Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
403


__ADS_3

Bahagia kali hari ini aku bisa mengendong kedua anak ku, ternyata seperti ini rasanya punya anak, saat kita dari luar dengan beban pikiran langsung hilang seketika melihat senyum dan kegemasan mereka.


Hati ku sangat tenang saat aku pulang kerumah mendapati istri dan kedua anak ku bermain, pada hal sebenarnya aku masih sangat ngantuk tapu saat aku melihat senyum mereka semuanya itu hilang obat mujarab.


"Hay putry cantik papi dan putra tanpan papi, lagi bermain ya sama mami uhmmm papi kangen banget lah sama kedua anak papi. Lagi bermaim apa ini? Sehat-sehat ya anak-anak papi jangan sakit ya nak" Aku gemas banget dengan pipi gembul kedua anak ku.


Aku mengendong Gretta duluan setelah itu aku mengendong Grey aku tidak bisa lama-lama karena menghindari macet nanti jadi aku harus berangkat sekarang. Yang penting aku melihat mereka semakin hari mereka semakin bertumbuh, aku tidak sabar menunggu mereka besar nanti.


"Sayang mas tidak bisa lama-lama karena mas ada meeting dan ada ketemu dengan klien sebenarnya ketemu klien jam sepuluh dan meeting jam satu hanya saja mas harus periksa file yang sudah di kirim sama pak Erik, jadi mas rencana sampai di kantor masih pagi " ujarku.


"Tidak masalah mas biar mas sarapan dulu Dinda nemanin mas ke bawah, biar Gretta dan Grey sama suster aja, sus tolong jagain Tuan kecil dan nona kecil ya kami mau kebawah dulu, biarkan saja mereka bermain nanti kalau sudah ngantuk baru pindahin mereka ke tempat tidur mereka masing-masing " ujar Dinda.


"Baik nona muda"


"Anak-anak papi, maaf ya papi harus berangkat ke kantor untuk cari uang agar belikan kedua anak papi baju hehehe, jangan cengeng ya di rumah kadi anak baik ya." ujarku


Aku dan Dinda turun kebawah dan menuju ke meja makan ternyata sudah di tunggu oleh keluarga besar, aku menatap kursi ayah tidak ada yang duduki biasanya setiap makan ayah selalu duduk disitu tapi sekarang tidak ada. Jadi hilang selera makan ku semua gara-gara aku makanya ayah masih di rumah sakit. Dinda mengambilkan aku makanan dan kami semua makan bersama setelah selesai makan kami ke ruang tengah dan pamit untuk berangkat kerja.


"Ibu mau kerumah sakit ya? nanti ibu sama Dinda saja pergi kalau Dava sudah pulang dari kantor baru ibu dan Dinda pulang, tapi kondosi ibu baik-baik saja bukan takutnya kalau ibu tidak enak badan lebih baik ibu dirumaj saja" ujarku.


"Iya nak, kamu tidak perlu kuatir ibu baik-baik saja, jadi pergilah kalau kamu buru-buru nak tapi hat-hati di jalan" ujar ibu.

__ADS_1


"Elsa dan ibu juga ikut ke rumah sakit kakak Dava untuk jenguk paman karena nanti Elsa kembali ke luar kota, entah kapan lagi kita ketemu sebenarnya Elsa masih pengen disini sih tapi kakak Gama tidak mau katanya Elsa harus selesaikan kulia dulu baru Elsa bisa kesini lagi" ujar Elsa.


"Oh ya sudah kalau begitu bibi, Elsa, ibu dan Dinda ke rumah sakit saja Dava tidak bisa antar jadi ibu pergi dengan sopir aja ya soalnya Dava buru-buru ke kantor. Kalau soal yang di katakan Gama itu benar dik, kamu harus selesaikan studi kamu dulu, sementara waktu kamu bantu paman dan bibi mengurus perusahaan disana nanti kalau sudah selesai boleh kamu kesini bantu Gama ngurus perusahaan ini."


Elsa agak sedikit manja tapi Elsa takut sama aku entah kenapa dia tidak suka minta uang sama aku, padahal aku pengen setiap adik-adikku minta uang sama aku, sekarang-sekarang ini nya baru Ririn tidak minta uang sama aku karena selain dia sudah kerja Rafa juga selalu manjakan Ririn dengan memberikan Ririn uang belanja lumayan besar, jadi Ririn senang.


"Mas ngapain pake sopir jadi maksud mas kita tidak tahu bawah mobil, Dinda bisa, Elsa bisa, bibi juga bisa apalagi ibu jadi untuk apa pake sopir kalau kami berempat aja bisa bawah mobil, atau mas mau bilang kalau kita tidak bisa menyetir sendiri?" ujar Dinda membuat yang lain tertawa.


