
Aku terkejut kepalang sampai berteriak memanggil ayah, aku pikir ayah yang kena tembak karena aku menutup mata. Jujur aku tidak sanggup lihat ayah kenah tembak lebih baik aku mati juga nyusul ayah, apalagi aku memdengar pak Erik memanggil ayah dengan suara lantang jadi jatungku terpukul aku sudah lemas...namun saat aku perlahan membuka. Betapa terkejutnya aku melihat siapa yang berdiri di hadapan kami semua dengan senyum mengembang dan hendak menyentuh bahu ku sedangkan ayah berdiri berbersama dengan salah satu pengawal kami.
Kami semua teriak hampir bersama,an karena sangking terkejutnya, aku sampai mengucek mata ini aku pikir penglihatanku salah. Aku bangkit berdiri dan melihat ternyata pria bajingan itu sudah terkapar di lantai dengan semua anak buahnya, hanya tinggal satu yaitu yang menjanga Elsa hanya memengang belati di tangannya.
"Sa...sayang, kok kamu disini?...kamu datang dengan siapa dan kamu tahu dari mana tempat ini" aku bertanya sama Dinda....datang dengan. ya jadi yang datang itu adalah Dinda istriku dan lagi datang penyelamat kami semua, tapi aku herannya kenapa istriku bisa sampai disini dan padahal kami tidak kasih tahu dimana letak tempat Elsa di bekap.
"Mas tidak ada waktu untuk membicarakan hal itu, yang sekarang kita lakukan adalah harus menyelesaikan misi ini biar hidup kita tenang. Tolong ikat bajingan itu aku mau berikan pelajaran." ternyata Dinda menembak bajingan itu tepat di kakinya dan tangannya, sehingga pistolnya jatuh. Sedangkan semua anak buahnya hanya sisa dua atau tiga yang yang masih hidup dan tergeletak lantai. sedangkan yang lain Dinda sudah menghabisi mereka semua, Dinda berjalan mendekati anak buah Admaja yang menyandera Elsa dengan santi.
"Sekarang pilihan ada di tangan kamu, kamu tinggal pilih kamu lepaskan adikku atau kamu bernasip sama seperti bos dan teman kamu itu, ingat satu hal kamu sudah salah menyengol orang. Jadi aku pastikan keluarga kamu dalam bahaya...." mata istri penuh dengan amarah mungkin karena ini efek kehamilannya jadi moodnya beruba-uba kali ya.
Karena kami asyik sibuk dengan Elsa kami lupa kalau masih ada bajingan itu belum mati, karena istriku hanya tembak main-main di kaki dan tangan mereka jadi mereka masih hidup. Walaupun kesakitan salah satu bajingan itu ternyata diam-diam merai belati yang tidak jauh dari sampingnya dan hendak melemparkannya ke Dinda tapi untung di lihat oleh Gama dan berteriak.
"Kakak ipar Awas" teriak Gama
Sutttttttttt!
Dorrrrr.....dorrrrrr!
Dinda langsung menghindar jadi belati justru jatuh dan tikam kena salah satu anak buah yang sudah meninggal, sedangkan Dinda berbalik dan melayangkan tembakan tepat di kepala bajingan itu dan seketika tewas di tempat.
__ADS_1
"Kurang ajar berani sekali melempari aku dengan kawat kecil ini, barang tidak berharga ini tidak mapan bagiku jadi jangan coba-cobak....sekarang kamu mau lepaskan adiku atau peluruh ini bersarang di otak kamu" bentak Dinda
"Hahaha....jangan kamu pikir karena kamu sudah menghabisi semua nyawah teman saya disini, jadi kamu menang ingat masih banyak anak buah bos saya...jadi jangan senang dulu karena nanti kalian anak mati"
"Oh ya, baiklah kalau kamu mau main-main sama aku karena mungkin aku baru datang jadi tanganku juga masih gatel. Dan kakiku juga pengen gerak" jelas aku terkejut dong Dinda bicara begitu lantaran istriku itu lagi hamil bagaimana bisa dia mau pukul orang apalagi menendang astaga ganas kali istriku.
Belum juga aku selesai bicara dalam hati kami semua di kangetkan dengan bunyi tinju, Dinda dengan gesik ia melompat dan menendang tepat di kepala pria itu sampai akhirnya pria itu tersungkur ke lantai. Dan Elsa langsung berlari datang memeluk aku dengan tangan gemetaran.
