
Karena tidak ada respon sama sekali dari ayah akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ruangan dengan hati pilu, sakit rasaku melihat ayah yang sangat aku sayangi tidak ada respon sama sekali sama aku. Aku cemas dan tidak berdaya itu pasti, saat aku sampai di luar aku mendapati paman dan Gama masih setia menunggu mereka langsung melempar aku dengan banyak pertanya, tapi aku diam seribu bahasa rasanya sekedar membuka mulut saja tidak sanggup, bagaimana kalau sampai besok ayah belum juga sadar apa yang akan aku sampaikan ke ibu. Rasa bersalah itu terus menghantui ku.
Semua penjahat sudah kami basmi jadi sehsrusnya kami pulang dengan rasa bahagia dan legah bukannya pulang dengan suasana hati yang tidak karuan begini, mana kedua anak ku masih kecil dan perusahaan harus di kontrol walaupun ada orang kepercayaan tapi sebagai seorang pemimpin harus memantau, kalau pak Erik aku tidak kuatir karena aku tahu pak Erik orang kepercayaan ayah yang sangat jujur.
Tapi pak Erik juga dari tadi pagi juga disini duduk bersama pengawal tidak jauh dari aku dan Gams, tapi pak adalah orang yang pelit suara jarang sekali dis bicara kecuwali dia bicara hal penting barulah dia bicara kalau tidak kayak patung.
"Kakak bagaimana kondisi paman ada perubahan tidak? Bukannya kata dokter sudah stabil kondisinya ya kalau benar begitu seharusnya paman sudah siuman jadi kits tidak sepanik ini " tanya Gama aku mengelengkan kepala.
"Kalau begitu sekarang giliran paman yang masuk kalau nanti belum ada reaksi sama sekali giliran kamu ya nak kita bertiga gantian masuk kedalam ruangan. Siapa tahu setelah kita bertiga bicara dengan ayah kamu, dia cepat sadar nak." Ujar paman.
Aku ingin mendengar apa yang paman katakan kepada ayah, siapa tahu sesudah paman masuk kedalam ayah siuman. Lantaran pamam kan saudaranya ayah tapi kalau belum juga nanti besok giliran Dinda yang masuk siapa tahu berhasil.
"Ya sudah paman masuk aja kedalam nanti setelah itu baru Gama yang masuk, tadi Dava dapat telpon dari Andy katanya mau datang ke rumah sakit, mungkin sebentar lagi sampai padahal Dava sudah bilang besok aja baru datang karena ayah juga belum bisa di jengguk tapi Andy katanya besok itu sudah bedah hari jadi tidak masalah datang malam ini, aku tidak bisa memaksa." Ujar ku.
"Ya sudah kakak kalau memang pak Andy mau datang tidak masalah biar ada teman kita sekretaris Criss juga katanya datang lagi karena tadi pulang ganti dulu." Ujar Gama.
__ADS_1
Lihat yah, karena ayah sangat baik kepada semua orang sehingga pada saat ayah sakit mereka berbondong-bondong datang, katanya nanti karyawan perusahaan juga akan datang tapi mungkin besok. Cepat sembuh ya ayah biar kita bersama lagi kasian ibu saat ini lagi sakit apa ayah tidak kasian dengan ibu yang saat ini lagi sakit.
Paman langsung masuk kedalam ruangan dan aku bersama Gama di luar aku sengaja mendekati jendela ruangan agar mendengar apa yang di katakan Paman ternyata bukan aku yang penasaran Gama juga ikut penasaran.
"Kakak, cepatlah Mas cepatlah bagun kasian mbak Ziya dari kemari mbak Ziya juga sakit, lihat Dava dari kemarin sampai sekarang dia tidak istirahay mungkin dia merasa bersalah. Kamu tahu tidak mas aku rencana balik ke luar kota karena semua polemik sudah selesai dan acara juga sudah kelar jadi kami harus pulang karena perusahaan di sana tidak ada yang bisa menghandle nya.
Pada hal aku sudah bilang sama mbak Ziya kalai kami akan segerah balik kenapa mas justru sakit begini cepat lah sadar ya mas jangan begini terus kasian Dava ingat cucu mas masih pada kecil semua. Aku tidak banyak ngomong mas hanya satu yang aku inginkan mas cepat sadar." Ujar paman, memang paman tidak lama di dalam ruang langsung keluar tapi aku tahu hati paman juga sangat teriris.
