
Hmm kenakan kamu Emelia sudah aku bilang dari tadi lebih baik pergi dan jangan unjuk muka disini kalau istriku tahu bisa barabe sekarang istriku sudah datang jadi kamu hadapi saja sendiri. Heran aku sama perempuan bar-bar ini ternyata sifatnya gak perna beruba dari dulu sampai sekarang masih sama bahkan lebih ginit.
Emelia menatap Dinda dengan tajam namun bukannya marah justru Dinda senyum ngejek.
"Kalau aku bilang sudah kenal calon mertuaku kenapa, kamu iri? lebih baik kamu pergi jauh deh dari sini jangan nganggu aku sama calon suamiku karena Dava hanya mencintaiku."
"Oh ya bagus dong kalau kamu sudah bertemu dengan kedua mertua aku. Kamu tahu tidak kalau aku adalah istri dari pria yang kamu godah ini kalau jadi perempuan harus punya harga diri mbak jangan asal dekati suami orang malu..kalau benaran suami aku mencintaimu suruh dong mencium kamu berani gak." ujar Dinda
Astaga Dinda....apa yang kamu katakan masa kamu menyuruh suamimu mencium perempuan lain
"Hahah...itu mah gampang pasti Dava cium aku...yuk Dav tunjukan ke perempuan ini kalau kita berdua saling cinta."
Aku jadi berpikir aku harus tunjukan ke Emelian kalau aku sangat mencintai istriku.
"Hahah itu sih gampang tapi jika diantara kalian berdua siapa yang aku cium itu artinya aku sangat mencintainya jadi yang lain menyingkir dari sini"
"Siapa takut aku tahu kamu pasti memilih aku ketimbang perempuan ini" ujar Emelia bangga.
Awalnya aku sengaja bangun dan memnghampiri Emelia aku sengaja buat dia senang dulu baru jatuhkan. Dia sudah senyum kemenangan aku lihat Dinda masih tenang sedetik kemudian aku berbalik dan memeluk sambil mencium istriku membuat mata Emelia molotot hampir mau keluar.
"Jelas aku cium istrikulah dari pada cium yang menjijikan"
"Dav kamu jangan begitu dong aku ini pacar kamu, aku cantik punya segala apapun yang kamu mau akan aku berikan" ujar Emelia
"Sepertinya ada bauh-bauh pelakor disini deh..mbak tolong menyingkir dari sini kami mau makan makanan sudah dingin mbak tidak sanggup beli makanan kok bisa-bisanya mau nebeng makan disini kalau mbak mau biar saya pesan makanan untuk mbak tapi tolong jangan nganggu orang" sambung kakak Dea.
"Entah nyosor aja dengan suami orang gak laku ya mbak makanya dekati suami saya, aku perhatikan suamiku dari tadi sepertinya jijik melihat mbak disini"
"Kalau memang Dava suami kamu mana buktinya, jangan-jangan kamu yang halu ketinggian yang selevel dengan Dava itu aku bukan kamu penampilan sih oke tapi belum tentu anda sekolah tinggi seperti aku...aku ini lulusan S2 luar negeri loh."
__ADS_1
"Wah....hebat juga ya lulusan luar negeri. Biar aku memperjelas biar kamu paham kamu sekolah.?
SD 6 tahun,
SMP 3 tahun,
SMA 3 tahun juga.
Kulia S1 4 tahu dan kulia S2 3 tahu. Selama 19 tahu kamu menghabiskan uang orang tua kamu disekolahkan bahkan sampai luar negeri mala. Tapi sayangnya semua sia-sia karena setelah kamu lulus hanya dapat gelar pelakor kasian ya orang tuanmu hahaha. Kalau aku kayak kamu aku tidak mau jadi perempuan murahan dan sampai direndahkan."
"Lebih baik kamu pergi dari sini jangan sampai kamu mengundang emosiku apalagi aku sedang lapar aku istri sah dari Dava Parmadi Adinata. Aku hitung sampai tiga kalau kamu tidak pergi aku yang seret kamu keluar dari sini, ingat jangan cobak-cobak mendekati hak milik orang karena kalau itu terjadi aku tidak segan menghancurkan hidupmu "
Emelia masih juga ngeyel dia justru bangkit dari duduknya dan sengaja memdekati aku, tapi belum sampai didepanku Dinda dengan sengaja selonjorkan kakinya dan membuat Emelia tersandung akhirnya tersungkur kelantai.
Bukkkkkk!
"Auhhhh.....kurang ajar kamu Dava bantuin lihat perempuan yang ngaku dia istrimu ingin mencelakaiku!"
