
Dea tidak keberatan jika suaminya akan membawahnya keluar dari rumah itu dan Dea juga sekarang mengikuti apa yang akan di katakan Tahir nanti, untuk apa mengikuti apa kata ibunya kalau ujung-ujungnya harus mengorbankan mereka juga bu Anjani kan orangnya serakah hanya mementingkan dirinya tapi gak perna berpikir tentang perasaan anak-anaknya.
Setelah Dea melihat kehidupan Dinda sesudah keluar dari rumah keluarga Winata dan menjauh dari sang ibu, Dinda kelihatan sangat bahagia tidak ada beban yang tergurat di wajah cantiknya justru yang ada terlihat rawut wajah bahagia yang terpancar.
Dea juga tidak mau memikirkan dari mana uang yang Dava dan Dinda dapatkan karena itu hak mereka yang penting sekarang Dea sudah bisa nelihat rawut kebahagiaan adiknya itu. Dinda bahagian dengan Dava saja itu suami anugra pikir Dea karena Dea masih ingat jelas kehidupan Dava dan Dinda waktu masih tinggal di kediaman keluarga Winata.
Tahir yang melihat Istrinya melamu langsung bertanya. Karena Tahir tahu pasti ada yang di pikirkan istrinya.
"Sayang kenapa kamu melamun mas salah bicara ya tadi, jadi membuat kamu merasa tidak nyaman atau kamu masih memikirkan soal uang yang didaptkan Dinda dan Dava, sayang dengarkan mas tidak perlu memikirkan soal penampilan atau soal keuangan Dinda dan Dava itu dari mana yang penting kita sudah tahu kalau Dinda ternyata bahagia hidup bersama dengan Dava dan tidak tertekan batin lagi ya gak sayang."
"Iya mas aku juga berpikir begitu aku lihat Dinda bahagia saja aku sudah ikut bahagia mas, karena mas tahu sendiri bagaimana kehidupan Dinda waktu masih tinggal sama kita tidak ada senyuman sedikitpun ada di wajahnya"
"Ya sudah sekarang kita fokus dulu cari rumah sayang sekarang jangan mikirkan yang ane-ane."
Akhirnya Tahir dan Dea melanjutkan perjalanan mereka untuk mengecek rumah yang sudah mereka incar, kali ini mereka beli rumah agak sedikit jauh dari rumah keluarga Winata karena memang itu yang diinginkan Tahir dan Dea.
Tahir mengemudikan mobil dengan santai karena saat ini Tahir mau melupakan segala beban yang ada di pikirannya akhir-akhir ini, hampir dua jam Tahir mengemudikan mobilnya dan akhirnya mobil yang di tumpangi Tahir dan Dea berbelok kedalam kawasan perumahan, perumahan yang di pilih Tahir ternyata elit juga membuat Dea senyum karena ternyata pilihan sang suami lumayan bagus menurut penilaian Dea.
"Wah....mas perumahan bagus banget mas yakin beli rumah disini? mas gak bercandakan?.disini pasti mahal-mahal mas perumahan ini bukan perumahan sembarangan mas, dari mana kita dapat uang sebanyak itu mas"
__ADS_1
"Hahaha sayang kamu kok takut banget begitu kamu gak yakin kalau suami kamu sanggup beli rumah untuk kamu, dengar ya sayang karena mas sanggup dan yakin bisa membelikan rumah disini untuk kamu makanya mas bawah kamu kesini, selama ini kenapa mas selalu berikan uang terbatas untuk kamu karena mas gak mau kita tidak memiliki masa depan".
"Mas nabung uang ini untuk membelikan sesuatu yang berharga, lihatlah Lexza selama ini Kenedy selalu manjakan dengan banyak uang dan suka berfoya-foya menghaburkan uang. Sekarang rumah pun tidak ada hanya sekedar persiapkan uang untuk kampaye aja mereka harus minta bantuan Tuan Adinata, kalau nanti Kenedy tidak lolos mereka dapat uang dari mana untuk bisa membayar hutang sebanyak itu."
