
Aku dengan yang lain jalan beriringan menuju ke paviliun untuk mengecek tahanan itu tidak lama kami sampai disana ternyata sudah ada dua pengawal menjaga di sana dan mereka baru selesai memberikan kedua tahanan itu makanan.
"Loh kakak Dav ngapain kita kesini terus ini apakah" tanya Gama bingung
"Gama sekarang kamu sudah tahukan kalau disini ada penjara bawah tanah jangan pernah kasih tahu hal ini kesiapapun, termasuk bibik dan paman apalagi Ririn cerewet itu" ujarku memperingati Gama.
Perkataanku membuat Gama terkejut mungkin karena baru pertama kali mendengar hal ini dasar bocah tengil .
"Ha....penjara bawah tanah kakak? sejak kapan disini ada penjara bawah tanah kok aku baru tahu kakak?" tanya Gama tapi karena suaranya agak sedikit keras membuat semua orang menoleh ke arah kami termuasuk ayah dan yang lain.
"Ada apa Gama" tanya Ayah mampus kamu Gama makanya suara itu dikecilin dikit ini teriak lagi bikin kanget kayak di siksa aja bicara gak bisa pelan. Dinda yang melihat Gama seperti itu hanya cengegesan
"Heheh.. Gak ada paman maaf tadi kaki Gama di injak oleh kakak Dava" ujarnya ketakutan bikin ngakak.
Astaga memabg kamu ya Gama boca tengil berani-beraninya dia menuduhku menginjak kakiknya, baiklah akan aku lakukan. Aku sengaja berjalan mendekati baru sekali ku injak kakinya dengan sepatuku, sampai ia berteriak kencang.
"Auhhhh sakit kakak Dava" ujarnya.
"Kalian berdua kenapa Gama, Dava"? Tanya ayah
Aku pengen tertawa tapi karena lihat wajah sedihnya jadi ikut kasian. Aku mendekatinya dan berbisik di telinganya.
" Jangan teriak nanti didengar oleh yang lain suara kamu besar sekali untung yang tinggal disini pengawal kalau gak bisa barabe kita, makanya jangan bohong hahaha" jelas ku.
__ADS_1
"Maaf kakak aku benar-benar kanget karena baru kali ini aku tahu kalau ternyata di rumah kakak ada tempat semacam penjara bawah tanah. Kira-kira paman benaran marah gak ya sama Gama kakak"?
"Ah kamu ini kayak gak kenal ayah saja ayah mana perna marah sama anak-anaknya, hanya saja ayah juga terkejut dengan suara kamu yang fals itu makanya ayah bertanya hahah"
"Ya elah gak usa ngejek juga kali kakak"
Memang kalau ngobrol sama dia sangat seru bahkan nyambung sekali hanya saja dia belum menikah anak ini banyak sekali pilihannya, padahal banyak cewek yang suka sama dia tapi ya gitu mereka mereka mendekati bukan karena cinta tapi karena harta.
Setelah kami masuk kedalam pengawal langsung menyambut kedatangan kami dan membukakan pintu untuk kami karena pintu ini dua lapis agar jika sewaktu-waktu tahan ingin kabur juga susa karena bukan hanya pintu dua lapis tapi juga di luar pintu di pasang kawat berduli.
"Silakan masuk Tuan-Tuan dan nona" ujar seorang pengawal mempersilahkan kami masuk sambil membungkukan badannya.
Setelah kami turun tangga dan sampai di dalam sih Gama lagi-lagi membuat ulah memang anak ini pengacau betul. Untung kami sudah sampai di ruang bawah tanah jadi sudah tidak terdengar lagi suaranya kalau tidak bisa habis kami kalau ibu dengar
Pukkk...." bisa tidak kamu jangan teriak-teriak dari tadi bikin orang jantungan saja tahu gak, untung semua orang disini tidak ada penyakit jantung kalau gak dengan cara kamu begini mempercepat kematian orang diamlah dan ikuti saja atau kamu juga mau ikut dikurung disini."
