
Astaga, aku pikir pak Erik telpon karena ada hal penting yang ingin disampaikan, ternyata hanya menanyakan sudah dimana, karena sebentar lagi sudah sampai perempuan itu bisa jadi kami tiba di kantor bersamaan, ah oga berpapasan dengan manusia munafik kayak bu Anjani tapi mau bagaimana pun aku harus hadapi.
Aku langsung mengakhiri panggilan dengan pak Erik, begitu aku tahu pak Erik telpon hanya karena itu.
"Apa kata pak Erik mas."? Tanya Dinda.
"Pak Erik tanya kita sudah sampai dimana karena bu Anjani sebentar lagi tiba."
"Bodoh amat memangnya kenapa kalau dia sampai duluan, apa maksud pak Erik kita harus menyambutnya dengan tarian begitu enak kali." Dindah mah oga mas."
Aku melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, namun karena jalan raya lancar jadi kami cepat sampai aku langsung biarkan mobil didepan loby, dan asisten Argan memarkirkannya di parkir khusus untuk kendaraan pemilik perusahaan saja kalau parkir karyawan bedah lagi.
Aku turun dari mobil dan langsung mengandeng tangan Dinda dan hendak masuk kedalam kantor, namun ada sebuah mobil yang sangat aku hafal betul berhenti sempurna di depan loby utama. Tapi aku dan Dinda tidak mengindahkan, aku menggenggam tangan Dinda dan kami langsung masuk kedalam lift.
Aku dengar bu Anjani berbicara dengan seseorang tapi kami tidak peduli kami di ikuti oleh Gama dan asisten Arfan, sedangkan pengawal menunggu du bawah, setelah kami berdua keluar dari lift aku langsung bawah Dinda ke ruangan ayah yang biasa ayah pakek, karena disitu ada kamar tidur kalau ruang rahasia sebenarnya ada kamar juga tapi kami masih ingin ketemu dengan nyonya Winata.
"Sayang mau istirahat dulu atau setelah selesai makan baru istirahat." Tanyaku
"Setelah selesai makan saja mas baru istirahat. Lagian Dinda juga mau ketemu dengan nyonya Winata Dinda mau lihat sehebat apa dia sekarang"
Asisten Arfan dan Gama masuk ke ruangannya tiba-tiba ada ketukan pintu dari balik pintu.
To...tok..tok!
__ADS_1
"Masuk"!
"Parmisi Tuan muda, nyonya Winata sudah datang apakah Tuan mudah ingin ketemu dengannya? soalnya nyonya Anjani tidak tahu kalau Tuan muda dan nona muda ada disini. Tadi saya telpon itu agar saya tahu Tuan muda sudah dimana supaya tidak sampai bersamaan dengan nyonya Winata" tenyata yang datang adalah pak Erik, bu Anjani ada di ruangan pak Erik rupanya.
"Ya tentu pak Erik saya mau bertemu dengannya, tapi duluan saja nanti baru kami berdua datang, kalau nyonya Anjani tidak bisa sabar suruh pulang saja, oh, ya. Pak Erik apa tujuan nyonya Winata kesini ya"? Tanyaku.
"Kalau yang saya tahu nyonya Winata ingin membahas suntikan dana ke perusahaan,"
"Baiklah, tapi suruh saja nyonya Anjani kesini pak Erik kasian istri saya dia kecapean jalan. Pek Erik bilang saja mau pindah ruangan jangan bilang kami ada disini."
Pak Erik gegas pergi tidak lama kemudian pintu terbuka lebar tanpa diketuk aku dan Dinda mengernyitkan alis kami berdua saat tahu siapa yang datang.
Betapa terkejutnya wanita Tua itu saat melihat aku dan Dinda duduk santai di sofah, dia langsung mundur ke belakang,
" Sa....sayang ka...kalian ada disini, putry kesayangan ibu, apa kabar sayang ibu sudah lama tidak bertemu denganmu jadi ibu sangat kangen sama kamu sini ibu peluk dulu. Sekarang kamu sudah jadi orang kaya jadi sombong ya sama ibu Dav...seharusnya kamu jadi mantu yang baik itu selalu datang jenguk mertua.silaturahmi dengan keluarga kamu."
"Anda siapa ya, tidak sopan banget masuk ke ruang orang tanpa mengetuk pintu dulu, ini ruangan orang terhebat jadi tolong kalau masuk kesini budayakan mengetuk pintu, kalau pas aku dan suamiku bermesraan disini bagaimana punya etika tidak?" ujar Dinda. Biasanya kalau dulu di katain seperti itu langsung kena maki atau kena pukul tapi kali ini justru bu Anjan diam. Seketika wajahnya pias antara malu dan emosi.
