Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
220


__ADS_3

Aku gegas mendekatinya dan mencengkram rahannya dengan kaut, aku menatapnya dengan tajam waktu dia membunuh mbak Hawari punya hati nurani tidak, punya sebenarnya tapi tidak di pake.


"Aku mau bertanya sesuatu...waktu anda menyiksa mbak Hawari dia memohon untuk melepaskan tidak? dan waktu itu mbak Hawari bicara apa dengan anda." tanyaku padanya karena aku yakin pasti ada pesan penting yang mbak Hawari sampaikan.


"Iya nak ampuni paman kamu ini, paman salah nak waktu itu paman ingat betul mbak kamu memengang kaki paman dan mencium kaki pama, hanya memohon untuk paman membiarkan dia pergi dengan syarat dia tidak akan beritahu siapapun termasuk ayah kamu. Kalau paman sudah melecekannya asal paman melepaskannya tapi justru iblis sudah menguasai hati paman sehingga paman tidak mau justru paman angkat badannya dan membantingnya di lantai bahkan paman tendang dia seperti bola.


Belum selesai sampai di situ, sebelum mbak kamu meninggal paman menyayat wajah dan badannya dengan belati, sehingga pas polisi ketemu dia kondisinya seperti itu tapi sebelum mbak kamu meninggal dia masih berusaha untuk kuat dan dia menuliskan sesuatu di kertas sampai sekarang paman tidak tahu apa isi dari kertas itu. Tapi dia berpesan agar paman berikan kepada kamu, paman sengaja membawahnya walaupun sudah usang tapi sepertinya masi kelihatan tulisannya"


Asli badanku gemetaran dan air mataku lolos begitu saja tanpa komando. Aku tidak memperhatikan samping kiri kanan lagi tapi aku yakin ayah juga pasti merasakan hal yang sama. Bajingan didepan ini memberikan sepucuk kertas yang sudah agak usang, tapi ini bukan saatnya aku baca nanti saja aku mau bereskan bajingan ini nanti sampai di rumah baru kami baca bersama.


"Ha...ha..ha..makasih karena anda sudah menyampaikan berita menyakitkan ini kepada kami semua dari, penjelasan anda itu...aku tidak perlu memberikan jawaban apapun karena anda sudah tahu jawaban dari permohonan kamu bajingan


Brukkkkk...brukkkkkk!


"Waktu kamu menyiksanya dan dia memohon tidak ada belas kasihan anda sama sekali terhadapnya, padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun terhadap anda dulu dia sangat menyayangimu bajingan, tapi anda justru memanfaatkan kebaikannya dan anda dengan tega menghabisninya, dan sekarang anda mau aku mengampunimu. Jangan harap karena hari ini aku mengirimmu ke neraka.


Jika aku memaafkan anda apakah anda bisa menghidupkan kembali mbak Hawari? Tidak. Jadi untuk apalagi aku membiarkan anda hidup di dunia ini" seperti apa mulutku berucap seperti itu juga kaki tanganku menyiksa bajingan itu


"Lagian kamu membunuh paman juga, mbak kamu tidak bisa hidup lagi jadi ampuni ampuni, jangan membunuh paman nak karena paman juga pengen cari putry panan, biar kamu tidak berdosa karena kamu membunuh paman kamu sendiri"

__ADS_1


"Dosa aku yang nanggung yang penting kamu pergi dari dunia ini." Aku mengalihkan pandangan ke arah pengawal dan meminta belatinya. "Pengawal berikan belati itu karena sebelum aku kirim ke neraka aku akan membuat dia merasakan apa yang mbak Hawari rasakan."


Pengawal menyerahkan belati itu dan aku mengambilnya tidak pake menunggu lama lagi langsung aku menyayat wajah dan tubuhnya.


Sreettttt....sreeettttt!


"Argrhh...."! Dia mengaduh sakit.


Aku menyayat wajahnya darah segar mengalir keluar setelah itu aku menyayat badan dan kaki tangannya.


"Bagaimana rasanya sakit? Cobak anda tidak serakah, dan mau hidup rukun mungkin sekarang anda bahagia dengan anak istri Anda, dan mbak Hawari juga masih hidup tapi sayangnya anda terlalu serahkan dan menyimpan iri dengki dalam hatimu, tapi pada akhirnya anda mati dalam kebodohan dan tidak mendapatkan apapun..sekarang kamu mati dalam dosa kamu sendiri kamu yang tanggung kembali." Aku kembali berbisik di telinganya.


Prakkkkk!


Aku berikan satu kali tamparan mengenai pipinya akhirnya darah segar menempel di tanganku, saat dia mendengar nama putrynya langsung mendongkak kepalanya mentap aku dengan tajam. Padahal wajahnya sudah di penuhi darah dan sudah tidak berbentuk.


"Jangan kamu menyentuh dia...dia tidak tahu apa-apa soal masalah ini jika kamu mau membunuhku silahkan tapi jangan coba-coba menyentunya."


"Memangnya kalau aku menyentuh dia anda mau apa? Anda mau membalaskah, bukannya anda sudah duluan aku kirim ke neraka, bukannya anda juga menyentu mbak Hawari tanpa ada kesalahan yang dia lakukan jadi impas dong

__ADS_1


Setelah banyak drama yang kami lewati, sekarang bajigan itu sudah sekarat ini penyiksaan terakhir, aku berikan pistol kepada ayah untuk mengakhiri semua ini sisa kedua pengawal itu pak Erik sudah habisi mereka. Sekarang Elsa sudah di tangan kami dan di dekap oleh paman, Elsa sampai gemetaran tiba-tiba Elsa pingsan kasian dia.


"Paman dan Gama tolong antar Elsa ke rumah sakit untuk di visum dulu takutnya Elsa mengalami luka serius, buat kami yang menangani ini, tadi rencana mau bawah dokter Riski tapi paman bilang tidak perlu jadi sekarang ke rumah sakit saja."


Paman langsung mengendong Elsa diikuti Gama dan dua pengawal mereka ke rumah sakit sekarang tinggal kami, dan pengawal yang pergi membakar markas juga sudah kembali jadi kami semua berkumpul di ruangan atas.


"Ayah...ini ambillah, dia yang menghabisi putry ayah tapi Dava tidak mau ayah menyiksanya, cukup satu kali tembakan saja sudah tewas." ayah tidak bersuara tapi mendekati aku dan menerima senjata dariku dan menodongkan ke kepala bajiangan itu.


"Kamu mati dengan kesalahan kamu, jadi dari semua ini kamu yang menanggung dosa kamu sendiri" ujar ayah


Dorrrrrrrt....!


Ayah menembaknya tepat di keningnya dan seketikan mati di tempat. Setelah itu ayah tidak bicara apa-apa lagi tapi langsung turun dari tangan dan keluar dari gudang itu begitu juga kami semu.


"Pak Erik bereskan semua dan lebih baik bakar mereka sekalian dengan gedung ini agar tidak ada lagi kejahatan kedepannya"


"Baik Tuan muda, tapi bagaimana dengan mayat Tuan Admaja, Tuan apakah ikut di bakar juga atau di makamkan saja Tuan", tanya pak Erik sedangkan aku juga bingung mau di apakan.


"Terserah pak Erik lah mau di apakan soalnya aku juga bingung," setelah aku berkata demikian aku gegas pergi sambil menuntun istriku dia justru jalan sesantai mungkin, aku merasa lega karena akhirnya semua masalah selesai jika ini sebuah peperangan kami lah yang menang dalam peperangan ini, untung tidak ada korban di antara kelompak kami memang kami terluka tapi masih bisa di obati.

__ADS_1


__ADS_2