
Pov Dinda.
Aku merasa lega karena pada akhirnya satu masalah selesai, dengan perkara Ogen dan Anjani mereka sudah mendapatkan apa yang mereka tabur itu juga yang mereka tuai, sekarang mereka sudah tuai apa yang mereka lakukan.
Keputusan dari pengadilan membuat hatiku sangat bahagia karena hukuman sesuai dengan perbuatan, mereka walaupun hukuman Ogen lebih ringan dari pada hukumam Anjani tapi tidak masalah yang penting hidupku sudah bisa tenang, namun aku salah karena ternyata ada cobaan baru dalam kehidupan rumah tanggahku setelah menghilangnya Lexza membawah tantangan terbesar bagiku.
Aku harus melakukan sesuatu sebelum Lexza bertindak lebih jauh dan pada akhirnya aku membunuhnya, entah Lexza tahu dari mana aku yang membunuh ayahnya Admaja, itu yang membuat aku di teror terus sama Lexza aku harus cari tahu siapa yang beritahu dia. Atau jangan-jangan dia pergi jenguk Anjani di penjara.
Hari ini adalah hari putusan hukuman untuk Ogen dan Anjani. Aku sudah janji dengan ayah dan kakak Dea untuk datang ke pengadilan menghadiri sidang akhir Ogen dan Anjani.
Aku dengan mas Dava sudah siap untuk berangkat ke pengadilan untuk menghadiri sidang terakhir Anjani dan Ogen. Aku meminta mas Dava untuk cepat karena dari tadi suamiku sangat lelet.
"Mas cepat dong bersiapnya sudah jam tujuh loh ayah, ibu dan yang lain sudah menunggu di meja makan, biar kita langsung sarapan masa ayah dan ibu selalu menunggu kita mas" ujarku agak sedikit kesal karena suamiku justru bersiap seperti perempuan.
"Sabar istriku sayang, tunggu sebentar dulu mas belum selesai bersiap. Lagian ayah dan ibu katanya ada mau bicara sesuatu dengan Kita sayang kira-kira ayah mau bicara apa ya? Atau jangan-jangan ayah sudah tahu soal kejadian waktu di taman dengan Emelia apalagi setelah kita pulang dari rumah sakit sampai sekarang kita belum menjelaskan apapun kepada ayah dan ibu semoga ayah dan ibu hanya ingin bicara yang lain bukan membicarakan hal itu"
"Itu dia mas makanya cepat biar kita tahu apa yang mau ayah dan ibu bicarakan. Dinda juga takut kalau ayah dan ibu tahu pasti mereka marah besar "
__ADS_1
"Maafin mas ya sayang, mas belum bisa menjaga kamu dengan baik hampir sedikit kita kehilangan bayi kita lagi. Mas janji mas akan menjaga kamu dengan baik mulai sekarang apalagi peruk kamu makin membesar"
"Tidak masalah mas lagian sekarang Dinda tidak kenapa-kenapa juga masih sehat bayi kita juga sehat, salah Dinda juga tidak perhatikan perempuan gila itu sampai dia mendorong Dinda "
Jujur aku penasaran apa yang ingin ayah dan ibu tanyakan karena, ayah dan ibu tidak biasa seperti itu kecuwali ada sesuatu hal penting baru ayah dan ibu ingin bicara. Jadi kali ini aku yakin ada hal penting sehingga ayah ingin bicara.
Setelah mas Dava selesai bersiap kami langsung turun ke bawah, dan menujuh ke meja makan seperti biasa ayah dan ibu sudah ada. Kadang aku malu karena selalu di tungguin oleh ayah dan ibu tapi justru ayah dan ibu tidak perna marah justru mereka tertawa.
Kami langsung makan setelah selesai makan kata ayah ingin bicara dengan kami akhirnya kami langsung duduk di ruang tengah, menunggu apa yang ingin di sampaikan oleh ayah. Jantung ku tidak aman aku tahu mas Dava juga sudah jantungan karena takut ayah menyinggung sesuatu yang kami hindari.
"Nak kamu tahu kalau nanti malam perusahaan Jayara, ulang tahun jadi kita di undang perusahaan anak cabang dan pusat juga ikut di undang semuanya, jadi menurut ayah nanti malam kamu datang sama Dinda dan ibu sama ayah karena perusahaan Gama dan Rafa juga du undang jadi biar kita sama-sama aja bagaimana"? Tanya ayah.
"Iya ayah Dava juga baru ingat soal undangan itu, tapi untung ayah sudah ingatkan, baiklah ayah malam jam tujuh kita kesana. Mungkin Rafa pergi sama Ririn terus ayah mertua pergi dengan tante Riska. Biar Gama sendirian aja jomblo." Ujar mas Dava jailin Gama.
"Ah kakak Dava kebiasaan deh selalu memojokan ku padahal kalau Gama mau banyak cewek antrian tapi Gama aja yang tidak mau. Gama dibandingkan dengan kakak Dava, masih gantengan Gama juga dibawah kemana-mana ." Ujar Gama tidak mau kalah.
"Parcuma sih kakak Gama tanpan, kalau tidak punya pasangan masih kalah jauh dari kakak Dava dong, jadi jangan bilang kakak Gama itu tanpan kalau kakak Gama masih jomblo kasian loh."
__ADS_1
Ririn tidak mau kalah jadi langsung ikut nimbrung ngejek Gama, membuat Gama senyum masam.
Kedua anak ini seperti tom dan jerry tidak perna akur sama sekali. Mereka berdua selalu bertengkar tapi juga saling menyayangi satu sama lain. Aku senang melihat mereka karena Gama dan Ririn selalu menjadi penghibur bagi kami.
"Ya sudah kalau begitu bagaimana kalau nanti pas kamu pulang dari pengadilan kita harus pergi cari gaun untuk nanti malam sayang, ibu tunggu di butik aja ya sayang atau bagaimana"? Ujar ibu.
"Tidak perlu ibu, pakian Dinda masih banyak di lemari jadi tidak perlu ibu biar Dinda pakai yang ada aja kalau Dinda beli terus nanti pakian yang ada tidak akan di pakai. Mas Dava sudah banyak beli barang untuk Dinda jadi tidak perlu beli lagi ibu."
"Sayang, jangan begitu baju itu semua sudah lama jadi ini acara resmi sayang kamu harus pakek baju baru, kita harus pilih gaun baru di butik ibu saja sayang, banyak model baju baru di butik ibu. Jangan nemikirkan model baju nanti ibu yang memilih modelnya pasti putry ibu suka."
"Baik ibu, Dinda ikut saja ibu yang penting ibu senang Dinda tidak masalah jadi nanti pulang dari pengadilan baru Dinda dan mas Dava langsung ke butik untuk mencari baju, tapi ayah dan ibu langsung ke butik atau ke pengadilan juga."
"Ibu dengan ayah langsung ke butik aja nak, soalnya ayah dan ibu ada mau ke perusahaan sebentar jadi salam untuk besan saja kalau ayah tidak bisa ikut"
"Baik ayah kalau begitu kamu langsung saja ke pengadilan saja karena sidang mulai jam sembilan" ujar mas Dava
"Baiklah nak kalau begitu silahkan saja, dan hati-hati di jalan."
__ADS_1
Setelah kami selesai pamitan dengan ayah dan ibu kami langsung pergi aku menuntun Dinda dan kami keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil dan pergi dari rumah.