"Nak kamu bicara begitu sih sama ibu kamu sendiri, kamu mau jadi anak durhaka sama ibu kamu sendiri aku ini ibu kamu nak jangan karena suami dan mertua kamu orang kaya jadi kamu lupa dengan ibu kamu. Ibu yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkan kamu dengan kasih sayang. Tidak masalah jika waktu kalian resepsi tidak undang ibu, ibu tahu kamu pengen punya ibu yang kaya raya biar bisa menunjukan kesemua orang, tapi karena perusahaan dalam masalah jadi kamu malu mengakui ibu sebagai ini kamu karena sudah tidak punya apa-apa.
Tidak masalah nak ibu maklumi kok tapi setidaknya kamu ingat ibu, berikan sedikit kompesasi untuk ibu, dan kalian pergi berlibur ke paris jadi mana oleh-oleh ibu"
Astaga bu mertua gila benar deh dia sudah melupakan semua kejahatan yang perna dia lakukan"
__ADS_1
"Nyonya Winata tolong anda duduk dulu dan jangan nganggu nona muda, tujuan anda kesini hanya untuk membicarakan perusahaan sekarang sudah ada Tuan muda silahkan bicaralah nyonya." pak Erik menyelah
"Tuan Erik..tolong sopan ya, saya ini mertuanya bos kamu, memang salah saya bicara dengan putry dan menantu kesayangan saya, sudah lama saya tidak bertemu dengan mereka jadi saya masih mau bicara dengan mereka. Atau anda mau saya menyuruh menantu saya pecat kamu, bicara dengan mertua bos tidak sopanbanget."
"Maaf nyonya tap....."? Belum selesai pak Erik bicara bu Anjani dengan tidak tahu malunya membentak pak Erik bahkan menyuruhku untuk pecat pak Erik, memang dia siapa.? Karena suara bu Anjani melengking membuat Dinda emosi apalagi mood Dinda kurang bagus setelah kedatangan bu Anjani.
"Diam kamu!" bentak bu Anjani.
Brakkk.....!
"Kamu yang diam! Siapa yang mengundang kamu datang teriak di ruangan suami saya, sejak kapan anda mengakui suami saya ini mantu kesayangan kamu he...jika nyonya mau bicarakan soal pekerjaan silahkan duduk nyonya untuk selesaikan tujuan nyonya kesini, karena ini bukan di rumah anda nyonya jadi bisa berteriak bebas. Tolong jaga sopan santun anda disini nyonya karena kita tidak saling kenal" bentak Dinda.
Bu Anjani mati kutuk, pak Erik senyum tipis karena gebrakan meja tadi kedengaran sampai di ruangan asisten Arfan sehingga asisten Arfan dan Gama lari masuk ke ruangan.
"Ada apa kakak ipar, ada yang menganggu kakak?" tanya Gama sedangkan bu Anjani sudah duduk dan menatap Gama dari ujung kaki sampai ujung rambut tidak berkedip.
"Tidak ada Gam, maaf ya bikin kalian kanget duduklah"Ujar Dinda lembut.
"Nyonya Winata selamat datang di perusahaan Adinata grup, maaf kita langsung saja ada yang bisa saya bantu nyonya?" aku bicara seperti kenal sebatas rekan bisnis bukan mertua.
"Nak kamu bicara apa sih saya ini mertua kamu ibu kandung Dinda kok tega kalian memperlakukan saya begini dimana hati nurani kalian nak" ujar bu Anjani agak sedikit meninggi suarsnya tapi masih bisa di kontrol
"Maaf nyonya, apa maksud nyonya dengan kata ibu mertua dan mantu?...dulu saya menikah dengan istri saya sudah tidak punya ibu lagi. Dan tinggal ayah mertua terus dari mana ceritanya saya punya ibu mertua, begini saja nyonya kalau nyonya tidak mau bicara silahkan keluar dari sini dan jangan perna menginjakan kaki disini lagi. Nanum jika nyonya masih mau disini silahkan sampaikan apa yang ingin nyonya sampaikan karena saya tidak punya waktu istri saya mau makan terus istirahat.
__ADS_1
Karena kalau tidak nyonya Adinata dan Tuan Adinata memarahi saya karena tidak perhatikan putry kesayangan mereka"
"deg..." perkataanku ngenah di hati bu Anjani pasti.