Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
330


__ADS_3

Aisya makin menjadi saat mendengar bahwa aku sudah menjadi pemimpin mengantikan ayah, karena ayah sudah menangani anak perusahaan. Jadi Aisya makin gencar ingin menikah denganku dasar perempuam matre, dulu dia menolak aku dengan mentah, biarpun memang dulu aku juga dengan terang-teran menolaknya tapi dia memamerkan pacarnya katanya pacarnya itu lebih segalahnya dari padaku.


Justru sekarang dia yang menyodorkam diri untuk aku menikahinya, aku tidak sudih mendekati perempuan tidak berguna seperti Aisya.


Aku tidak menghiraukan teriakan Aisya dan keluarganya tapi aku langsung keluar dari gedung acara di ikuti ayah dan ibu terus Gama, Ririn dan Rafa setelah itu baru ayah mertua dan tante Riska, mereka ikut dari belakang karena ayah mertua masih bicara dengan om Angga, entah apa yang di bicarakan ayah mertua aku tidak tahu tapi yang jelas ayah mertua marah om Angga.


Aisya masih berusaha menahan aku tapi aku tidak peduli jadi aku biarkan saja dia berteriak disitu bodoh amat. Aisya lari mengejar kami sehingga parah pengawal menahan Aisya.


Kami langsung menujuh ke parkiran, aku dan Dinda langsung masuk kedalam mobil dan keluar dari parkiran dan berlalu pergi meninggalkan gedung acara, masih banyak tamu undangan yang datang tapi aku tidak menghiraukan


Aku bernafas lega setelah keluar dari gedung acara itu. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Dinda diam saja tidak ada sepata katapun aku tahu perasaan istriku pasti Dinda masih memikirkan perkataan om Angga dan kejadian di acara itu. Memang om Angga juga keterlaluan bukannya ini acara ulang tahun perusahaan tapi kok bisa berubah menjadi acara pertunangan tidak jelas.


"Sayang, maafin mas ya, sudah membuat hatimu sakit sayang tapi percayalah mas tidak ada niatan sedikit pun untuk menikah dengan perempuan lain apalagi perempuan yang sama sekali tidak mas cintai, cinta mas hanya untuk Dinda Andinita seorang. Hati mas hanya untuk mu sayang maafin mas ya yang sudah menyakiti perasaanmu, tapi jujur sayang mas sama sekali tidak tahu apa-apa itu dengan secarah tiba-tiba" ujarku menjelaskan kepada Dinda biar Dinda todak salah paham.


"Tidak masalah mas, Dinda tidak salahin mas kok, hanya saja Dinda heran kok bisa seorang pengusaha sekelas Tuan Angga bisa melakukan hal memalukan itu, jujur Dinda benar-benar marah tadi kalau seandainya Dinda tidak jaga nama baik ayah mungkin Dinda sudah menghajar Tuan Angga yang tidak punya aturan itu. Istri siapa yang tidak sakit hati mendengar perkataan Tuan Angga mas dia jelas-jelas tahu Dinda ada disitu tapi itu pun dia mau menjodohkan mas dengan putrynya.

__ADS_1


Sayangnya putrynya juga sama, sama-sama biadab dia tahu kalau mas sudah punya istri yang sudaj hamil tapi masih mau dengan mas bagaimana hati Dinda tidak sakit mendengar mas. Untung malam ini acara besar dan semua tamu undangan adalah orang-orang berkelas kalau tidak mungkin malam ini Dinda bisa membunuh seseorang." ujar Dinda.


Aku tersenyum simpul mendengar perkataan Dinda dan curahan isi hatinya, kalau aku di posisi Dinda aku pasti merasakan hal yang sama, aku saja sebagai suaminya sakit hati mendengar hinaan dari om Angga terhadap Dinda apalagi aku yang di posisi Dinda.


