Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
324


__ADS_3

Aisya masih terduduk di lantai dengan tangannya menjulur ke aku, sedangkan aku sementara duduk di tangan sebelah ada hp aku sama sekali tidak bergerak untuk menolongnya. Lagian bukan aku yang membuat dia jatuh siapa juga yang menyuruhnya sembarangan menyentuh aku, padahal tadi dengan matanya sendiri melihat kalau aku mengandeng Dinda.


Aku hanya menatapnya dengan tajam, asisten Arfan dan semua pengawal mereka masih berdiri tidak jauh dari Aisya hanya saja Aisya tidak mau di sentuh oleh pengawal. Sehingga dia masih ingin aku membantunya bangkit dari duduknya.


"Pokoknya aku tidak mau orang lain aku hanya mau Dava yang membantu aku bangkit berdiri karena Dava yang mendorong aku." ujar Aisya belum aku menjawab Dinda muncul.


Namun kami semua di kejutkan dengan kedatangan Dinda, Dinda menatap kami semua satu persatu tanpa bertanya Dinda langsung mengulurkan tangannya dan membantu Aisya berdiri, hal itu membuat kami semua saling pandang.


"Loh nona ngapain duduk di bawah, asisten Arfan tolong dong bantuin nona ini bangun kenapa kalian hanya menatapnya begitu. Masa gadis cantik nona dibiarkan duduk di bawah tidak boleh begitu" Ujar Dinda santai.


Sedangkan Aisya tersenyum menatap Dinda yang mengulurkan tangannya untuk membantunya bangkit berdiri. Aku berharap Dinda tidak mendengar apa yang di katakan Aisya tadi biarlah nanti sampai di rumah baru aku jelaskan ke Dinda, jangan sekarang karena acara masih berlangsung.


"Yok nona sini aku bantuin untuk bangkit berdiri, maafkan pengawal dan asisten aku ya nona, mungkin mereka takut menyentuh tubuh nona sehingga mereka tidak mau mendekati nona. Karena pengawal dan asisten aku tahu kalau tubuh nona sangat mahal bukan murahan makanya mereka takut. Memang begitu seharusnya nona kita sebagai perempuan harus menjaga harga diri kita agar kita dipandang berharga di mata setiap laki-laki, karena jika kita membuat diri kita rendah maka siapa pun yang memandang kita, dia akan menilai harga diri kita sangat rendah." ujar Dinda.

__ADS_1


Mampus...berarti Dinda tadi mendengar perkataan Aisya sehinggah Dinda bisa berkata begini, Aisya tidak mengerti perkataan Dinda sehingga dia tersenyum, tapi bukannya mengulurkan tangannya untuk di bantu oleh Dinda melainkan Aisya mengulurkan tangannya kepadaku dan meminta bantuan.


"Makasih ya nona cantik kamu sangat baik, wah kamu lagi hamil ya, kamu sepupunya Dava ya, beruntung sekali pria yang menikahi kamu nona, karena kamu wanita yang sangat baik dan bijak. Tapi maaf kamu sedang hamil jadi tidak perlu membantu aku untuk bamgkit berdiri karena ada calon suamiku yang akan membantu aku, nona boleh kembali ke acara karena pasti suami nona akan mencari anda." ujar Aisya.


"Oh...baiklah nona kalau begitu, tapi makasih juga atas pujiannya sebenarnya pujian itu agak berlebihan tapi tidak masalah, kalau begitu kami pasmisi dulu ya nona tunggu saja calon suami nona disini sampai dia datang aku dengan suami dengan pengawal kami pergi dulu." ujar Dinda langsung menarik tanganku dan kami hendak pergi namun langsung di tahan oleh Aisya dia memengang kakiku karena kebetulan dia masih terduduk di lantai.


"Eh....ngapain kamu membawah calon suami aku nona, Dava adalah calon suami aku bulankah kamu sepupunya.?" tanya Aisya.


