
Ternyata benar apa yang di katakan ibu, setelah kami panggil kepala pelayan datang pak Wan mengatakan kalau semua bahannya sudah tersedia, karena baru selesai belanja untuk keperluar dapur nanti. Baiklah kalau memang sudah tersedia tinggal persiapkan saja biar malam berpesta disini.
"Maaf nyonya apakah ada yang bisa saya bantu" tanya pak pengawal.
"Iya pak Wan saya mau tanya apakah semua bahan pokok dapur sudah di belih? karena rencana nanti malam kita akan ada acara bakar-bakar jadi kalau tidak ada danging biar di beli dengan bahan lain yang masih kurang "ujar ibu
"Tidak perlu belanja lagi nyonya, karena semuanya sudah tersedia tinggal nanti kami yang akan persiapkan semuanya" ujar pak Wan.
"Baik pak Wan kalau begitu silahkan kembali melanjutkan pekerjaan" pak Wan langsung berlalu pergi tapi aku masih duduk bersama dengan ibu dan ayah. Karena masih ada satu hal lagi yang mau aku bicarakan dengan ayah dan ibu.
"Ayah, ibu. Dava rencana mau buat kejutan untuk kakak Dea dan Dinda tapi ayah dan ibu setuju tidak, itu pun kalau ayah dan ibu setujuh kalau tidak setuju tidak masalah." ujarku
"Memang kamu mau buat kejutan apa nak kalau itu hal baik jelas ibu setujuh lah masa tidak bagaimana sih"
"Iya nak ibu kamu benar kamu mau kasih kejutan apa, memangnya mereka berdua ulang tahu makanya kamu kasoh kejutan nak?" karena ayah dan ibu mendesak, akhirnya aku kasih tahu dan ternyata setelah aku kasih tahu ayah dan ibu setujuh, justru mereka mendukung penuh aku jelas sangat bahagia dong ayah dan ibu setujuh.
"Itu ide bagus ayah sama ibu sangat setujuh jadi kamu atur saja ya, pasti mereka senang apalagi Dinda" setelah kami selesai ngobrol aku kembali ke kamar dan aku lihat ibu juga masuk kekamarnya juga, sedangkan ayah katanya mau ke ruang kerja, mungkin ayah mau memantau anak cabang perusahaan.
Saat aku sampai didalam kamar ternyata aku sudah mendapati istriku tidur nyenyak, mungkin karena tadi sudah capek banget kayaknya langsung tidu, soalnya sangat terlihat dia teduh sekali tidurnya. Aku tersenyum memandang wajah cantik istriku itu. Aku kecup keningnya karena aku juga sudah capek dan ngantuk aku membaringkan tubuhku disamping Dinda dan ikut tertidur.
__ADS_1
Aku mengeliat dari tidurku ternyata aku tidak mendapati istriku di sampingku aku cari-cari keliling tapi tidak ku dapatinya, aku membuang pandang ke seluruh penjuru di kamar tapi hasilnya nihil berarti istriku bisa jadi ada di kamar mandi, dan benar saja tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan tampaknya istri ku sudah mandi wajahnya berseri dan sangat fress.
"Eh...mas sudah bangun maaf mas Dinda merasa sangat gerah makanya Dinda bangun untuk mendi, lagian ini sudah jam empat jadi sebentar lagi kakak Dea dengan mas Tahir datang, maa mandih gih."
Ha....apa tadi Dinda bilang? gerah makanya dia mandi? Kok bisa gerah dari mana sedangkan ac sedingin ini dia sangat santai astaga aku hanya mengelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Iya sayang mas mau mandi seharusnya bangunin mas tadi sayang, biar kita mandi bersama, sayang mandi duluan tinggalin mas sendirian tidak seru sayang" ujar ku membuat Dinda memutar bolah matanya bikin tertawa.
"Kalau mandi bareng mas banyak sekali modusnya mas, jadi kita tidak selesai mandinya lebih baik mandi sendiri-sendiri dulu nanti besok-besok baru mandi bersama ya mas hehehe."
