Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
320


__ADS_3

Bu Anjani keluar dari gedung di ampit oleh dua orang petugas hendak membawah bu Anjani kedalam mobil, namun bu Anjani justru berhenti sejenak dan datang menghampiri kami semua, aku yakin pasti ada keributan lagi diluar, lagian bu Anjani juga tidak ada puas-puasnya menganggu ayah mertua.


Namun sebelum bu Anjani kembali membuka suara bibi Lya sudah terlebih dulu menyelah sehingga bu Anjani kembali diam. Memang dari tadi selama sidang berlangsung bibi Lya hanya diam saja tidak bicara apapun, tapi mungkin bibi Lya sudah muak melihat bu Anjani yang selalu memaksa untuk minta kembali rujuk dengan ayah mertua, hal itu membuat bibi Lya juga ikut marah.


"He...Anjani apa mungkin urat malu kamu sudah putus semua sehingga kamu lupa ngaca diri, kenapa sampai sekarang kamu tidak perna sadar juga ya, jujur aku benar-benar terkejut dan tidak percaya kalau ternyata selama ini kamu adalah perempuan yang paling licik yang aku kenal, dulu kamu adalah wanita terhormat kamu selalu merendahkan orang lain yang kamu anggap orang miskin tapi sekarang lihat dirimu, sudah seperti apa kehidupan kamu sekarang.


Kamu seperti gembel tidak berguna sama sekali kasian juga ya, kehidupan kamu yang dulu dari orang miskin jadi sekarang kembali seperti dulu, makanya kalau jadi orang jangan sombong sampai lupa daratan."


"Kamu harus ingat satu hal mikmatilah masa tahanan kamu selama kamu di dalam sel tahanan, ubah kehidupan kamu agar setelah kamu keluar dari sel hidup kamu pasti damai, tapi kalau kamu sudah masuk penjara tapi belum bertobat juga lebih baik kamu meninggal saja lebih baik.


Kamu harus tahu posisi kamu sekarang ini, jangan kamu masih belum sadar diri sehingga kamu pikir dirimu masih menikamati kekayaan mas Evan dan masih menyandang status nyonya Winata, sekarang kamu di luar jangkauan kamu bukan siapa-siapa lagi, kamu di ibaratkan kotoran jadi kalau sudah di buang tidak akan di punggut kembali, jadi kamu jangan harap untuk di punggut kembali dan dijadikan nyonya dirumah Winata karena sampai kapanpun itu tidak akan terjadi" ujar bibi Lya


"Hehehe.....siapa kamu berani menasihati aku, ingat kamu juga hanya menantu di rumah itu, bisa jadi sewaktu-waktu kamu juga akan mengalami nasib sama seperti aku juga hanya saja sekarang ini aku yang duluan dapat masalah, tapi tidak untuk hari besok jadi kamu jangan bangga, karena kamu juga menantu tidak berguna karena kamu tidak punya anak masih mendingan aku punya anak untuk mas Evan." ujar bu Anjani membuat bibi Lya tersenyum.


"Kamu harus sadar diri kalau kamu masuk kedalam penjara bukan karena kesalahan orang lain, melainkan kesalahan kamu sendiri jadi kamu harus tahu hal itu, perbuatan jahat, keserakahan dan keegoisan kamu yang membuat kamu jadi seperti ini, makanya kalau sudah dari keluarga miskin ya hidup sesuai dengan kehidupan yang dulu jangan karena sudah kayak mendadak jadi lupa diri, kamu juga jangan lupa siapa aku. Aku bukan dari keluarga miskin, aku juga punya kekayaan sedangkan kamu punya apa? Tidak punya apa-apa tapi justru jual diri."

__ADS_1


"Kurang ajar kamu ya Lya berani sekali kamu bicara begitu, akan aku habisi kamu nanti kalau aku sudah keluar dari penjara lihat saja nanti kalian semua akan aku balas, kamu juga perempuan jahat tunggu saja" bentak bu Anjani.


