
Akhirnya kami pulang meninggalkan kediaman ayah mertua setelah selesai pamit kami bertiga keluar dari gedung tinggi itu dan menuju ke parkiran, kami di antar oleh pak Reno sampai di tempat parkir setelah itu baru pak Reno kembali masuk kedalam.
"Makasih pak sudah antar kami" ujar kami bertiga kompak membuat pak Reno tersenyum.
"Sama-sama nona dan Tuan muda hati-hati dijalan."
"Pak Reno tolong titip ayah ya kalau terjadi apa-apa kabarin saja"
"Baik nona"
Saat ini kami sudah dalam perjalanan pulang tapi seperti biasa selain kami singah untuk jemput mobil kakak Dea kami juga rencana mau makan dulu baru aku antar pulang Dinda ke rumah dan kalau masih sempat aku kembali ke kantor.
"Bagaimana kakak sudah puas belum, kakak tidak takut lagikan sama aku, kakak pikir aku mau jual organ tubuh kakak kemana sampai tidak percaya sama aku"
"Makasih ya Dav kamu sangat baik ternyata selama ini kamu tahu kalau ayah masih hidup dan kamu juga tahu kalau yang menembak ibu adalah orang suruhan ayah, kamu patut diberikan jempol karena sanggup menyimpan rahasia sebesar ini Dav dan sampai sekarang aku heran kenapa waktu itu kamu tidak tunjukan siapa kamu sebenarnya saja. Justru kamu diam dan menerima cacian"
"Justru karena dengan cara seperti itu jadi aku tahu siapa yang tulus menyayangi aku dan siapa yang tidak kakak, kalau waktu itu aku langsung kasih tahu identitasku mungkin ceritanya tidak seperti ini."
"Iya benar juga kamu Dav kalau waktu itu ibu tahu siapa kamu mungkin di sangat menyanjung kamu dan tidak menghina kamu"
"Oh ya kakak nanti kita makan dulu ya baru pulang ini sudah jam makan siang, aku juga sudah lapar hehehe"
"Baik Tuan muda Adinata pelayan ikut saja hahah"
"Astaga kakak bisa aja deh, siapa yang Tuan muda disini aku adik ipar kakak bukan Tuan muda "
"Mas nanti kita duduk diluar saja ya sekali-sekali biar kita bisa menyaksikan sekitar lagian restoran juga sangat luar tuh."
__ADS_1
"Baiklah sayang pengawal ikuti apa mau ratu hehehe"
"Tadi kakak Dea sekarang gantian mas kalian berdua sebenarnya lagi kurang waras apa gimana, atau lagi kesambet apa tadi "?
Tak selang lama kami bertiga sampai diretoran dan sesuai dengan permintaan ratu Dinda kami cari tempat diluar saja karena Dinda tidak mau didalam ruangan vip katanya sekali-sekali ok siapa takut.
Kami bertiga pesan makanan masing-masing setelah selesai tiba-tiba Dinda dan kakak Dea minta pamit ke toilet aku bilang mau antar mereka tapi justru mereka tidak mau akhirnya mereka pergi tinggalkan aku sendiran di meja.
Aku asyik main hp di tanggan jadi tidak menyadari ada yang memperhatikan aku, entah sengaja atau memang benar tidak melihat aku duduk disitu aku ditabrak oleh seseorang membuat aku terkejut.
Brukkkkk.....
Aku yang kaget langsung mendongkak kepala tapi yang membuat aku kanget adalah siapa yang nembrak aku itu. Aku terkejut karena ternyata orang yang ada didepanku yang ingin aku hindari kenapa bisa ketemu disini.
"Emelia.......?
Bummmkk....!
"Argh....!
Perempuan itu mengaduh kesakitan mana peduli aku siapa suruh mau cari muka sama aku, aku sudah punya istri yang lebih cantik dari segalahnya jadi jijik menyentuh perempuan rendahan seperti ini. Tadi aku tangkap dia karena reflek saja bukan benar-benar mau menyentuhnya
Aduh kenapa kakak Dea dan Dinda lama banget sih jadi risi aku disini.