Biasanya pas makan aku diambilin oleh Dinda tapi kali ini gak Dinda justru makan dalam diam dan sama sekali tidak menawarkan aku makan, hal itu membuat kakak Dea tersenyum kakak Dea memberikan aku kode kalau sampai dirumah aku siap saja perang dunia terjadi karena istriku yang cantik ini cemburu.
Ya aku juga merasa bersalah karena tadi aku sengaja tidak tegas dengan Emelia aku mau lihat seperti apa reaksi Dinda namun ternyata Emelia makin keterlaluan membuat istriku marah.
"Sayang makan udangnya enak loh sini biar mas ambilkan"
"Gak usa mas aku bisa ambil sendiri lebih baik mas makan biar kenyang." Jawabnya ketus
Mampus aku sudah mulai ngambek istriku bisa kena marah kalau sampai dirumah.
Setelah selesai makan saatnya kami pulang tinggalkan Emelia disitu dia teriak memangil namaku tapi aku tidak peduli biarkan saja perempuan gila itu disitu, gara-gara dia aku jadi dicuekin sama istriku.
__ADS_1
Saat kami sampai diluar kakak Dea langsung pamit pulang karena katanya mau ke restoran dulu cek perkembangan direstoran karena kemarin gak kesana.
"Dav titip adikku ya aku mau pergi dulu hati-hati dijalan kalian ya dik jaga kesehatanmu." kakak Dea dan Dinda masih berpelukan dan senyum namun setelah kakak Dea pergi Dinda justru tidak mau mendekatiku tidak ku sangka ternyata Dinda pesan taksi online hmm tuhkan apa yang aku kuatirkan terjadi.
"Sayang yuk kita pulang"
Tanpa sepata katapun Dinda langsung masuk kedalam taksi dan pergi meninggalkan aku diparkiran.
Aku langsung masuk kedalam mobil dan mengejar taksi dari belakang aduh...istri kecilku sampai marah begini jangan sampai malam ini aku tidur diluar.
Aku yang hendak mengejar Dinda tiba-tiba dapat telpon dari pak Erik katanya ada hal penting yang harus di bicarakan aku binggung mau ngejar Dinda atau ke kantor.
Aku mingirkan mobil dan membiarkan pengawal mendekat.
Salah satu dari pengawal berkata kalau aku tidak perlu mengejar Dinda karena saat ini Dinda emosi jadi kalau aku kejar makin emosi dia, jadi biarkan Dinda pulang ke rumah dan diikuti oleh dua pengawal yang sisa ikut aku kekantor.
"Tuan maaf jika saya lancang tapi menurut pengetahuan saya bahwa kalau perempuan sedang emosi lebih baik jangan langsung bicara dengan dia saat itu juga karena makin membuatnya tidak berpikir jerni jadi bagaimana kalau Tuan muda pergi saja dan kami ikuti nona dari belakang"
Aku yang mendengar solusi yang diberikan pengawal menurutku betul juga apalagi saat ini Dinda lagi emosi jadi kalau aku maksain minta maaf bisa makin marah dia, biar dia tenang dulu baru aku jelaskan semuanya kepada Dinda tapi kalau nanti Dinda terlanjur cerita sama ibu bagaimana ya aduh kenapa jadi begini sih.
Akhirnya dengan penuh pertimbangan aku ikuti saran dari pengawal aku tidak jadi mengejar Dinda tapi langsung pergi kekantor karena kata pak Erik ada hal penting yang igin dibicarakan.
"Baiklah kalau begitu dua pengawal ikut nona muda pulang terus yang lain ikut dengan saya ke kantor ya, awas loh kalau solusi dari kamu makin mempernuruk keadaan aku potong gaji kamu"
"Aduh jangan Tuan saya hanya cari solusi yang terbaik saja agar Tuan tidak jadi amukan nona muda"
"Ya sudah kita berangkat ke kantor hati-hati kalian ikuti nona muda ya"
Aku dengan tiga pengawal lanjutksn perjalanan ke kantor sebenarnya dalam hati kecil ini takut terjadi apa-apa dengan Dinda karena lagi emosi karena salah paham tapi memang aku harus berikan Dinda ruang untuk menenangkan diri nanti sore aku pulang baru bicarakan baik-baik dengannya.
__ADS_1
Kalau perempuan marah ngeri jadi jangan cobak-cobak membuat istri kalian marah kslau tidak mau tidur diluar.
Ternyata istri imuts ku kalau marah sadis juga rupanya padahal aku sudah pernah lihat dia marah tapi masih takut.