Bu Anjani ternyata tidak perna berubah, aku pikir setelah bu Anjani masuk penjara pasti bu Anjani akan berubah tapi ternyata hal itu justru membuatnya dendam.


Setelah selesai bicara demikian petugas langsung membawah bu Anjani masuk kedalam mobil tahanan, dan mereka berlalu pergi, bu Anjani berteriak sambil mengeluarkan kata-kata tidak pantas di dengar, tapi tidak ada yang mengubrisnya sehingga bu Anjani semakin emosi tapi untung mobil tahanan sudah berlalu pergi jadi bu Anjani tidak membuat keributan di depan gedung pengadilan.


Setelah selesai semua aku kembali ingat dengan pesan dari ibu, bahwa aku harus antar Dinda ke butik ibu untuk mencari gaun untuk pesta nanti malam sehingga aku menatap istriku dan berbisik ke teliganya membuat Dinda geli.


"Sayang, kamu tidak lupa bukan? Soal pesan ibu tadi sebelum kita datang kesini katanya kamu harus ke butik untuk pergi cari gaus pesta nanti malam." ujar ku.


"Tidak juga sayang, palingan ibu baru ke butik karena ibu tahu jam berapa kita pulang. Jadi ibu sudah prediksi memang agar tidak kelamaan menunggu disana." ujarku.


Kami sebenarnya pengen cepat pergi tapi semua keluarga masih ada kakak Dea. Ayah mertua, paman Gibran dan yang lain masih belum bergerak sehingga persaan tidak enak.


"Ayah...Dinda dan mas Dava langsung pulang ya soalnya Dinda sudah janji dengan ibu mau singah di butik ibu, sepertinya ibu sudah menunggu disana tidak enak kalau kelamaan ibu menunggu Dinda dan mas Dava" ujar Dinda pamit sama keluarga yang lain.

__ADS_1


"Ya sudah nak kalau begitu hati-hati ya nak, padahal ayah tadi rencana pengen ngajak kalian semua yang ada disini untuk makan bersama. Karena masalah sudah selesai jadi sekarang kita sudah tenang, tapi kalau memang nak Dava dengan putry ayah ada keperluan penting tidak masalah, masih banyak waktu nanti lain kali baru bisa bergabung." ujar ayah mertua.


Jadi tidak enak dengan ayah mertua, karena ini momen pas untuk berkumpul dengan keluarga, hanya saja kasian ibu sudah menunggu jadi mau tidak mau kami tidak ikut makan bersama.


"Maaf ayah, tapi tidak masalah kalau Dava dan Dinda tidak ikut makan bersama? Kasian ibu sudah menunggu di butik mungkin sudah dari tadi." tanyaku.


"Tidak masalah nak pergi lah" ujar ayah mertua senyum.


Setelah selesai aku dan Dinda pamit kepada mereka semua termasuk ayah mertua dan tante Riska kami berdua masuk kedalam mobil dan berlalu pergi.


Sepanjang jalan Aku dan Dinda bercanda, Dinda sangat semangat sekarang perut Dinda juga sudah makin membesar, tapi kalau soal kecantikan Dinda tidak perna luntur. Semakin hari justru Dinda semakin cantik dan wajahnya semakin berseri-seri.


"Sayang bagamana, kamu sudah tenang belum setelah bu Anjani dan Ogen masuk penjara. Karena sekarang tidak ada lagi yang menganggu kita lagi." ujarku.


"Selagi Lexza, Kenedy dan perempuan sinting itu belum dapat hukuman Dinda tidak bisa tenang mas karena mereka adalah salah satu cobaan hidup kita, apalagi Lexza dan Emelia. Dinda tidak bisa menghabisinya karena masih hamil tapi kalau sudah melahirkan mungkin Dinda sudah menghabisinya"

__ADS_1


Apa yang di kuatirkan Dinda sebenarnya itu juga yang aku kuatirkan.


__ADS_2