
Kali ini tidak main-main pak Erik dan asisten Arfan benar-benar menyeret bu Anjani keluar dari rangan aku, dan Ririn membantuku untuk menenangkan Dinda merek langsung membawahnya ke lantai bawah untuk di suruh pulang. Terserah dia pulang kemana untung bu Anjani datang dia bersama pengawal yang di tempatkan di rumahnya bersama pak Erik jadi kemana dia pergi nanti pengawal itu akan melaporkan kepada kami.
"Mas lepaskan Dinda mas biar Dinda habisi perempuan iblis itu jangan menghalangi Dinda tidak masalah jika Dinda berdosa karena Dinda sudah berani membunuh orang yang sudah melahirkan Dinda. Untuk apa Dinda membiarkan dia hidup kalau setiap kali ketemu dengannya kayak iblis. Kenapa mas dan Ririn menghalangi Dinda, jangan sampai Dinda melukai kalian lepaskan Dinda." Bentak sangking marahnya wajah Dinda sampai merah merona.
"Sayang, mas tahu kamu emosi tenangkan dirimu sayang mas akan melepaskan kamu tapi kamu harus tenang dengar kan mas, disini ada bayi sayang kamu harus ingat jangan gegabah dalam mengambil keputusan saat emosi karena itu akan membuat kita menyesal. Mas bisa merasakan apa yang kamu rasakan sayang, mas juga tahu sesakit apa yang kamu rasakan saat ini tapi kamu harus tahu sayang banyak yang menyayangi kamu, ibu dan ayah menunggu kamu di rumah ayah Evan juga kalau terjadi sesuatu sama kamu.
Kamu mau mereka sedih apalagi ibu, kamu mau ibu jatuh sakit karena memikirkan kamu ini minum dulu biar kamu tenang biarkan perempuan itu pergi karena kamu sudah melukainya, dengan sangat parah kedua tangannya sudah terluka bisa jadi dia juga tidak bisa bisa bawah mobil sendiri."
"Kakak ipar, benar apa kata kakak Dava, ingat kakak ipar lagi hamil kasian kandungan kakak ipar, kakak ipar harus jaga kandungan dengan baik kakak ipar tidak mau kan kandungan kakak ipar bermasalah sekarang kakak ipar tarik napas baru lepaskan....tarik lagi lepaskan biar kakak bisa tenang. Kakak ipar tahu bagaimana kasih sayang bibi terhadap kakak ipar kalau kakak ipar kenapa-kenapa bibi pasti sedih"
Setelah aku dan Ririn bicara baik-baik dengan Dinda Akhirnya Dinda kembali tenang dia tidak memberontak lagi, tapi justru Dinda memangis sejadi-jadinya rasanya hati ini sangat perih melihat istriku menangis dari tadi karena kedatangan perermpuan ular ini, kenapa juga Dinda tiba-tiba datang ya secara kebetulan sekali mereka ketemu juga padahal aku pikir perempuan itu datangnya besok bukan hari ini tapi ternyaya aku salah prediksi.
"Aku tidak menyesali mas kalau seandainya tadi aku membunuhnya karena dia saja sebagai ibu kandung ingin membunuh aku tanpa belas kasihan, untuk apa aku harus mengasihaninya mas tidak perlu berikan kesempatan kepadanya, seharusnya pak Erik jangan bawah dia pergi biar aku habisi aja dia agar setelah dia pulang tinggal bawah nama saja. Dinda mau lihat seperti apa reaksi selingkuhannya saat tahu wanita kesayangannya sangat terluka apakah dia langsung marah dan mau membunuh aku saat itu juga atau bagaimana"
__ADS_1
Setelah aku dan Ririn memenangkan Dinda dan Dinda juga sudah temang baru aku kembali melihat cctv aku mau lihat reaksi dari perempuan itu saat di seret oleh pak Erik dengan asisten Arfan.
Ternyata perempuan tua itu teriak-teriak sampai mengundang perhatian karyawan, bahkan karyawan tercengan karena perempuan itu turun dengan kondisi yang berantakan dan darah tidak berhenti keluar dari tangannya.
"Lepaskan aku, aku mau membunuh anak durhaka itu dasar anak tidak tahu balas budih aku akan membalas kalian semua, hey ngapai lihat-lihat disitu dasar orang miskin karyawan rendahan" bentak bu Anjani.
"Hahaha.....sok kali nyonya bicara seperti itu bukankah tadi nyonya saja ketakutan saat nona muda ingin membunuh nyonya, masih beruntung saya dan pak Arfan menolong nyonya tidak tahu berterimah kasih nyonya sudah di tolong juga ane kenapa ada manusia seperti ini yang tidak tahu cara berterimah kasih"
"Yuk pak Arfan biarkan manusia purba ini disini aja tidak perlu mengurus dia ogah manusia tidak tahu berterimah kasih."
Ya Tuhan, ini perempuan berhati iblis betul sudah jatuh juga masih tetap egois dan tamak aku jadi menyesal menaham istriku tadi hehehe kenapa jadi aku yang emosi ya tapi mau gimana lagi aku juga manusia biasa aku tidak bisa membayangkan peluru Dinda tembus jantungnya bu Anjani.
Sudah di tolong oleh pak Erik dan asisten Arfan sehingga nyawahnya selamat justru dia membentak mereka berdua, tahu aku kayak gitu aku biarkan dia di hajar dulu sama Dinda agar dia mampus.
__ADS_1
Setelah aku dan Ririn bicara baik-baik dengan Dinda Akhirnya Dinda kembali tenang.
"Maafin Dinda ya mas, Rin. Sudah buat kalian kuatir tapi jujur mas sesak didada Ini kalau Dinda tidak mengeluarkan emosi Dinda yang sudah lama terpendam, tadi Dinda sudah bena-benar nekat untuk membunuhnya mas biarlah Dinda tanggung dosanya, sakit kali hati Dinda melihatnya seperti orang lain padahal dia ibu kandung Dinda."
Dinda bicara dengan tenang, baguslah setidaknya Dinda sudah tenang jadi aku tidak perlu kuatir lagi tadi juga aku sangat kuatir ternyata istriku kalau marah kekuatannya bertambah berlipat kali ganda untung Ririn datang Oh ya, aku baru sadar kenapa tiba-tiba Ririn datang ya.
atau jangan-jangan dia mendengar keributan disini tapi tidak mungkin soalnya ruangan ini kedap suara, pak Erik dan Arfan tahu karena pintu kebetulan tidak di tutup lagian ada juga cctv jadi mereka tahu kalau ada orang yang ingin masuk ke ruangan ini.
"Iya sayang tidak masalah namanya juga emosi, mas juga sebenarnya emosi tapi mas masih bisa menahan emosi mas jangan sampai bukan kamu yang membunuhnya tapi justru mas yang melakukannya"
"Benar kata Kakak Dava kakak Ipar, Ririn saja baru datang tapi sangat emosi dengan perempuan mancam itu kok bisa ya ada seorang ibu kandung tidak punya hati nurani dan sejahat itu, takutnya nanti setelah dia meninggal tidak ada yang mau tolongin Ririn aja geram tahu, tapi kakak harus tenang ingat ada bayi di perut kakak nanti kalau maminya marah-marah giliran lahir suka marah-marah juga hehehe"
Astaga Ririn bisa saja mencairkan suasanan, anak ini bagus juga dia kerja disini jadi bisa membantu aku saat aku kesulitan seperti tadi untung dia datang kalau tidak pak Erik dan Arfan tidak boleh bantu aku tidak mau ada laki-laki lain yang menyentuh istriku.
__ADS_1