
Kalau aku melihat sifat dan kelakuan dari ibu Anjani dia tidak pantas disebut sebagai seorang ibu, aku akan membuat dia menyesal seumur hidup, aku akan mempergunakan aibnya untuk menjatuhkannya, sekarang aku sadar jika dengan kelembutan dan kebaikanku kalian menginjak harga diri aku, biar akan aku injak balik kalian dengan cara aku sendiri.
Aku sudah peringatkan Dea dan sekarang bu Anjani, belum lagke nanti Lexza biang masalah, aku akan membuat dia tidak akan berkutik di hadapanku karena sebentar lagi akan ada pemilihan jadi pasti permainannya seru.
Hari ini hatiku benar-benar di buat hancur oleh perkataan bu Anjani, tapi besok aku akan membuat kalian menangis dan bakal memohon kepadaku.
Bisa saja jika aku mau berlaku buruk mungkin aku sudah menamparnya didepan umum, tapi aku masih menjaga Attitude dan menjaga nama baik suami dan keluarga baru aku, kalau nanti aku tampar dia terus viral kasian nanti keluarga baruku.
Aku di panggil terus sama pengawal mereka sangat kuwatir denganku, karena aku menangis bukan pelan, tapi dengan suara yang agak sedikit kuat jadi jelas mereka mendengar, aku menangis bukan karena cacian dari bu Anjani tapi karena satu perkataan itu aja yang mengatakan kalau dia tahu seperti ini dulu aku di bunuh. Dan dia juga tidak sudih melahirkan aku. Jujur bina**ng aja tahu menyayangi anaknya dan tidak akan rela jika bina**ang lain menyakiti anaknya.
Ini manusia loh bukan bina**ng tapi sayangnya ia tidak punya hati nurani sama sekali. Apakah aku menyesal terlahir dari rahimnya, jelas aku sangat menyesal bahkan lebih baik aku tidak dilahirkan ke dunia dari pada mendapatkan hal seperti ini.
Siapa yang tidak merasakan sakit jika mendengar seorang ibu yang melahirkan kita berkata seperti itu.
"Nona muda...nona muda apa yang terjadi tolong buka pintu nona muda."
Aku dipanggil dan dibarengin ketuk pintu dari luar, tapi rasanya tak ku hiraukan teriakan mereka, aku abaikan toh aku hanya menangis aku tidak diapa-apain tadi. fisik sih aman tapi mental dan hati yang saat ini lagi rapuh jujur aku syok banget.
Lama aku bertaham didalam mobil sampai aku tenang, barulah aku buka pintu dan aku bicara dengan pengawal yang terlihat panik.
__ADS_1
"Maaf pak, aku tidak apa-apa tenang ya, yuk kita pulang ke rumah" aku setenang mungkin berbicara dengan mereka agar mereka tahu aku baik-baik saja.
"Nona muda apa yang terjadi?. kalau ada apa-apa boleh bilang sama kami, apa nona mau kami hajar perempuan tadi atau mau kami seret dia"
"Jangan pak, biarkan saja, aku tidak masalah, aku baik-baik saja mari kita pulang"
"Baik nona"
Mereka masuk kembali kedalan mobil dan mengikuti aku dari belakang, pada akhirnya kami pulang ke rumah. Sepanjang jalan pikiranku masih terus ternyiang dengan perkataan perempuan itu tapi aku berusaha tenang, mulai sekarang aku harus kuat, iya aku harus jadi wanita yang kuat bukan wanita yang lemah. Biar aku tidak di injak dan aku jangan terus bergantung kepada suamiku, karena mas Dava juga lagi sibuk kerja, jadi aku harus jaga diri sendiri biarpun ada pengawal, tapi harus memiliki karakter yang kuat juga.
Karena hari sudah siang jadi jalanan sepi sehingga perjalanan kami lancar aja, tak lama kemudian aku sampai di rumah, setelah aku keluar dari mobil aku langsung gegas masuk kedalam aku berharap dalam hati semoga tidak ada yang tahu aku pulang, karena mataku sembap akibat baru selesai menangis tadi tapi sayangnya Tuhan tidak berpihak kepadaku, baru saja aku melangkah masuk, ibu dengan ayah sudah menungguku.
