
Pov Author.
Semenjak Dinda keluar dari rumah keluarga Winata, tepat hari ini Dinda pergi ikut arisan wanita sosialita. Itu atas permintaan dari sang suami dan mertuanya, sebelum Dinda pergi menghadiri acara arisan ia tidak lupa untuk singah di toko berlian dan membeli satu set lengkap dengan gelang, kalung, cincin dan antingnya. Sesuai dengan perintah dari ibu mertua,
Sedangkan di tempat keluarga Winata, pagi itu dihebokan dengan perkataan bu Anjani yang mengatakan bahwa ia akan pergi ke perusahaan Adinata grup untuk tanda tangan kontrak kerja sama. Karena setelah itu bu Anjani akan meminta pihak perusahaan Adinata grup agar bukan hanya kerja sama kontrak melainkan kerja sama permanen karena bu Anjani tahu resiko jika kerja sama kontrak, sewaktu-waktu bisa di hentikan kerja samanya. Tapi jika kerja sama permanen itu artinya selamanya mereka tetap kerja apapun yang terjadi.
Pagi itu mereka keluarga besar duduk berkumpul di ruang tengah seperti biasa. Sebelum berangkat kekantor, semua keluarga besar harus berkumpul di ruang tengah.
Akhirnya bu Anjani buka percakapan terlebih dulu, sebelum yang lain berbicara.
"Hari ini ibu mau pergi ke perusahaan Adinata grup untuk tanda tangan kontrak, kemarin ibu sudah dapat kabar dari sekretaris jika Tuan Adinata menyetujui kerja sama kita." ujar bu Anjani
Mendengar perkataan bu Anjani semua bersorak kegirangan, karena mereka tahu perusahaan Adinata grup tidak mudah untuk di taklukan dalam kerja sama.
"Wah..luar biasa bu, hebat kalau ibu bisa kerja sama dengan perusahaan besar itu, kita makin berjaya bu karena pasti kita mendapatkan keuntungan yang lumayan besar." sambung Dea.
"Iya bu...benar kata Dea kita semakin di sanjung orang bu kalau ibu berhasil kerja sama dengan perusahaan besar itu. Padahal waktu ayah masih hidup aja, ayah tidak dapat kerja sama dengan perusahaan itu. Tapi sekali ibu mengajukannya langsung di setujui wah....Hebat sekali bu." sanjungan dari Lexza membuat bu Anjani makin menyombongkan diri.
"Ah itu tidak seberapa menurut ibu, ibu masih punya rencana yang lebih besar dari pada itu, kalau ini berhasil berarti perusahaan Adinata grup bisa menjadi tempat kunjungan ibu sehari-hari." ujar bu Anjani bangga.
"Memangnya ibu punya rencana apa, aku tahu sifat ibu pasti ibu melakukan sesuatu diluar nalar" tambah Dea.
"Kamu sangat paham Dea, ibu akan mengajukan kerja sama permanen bukan kontrak, karena ibu takut jika sewaktu-waktu ada masalah dalam kerja sama dan tiba-tiba mereka menarik kembali saham yang mereka tanam bisa amblas."
Semua orang yang ada dalam rumah itu terkejut mendengar penuturan bu Anjani, memang ruba betina ini sangat licik padahal mereka tanpa menyadari kalau sebagian sertifikat dari beberapa aset mereka sudah di curi oleh paman Gibran dan istrinya, karena memang sertifikat itu atas nama paman Gibran.
" Memang kak yakin kalau Tuan Adinata dengan gampang menyetujui hal itu? aku rasa tidak. Secarakan Tuan Adinata bukan orang sembarangan." jelas paman Gibran.
"Aku sangat yakin kamu kayak tidak tahu aja rencana licik kak ipar kamu ini, apa yang tidak bisa aku lakukan semua aku bisa, bisa manipulasi surat wasiat."
__ADS_1
"Ha...jadi ibu yang ganti surat wasiat itu bu, kok bisa? gimana ceritanya bukankah kalau sudah diwasiatkan tidak bisa lagi diubah bu."
"Hmmm....apa yang tidak bisa aku lakukan semua aku bisa, jangan kalian meremekan kinerja ku, apapun bisa aku lakukan demi kehidupanku yang baik."
Semua tercengang termasuk paman Gibran ia tidak percaya kak iparnya bisa melakukan hal sekeji itu.