Dinda sudah memutar dan mrnedang pria bajingan itu tapi masih bisa bertahan sampai mengeluarkan suara.
"Bajingan berani sekali kamu menyeranga aku, kamu akan menyesal ******" teriak bajingan itu bisa-bisanya dia memaki istriku ******. Bajingan itu menyerang Dinda akhirnya mereka berdua bertarung aku yang hendak mau membantu langsung di tahan oleh Dinda, aku diam membeku di tempat aku tidak tahu harus berbuat apa karena saat ini aku sangat ketakutan. Takut terjadi apa-apa dengan janinnya.
"Tidak perlu ayah Dinda bisa kok tenang saja"
Bukkkk....bukkkk!
"Argrhh"
Bajingan itu menerima tendangan keras dari Dinda akhirnya tersungkur di lantai, Dinda menyuruh pengawal yang lain mengikat mereka. Tak lama barulah berdatangan semua para pengawal, ada yang terluka di wajah ada di tangan...tapi karena hanya sayatan kecil jadi mereka santai tapi yang membuat mereka terkejut adalah mereka melihat istriku juga turut hadir, dan masih ada pistol di tangannya. Setelah ketiga bajingan itu di ikat barulah Dinda kembali buka suara.
__ADS_1
"Ayah, mas. Silahkan balaskanlah penderitaan yang di derita oleh mbak Hawari....karena hari ini hari terakhir mereka hidup....Hay paman perkenalkan nama saya Dinda Adinata...bagaimana rasanya di bohongi paman uang sepuluh triliun yang di nantikan paman ternyata uang palsu, dan semua sertifikat yang anda minta juga palsu...makanya paman kerja dengan benar biar bisa dapat banyak uang jangan jqsi pengecut incar harta yang bukan milik paman. Aku tidak mau langsung menghabisimu paman, karena tekadku dari rumah datang kesini ingin menyiksa anda atas balasan apa yang sudah anda lakukan kepada mbak Hawari.
Sekarang aku datang sebagai iparnya untuk menyiksa anda, kalau ayah dan mas Dava tidak mau biar aku saja yang melakukannya sekarang buka pakiannya tinggalkan saja dalamnya, aku sudah memberikan peringatan kepada anda dengan mengirim mayat anak buah anda pulang tapi anda tidak mau berhenti bahkan masih ada anak buah anda ada ditangan aku."
Ya Tuham sadis kali istriku pengawal dengan sigap mengikuti perintah istriku, dan melucuti semua pakiannya tinggal dalaman pengawal bawah cambuk yang Dinda bawah tadi, ternyata istriku datang sudah ketemu dengan pengawal di bawah terus mereka bertarung melawan anak buah bajingan ini ternyata banyak sekali juga.
Salah satu pengawal membawah cambut, aku membulatkan mata dengan sempurna begitu juga yang lain sampai menutup mulut apalagi ayah tidak tahu mau bicara apa...paman dam Rafa diam membisu.
"Ini yang kamu mintakan semua ini tidak seberapa dengan apa yang sudah kamu lakukan terhadap mbak saya, kamu sudah menodainya merendahkan harga diri seorang perempuan, kamu tahu kenapa aku membuka pakian kamu biar kamu tahu bagaimana kamu tidak punya harga diri lagi didepan semua orang" aku melihat air mata istriku sudah mengalir membasahi pipinya padahal jangankan ketemu mbak Hawari kenal saja tidak, tapi begitu sedihnya istriku kami juga turut sedih.
prakk...prakkkkkl.....
"Argr..."
Istriku mencambuk badan bajingan itu sampai dangingnya nyangkut di ujung cambukan...tapi tidak berhenti sampai disitu, padahal bajingan itu sudah teriak menahan sakit.
"Ini tidak seberapa dari pada apa yang sudah anda lakukan kepada mbak Hawari, sekarang giliran kamu mas ingat seperti apa mbak Hawari di perlakukan" kali ini aku tidak pake cambuk tapi aku pake tanganku untuk menyayat wajahnya mengunakan belati dia memohon ampun badannya gemetaran.
"Ampun Dav...ampuni paman..paman salah ampuni paman nak" pada saat dia minta ampun aku kembali bayangkan pada saat dia melakukan hal keji kepada mbak Hawari, aku yakin pasti mbak Hawari memohon untuk melepaskannya tapi pasti bajingan ini tidak mau melepaskannya sampai melecehkan baru di bunuh dengan cara sadis.
__ADS_1