
Hummm tidak terasa sudah sore saatnya pulang sekalian jemput si kembar, aku jadi kepikiran dengan Dinda dari tadi pagi tidak ada kabar sama sekali apa Dia baik-baik saja, apa jangan sampai bu Anjani masih membenci Dinda dan kakak Dea sehingga buat kekacauan karena sampai sekarang Dinda tidak hubungi aku, atau aku telpon aja ya biar aku tanya jadi penasaran.
Ah tidak usa telpon Dinda, aku telpon kakak Dea saja biar jelas. Tapi aku urun untuk telpon Dinda lebih baik aku telpon kakak Dea saja karena mereka berdua yang kesana, pasti kakak Dea tidak akan bohong sama aku, tadinya aku mau pulang aku urun sebentar aku ambil hp dan membuka aplikasih berwarna hijau langsung menekannya, aku menghubungi kakak Dea dan tidak lama di angkat.
"Hallo Dav...ada apa"?tanya kakak Dea.
"Hallo kakak maaf Dava menganggu kakak, tapi Dava hanya mau tanya aja kakak, bagaimana dengan kunjungan tadi ke kakak dan Dinda kelapas, apa kakak dan Dinda baik-baik saja? Ibu Anjani tidak mencelakai kakak dan Dinda bukan? soalnya dari tadi Dinda tidak ada kabar kakak, sekarang kakak ada dimana sudah pulang belum?" Tanyaku.
Aku yang panik menghujani kakak Dea dengan banyak pertanyaan sedangkan kakak Dea justru tertawa, astaga kakak Dea tidak tahu betapa paniknya aku. Bukannya menjawab ini mala tertawa pula ada-ada aja deh kakak sama adik sama saja suka ngerjain orang
"Hahaha....Dav tidak usa panik gitu juga kali, semuanya baik-baik saja lagian kakak bingung mau jawab pertanyaam kamu yang mana dulu, banyak sekali pertanyaan, tapi intinya kami tidak kenapa-kenapa tadi Dinda kembali ke kantor nanti kamu pulang baru Dinda jelaskan. Kamu dengar sendiri dari istrimu lebih baik Dav! dari pada kamu dengar dari kakak sebenarnya tidak ada bedahnya penjelasan dari kakak atau Dinda tapi lebih bagusnya dari istri kamu sendiri, intinya kami berdua baik-baik saja jadi jangan panik" Jelas kakak Dea.
Aku merasa lega mendengarnya, berarti ibu tidak melakukan kekerasan terhadap kakak Dea dan Dinda, biarpun itu terjadi Dinda dan kakak Dea tetap baik-baik saja karena ada petugas disana, Dinda juga bisa menjaga diri kalau hanya mencengah bu Anjani.
"Ok baiklah kakak makasih atas infonya, Dava hanya takut aja terjadi sesuatu soalnya Dinda tumben tidak menghubungi Dava." aku langsung mengakhiri panggilan dengan kakak Dea! dan bangkit dari duduk karena aku harus jemput kedua buah hatiku mereka pasti sudah menunggu aku sengaja pulang jam empat lewat biar sampai di sana cepat takutnya lama mereka menunggu kasian.
Grey dan Gretta pulang jam lima, kalau aku sampai di sana jam lima kurang mereka tidak menunggu tapi kalau aku sampai jam lima lewat berarti mereka menunggu.
Saat aku keluar dari pintu ternyata pak Erik dan asisten Arfan sudah menunggu di depan pintu sehingga kami bertiga langsung turun ke bawah. Dan masuk kedalam mobil, sekarang Dinda juga sudah punya asisten pribadi namanya Mawar dia juga tidak kalah hebat dari Dinda mereka berdua sama hebatnya.
"Pak Erik kita langsung ke sekolah si kembar ya untuk jemput mereka saja takutnya nanti kita terlambat nona Dinda belum ada kabar apakah dia jemput tidak si kembar apa belum " ujarku
"Baik Tuan muda" ujar pak Erik kami dalam perjalanan menuju ke sekolah si kembar, untung pak Erik cari jalan pintas menujuh ke sekolah si kembar sehingga kami sedikit cepat sampainya, namun saat mobil kami membelok ke gerbang sekolah aku melihat mobil istriku sudah terparkir di depan gerbang berarti istriku sudah sampai terlebih dulu. Kenapa tidak menghibungi ku hummm istri kecil ku ini minta di hukum kayak nya deh, selama ini tidak perna dapat hukuman dari ku jadi sekali-sekali ku hukum dulu dia biar dia tidak mengulangi kesalahannya lagi.
__ADS_1
"Sayang....kenapa tidak kabarin mas kalau sayang sudah datang jemput anak-anak kita mas pikir sayang sibuk jadi tidak sempat jemput mereka" tanyaku.
Bukannya merasa bersalah justru cengegesan melihat ku. Memang istriku tidak bisa di remekan dari segi apapun aku marah justru dia tertawa karena memang dia tahu kalau aku tidak perna memarahinya.
"Hehehe maaf mas, emang Dinda sengaja tidak hubungi mas karena Dinda tahu mas pasti datang jemput anak kesayangan mas, makanya Dinda sengaja datang lebih awal untuk menunggu mas disini sekalian nungguin anak-anak keluar mungkin sebentar lagi mereka keluar. Pasti mas kangen ya sama Dinda makanya mas marah karena seharian Dinda tidak hubungi mas hanyo ngaku......."