Saat aku dan Gama duduk dengan bertukar pikiran tiba-tiba ada tangan menyentuh bahuku dan Gama dan aku tahu tangan siapa ini, tangan yang merawat dan menjaga aku dari kecil, jantungku berdegup kencang seoalah-olah ingin keluar dari tempatnya.
Aku dengan Gama menoleh bersama dan betapa terkejutnya aku dan Gama saat melihat siapa yang berdiri di depan kami berdua, aku dan Gama mati kutuk susa paya aku dan Gama menelan saliva kami. Bagaimana tidak wanita yang berdiri di depan kami adalah adalah wanita yang ingin kami hidari namun apa boleh buat kalau sudah di depan mata kami.
"Bi...bibi! Bukannya bibi istirahat ini sudah malam bi kenapa bibi ada disini"
"Ibu datang mencari kalian berdua, kenapa kalian berdua disini dan kenapa kalian berdua tidak jujur pada ibu Dava, Gama kenapa"? Tanya ibu.
__ADS_1
Memang ibu wanita yang lembut dan tidak suka marah tapi sekali marah walaupun bikan dengan kata-kata kasar tapi kalau suaranya agak sedikit berat itu tandanya ibu sedangka marah besar. Pertanyaan ibu membuat aku dan Gama gelagapan apa yang harus kami katakan mungkin ini lah waktunya untuk jujur sama ibu.
"Ibu...seharusnya ibu istirahat saja, kondisi ibu sekarang masih sangat lemah loh ibu tidak boleh banyak bergerak apalagi keluar dari ruangan." aku menatap tajam ke arah pengawal dan suster kenapa mereka membiarkan ibu keluar malam-malam begini.
Ibu menyadari kemarahan aku terhadap pengawal dan suster akhirnya ibu langsung bicara" jangan marahin pengawal mereka tidak salah, ibu yang meminta mereka untuk antar ibu kesini karena ibu tahu kedua anak laki-laki ibu mulai belajar berbohong terhadap ibu nya sendiri. Sekarang alasan apalagi yang ingin kalian berdua berikan" ujar ibu.
"Bibi! Sekarang bibi tenang dulu jangan marah nanti jantung bibi kumat lagi, sekarang Gama minta bibi tenang dan jangan salah paham, memang Gama dan kakak Dava dan kami semua sudah bohong sama bibi, tapi asal bibi tahu kami tidak ada niatan sekali pun untuk membohongi bibi melainkan kami sangat menyayangi bibi sehingga kami tidak nau bibi drop lagi. Kan Gama sudah bilang sebelumnya sama bibi kalau kondisi bibi sudah puli Gama janji akan menceritakan semu.
Gama dan kakak Dava tidak mau kesehatan bibi makin ternganggu saat mendengar berita yang tidak mengenakan ini, tapi jika bibi sudah siap biar Gama yang jelaskan peda bibi" ujar Gama panjang lebar membuat ibu diam sejenak mungkin ada yang ibu pikirkan sehingga ibu diam saja.
Aku mendekati ibu dan duduk di samping ibu, aku duduk disebelah kanan dan Gama di sebelah kiri sedangkan ibi di tengah." bu...maafin Dava ini semua gara-gara Dava seperti yang Gama katakan tadi bu bukannya kami ingin membohongi ibu tapi Dava tidak mau ibu makin drop saat mendengar penjelasan dari Gama dan Dava."
"Beritahu ibu apa yang terjadi dengan ayah kamu Dava, ibu kuat dan siap menerimah semuanya jangan sembunyikan apapun dari ibu, karena dari awal ibu sudah merasa kalau kalian sebenarnya menyembunyikan sesuatu dari ibu. Ibu sehat nak jadi jangan takut kalau ibi sakit lagi dari dulu juga ibu kuat saat kamu pergi dari rumah bukan"?
"Deg.....!" Perkataan ibu sangat ngenah di hati ini.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu Dava dan Gama akan ceritakan semuanya harap ibu tenang ya, jadi begini bu tadi pagi ayah kena tusuk pisau bu saat hendak menyelematkan Dava saat itu Dava tidak menyadari kalau seorang penjahat ingin menyerang Dava dari belakang. Luka tusuk ayah sangat dalam sehingga ayah kekurangan darah tapi ibu tenang ya ayah sudah mendapatkan donor darah jadi saat ini kondosi ayah sudah stabil kembali hanya saja belum siuman" ujarku
Aku kembali menjelaskan dari awal kejadian sampai ayah di larikan ke rumah sakit terdekat dan harus melakukan operasi disana barulah di rujuk kesini.