
Setelah bu Anjani pergi, tidak lama kemudian asisten Arfan datang dan mengatakan kalau makan siang sudah siap, lagian ini sudah jam makan siang.
"Tuan muda makan siang sudah disiap, apakah hidangkan disini saja atau Tuan muda makan di restoran saja." tanya asisten Arfan.
"Antar kesini saja Arfan, nona muda ingin makan disini saja," ujar ku
"Baik Tuan muda" Arfan berlalu pergi.
Tidak lama kemudian pintu terbuka dan nampak pelayan restoran mengantarkan makanan, dan langsung di hidangkan makanan di atas meja setelah selesai mereka langsung berlalu pergi. Dan kami langsung makan karena memang aku juga sudah sangat lapar gara-gara berdebat dengan bu Anjani untung dia tidak seperti singa jadi kami masih bisa bernafas lega.
"Sayang kamu harus banyak makan, ingat sekarang kamu makan bukan untuk kamu saja sayang tapi juga dengan janin kamu jadi kamu harus banyak makan."
"Mas, perut Dinda bukan gentong jadi semua makanan yang ada di atas meja harus masuk ke perut Dinda bukan? Lagian kalau nanti Dinda lapar makan lagi."
" Ya, sudah silakan makan nyonya Dava hahaah" kami bertiga makan bersama Gama, kalau pak Erik dengan asisten Arfan mereka memilih makan di bawah saja. Padahal makananya banyak sekali jadi aku ajak mereka makan bareng justru mereka tidak mau ada-ada saja."
Saat kami sedang makan tiba-tiba ada panggilan masuk ke hp Dinda hanya sekilas aku lihat tapi nomor baru. Kira-kira siapa ya aku jadi penasaran siapa yang menelpon istri ku.
"Sayang ada telpon tuh, angkat dulu nomor baru loh yang telpon, siapa tahu penting sayang"?
__ADS_1
"Mas tolong bantu angkat gih hp ada disamping mas tuh, lagi enak makan baru di telpon, siapa sih pakek nomor baru" akhirnya aku yang angkat telpon tapi sebelum aku mengucapkan salam sudah ada kata makian dari seberang telpon.
"He...******, kamu yang namanya Dinda ya, aku minta sama kamu ya jauhi Tuan muda Dava karena itu calon suami ku berani sekali kamu merebut dia dari ku, jangan sampai aku ketemu kamu aku patahkan lehermu." Jelas aku terkejut dong mendengar istriku mendapatkan perlakuan seperti ini, tapi aku masih diam aku mau mendengar kata-kata selanjutnya.
"Kamu itu bukan tandinganku aku sudah lama mengenal Dava jadi hanya aku yang bisa menjadi istrinya, kamu juga tidak pantas menjadi nona muda. Dasar perempuan murahan, atau jangan-jangan Dava suka sama kamu karena kamu pakek pelet dan menjajahkan tubuhmu di atas ranjang Dava, makanya Dava ganpang menyukai kamu aku kasih kamu waktu untuk menjauhi Dava untuk pergi kamu pergi jauh dari kehidupan Dava."
Kurang ajar kamu Emelia, bisa-bisanya dia menghina istriku begitu dia tidak tahu siapa istriku, jangan sampai kaki dan tangan kecilnya di patahkan oleh Dinda. Hidupnya sudah baik-baik bukannya menikmati justru mau cari perkara dengan singa yang tertidur, apalagi singaku ini lagi mengandung astaga makin ganas. Baiklah aku akan kerja sama dengan Gama dan Arfan untuk kerjain Emelia, aku pikir kamu sudah kapok ternyata kamu belum kapok juga ya baiklah aku akan meladenimu.
"Hallo siapa ini telpon ke nomor istri ku, maaf tadi aku angkat tapi ada sedikit kesibukan jadi aku tidak mendengar apa yang anda bicarakan." Belum selesai aku bicara dia sudah matikan telpon, aku ambil nomor hpnya dan aku sengaja kirim ke Gama.
Aku kembali meletakan hp Dinda di atas meja dan kembali makan makananku, dasar wanita tidak jelas menganggu acara makan aku aja heran dengan perempuan gila jaman sekarang suka rebut suami orang, padahal bukannya tidak ada pria lain bahkan yang masih jomblo saja banyak.
Kenapa aku jadi ilfil sama perempuan begitu ya, apalagi perempuan bar-bar lebih baik jauh deh dari hidupku aku paling tidak suka perempuan seperti itu. Setelah selesai makan dan meja kembali di bersihkan Dinda menanyakan siapa yang menelpon tadi, tapi aku hanya bilang nomor nyasar. Aku tidak mau istriku emosi tapi aku akan membuat Dinda memberikan pelajaran kepada perempuan sinting itu biar kapok.
Kalau dia masih mau mengodah aku lagi mungkin jalan satu-satunya aku hancurkan perlahan, atau aku terimah saja tawaran kerja sama dengan perusahaan ini kali ya, biar aku menanam saham sekitar lima puluh parsen kalau dia macam-macam aku tinggal hancurkan dia melalui bisnis gampang sih sebenarnya, kalau mengelabui perempuan bar-bar dan yang paling parah tidak tahu malu.
Tapi aku harus minta pendapat para pembaca setia author dulu, takutnya author yang di serang oleh para pembacah karena menghadirlan pelakor haha.
"Tadi itu nomor nyasar sayang katanya salah sambung makanya dia langsung matikan, tidak perlu dipikirkan nomor tidak jelas itu sayang."
__ADS_1
"Oalah kirain siapa lagi yang telpon. Ya sudah mas, Dinda mau istirahat dulu mas mau kerjakan? jangan keluar kemana-mana ya lagian mas dengan Gama disini tidak apa-apakan mas?"
"Tidak apa-apa dong sayang" aku langsung mengendong Dinda dan membawahnya ke kamar biar Dinda istirahat karena aku mau bicara bertiga dengam Gama dan asistem Arfan.
Setelah aku merasa Dinda sudah tidur akhirnya aku kembali keluar dari kamar ternyata asisten Arfan ada di ruangan bersama Gama, bagusnya tanpa di panggil orangnya sudah ada disini.
"Gama sama asisten Arfan kalian berdua bisa tidak bantu aku" ujar ku.
"Memangnya bantu apa kakak"? Tanya Gama.
"Iya Tuan muda kalau bantu kami pasti bantu apalagi saya tapi bantu apa dulu".sambung asisten Arfan.
"Sini aku bisikan ke kalian tapi jangan sampai istriku tahu ya."
Saat aku memberitahu kedua orang ini justru mereka berdua terkejut dan mengelengkan kepala, tidak ada yang mau bantuin aku haahha dasar penakut.
"Aduh, kakak jangan menarik aku kedalam gua singa aku tidak mau mati konyol kakak, kakak tahu sendiri seperti apa seramnya kakak ipar kalau marah. Kakak tidak mau kan wajah tanpan ku ini boyok, kakak jangan cari perkara."
"Tuan Muda boleh tidak, minta bantuan yang lain saja kalau ini saya tidak bisa bayangkan betapa murkanya nona muda, bisa boyok kami berdua dan perempuan itu Tuan muda. Saya masih mau kerja, belum mau mati masih muda."
__ADS_1
Astaga kedua orang ini kenapa tidak ada yang mau membantu aku untuk berikan pelajaran kepada perempuan itu sih, tapi ada benarnya juga kata mereka berdua bisa jadi boyok di bikin Dinda.