Aku hanya menarik nafas dalam-dalam melihat tingkah istriku yanf sangat mengemaskan.
"Hmmm...boleh juga minta di hukum nih istri cantik mas yang satu ini, sangat ngeselin dan mengemaskan, mau marah juga tidak bisa tapi tetap dapat hukuman dari mas nanti, tunggu sampai di rumah karena berani ngerjain mas." Ujarku membuat Dinda memelukku dan tak ku sangka dia menciumku si depan semua orang pengawal. Aku melihat pengawal senyum-senyum sehingga aku menyuruh mereka menutup mata.
"Ngapain kalian lihat-lihat sambil semyum, tuh tutup mata kalian"
"Maaf Tuan"
Wajah Dinda yang dari awal tersenyum berubah seketika, aku berpikir apakah aku salah bicara sehingga sudah menyakiti hati istriku.
"Sayang maaf...mas salah ngomong, maaf ya" tanyaku
" Mas tidak salah ngomong kok Dinda hanya ingat sesuatu, nanti lah mas sampai di rumah baru kita bicarakan ini, jangan sampai Grey dan Gretta tahu kalau salah satu nenek mereka ada di penjara. Kakak Dea dan Dinda baik-baik saja mas buktinya Dinda disini sehat aja." Ujar istriku.
Tidak lama kemudian Grey dan Gretta ke luar bersama dengan beberapa temannya. Tapi yang menarik perhatianku ada seorang gadis paras cantiknya tiba-tiba datang mendekati Grey dan mengandeng tangan Grey, namun Grey tidak menolak tapi tidak juga menangapi gadis itu setelah sampai di luar anak gadis itu langsung pergo karena orang tuanya juga sudah menunggu.
"Dadaaaa....kakak Grey...hati-hati di jalan". ujar gadis kecil itu seumuran Grey juga. Anak ku dia kayak es batu tidak ada reaksi apa pun kasian anak gadis orang.
__ADS_1
"Mami...papi sayang bagus deh hari ini Gretta di jemput lagi sama mami dan papi cobak setiap hari begini pasti seru...mami dan papi tidak pwnasaran ya sama anak gadis tapi dia itu samgat sayang sama kakak Grey! katanya kalau dia sudah sukses dia mau nikah dengan kakak Grey. Tapi papi dan mami tahu kalau di sekolah kakak Grey sangat cuek dengannya tapi cobak aja ada laki-laki yang berani menganggu Alesa pasti kakak Grey marah besar" lapor Gretta membuat aku dan istriku saling pandang.
Sedangkan Grey menegus adiknya biar diam.
"Diam dulu kamu dik, tidak usa banyak ngomong" ujar Grey membuat Gretta langsung diam.
"Nak...jangan begitu kalau ada cewek yang dekat sama kamu biatpun kamu tidak mencintainya anggap aja dia teman sama seperti adik kamu Gretta, jangan cuek seperti itu nanti tidak ada yang mau dekat sama kamu, namanya teman sekolah biasa itu," ujar Dinda.
"Mih...Grey itu paling tidak suka di dekati cewek tapi tidak tahu kenapa setiap kali dia mendekati Grey, Grey tidak bisa marah padahal Grey pengen bilamg jangan menyentuh Grey."
Aku tahu kamu sama seperti papi mu nak tidak bisa kasar sama seorang wanita, tapi jangan juga coba-coba menyakiti orang yang aku cintai karena kalau itu terjadi biarpun aku tidak perna memukul wanita tapi demi orang yang aku sayang aku akan kakukan. Jadi sifat putra ku mengikuti aku hanya saja wajahnya ikut maminya, kedua anak ku sifat mereka satu ikut satu ikut maminya.
"Iya sayang mami tapi tapi jangan bersikap begitu, seharusnya kamu bersyukur ada teman teman cewek yang menyukaimu nak, kamu harus baik-baik sama seorang wanita karena ada adik kamu, ada mami, ada juga nenek, masa anak mami kasar sama cewek." ujat Dinda.
"Mih...kakak Grey itu bukan kasar sama cewek mih, tapi lebih tepatnya kakak Grey tidak suka dengan cewek agresif soalnya Alesa agar sedikit agresif sama kakak Grey apa-apa harus kakak Grey. Gretta aja agak sedikit tidak menyukainya tapi Gretta tetap santai saja kalau sama dia, sebenarnya Alesa itu anak baik mih" sambung Gretta.
Aku masih diam biar nyimak aja dulu mendengar aduan dari putry cantik ku karena kakaknya sangat cuek sama cewek katanya.
"Sudah lah nak lupain saja, kalian juga masih kecil jadi fokus belajar ya jangan mikirin yang lain dulu, kalau putra papi begitu karena dia tidak mau Alesa berharap lebih sehingga Putra papi bersikap begitu ahar Alesa tidak menganggunya lagi, tapi ingat nak kamu juga punya adik disini jadi jangan kasar sama perempuan"
"Iya pih, Grey paham kok maksud papi, Grey tidak perna menyakiti siapa pun termasuk Alesa" ujar Grey.
Kami semu kembali diam tidak ada obralan di antara kami, tidak lama kemudian mobil kami berbelok masuk gerbang utama dan masuk kedalam garasi mobil.
__ADS_1