
Akhirnya kami sampai di pengadilan ternyata aku dengan mas Dava yang duluan nyampe, sesampai di pengadilan asisten Arfan langsung mencari tempat parkir untuk memakirkan mobilnya, aku melihat keluar tapi belum ada siapapun disitu itu tandanya ayah dan kakak Dea belum datang, tunggu saja pikirku mungkin sebentar lagi sudah datang.
Tidak lama kemudian sebuah mobil mewah memasuki parkiran pengadilan aku tahu itu mobil ayah dan ternyata di belakang ada sebuah mobil dan ternyata mobil itu adalah milik pengacara pak Rendy, ternyata hari ini pak Rendy datang kenapa sidang pertama aku tidak melihatnya seharusnya dari awal pak Rendy juga harus hadir. Aku dengan mas Dava turun dari dalam mobil dan menghampiri ayah dan ibu aku mencium punggung tanggan ayah dan memeluk ibu.
Apalagi hampir satu minggu lebih kami tidak ketemu jadi sekali ketemu harus melepaskan rasa rindu. Aku kadang merasa sedih kenapa aku tidak perna merinduhkan ibu kandung yang sudah melahirkanku, tapi justru aku lebih merinduhkan ibu sambungku. Sesakit itukah hati ini sampai tidak perna memikirkannya padahal sebentar lagi bu Anjani akan masuk penjara.
"Ayah, ibu apa kabar? Kakak Dea dan mas Tahir juga belum datang ya ayah,"? Tanyaku
"Kabar ayah dan ibu baik sayang seperti yang kamu lihat sekarang, bagaimana kabar kalian berdua sehatkan nak? Kandungan kamu juga baik-baik ajakan"? Tanya ayah dan ibu hampir bersamaan.
"Baik bu, yah. Oh ya. Kakak Dea tumben belum datang biasanya jam segini mereka sudah datang tapi kok belum sih yah"? Tanyaku.
"Mungkin sebentar lagi mereka sudah datang kita tunggu saja dulu. Masih di jalan pasti mereka terjebak macet nak" ujar ayah
__ADS_1
Tidak lama kemudian mobil tahanan datang membawah kedua terdakwa. Aku dan mas Dava sedangkan Ayah dan bu Riska tidak ketinggalan paman Gibran dan ibu Lya juga turut hadir menyaksikan hukuman seperti apa yang akan di berikan oleh kedua terdakwa ini.
Dua orang petugas turun dari mobil tidak lama kemudian turun juga Anjani, yang membuat hatiku sedikit terenyuh adalah saat melihat penampilannya sangat berantakan, wajah kusam dan rambutnya tidak terurus seperti perempuan gila memang dia dulu sangat melukai hatiku tapi saat aku melihatnya hatiku agak sedih.
"Ibu jujur aku sangat merinduhkan kasih sayang dari kamu bu, aku tidak bisa bohong dengan perasaan ini tapi saat Dinda ingin mendekat justru sikap ibu membuat Dinda kembali menjauh, ibu memang jahat lebih jahat dari orang lain tapi Dinda sudah tidak membenci Ibu lagi semoga dengan cara ini ibu cepat sadar dan bertobat ya bu maafkan Dinda tidak bisa membantu karena semua ini salah ibu." gumam ku dalam hati.
Aku menunduk kepala dan tidak terasa bulir bening mengalir membasahi pipi ini, ya Tuhan aku tahu hatiku sangat sakit dan luka yang sudah di torehkan olehnya belum sembuh tapi hati dan perasaan tidak bisa di bohongi. Sejahat apapun dia, dia tetap ibu kandung aku tapi hukum tetap berjalan karena bu Anjani juga salah.
Bu Anjani memandang aku dengan tatapan tajam, dan mendekatiku aku masih bergeming bu Anjani membisikan sesuatu di telingaku.
Bukkkkkk!
Aku mendorong bu Anjani dengan kuat sehingga bu Anjani terjatuh aku tidak peduli karena baru saja aku kasihan sama dia, tapi sekarang justru membuat aku kesal sehingga aku mendorongnya.
__ADS_1
"Sampai kapan ibu akan berubah sadar bu, sadar ingat sebentar lagi ibu akan menanggung apa yang ibu tuai jadi apalagi yang mau ibu cari, ancaman ibu tidak membuat Dinda takut bu tapi ibu harus ingat satu hal jangan sampai Lexza yang akan menyusul ayahnya kalau dia berani macam-macam dengan Dinda. Ibu tahukan kalau Dinda sudah gelap mata Dinda tidak pandang bulu entag itu saudara atau itu siapa jadi tolong sampaikan sama Lexza berhenti menganggu kehidupan Dinda takutnya dia bernasib sama dengan ayah kandungnya Admaja.
"Satu lagi bu, jangan ibu pikir Dinda tidak berani membunuh ibu, sebenarnya Dinda sangat berani untuk menghabisi ibu tapi sayangnya Dinda di larang oleh suami Dinda, dan juga ayah sehingga Dinda tidak melakukannya sekarang ibu menikmati saja nasib ibu di sel tahanan nanti dan merenungi perbuatan ibu disana agar saat ibu keluar dari penjara ibu sudah bertobat. Jangan ibu merasa paling benar dan menyalahkan orang lain padahal ibu yang salah."
"Dinda titip pesan buat Lexza ya bu tolong sampaikan kepada Lexza biar dia berhenti melakukan hal gila yang akan membuat hidupnya hancur, lebih baik dia fokus saja dengan kehidupan rumah tanggahnya agar hidupnya bahagia itupun kalau dia tidak egois. Tapi kalau dia egois dan tidak mau mengindahkan perkataan Dinda terserah kita lihat saja bu."
Aku sudah bicara panjang lebar tapi sepertinya parcuma deh, dari eksoresi wajah ibu. Sepertinya dia tidak mengindahkan perkataanku. Tidak masalah sih asal dia tidak menganggu kehidupan aku aja.
"Hahaha...dasar anak iblis tidak tahu untung jangan harap aku sampaikan perkataan tidak jelas kamu itu ke Lexza, karena sampai kapanpun dia tidak akan mengikuti apa yang kamu inginkan dia tetap menghancurkan kehidupanmu bahkan dia akan membunuh kamu, kalau kamu mau hidup kamu tenang hanya satu syarat saja yang akan aky berikan untukmu yaitu kamu harus bujuk ayah kamu agar dia mencabut semua tuntutan aku dengan Ogen supaya kamu dibebaskan kalau tidak Lexza akan membunuhmu."
"Jangan bermimpih karena sampai kapanpun aku tidak akan membebaskan manusia biadab kayak kamu, silahkan saja anak haram kamu itu mencelakai anak ku, aku tidak segan membunuhnya jangan salahkan aku karena aku paling anti di permainkan terus. Berani-beraninya kamu mengancam putryku bilang begitu enak aja dasar manusia tidak tahu diri.
Aku harap dengan adanya semua bukti kamu dijerat pasal berlapis sehingga kamu mendekam di penjara lebih lama lagi, makanya jadi manusia itu jangan serakah sekarang sudah tahu akibatnyakan"
__ADS_1
Ayah juga ikut emosi mendengar perkataan ibu. Padahal dari tadi ayah dan ibu Riska diam saja, aku tahu sampai sekarang ibu Anjani belum iklas melepaskan ayah untuk bersanding dengan wanita lain tapi mau bagaimana, semua sudah terlanjur dan tidak bisa di putar kembali. Penyesalan itu selalu datang terlambat itulah yang alami oleh bu Anjani nasi sudah jadi bubur.