
Aku yang melihat ibu mulai marah karena aku karena menepis tangannya dan juga malas berdebat dengannya aku hendak gegas pergi tapi secara tak terdunga ibu langsung menarikku dan memberikan satu tamparan tepat mengenai pipiku. Hal itu membuat aku hampir tersungkur di lantai kalau bukan mas Tahir dengan singap menangkapku mungkin aku sudah gigit lantai.
"Dasar anak iblis masih beruntung aku berlaku baik padamu tapi justru kamu memperlakukan aku seperti ini berani sekali kamu menepis tanganku, jangan sampai aku mengusir kalian berdua dari rumah ini dan menjadi gembel diluar sana. dan kamu juga mantu tidak punya sopan santun seharusnya kamu sebagai suami ajarin istri kamu agar menghormati mertuamu bukannya mengikuti apa kata istrimu."
" Hahah lucu ya, ibu pintar sekali memberikan nasihat kepada orang lain tapi ibu sendiri melangar dan tidak melakukannya, memangnya selama ini ibu sudah menjadi istri yang baik buat ayah, bukankah ibu adalah istri yang paling buruk yang aku kenal selama ini, jadi tolong ya bu kalau mau mengajari seseorang itu lebih baik ibu terlebih dulu intropeksi diri biar tidak asal bicara. Karena kalau ibu adalah istri yang baik mungkin sampai sekarang ayah masih hidup."
"Dan ingat bu jangan sampai kata-kata ibu itu berbalik menimpah ibu yang akan kembali menjadi gembel diluar sana seperti dulu."
Setelah aku selesai bicara aku langsung menarik tangan mas tahir dan berlalu pergi sedangkan aku meninggalkan ibu menahan emosi disitu dia berteriak memaki tapi aku tidak peduli.
Aku dengan mas Tahir masuk ke dalam mobil masing-masing sebelumnya aku cium punggung tangan mas Tahir dan mas Tahir mencium keningku itu adalah rutinitas kami selama ini.
"Hati-hati sayang kalau ada apa-apa hubungi mas" ujar mas Tahir.
"Baik mas hati-hati juga."
Aku keluar terlebih dulu baru mas Tahir dari belakang sebenarnya mas Tahir pengen kami bawah satu mobil saja nanti aku di antar dulu baru mas Tahir pergi ke kantor, tapi karena aku rencana mau ke apertemen dulu baru ke restoran untuk ketemu Dinda dan Dava jadi aku harus bawah mobil sendiri biar gak repot naik taksi.
Sepanjang penjalanan menuju ke restoran ternyata mas Tahir mengikuti aku dari belakang apakah mas Tahir curiga sama aku makanya dia mengikutiku dan pas aku membelokan mobil ke restoran barulah mas Tahir klakson dan langsung pergi meninggalkan aku. Aku harus pastikan kalau mas Tahir sudah menjauh dari restoran barulah aku kembali memutar mobil dan keluar dari area restoran dan gegas pergi.
Aku langsung melaju mobil menuju ke apertemen, tapi aku yang ingin cepat sampai di apertemen harus urun karena macet sekali aku harus sabat.
__ADS_1
Aku masih sibuk dengan macet tiba-tiba hp aku berdering siapa lagi yang menelpon sudah macet begini aku sengerah menngeluarkan hp dari dalam tas ternyata yang telpon Dinda untung aku tadi gak maki kalau gak sudah ku maki adikku.
"Hallo kakak Dea, kakak ada dimana? Mas Dava sudah beritahu kakak belum kalau hari ini mas Dava mau bawah aku sama kakak ke suatu tempat aku tidak tahu bawah kemana apakah mas Dava beritahu kakak?"
"Hallo dik, iya kemarin waktu kakak pulang dari sana tidak lama kemudian Dava langsung telpon memberitahu kalau dia mau mengajak kita berdua ke suatu tempat, tapi saat kakak tanya justru Dava tidak mau memberitahu katanya kalau di beritahu itu namanya bukan surprise lagi dik jadi kakak juga gak tahu di ajak kemana"
"Oalah kirain mas Dava beritahu kakak, terus sekarang kakak ada dimana sudah di jalan belum"
"Kakak sudah di jalan menuju apertemen dik untuk mengambil semua harta benda yang kakak curi dari brangkas hahah"
"Ya sudah kakak hati-hati ya di jalan kami juga baru mau siap-siap mungkin jam sembilan baru kita ketemu di restoran karena agak macet nih."
"Kakak dari tadi terjebak macet loh dik disini macet banget."
Hampir satu jam lebih aku sampai di apertemen dan masuk kedalam kamar tumben manajer gak kelihatan mungkin sibuk aku sengaja tidak mencari manajer juga karena bisa jadi lagi ngurus yang lain.
Aku mempersiapkan semua yang sudah aku curi aku simpan kembali kedalam tas ransel dan keluar dari dalam apertemen langsung pergi.
Karena sekarang sudah jam delapan perkiraan sampai di restoran memakan waktu satu jam juga semoga tidak melenceng dari waktu yang aku tentukan.
Tapi tidak masalah sekali-sekali adikku dan adik ipar menunggu kakaknya datang heheh..aku kembali masuk kedalam mobil dan gegas pergi pergi meninggalkan restoran.
__ADS_1
Krukkk....krukkkk.
Astaga aku baru ingat kalau aku belum sarapan tadi...bisa-bisanya aku lupa kalau ternyata aku belum makan, harus cari tempat makan disekitar sini saja deh untuk isi perut dulu kalau gak bisa mati kelaparan aku jangan sampai Dava dan Dinda tahu aku belum makan kayak kemarin malunya.
Aku hidupkan mesin mobil dan menjalankannya aku mau cari tempat makan di pinggir jalan saja pengen coba kaki lima di pinggir jalan katanya enak dan bersih.
Aku melaju mobil tidak berapa jauh dari apertemen ternyata di pinggil jalan ada rumah makan ada ayam penyet, ada ayam bakar dan banyak macam ah..disini saja pikir ku, aku menepikan mobil dan turun dari dalam mobil saat aku masuk wah....ternyata rame sekali berarti enak kayaknya makanya rame padahal masih pagi. Kalau di lihat dari luar kelihatan biasa saja tapi kalau sudah masuk ternyata didalam luas bersih dan juga model desainnya kaya restoran juga tapi yang didalam itu bagus banget aku suka.
Siapa pemiliknya pasti pintar orangnya jadi menarik pelangan dengan membuat senyaman mungkin.
Saat aku duduk seorang anak muda menghampiriku dan bertanya aku mau pesan apa.
"Parmisi mbak mau pesan apa"? Tanyanya.
Aku mendongkak kepala dan melihat siapa yang ada di depanku betapa terkejutnya aku melihat kalau ternyata itu adalah teman kulia aku dulu kami memang sangat akrab tapi karena dia mendadak pindah keluar negeri jadi aku kehilangan kontak dengannya.
"Loh..Aldo? Ini kamu Aldo kan?"
"Loh kakak Dea...astaga kakak sudah lama kita tidak ketemu loh kakak sangat beruba kakak apa kabar"? Dia langsung duduk didepanku.
"Aku kabar baik Al, kamu apa kabar juga sekarang kamu sudah beruba banget dan kamu juga sudah sukses ya"
__ADS_1
" Ah sukses dimana kakak ini saja masih kecil dan masih berusaha, oh ya kakak mau pesan apa nanti baru kita ngobrol lagi karena aku tahu sepertinya kakak buru-buru"
"Aku pesan ayah penyet dan juga sayur capcay dan ikan bakar satu ya Al."