"Maafkan mas ya sayang karena selama ini mas hanya menjatai kamu satu bulan seratus jutah tapi kamu wanita terhebat tidak perna mengelu walaupun kurang, kamu hanya diam saja nah sekarang kamu lihat mas akan belikan kamu rumah."
Tahir sudah parkir mobilnya dan memeluk Dea sebelum mereka keluar dari dalam mobil Dea sangat bahagia, memang benar yang dikatakan oleh Tahir kalau selama ini Dea selalu di jatahi mau cukup gak cukupnya itu Tahir sudah jelaskan ke Dea dan untungnya Dea paham.
Tahir mengandeng tangan istrinya dan masuk kedalam kantor marketing karena sebelum mereka datang Tahir sudah terlebih dahulu menelpon orang perumahan , jadi mereka juga sudah menunggu, rencana Tahir mau beli rumah Cas bukan kredit.
"Sayang yuk masuk bagian marketing sudah menunggu kita didalam"
Akhirnya Dea dan Tahir masuk kedalan kantor saat mereka masuk ternyata benar pihak marketing sudah menunggu mereka, dan menyambut kedatang mereka dengan senyuman.
Tahir dan Dea hanya nurut saja tidak lama mereka duduk pria itu kembali menghampiri mereka dan membawakan mereka minuman sekaligus membawah berkas, setelah hampir setegah jam negosasi akhirnya Deal dan sebelum melakukan transaksi mereka harus cek unit dulu.
"Maaf Tuan, nona kita cek unitnya dulu" ujar pria itu.
"Baiklah yuk sayang kita cek rumahnya dulu siapa tahu nanti setelah kita bayar ternyata tidak sesuai, jangan kita hanya lihat dari luarnya saja sayang tapi kita juga harus cek yang didalam kalau cocok dan sayang suka kita langsung bayar dan rumah jadi milik kita"
__ADS_1
"Mas rumah itu mahal masa sampai lima belas miliyar sih"
"Makanya sayang yuk kita cek dulu."
Akhirnya mereka pergi cek dan ternyata rumahnya mewah banget membuat Dea sampai terkagum-kagum melihat rumah itu.
"Wah....benaran mas ini rumahnya mewah banget ya ampun dalamnya juga ya sesuai dengan keinginan aku mas, dan sesuai juga ternyata dengan harga yang di berikan ya mas, harganya mahal tapi rumahnya juga sangat mewah, mas makasih rumahnya bangus banget mas"
"Bagaimana saya kamu suka gak rumahnya kalau kamu tidak suka biar kita cari lain lagi masih banyak kok perumahan di sini yang bangus-bangus, jangan kamu takut kalau mas marah, mas tidak akan marah kali ini mas akan manjain kamu apapun yang kamu minta akan mas kabulkan asal kamu mau menuruti apa yang mas mau, mas tidak menuntut apa-apa dari kamu sayang mas hanya minta kamu ikuti kemanapun mas pergi."
"Mas aku bahagia sekalu dan aku suka banget dengan rumah ini mas bagus banget kita ambil ini saja mas aku paling suka rumah ini."
"Baiklah, apa yang gak bisa mas lakukan untuk istri mas yang cantik ini, semua akan mas lakukan agar kamu bahagia sayang".
Dea terlihat sangat bahagia melihat rumah yang ada di depan mata ia tidak menyangka kalau rumah itu di belikan oleh suaminya dengan secara cash tanpa embel-embel kredit. Setelah selesai melihat rumah mereka kembali ke kantor marketing dan melakukan transaksi.
"Terimah kasih banyak Tuan sudah berkenan membeli rumah dk tempat kami semoga Tuan dan nona behagia tinggal di tempat ini" ujar laki-laki itu.
"Baik pak kalau begitu kami parmisi dulu." yuar Tahir
__ADS_1
"Mari Tuan"
Tahir dan Dea keluar dari kantor marketing dan kembali ke mobil tapu Dea tidak henti-hentinya tersenyum membuat tahir juga ikut bahagia