"Berarti surat wasiat asli Dinda dapat warisan juga dong bu. Aku tidak percaya kalau ayah tidak berikan apa-apa untuk Dinda. Sedangkan ibu tahu sendiri dari kecil ayah lebih sayang sama Dinda dibandingkan kami berdua."
"Iya ayah kalian mamang luar biasa hebatnya ibu sudah lama tahu tentang surat wasiat itu. Jadi disurat wasiat itu sih anak miskin itu di dipercayakan mengantikan ayah kalian untuk memimpin perusahaan, dan dia juga di wariskan rumah ini ke mereka berdua masih ada aset lain yang di tulis juga dalan wasiat itu."
"Apa.....ya Tuhan. Kok bisa bu. Gimana ceritanya, makanya ibu punya rencana tersendiri." jawab Dea
"Terus kalau nanti dikemudian hari anak itu tahu surat wasiat aslinya gimana bu" tanya Lexza
"Kalian tenang aja itu tidak mungkin terjadi, udah ah...aku mau berangkat dulu ke perusahaan, karena setelah ini ibu mau ikut acara arisan, nanti bisa telat lagi, ibu paling tidak suka telat.
Bu Anjani masuk kedalam mobil dan langsung keluar dari rumah.
Sedangkan setelah kepergi bu Anjani, Dea mulai berbicara dengan Lexza kaknya.
"Kak Lexza, kak merasa gak sih sepertinya ibu menyimpan rahasia besar deh, tapi kita tidak dikasih tahu, aku curiga jangan-jangan dibalik kematian ayah dengan tiba-tiba aku rasa ibu dibalik ini semua."
"Husss jangan ngelantur kalau bicara jadi maksud kamu ibu yang merencanakan kematian ayah begitu". Ujar Lexza
"Nah pintar" jawab Dea spontan
"Jangan ngaur Dea mana mungkin ibu sejahat itu, memang kita tahu ibu gila harta tapi tidak mungkinkan, hanya karena harta ibu membunuh ayah"
"Memangnya kak tidak dengar apa kata ibu, apapun bisa ibu lakukan semua demi kebahagiaannya"
__ADS_1
Paman Gibran dan istrinya saling pandang, mereka juga berpikir hal yang sama dengan Dea, bisa jadi semua ini adalah rencana jahat kak iparnya.
"Kalau benar seperti yang di katakan Dea, memang kamu benar-benar licik Anjani. Aku akan membalas perbuatanmu terhadap kakku lihat aja nanti" gumam paman Gibran dalam hati.
Sedangkan bu Anjani sudah dalam perjalanan ke perusahaan Adinata grup.
Setelah selesai tanda tangan kontrak dengan perusahaan Adinata grup dia melanjutkan perjalanan menuju ke restoran bintang lima, agak jauh dari perusahaan Adinata grup karena disana ada arisan wanita-wanita kolega.
Saat ini hati paman Gibran mulai kalut, saat mendengar pekataan Dea. Paman Gibran mulai mencari cara agar mengetahui rahasia apa yang disembunyikan oleh kak iparnya itu. Karena paman Gibran mulai curiga jangan-jangan kaknya sudah mengetahui niat jahat kak iparnya itu.
"Kak Lexza, kak tidak ke kantor? aku dengan mas Tahir mau pergi dulu, kalau kak masih dirumah yaudah"
Dea langsung gegas keluar digandeng oleh sang suami karena suaminya akan berangkat ke kantor.
"Memangnya kamu mau kemana Dea? bukannya hari ini kamu bilang tidak ke kantor?"
"Iya aku memang tidak ke kantor, tapi mas Tahir tadi kasih aku uang jadi rencana mau pergi beli berlian tidak apa-apa harga lima puluh juta juga boleh lah." celetuk Dea
"Ck...berlian terus....berlian terus, ogah ah....sok punya uang aja...padahal dapat uang hanya segitu juga songong."
"Cieeehhhh ada yang cemburu nih memang enak...lagian dari mana lagi kita bisa mendapatkan uang, penghasilan dari semua restoran aja di ambil ibu semua hanya pikul atas nama. Tapi ibu yang memengang kendali kayak badut aja kita dibuatnya..
Memang benar apa yang di katakam Dea kalau warisan yang di tuliskan dalam surat Wasiat itu hanya atas nama saja tapi yang memengang kendali tetap bu Anjani.
*******
Hay guys...apakah...Dea akan ketemu dengan Dinda????? Ikuti terus ya.
Maaf...maaf sebesar-besarnya karrna banyak typo.
__ADS_1