Aduh dasar pengawal ngaduh lagi sama ibu, gini jadi nyakan pasti aku langsung ditanya, hatiku masih sakit jangan sampai aku menangis lagi gara-gara perempuan itu.
"Sayang kamu sudah pulang, sini duduk disamping ibu" ibu menyapaku dengan senyum manisnya begitu juga ayah, tapi aki tahu ibu banyak pertanyaan dalam tatapannya itu.
Aku juga nurut saja dan langsung duduk di samping ibu dengan senyum manisku, aku tanyakan kemana semua orang kenapa tidak ada mereka disini sepih banget.
"Bu, yah. Kemana yang lain kok gak ada sepih banget, apa yang lain pada keluar bu, yah."
__ADS_1
"Gak sayang adik-adik kamu mereka ada di kamar, kalau bibik dan paman memang ada keperluan sebentar di luar, oh ya bagaimana dengan acara arisan hari ini kamu senang bergabung dengan mereka, tidak terjadi apa-apakan"?
Aku serbah salah gak jujur juga pasti ibu sudah tahu duluan dari pengawal tapi ibu sengaja ngetes aku apakah aku jujur apa tidak, tapi kalau aku cerita rasanya tidak sanggup untuk menyampaikannya yang tadi aja rasanya masih sesak di hati ini.
"Iya bu aku baik-baik saja, ibu tenang aja ya aku tidak apa-apa kok, hanya saja tadi disana ada sedikit masalah dengan nyonya Winata bu" aku hanya sebut nama perempuan itu saja bulir bening bermunculan tanpa di undang gila juga nih.
"Sayang kamu kenapa nangis, sudah tidak usa lanjutkan lagi ok ibu sudah tahu semuanya dari pengawal jadi kamu tidak perlu mengeluarkan air mata, hanya karena perkataan perempuan itu, bukankah putry ibu wanita yang kuat dan tangguh, tunjukan ke mereka kalau kamu bukan wanita yang lemah melainkan kamu wanita yang kuat. Ibu akan kasih pelajaran untuk perempuam iblis itu."
Ibu merangkulku dan memelukku dengan erat, tangannya selalu mengelus kepalaku dengan sangat lembut begitu ikut ngelus kepalaku.
Setelah aku berbincang-bincang dengan ibu dan ayah aku masuk kedalam kamar dan istirahat sejenak. Untuk menenangkan pikiranku lagi kacau saat ini kondisiku tidak baik-baik saja, tapi aku sabar menghadapi ini semua, aku balas pake caraku sendiri, aku membaringkan tubuh ini di atas tempat tidur tapi pikiranku melayang kemana-mana.
Tiba-tiba aku punya ide untuk membalas bu Anjani tapi tunggu suamiku pulang dulu biar cari solusi bersama, takutnya rencanaku salah lagi nanti aku yang dimarahin.
tidak lama kemudian aku tertidur, sore harinya aku bangun dari tidurku saat aku memeriksan jam, ternyata sudah pukul empat sore wah....lama juga ternyata aku tidur. Padahal aku tidur dari jam setegah dua sekarang jam empat baru bangun. Dari tidur hahaha.
Aku sengerah mempersiapkan diri dan mandi agar nanti setelah suami pulang kerja aku sudah bersih dan wangi, jadi pas menyambut suami dia juga bahagia melihat istrinya wangi dan segar.
untuk wanita-wanita tangguh siapa yang seperti aku yang suka berdandang cantik untuk siap menyambut suami pulang kerja, karena memang suami lebih senang pas pulang kerja melihat istrinya fress dan wangi.
__ADS_1
Aku masuk kedalam kamar mandi dan membersihakan diri dengan merendam di bathtub. Dengan sabun aroma terapi untuk menyengarkan jiwaku yang saat ini lagi rapuh.
Hampir tiga puluh menit aku didalam kamar mandi, setelah selesai rutinitasku dan merasa kalau diri ini sudah sengar aku aku gegas keluar dari kamar mandi dan duduk di meja rias.