
Aku melihat wajah Dinda sudah mulai tidak bersahabat, tapi aku juga penasara apa yang ingin disampaikan oleh Lexza.
"Aku minta kamu kesini untuk menuntut pertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan terhadap mas Kenedy, karena klarifikasih kamu waktu pemilihan membuat mas Kenedy kalah kenapa waktu itu kamu tidak, membantah soal video itu saja bilang kalau video itu hoax. Dan itu editan sehingga mas Kenedy tidak dapat sangsi akhirnya kalah kamu senangkan menghancurjan impianku menjadi ibu negara, seharusnya kamu sebagai adik kamu membantuh atas kemenangan mas Kenedy bukan menghancurkan"
Oh...benar kata Dinda kalau Lexza minta ketemuan karena pasti mempersoalkan klarifikasih Dinda waktu itu, enak aja bilang istriku harus bertanggung jawab.
"Hehehe....lucu, ya untuk apa aku membelah seorang penjahat, aku memang bicara fakta bukan? Seharusnya kamu dan suami kamu itu bersyukur aku masih punya hati tidak menjobloskan kalian semua ke penjara, kamu pikir kenapa polisi tidak menangkap kalian setelah video itu viral? Karena aku yang menyuruh polisi untuk tidak perlu mengusut masalah itu karena aku cukup senang suami kamu yang seorang penipu dan penjahat itu kalah, aku tidak bisa bayangkan jika seorang penjahat memimpin negara ini bisa hancur kerena pemimpin penjilat dan cemar.
Seharusnya kamu dan suami kamu introfeksi diri kenapa suami kamu kalah aku rasa kamu sudah tahu jawabannya, tapi kamu saja yang pura-pura bodoh dan seolah tidak tahu karena kamu ingin menjadikan orang lain kambing hitam, Lexza! Dinda yang dulu dan sekarang itu berbedah, dulu kamu boleh menindasku tapi tidak untuk sekarang.
Biarpun aku tidak klarifikasih aku yakin suami kamu tetap kalah karena yang membuat suami kamu kalah itu bukan karena klarifikasihku tapi karena video me**m ibu kamu yang terhormat itu, memang kalian satu keluarga sifatnya sama, sama-sama tamak dan egois. Tidak ibunya, tidak anaknya apalagi ayahnya memang ya, kalau keturunan orang jahat dimana itu sama. Buah jatuh tidak jauh dari pohon." Ujar Dinda
__ADS_1
Seketika wajah Lexza langsung berubah saat mendengar kata ayah keluar dari bibir Dinda.
"Maksud apa kamu bilang ayah ha!...ayah ku itu ayah Evan pria yang baik hati-hati dengan bicara kamu, lagian itu yang seharusnya kamu lakukan tidak mungkinkan kamu penjarakan aku dan ibu, aku kakak kamu sedangkan ibu adalah ibu kandung kamu dimana hati nurani kamu kalau berani penjarakan aku, tapi apapun alasan kamu aku tidak bisa menerima atas kekalahan mas Kenedy karena gara-gara itu juga, tadi pagi dari pihak bank datang untuk menyitah semua aset dan termasuk rumah. Dengan gantinya karena kamu sudah mengacaukan semuanya aku minta kamu belikan rumah untuk aku dan Kenedi tinggal anggap aja hadia dari kamu"
Aku bukannya marah justru pengen tertawa terbahak-bahak karena ujung-ujungnya minta di belikan rumah enak sekali.
"Wah....wah...hebat sekali anda ya, memangnya anda siapa ya keluarga bukan saudara juga bukan, kok bisa-bisanya minta rumah sama kakak ipar, he mbak kalau mau rumah itu kerja biar bisa punya modal untuk beli rumah, memangnya kamu pikir kakak ipar itu pemilik properti jadi seenaknya kamu minta rumah lagian nih, seandainya kakak ipar punya properti juga aku yakin kakak ipar tidak sudih memberikan rumah untuk anda. Lucu ya bisa ketemu dengan orang tidak tahu malu seperti anda mbak, kekalahan suami anda itu bukan karena orang lain tapi disebabkan karena itu karma dari perbuatan kalian"
Hahaha...hajar Ririn, jangan biarkan dia bernapas sedetikpun, enak aja minta beli,in rumah kenapa ibu dan anak ini tidak punya muka sama sekali ya heran aku sama mereka. Dinda belum memberikan respon tapi dari tatapannya dan senyumnya agak sedikit menakutkan.
Seketika aku dan Ririn saling pandang kami berdua terkejut dong dengan perkataan Dinda bukan hanya kami berdua terkejut, pak Erik dan asisten Arfan yang mejanya hanya berapa senti dari kami terkejut sampai mereka menoleh ke arah kami, namun yang membuat kami makin terkejut justru perkataan Dinda membuat Lexza tersenyum aku baru menyadari kalau ternyata Lexza tidak mengerti rumah yang di maksud oleh istriku, sadis banget istri.
__ADS_1
Astaga bisa-bisanya Dinda bicara begitu bikin ngakak aja deh... tapi justru Lexza terlihat bahagi. Memang Lexza pikir rumah seperti apa yang Dinda maksud ya sehingga dia terlihat sangat bahagia.
"Wah....mantap banget ya kakak ipar mau kasih rumah ke orang jahat ini, kalau aku menjadi kakak ipar aku tidak sudih berikan rumah enak kali hidupnya mau rumah bukannya beli sendiri justru minta sama kakak ipar tidak punya malu kamu"
Oalah...kirain Ririn ngerti dengan perkataan Dinda tapi ternyata anak ini polos banget jadi dia pikir Dinda berikan rumah benaran, mana sudih istriku berbaik hati pada penjahat itu tidak ada di kamusnya. Aku pura-pura tidak mengerti dan bertanya pada Dinda.
"Serius sayang kamu mau berikan rumah untuk mereka bukankah mereka sudah jahat sama kamu sayang enak kali hidup mereka mendapatkan rumah dari kamu sayang. Tidak perlu kasih sayang biarkan mereka berusaha sendiri"
Karena perkataanku Lexza langsung marah karena mungkin dia takut aku menghasut Dinda dan Dinda tidak berikan rumah dia inginkan.
"He..Dava seharusnya kamu sebagai adik ipar itu mendukung istrimu untuk berbuat baik kepada keluarganya bukannya justru kamu menghasutnya untuk tidak berikan rumah, dan kamu kecoak kecil kamu siapa ya kok ikut campur urusan orang dewasa aja. Lebih baik kamu diam saja apa masalah buat kamu kalau aku minta rumah dari adik ku sendiri" ujar Lexza.
__ADS_1
"Mas, Ririn. Tenang ya aku sebagai adik harus berbakti kepada orang yang lebih tua dari ku lagian ini hadia terakhir untuk aku berikan kepada kepada mereka rumah terakhir untuk mereka tempati selamanya, anggap saja baktiku untuk terakhir kalinya kepada mereka, jadi kapan kamu mau aku antar ke rumah baru kamu sekarang juga bisa aku antar bagaimana kamu sudah siap aku antar ke rumah dimana ayah kandung kamu tinggal sekarang."
Ririn membulatkan matanya dengan sempurna sampao menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena Ririn baru paham kemana arah tujuan pembicaraan Dinda karena Ririn juga sudah tahu siapa ayah kandung Lexza.