"Dav kamu tega banget sih menjatuhkan aku ke lantai gak punya hati tolongin ke...ini baru pertama kali loh ketemu sejak lama kita berpisah dan pas ketemu justru kamu memperlakukan aku seperti ini aku tahu aku ini cantik makanya kamu terkejut. Tapi bukan dalam arti melepaskan pelukan kamu"
Perempuan itu berusaha menarik simpatiku menyodorkan tangannya untuk aku membantunya tapi aku justru tak peduli akhirnya dia berusaha untuk bangkit dan lamgsung duduk depanku.
__ADS_1
"Dav apakabar kamu beruba sekali loh...kenapa aku minta kerja sama dengan perusahaan kamu tapi justru ditolak oleh orang kepercayaan kamu. Dav aku sampai sekarang belum punya pasangan loh karena aku tahu pasti kita berjodoh dan Tuhan pertemukan kita kembali, buktinya sekarang kita ketemu lagi aku yakin kamu juga tidak bisa melupakan aku makanya kamu juga belum punya pasangan"
Ya Tuhan sial apa aku hari ini sampai ketemu dengan manusia tidak punya urat malu seperti perempuan ini kalau dibandingkan dengan istriku, jauh sekali perbandingannya kayak bumi dan langit istriku tidak ada tandingannya, kalau yang ini pakiannya sudah kurang bahan menor lagi pengen muntah.
"Hahaha Emelia...maaf ya kita itu tidak sedekat ini dari dulu sampai sekarang kita tidak perna dekat apalagi punya hubungan, dan maaf jangan mimpi ketinggian karena aku tidak perna bermimpi untuk punya istri seperti kamu karena aku sudah punya istri yang jauh lebih cantik dari kamu"
Gak usa bicara omong kosong Dav aku tahu kamu itu sengaja bicara begitu biar menghindariku kamu juga mencintaiku makanya kamu belum menikah kalau memang kamu sudah menikah mana istrimu palingan cantikan aku kemana-mana.
"Ngaur saja kalau ngomong loh pergi sana aku mau makan"?
Aku tidak sengan mengusir perempuan gila itu tapi justru tidak mau pergi mala makin mepet ke sampingku, jantungku sudah tidak karuan kalau Dinda datang bisa babak belur perempuan ini.
Tidak lama dan pelayan mengantarkan makanan dan minuman yang sudah aku pesan, melihat banyak sekali makanan membuat Emelia hanya melongo mungkin gak percaya aku hanya sendiri tapi pesan banyak makanan.
"Dav serius kamu sendirian habiskan makanan ini bagaimana kalau aku temani kamu makan biar romantis kayak Romeo dan Juliet gitu loh dari pada kamu sendirian sayang kebuang nanti."
Perempuan ini memang benar-benar tidak punya muka deh...sudah berapa kali aku bilangin gak percaya aku harus berkata pake bahasa apa dulu baru dia mengerti.
"Emelia sudah berapa kali aku bilang kalau aku ini tidak sendirian tapi aku datang dengan istri dan kakak iparku jadi menyingkirlah dari sini."
Semakin aku bicara perempuan ini semangkin tidak percaya dan makin menjadi dia hendak mau ambil piring namun terhenti kala mendengar suara seorang perempuan memanggil aku.
"Mas..maaf aku dan kakak Dea lama ditoilet...makanannya sudah datang ya..oh ya ini siapa mas dusuk disini" tanya Dinda
"Kamu yang siapa duduk disini, Dava calon suamiku..." kurang ajar nih sih Emelia dia mau cari perkara dengan Dinda. Bisa jadi perkataan Emelia jadi bumerang buat dirinya sendiri.
Aku lihat Dinda dengan kakak Dea hanya santai saja tidak ada raut kemarahan diwajah mereka.
__ADS_1
"Wah...sudah berapa tahun pacaran mbak kok aku baru kenal ya...kalau mas Dava calon suami mbak sudah perna belum ketemu dengan orang tuannya, kalau belum mau aku perkenalkan kedua orang tuan mas Dava kekamu mbak. Atau mbak hanya halu saja sebagai calon mas Dava...hahaha kasian ya mbak kerja jadi perempuan harlu."