"Sejak kapan aku bilang ke kamu nona, kalau suami aku adalah sepupuku, mas Dava adalah suami sah aku jadi apa maksud kamu nona kalau suami aku adalah calon suami anda? Sejak kapan kalian tunangan, sehingga anda berkata begitu dan satu lagi tolong jangan asal mencium suami aku karena aku sangat jijik dengan sentuham dari orang lain apalagi suami aku sangat elergi dengan sentuhan haram dari perempuan lain.


Dengar ya nona Aisya, aku sangat mengenal anda karena perusahaan keluarga anda juga bekerja sama dengan perusahaan Winata juga, dan mungkin anda sudah melupakan aku karena dulu setiap kali ayah Winata meeting dengan ayah anda aku selalu di ajak dan anda juga sering ikut hanya saja kita tidak sedekat ini. Aku Dinda dan ini suami aku nona Aisya aku tahu anda adalah perempuan berkelas jadi tidak mungkin merendahkan diri karena suami orang bukan"? Ujar Dinda.


Aisya terkejut dengan penuturan Dinda ternyata Dinda juga sudah mengenal Aisya, pantas aja tadi Dinda mengulurkan tangan untuk membantu Aisya tapi justru Aisya tidak mau.

__ADS_1


"Apa.....! Kamu suaminya Dava? Dan kamu adalah putry bungsu dari Tuan Winata? Dinda bukan nama kamu"? Tanya Aisya.


"Ya tepat sekali nona Aisya dan benar, kalau Tuan muda Dava adalah suami sah aku. Jadi tolong jauh dari suami aku ya nona Aisya mungkin tadi nona Aisya berpikir kalau suami aku masih sendiri karena mungkin sangat tanpan sehingga ketampanan menarik perhatian nona Aisya, tapi maaf sekarang mas Dava adalah suami aku dan anda juga sudah tahu jadi jauhi suami aku" ujar Dinda.


'Hahaha....jujur aku benar-benar terkejut tapi ini suatu kebetulan kita ketemu disini, memang dari dulu aku paling tidak suka melihat kamu, karena kamu itu sok kecantikan, sampai ayah aku saja memujih kamu katanya kamu sangat cantik sehingga aku tidak suka, sekarang kamu justru merebut pria yang seharusnya jadi suamiku, kamu pikir aku diam saja aku tidak akan diam aku akan merebutnya dari kamu, seharusnya kamu bertanya pada suami dan keluarganya perna tidak kami di jodohkan." ujar Aisya.


"Nona Aisya, jangan suka menyimpan iri dengki si hati karena itu akan menjadi mala petaka bagi kamu, dan ini bukan zaman siti nurbaya jadi harus pakek perjodoham segala, aku rasa anda sudah sekolah tinggi jadi anda paham dalam hal itu, jadi aku tidak perlu menjelaskan kepada anda. Tapi ingat jika anda nekat aku satu orang tidak segan juga untuk menghapus nama orang yang suka menganggu rumah tangah aku dari muka bumi ini, jadi jika anda sudah siap silahkan saja nona."


"Tunggu saja kamu, aku akan membuat kamu menyesal. Kamu pikir aku takut dengan ancaman kamu itu aku tidak akan takut" ujar Aisya.


Aisya langsung bangkit dari duduknya dan berlalu pergi sedangkan Dinda mengandeng tanganku tapi sudah lain perlakuannya, aku tahu Dinda sudaj marah. Kami langsung kembali ke acara ternyata Ayah di minta untuk memberikan pesan dan kesan aku melihat Aisya sudah duduk kembali di samping kedua orang tuanya tapi mereka lagi berbisik dan sesekali om Angga manggut-manggut kepalanya, aku penasaran apa yang mereka bicaralan semoga bukan tentang aku.


Setelah, ayah selesai bicara saatnya giliran om Angga naik ke atas panggung dengan wajah berserih-serih, sedangkan Aisya senyum-senyum dengan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2