Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
377


__ADS_3

Aku mengajak Rara untuk ikut berssama kami karena ada yang akan di lakukan oleh Rara. Karena aku mau tahu sampai dimana kejujurannya apakah karena dia takut sehingga dia bilang jika dia terpaksa melakukannya , atau dia hanya sengaja pura-pura berpihak kepada ku tapi ternyata dia masih setia dengan bosnya.


"Kalau begitu nona Rara ikut kami sekarang ya, kalau nona Rara ingin menganti pakian dulu tidak masalah" ujarku Rara langsung gegas pergi ganti pakian karena katanya Rara selalu bawah pakian ganti, memang dia terpaksa melakukan itu sehingga dia selalu bawah pakian ganti untuk menganti pakiannya saat dia bersiap mau pulang.


Tidak berselang lama Rara kembali dengan pakian yang sudah rapi, celana panjang kalau baju tidak perlu di ganti hanya kancingnya saja yang perlu di kancing kembali.


"Tuan sudah selesai jadi boleh kita berangkat sekarang?" Tanya Rara.


Kami langsung berangkat karena hari sudah mulai sore juga Rara ikut dengan mobil pengawal, kami masuk kedalam mobil masing-masing dan meninggalkan perusahaan.


Saat ini kami dalam perjalanan menuju ke tempat di mana pria tua bangka itu di sekap, namun fokusku ternganggu saat mata ini tidak salah melirik seseorang berpakaian tertutup menyebrang jalan dan aku yakin itu bu Anjani.


"Pak Erik stop.....spontan aku teriak menyuruh pak Erik yang sementaran nyetir terkejut sehingga pak Erik rem mendadak, kami hampir sedikit di tabrak dari belakanng tapi untung mobil yang dari belakang juga rem mendadak sehingga hanya sedikit tergores mobilnya, awalnya pemilik mobil hendak marah tapi saat pemilik mobil melihat ayah dan aku mereka justru minta maaf dan pergi, aku sempat nanya kalau perbaiki mobil yang tergores itu berapa justru pemilik tidak mau.


"Ya ampun Tuan muda ada apa? Maaf saya terkejut sehingga saya rem mendadak sepertinya ada mobil di belakang kita deh Tuan muda karena terkejet saya rem mendadak sehingga dia menyengol belakang mobil kita "? Tanya pak Erik.


" Pak Erik maaf aku tadi lihat bu Anjani lewat kesana, apakah bisa kita mengejarnya? aku yakin dia masih di sekitar sini pak Erik dia belum jauh dari sini "? Tanyaku.

__ADS_1


Kita bisa mengejarnya Tuan muda kalau kita jalan kaki kalau naik mobil tidak sempat karena sampai disana orangnya sudah pergi apalagi sudah mulai macet begini, itu mah gampang Tuan muda tunggu kita selesaikan satu-satu dulu. Sepertinya saya harus turun untuk bicara baik-baik dengan pemilik mobil yang ada di belakang kita Tuan muda." ujar pak Erik.


Benar juga kata pak Erik, dia sudah kapan sampai kami menyeberang dia sudah hilang biarlah kami selesaikan satu-satu masalah ini dulu, gara-gara aku teriak hampir sedikit tabrakan gila juga nih.


"Kita sama-sama turun aja pak biar cepat selesai, aku yakin orang itu akan marah karena mobilnya terseret oleh " ujarku kami langsung turun ternyata ayah dengan yang lain juga ikut turun, sehingga kami mendekati pemilik mobil.


"Pak maaf saya terkejut sehingga saya rem mendadak, mobil apa yang rusak pak biar saya ganti rugi dan boleh di perbaiki lagi." Ujar pak Erik.


"Maaf Tuan muda, Tuan besar dan Tuan Erik saya tidak tahu jika ini rombongam Tuan Adinata, tidak perlu Tuan hanya tergores sedikit saja karena saya juga tidak hati-hati sehingga saya menyengol daei belakang." Ujar pria itu entah dia kenal aku dan ayah dari mana lancar jaya dia bicara. Saat kami periksa ternyata memang mobilnya tergores sedikit saja. Karena pria itu tidak mau di bayar akhirnya kami minta maaf dan kembali masuk kedalam mobil dan pergi.