"Sepertinya kakak Dava kurang refreshing karena setiap hari kerjanya membunuh orang, terus dari rumah ke rumah sakit kalau tidak ke kantor menghadap leptop dan memeriksa data jadi puyeng, jadi sepertinya pikiran kakak Dava sudah mulai oleng. Kakak ipar tolong atur waktu untuk berlibur dulu soalnya kakak Dava butuh liburan menenangkan pikiran." Ujar Ririn anak ini kalau bicara suka benar.


"Nah Gama sangat setuju soalnya dari tadi malam memang kakak Gama bicaranya sudah ngaur Gama dengan kakak Rafa aja di buat bingung oleh tingkahnya, memang kakak ipar juga butuh liburan jujur ya Gama juga heran biasanya orang kaya kalau hari libur itu mereks menghabiskan waktu untuk berlibur bersams keluarga, tapi ini berbedah dengan kakak Dava hari libur ngajak berperang"


Hmmm apes banget hidupku kalau begini lebih baik aku berangkat kerja dari pada aku di serang dari mana-mana. Aku langsung mengecup kening istriku dan mencium punggung tangan ibu dan bibi, aku langsung pamit pergi justru membuat mereka semakin mengejek ku. Biarpun seperti itu sebenarnya aku senang karena dengan cara elengan seperti itu kami di katakan keluarga harmonis.


Saat kami masuk jalan besar mata ini tidak sengaja melihat seorang perempuan memakai masker dan jaket menutup kepalanya sedang bicara dengan dua orang pria yang kebetulan membelakangi ke jalan raya tapi kalau aku lihat dari postur tubuhnya sepertinya tidak asing, dan kenapa aku langsung bilang kalau orang itu perempuan karena dari sepatunya nampak sekali pake sepatu perempuan.


"Asisten Arfan kamu lihat tidak tiga orang yang berdiri di pinggir halan tadi saat kita lewat sepertinya salah satu perempuan ya, dan saat kita lewat dia menatap tajam kearah mobil kita."


"Iya Tuan muda memang dia itu perempuan tapi sepertinya tidak asing Tuan muda."


Karena aku buru-buru sampai di kantor jadi aku tidak pusing mikirin orang itu biarkan saja urusan mereka lah itu selagi tidak ada hubungan dengan kehidupan keluarga ku.

__ADS_1


"Biarkan saja asisten Arfan siapa pun itu tidak penting, karena aku beru-buru ke kantor masih banyak pekerjaan penting yang harus aku selesaikan" ujarku.


"Baik Tuan muda" ujar asisten Arfan.


Karena Asisten Arfan mengambil jalan pintas jadi kami cepat sampai, karena asisten Arfan tahu kalau aku buru-buru. Saat aku sampai di perusahaan ternyata sekretaris dengan manajer keuangan sudah menunggu ku di loby utama dan seperti biasa semua karyawan menyambutku dan memberikan hormat.


Aku langsung masuk kedalam lift dan menuju ke lantai dimana ruangku berada.


"Tuan muda hari ini ada pertemuan penting dengan Tuan Adrak jam sepuluh pagi dan setelah itu akan di lanjutkan meeting seluruh di reksi jam satu siang, semua berkas sudah saya siapkan Tuan muda." Ujar sekretaris mengingatkan ku.


"Baik kerja bagus, tolong antarkan berkas ke ruangan ku saya mau periksa dulu dan untuk presentasi kali ini biar aku aja yang melakukannya dan sebentar temani aku untuk pertrmuan dengan Tuan Adrak" ujarku


"Baik Tuan muda."


Setelah aku keluar dari lift dan masuk keruanganku, tidak lama kemudia sekretaris datang mengantarkan berkas, jadi disini aku punya sekretaris ya di kantor tapi bukan seorang gadis melainkan seorang pria, aku tidak mau seperti cerita-cerita yang aku baca di novel-novel suami selingkuh dengan sekretarisnya, aku menghindari hal itu sehingga aku menyuruh pak Erik untuk mencarikan aku seorang sekretaris pria, dia yang akan mengurus semua jadwal meeting dan yang lain begitu juga pak Erik punya seorang sekretaris pria juga, jadi setiap kali pakv Erik pergi keluar untuk perjalanan bisnis sekretarisnya selalu ikut.


Tok...tok...tok...!


"Masuk"


"Parmisi Tuan muda ini berkas yang di minta Tuan muda dan ini berkas yang perlu Tuan muda tanda tangan tolong di baca dulu Tuan muda takutnya masih ada yang salah"

__ADS_1


"Baik boleh letakan saja di situ nanti saya periksa semuanya dan tolong buatkan laporan keuangan dalam tiga bulan


__ADS_2