semua kompak sebut ayah membuat ayah mertua terbahak, apalagi aku lihat eskpresi wajah Dinda dan kakak Dea lucu sekali, padahal waktu itu ayah mertua juga menyuruh Gama memanggil ayah tapi tidak ada yang protes, justru semua menanggapinya biasa saja. Kenapa kali ini semua terkejut tapi bedah hal dengan tante Riska yang menunduk kepala sambil tersenyum pipinya merah merona kayak kepiting rebus saja.
"Loh kenapa semua terkejut begitu? memangnya salah kalau Rafa memanggil besan dengan sebutan ayah, menurut saya tidak masalah ya kan Riska?" pintah ayah aku tahu maksud ayah bertanya kepada tante Riska wah...ini ada bauh-bauh cinta di sini.
"Hahaha....kalian bertiga lucu ya, cocok kalian bertiga jadi suadara tahu, tidak! menurut ibu tidak masalah kalau besan pria mau di panggil ayah sama Rafa ya tidak, Riska? Lagian memanggil ayah itu bukannya berbayarkan gratis kok, tapi siapa tahu saja kedepannya Rafa dapat ayah baru mengantikan almarhum ayahnya kita tidak tahu, sudah balasan tahun juga Rafa tidak memanggil ayah" sambung ayah Adinata.
"Ya, tidak masalah mbak, mas Edy dan Tuan Winata kalau memang Rafa tidak keberatan saya tidak masalah. Yang penting Rafa nyaman memamggil begitu kenapa tidak" baru tante Riska buka suara.
__ADS_1
Kakak Dea dan Dinda saling pandang entah apa yang ada di pikiran meraka berdua, kalau mas Tahir Gama dan Ririn sejauh ini mereka bertiga masih diam bae.
"Ok baiklah kalau begitu Rafa panggil ayah saja tapi Rafa juga harus minta ijin dulu sama kakak Dea dan ipar , apakah boleh Rafa memanggil dengan sebutan itu kepada om Winata tidak keberatan"? Tanya Rafa.
"Tidak...tapi karena kami tidak punya saudara laki-laki jadi bagaimana kalau kamu jadi adik laki-laki dan kakak laki-laki bagi Dinda, kalau kamu mau kami langsung setuju tapi kalau kamu tidak mau kami berpikir dulu." ujar kakak Dea
Kali ini ayah dan ibu saling pandang sedangkan ayah Evan dan tante Riska langsung lirik, astaga ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ternyata bukan hanya aku yang mengiginkan ayah mertua dan tante Riska berjodoh, tapi semua bahkan Dinda dan kakak Dea juga senang, ini pertama kalinya aku tahu kalau tante Riska bisa jatuh cinta dengan seorang pria karena pandangan pertama.
Kami semua masih menunggu jawaban dari Rafa, karena sampai sekarang Rafa belum menjawab mungkin masih mikir kali ya. Karena tidak kunjung jawab akhirnya Gama yang mulai jail keluarkan pendapatnya.
"Ya sudah kalau memang kakak Rafa tidak mau biar Gama saja jadi adiknya kakak Dea dan kakak ipar bagaimana, Gama juga tidak kalah tanpan loh dari kakak Rafa pokoknya tidak malu-maluinlah bisa dibawah kemana-mana" ujar Gama. Membuat semua orang ngakak.
"Enak saja kamu mau merebut posisiku jelas Rafa mau dong kakak, siapa yang tidak mau cobak punya kakak yang cantik dan adik yang cantik baik, dan sangat jago dalam bela diri."
__ADS_1
"Nah besan sudah dengarkan Rafa sudah mau mengakui kedua putryku juga menjadi saudarinya , jadi sekarang ada tugas untuk besan ambil hati ibunya juga biar sekalian" ujar Ayah.
Buahhh....semua orang terbahak-bahak sedangkan ayah mertua dan tante Riska hanya tersenyum simpul, lucu juga kalau melihat orang yang sudah berumur jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah kami ngobrol panjang lebar akhirnya makanan sebagaian sudah tersedia tapi sebagian sudah, kami masih menunggu sambil ngemil malam-malam.