"Iya deh mas mengalah saja yang penting sayang sudah bersih mas sudah senang ya sudah mas mandy dulu."
Aku bangkit dari dudukku dan langsung merampas kimono yang bertenger di centolan, dan langsung masuk medalam kamar mandi untuk membersihkan diri, aku meneredam tubuhku di dalam bathtub hampir setengah jam karena airnya sangat sejuk jadi terasa enak bangaet pas mandi. Setelah aku rasa puas akhirnya aku keluar ternyata aku mendapati istriku sudah tampil cantik dan bahkan sudah menunggu sambil main hp.
"Sudah mas nungguin mas dari tadi tapi tidak keluar makanya Dinda main hp, itu pakian mas sudah Dinda siapkan tinggal mas ganti saja mungkin kakak Dea sudah datang dengan mas Tahir"
"Makasih ya sayang sudah menyiapkan pakian mas, padahal mas bisa ambil sendiri tapi kalau istri cantik mas yang milih pasti mas suka"
Dinda mengukir senyum manis dibibirnya membuat aku terpesona dengan kecantikannya, padahal hari-hari aku bersama dia disini setelah selesai aku ganti, aku ngajak Dinda turun kebawah menemui orang yang ada dibawah.
__ADS_1
"Sayang yok kita turun kebawah kalau, kakak Dea dengan mas Tahir sudah datang mungkin mereka sudah menunggu dibawah" ujar ku langsung aku mengggenggam tangan istriku dan kami turun ke bawah, saat sampai di tangga ternyata benar kakak Dea dan mas Tahir sudah sampai.
Begitu kami sampai di bawah kakak Dea langsung memeluk Dinda begitu juga aku bersalaman dengan mas Tahir, sedangkan para pelayan dan pengawal sebagaian ada di taman belakang dekat dengan kolam mereka mempersiapkan semua tak lama Ririn dan Gama keluar.
"Hay kakak Dea sudah lama kita tidak ketemu semenjak acara itu, kakak apa kabar sehat"?tanya Ririn.
"syukur sehat Rin, kamu juga apa kabar kamu belum pulang ya," tanya kakak Dea karena belum tahu kalau Ririn tetap tinggal disini karena akan kerja diperusahaan.
"Tidak kakak, Ririn tidak pulang karena Ririn tetap tinggal diaini untuk kerja di perusahaan kakak Dava saja" ujar Ririn.
"Wah....mantap dong Rin kalau kamu tinggal disini jadi makin seru berarti yang pulang Elsa dan yang lain, Oh ya, kamu telpon Rafa sudah kesini untuk kita bakar-bakar" pinta kakak Dea.
"Sudah kakak sebentar juga sampai kakak kita tunggu saja sang pangeran kodok datang haahah." perkataan Ririn mengundang tawa.
Tapi saat kami tertawa ternyata Rafa muncul kirain sendiri ternyata dengan tante Riska. Dengan seyum mengembang Ririn gegas menyambut pacarnya dan calon mertua.
"Hallo semuanya sudah mulai belum? kirain sudah terlambat ternyata belum juga". Saat kami asyik ngobrol tiba-tiba datang ayah dan ibu.
"Wah sepertinya sudah rame banget nih kita langsung ke belakang saja, atau nanti saja dulu diluar juga ada tempat duduk kok kita ngobrol sambil menikmati suasa diluar sana"
__ADS_1
'Iya benar kata ibu lebih baik kita di luar saja karena diluar udaranya sangat sejuk apalagi banyak pohon di sekitar rumah'"
Akhirnya kami keluar dari rumah dan menuju taman belakang saat kami sampai disana ternyata sudah ada pelayan dan juga pengawal, mereka sudah sibuk mempersiapkan semuanya, aku yang melihat kebersamaan kami disini sangat bahagia, kalau makan-makan seperti ini kami tidak mengenal pengawal atau pelayan yang mana dan Tuannya yang mana kami semua sama, sama-sama menikmati.