"Ah jangan dong kakak itu kedengaran sangat sadis dan tidak manusiawi hahah, masa kakak tega mengurung ponakan kakak yang sangat tampan ini disini oh tidak jangan sampai itu terjadi"
Aku melihat kedua penjahat itu lagi meringkuk di pojokan ruangan karena memang sengaja buat ruangannya kecil agar mereka tidak bisa tidur dengan bebas, aku melihat tahanan yang kena tembak di lengannya itu lagi kesakitan karena peluru yang ada di dalam tangannyan belum dikeluarkan memang sengaja di biarkan agar dia kesakitan dan mengakui siapa bosnya, karena orang seperti ini tidak semuda itu ia akan mengakui semuanya. Kami berdiri di luar pintu
Dia yang melihat kedatangan kami kelihatan sekali dia ketakutan tapi dia tetap memasang waja sangar dan sinis terhadap kami, apalagi pas dia menatap Dinda seperti singa yang mau menerkam biasa karena Dinda yang membuatnya terluka.
Ayah mendekatinya dan menatapnya dengan tajam tapi dia justru menunduk menungkin tidak kuat menatap mata ayah, heran juga dia seorang penjahat yang suka menghabisi nyawa orang aku tahu bisa jadi sudah banyak korban yang dia habisi entah itu korban yang bersalah atau bisa jadi tidak bersalah tapi karena keegoisan mereka menghilangkan nyawa orang.
__ADS_1
"Hey....siapa nama kamu dan kenapa kamu ada disini, apakah tidak ada lagi tempat yang lebih bagus dari pada tempat ini sehingga kamu nyaman tinggal disini? kamu bisa memilih karena hatiku masih baik jadi saya suruh kamu memilih tetap disini atau saya akan kirim kamu ke suatu tempat untuk selama-lamanya."
Biarpun ayah bicara begitu tapi dia masih bergeming tidak ada tanggapan darinya, justru dia memasang senyum sinis dan ngejek kurang ajar memang orang ini dia benar-benar ingin mati.
Aku heran kenapa mereka mau merelakan nyawahnya hanya untuk membelah orang jahat apakah mereka ini tidak punya otak. Memikirkan keluarganya kalau seandainya dia jujur bisa saja ayah atau Dinda mengampuninya dan kami melepaskan dia pergi asal dia tidak akan bergabung lagi dengan kelompok jahat itu.
Tapi pas lihat sikap jahat dia seperti ini sifat belas kasihan aku hilang seketika apalagi ayah dan Dinda.
"Kamu masih mau hidupkan atau kamu mau keluarga kamu dalam bahaya jangan main-main dengan saya karena saya memiliki beberapa sisi, ada sisi belas kasih terhadap orang jahat tapi mau beruba dan jujur atau kamu mau sisi gelapku untuk menghabisi sorang penjahat dan seluruh keluarganya" ujar ayah
"Haaha jangan berharap saya akan memberitahu siapa bos kami karena sampai kapanpun saya tidak akan beritahu biarpun nyawah saya taruhannya. Tapi jangan cobak-cobak menyentuh istri, anak dan keluarga saya mereka tidak tahu apa-apa dan mereka tidak bersalah"
"Pengawal keluarkan dia dari dalam saya mau lihat dia bertahan sampai mana dia" ujar ayah.
Pengawal gegas membuka pintunya dan menyeretnya keluar dari ruangan itu.
Bumkkkk...pengawal menghempaskan kelantai dan ia meringis kesatikan, tapi dia sama sekali tidak mau memberitahu siapa bosnya.
Ayah berjongkok dan mencengkram rahangnya dengan kuat aku melihat dia sampai kesakitan.
"Tadi kamu bilang apa, biarkan keluarga kamu hidup? bukankah saat kamu masuk menjadi orang jahat kamu sudah tahu apa resikonya jika salah menyengol orang, salah apa keluarga saya terhadap kamu sehingga kamu berani mengusik kehidupan saya dan keluarga saya, saya saja tidak mengenal siapa kamu".
"Jadi kamu tidak perlu meminta saya untuk membiarkan keluarga kamu hidup karena jika kamu benar-benar pria sejati dan menyayangi keluarga kamu tidak mungkin kamu melakukan kejahatan ini bukan? Tapi dasarnya kamu tidak menyayangi keluarga kamu sehingga kamu tidak mau menyelamatkan nyawah kamu dan nyawah keluarga kamu. Saya akan memberikan waktu satu hari untukmu"
__ADS_1