
Kebahagiaanku makin bertambah berkali-kali lipat setelah Dinda istriku melahirkan anak kembar hatiku sangat bersukacita,Tuhan mengambil satu dari kami tapi sekarang Tuhan mengantikan sekali dua, ternyata selama ini istri ku menyembunyikan kalau dirinya hamil anak kembar. Aku maklumi karena mungkin Dinda ingin memberikan kejutan untuk keluarga besar.
Memang dari malam Dinda sudah merasakan sakit perut, hanya saja hilang muncul-hilang muncul begitu terus pada akhirnya jam dua dini hari sakit makin parah kami langsung melarikan Dinda kerumah ke rumah sakit. Persalinan Dinda membuat hebo semua penghuni rumah, Sebenarnya dirumah juga bisa ada dokter pribadi semua alat juga ada hanya saja kami semua mengikuti kemauan Dinda, Dinda maunya langsung ke rumah sakit karena Dinda ingin melahirkan normal tidak ingin melahirkan sesar.
Sekarang aku sudah bahagia karena aku sudah menjadi seorang ayah, aku berharap tidak ada kejahatan yang datang menimpah keluarga kami. Aku memandang istriku yang lagi menahan sakit saat berjuang melahirkan kedua anak kembarku.
Aku tidak menyadari air mataku menetes melihat perjuangan istriku begitu penuh semangat, hanya suami pengencut saja yang suka selingkuhi istrinya dan suka main tangan menyiksa istrinya bahkan tidak menghargai istrinya sama sekali. Padahal seorang istri rela meninggalkan kehidupan yang enak dan nyaman saat masih tinggal dengan orang tuanya, dan memilih untuk tinggal bersama suami dan mertua tapi adakalahnya suaminya dan keluarga suaminya tidak tahu bersyukur sehingga mereka justru menganggap menantu perempuan adalah orang lain, hal itu kesempatan bagi mereka untuk menyiksa menatu perempuan, padahal mereka tidak sadar bawah menantu perempuan adalah garda depan di rumah.
Suami memang kepala rumah tanggah tapi kalau bukan istri semua juga berantakan, aku ingat semua itu jadi aku terharu dengan perjuangan kedua wanita hebatku, mereka adalah wanita luar biasa yang berjuang melahirkan anak-anaknya. Aku mengecup kening istriku dengan mesra aku memberikan kekuatan kepada istriku.
"Sayang kuat ya, mas selalu ada disampingmu mas tidak tinggalkan kamu, kamu wanita yang hebat dan kuat sayang." Aku memengang erat tangan istriku keringat halus bercucuran dari kening istriku. Pada akhirnya anak pertama kami keluar ternyata jenis kelamin laki-laki, aku pikir sudah selesai tapi ternyata tidak lama kemudian satu lagi keluar membuat aku terkejut ternyata istriku melahirkan anak kembar.
Aku tidak sadar jika aku lagi di ruang persalinan sehingga aku melompat sambil berteriak hore..... membuat para dokter dan suster menatap aku sambil tersenyum. Aku tidak peduli karena aku sangat bahagia. Aku sampai di tegur oleh seorang dokter tapi aku terimah juga karena memang aku salah.
__ADS_1
Akhirnya istriku selesai bersalin dengan lancar dan sekarang istriku dalam pemulihan, ayah dan ibu rencana membuat acara besar semua keluarga akan kembali lagi kesini untuk merasakan kebahagiaan berama kami.
Hari ini sudah satu hari Dinda dirumah sakit untung istriku tidak kenapa-kenapa begitu juga kedua bayi kembarku mereka sehat walafiat, Dinda meminta untuk langsung pulang saja ke rumah tapi aku dan semua keluarga tidak setujuh karena sudah di rumah sakit jadi biar tunggu sampai Dinda dan kedua bayi kuat dulu baru pulang, lagian kata dokter Juga tunggu sampai Dinda sehat dulu karena bayi kembar sangat besar jadi jahitan untuk Dinda lumayan. Karena Dinda banyak terlaku sehingga Dinda susa berjalan jadi harus di gendong.
Sayang...bagun biar mas lap dulu badanmu sayang atau kalau sayang mau suster yang lap, lebih baik mas aja yang lap ya biar dengan pelan l" ujarku.
"Mas tidak perlu lap, biar Suster saja karena suster pasti hati-hati jadi mas tidak perlu kuatir Dinda tidak apa-apa" ujar Dinda.
"Ya sudah kalau begitu sini mas antar kamu sayang ke kamar mandi hati-hati kalau di kamar mandi ya. Jangan sampai kamu kepeleset di kamar mandi" Ujar ku.
"Dava maaf aku baru datang soalnya aku baru mendengar kalau istri kamu melahirkan, jadi aku datang menjenguk kedua anak kamu pasti kamu bahagia kan? Karena sekali dapat dua sebenarnya aku juga bisa berikan lebih dari pada ini loh kepada kamu dan keluarga kamu, asal kamu mau menikah denganku orang sekaya kamu, aku tahu kamu tidak puas dengan satu orang wanita saja tidak masalah aku jadi yang kedua tapi aku bagian menemani kamu kemana kamu pergi." Ujar Aisya.
"Kamu ngapain kesini tidak ada yang mengundang kamu jadi sekarang aku meminta kamu untuk pergi dari sini, dan siapa yang berani mengijinkan kamu masuk kesini tidak ada yang mengundang kamu kesini karena aku tahu tujuan kamu . Tolong jangan menganggu kehidupan keluargaku karena hidup kami sudah bahagia." bentak ku emosi.
__ADS_1
Kenapa pengawal tidak menghalangi perempuan ini, seharusnya mereka lapor dulu biar aku ijinkan atau tidak. Aku langsung menarik tangan Aisya dan menyeretnya keluar dari ruangan tapi justru Aisya tidak mau sampai aku dengan Gama menyeretnya barulah berhasil kami bawah keluar.
"Sekarang aku minta kamu keluar dari sini karena aku tidak membutuhkan kamu. Jangan buat kekacauan disini jangan sampai aku membuat kamu menyesal." ujarku.
Bukkkkkkk!.....
"Pengawal siapa yang mengijinkan perempuan ini masuk kedalam, bukankah tadi aku sudah mengingatkan kalian kalau jika nanti ada tamu harus lapor dulu baru ijinkan masuk. Apalagi perempuan ini tolong jangan perna menginjinkan dia masuk kalau ada tamu wajib lapor." Ujarku emosi.
"Maafkan kami Tuan muda atas keteledoran kami, tadi aku kebelet jadi aku ke toilet sebentar sedangkan, Agung dan Adar tadi mereka ijin ke kantin jadi kami tidak tahu kalau perempuan ini datang Tuan muda maafkan kami" ujar salah satu pengawal ketakutan.
"Dav kamu seorang pria tapi kasar sekali, aku datang kesini dengan tujuan baik-baik aku hanya pengen tahu seperti apa wajah kedua anak setan kamu itu karena aku ingin membubuh mereka."
"Plakkkkkk!
__ADS_1
"Dasar perempuan murahan berani sekali kamu menghina kedua bayiku kamu pengen kehilangan nyawah, jangan kamu pikir karena kamu anak om Angga jadi aku takut menyentuh kamu aku tidak main-main dengan mu. Sekali lagi kamu katakan seperti itu aku hancurkan bibir kamu itu, cobak saja kamu bicara begitu didepan istriku kalau dia tidak membunuh kamu sekejap ini juga itu bukan Dinda namanya tapi orang lain." ujarku.