"Tenang saja Tuan muda, setelah selesai masalah ini saya yakin kita akan menemukannya dan mengantarkan kembali ke lapas" ujar Pak Erik.


Hampir satu jam lebih akhirnya kami sampai juga di tempat penyekapan Tuan bangka itu, pak Erik langsung menghentikan mobilnya dan kami langsung turu.


"Nona Rara ikut kami, nanti sampai di sana nona Rara ikuti apa pun yang akan kami perintahkan jangan membantah" ujar ku.


"Baik Tuan. Saya akan melakukan apapun yang akan di perintahkan Tuan" ujar Rara.

__ADS_1


Aku yakin Rara tidak tahu apa yang akan dia lakukan dan Rara juga tidak tahu kalau tua bangka Angga lagi di bekap sama anak dan istrinya, pasti Rara terkejut nanti kalau dia mengetahui semua ini.


Kami masuk kedalam ruang bawah tanah, namun betapa terkejutnya aku dan ayah serta yang lain saat kami masuk kedalam, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat di hadapanku, ya Tuhan istriku begitu sadis, dia meracik kabel dan mempergunakan kabel itu untuk menyetrom om Angga, istri dan putrynya sehingga mereka bertiga tergeletak di lantai di temani oleh dua orang pengawal.


Sadis itu yang aku ungkapkan dalam hati, kami belum mendekat tapi justru kami berdiri terpaku di tempat bahkan Rara yang melihat itu, langsung kecing di di celana karena gemetaran mungkin terkejut dengan adanya om Angga di ruangan itu dan sudah tidak berdaya dengan siksaan dari istriku, Aisya masih punya tenanga memohon ampun agar Dinda berhenti menyiksa mereka.


"Bagaimana Nona Aisya? Apakah anda masih belum percaya dengan ancaman yang aku ucapkan, aku sudah bilang sebelumnya jangan perna main-maim dengan ku karena kalau anda bermain dengan aku anda salah orang, aku satu orang tidak akan mengampuni seorang penjahat jika dia sudah lancang menganggu ketenangan keluargaku, apakah belum puas biar aku lakukan lagi."


Dinda mungkin belum puas sehingga dia langsung meletakan di tangan Aisya langsung menghidupan listrinya sehingga membuat Aisya dan ibunya berteriak meminta untuk di hentikan.


"Ampun nona mudah, ampum tolong hentikan saya akan melakukam apapun yang akan nona muda inginkan, saya mengakui saya salah tolong lepaskan saya dan orang tua saya nona muda" ujar Aisya.


"Hahaha.....ampun anda bolang nona Aisya yang terhormat? Maaf sudah telat tidak ada lagi waktu untuk manusia licik seperti kalian bertiga untung Tuan muda meminta kepadaku untuk jangan membunuh kalian dulu kalau tidak saat ini juga saya akan menghabisi kalian bertiga dan pengawal kalian yang ada disini, jadi jangan bermimpi untuk kaliam bertiga keluar dari sini karena aku jamin hidup kalian tidak lama lagi dan khusus untuk kamu nona Aisya, carilah pria yang belum punya istri jangan suka mengodah suami orang."


Ya Tuhan aku kami semua terkejut mendengar penuturan Dinda, ternyata Dinda tunggu aku berangkat ke kantor baru dia datang kesini tanpa memberitahu ku, dan dari tadi Dinda juga tidak menyadari kami semua menatapnya dari pintu sebenarnya kedua pengawal itu sudaj melihat kami sehingga mereka juga terkejut tapi aku memberikan kode untuk mereka diam saja tidak perlu bicara, aku ingin melihat sampai dimana Dinda menyiksa ketiga orang itu.


Ayah justru senyum-senyum aja melihat menantunya menyiksa orang berbedah dengan kami justru Rara gemetaran hebat dia ketakutan dia takut nasibnya akan sama seperti ketiga orang itu, padahal tujuan kami membawah Rara kami rencana untuk menyuruh Rara yang menyiksa ketiga orang itu, ternyata kami terlambat.

__ADS_1


__ADS_2