Tidak terasa akhirnya kami sampai di rumah dan aku langsung menuntun Dinda kedalam kamar sedangkan ayah dan yang lain masuk ke kamar masing-masing sebenarnya ayah ingin bicara dengan aku dan Dinda mungkin ayah ingin menjelaskan semua ke Dinda agar Dinda tidak marah tapi kondisi hati Dinda tidak memungkinkan jadi aku mengatakan kepada ayah untuk besok saja baru bicara dan ayaj juga paham akhirnya ayah diam saja.


"Sayang ganti baju dulu biar langsung istirahat tapi sebelumnya minum susu dulu ya sayang, supaya kandungan kamu sehat dan anak kita juga sehat sayang" ujarku saat Dinda sedang ganti baju tidur.


"Iya mas, boleh tapi mas sendiri yang bikin susunya ya, Dinda ingin minum susu buatan mas" ujar Dinda tersenyum. Aku senang melihat senyum manisnya.


Tidak terasa sudah jam sebelas malam aku di ruang kerja, aku keluar dari ruang kerja mendapati Dinda yang sudah tidur dengan pulas. Aku melihat hp Dinda yang diletakkan di nakas berkedip. Aku langsung mengambilnya hp Dinda dan membukanya ternyata ada pesan masuk dari nomor tidak di kenal, aku membaca isi pesan itu ternyata dari Emelian perempuan sinting ini tidak henti-henti menganggu Dinda aku takut kalau dia terus-terusan begini bisa-bisa Dinda membunuhnya Dinda orangnya kalau bilang A ya tetap A.


Aku membukan pesan dari Emelian.


("Aku akan membuat hidupmu tkdal tenang, sampai kamu cape dan pergi meninggalkan Dava, kamu tahu tidak sampai kapanpun aku tidak akan menyerah, aku tahu ancaman kamu itu hanya ancaman sampah, tidak berani membunuhku, memangnya kamu sejago apa sampai membunuhku. Jangan sampai aku yang akan membunuhmu, aku masih punya hati nurani kalau seandainya kamu tidak hamil mungkin aku sudah membunuhmu, tapi aku tidak mau Dava tahu karena kalau Dava tahu Dava pasti menilai aku dengan buruk.")

__ADS_1


Kurang ajar Emelia....baiklah kali ini bukan Dinda yang membunuhmu tapi aku yang akan membunuhmu, jangan cobak-cobak mengusik kehidupanku karena aku juga bisa menghilangkan nyawah orang berani sekali kamu bicara begitu.


Aku simpan kembali hp dan aku mengambil hp pribadiku dan menelpon pak Erik karena pak Erik selain orang kepercayaan di perusahaan, pak Erik juga kepala pengawal jadi aku langsung telpon pak Erik menyuruh cari tahu dimana tempat tinggal Emelia.


"Hallo pak Erik, tolong cari tahu tempat tinggal perempuan yang bernama Emelia itu, dan jika sudah menemukan tolong berikan alamat rumah kepadaku tapi tolong jangan beritahu nona muda."


"Baik Tuan muda" ujar pak Erik.


Aku langsung matikan telpon dan aku sengaja biarkan pesan itu tetap disitu aku mau melihat reaksi Dinda seperti apa nanti besok.


Karena aku juga sudah lelah akhirnya kau membaringkan tubuh ini di samping Dinda dan langsung terlelap.


*******


Keesokan harinya aku bangun pagi- pagi ternya aku tidak mendapati istriku, aku bangkit dari tidur dan gegas ke kamar mandi tapi tidak ada aku jadi panik karena aku sudah cari keliling tapi tidak mendapati Dinda akhirnya aku keluar dari kamar, saat aku hendak keluar dari kamar aku melihat Dinda hendak masuk tapi Dinda terkejut melihat aku di depan pintu, aku curiga dari mana Dinda sepagi ini tumbem-tumbenan Dinda berpenampilan begini.

__ADS_1


__ADS_2