
Akhirnya aku dan Dinda pulang ke rumah karena rencana besok kamu akan ketemu dengan Sabrina, untung Sabrina tidak memaksa untuk ketemuan hari ini kalau tidak bisa-bisa Dinda tidak bisa istrihat. Dan aku dapat amukan dari ibu, soalnya sekarang ibu sangat posesif dengan Dinda, mungkin ibu takut Dinda kenapa-napa.
Aku lebih senang sih kalau ibu seperti itu sama Dinda, karena itu tandanya ibu sangat menyayangi Dinda, dan ibu tidak mau menantu kesayangannya sakit.
"Sayang, kamu sudah kecapean ya, kok wajah kamu sayu banget seperti itu, tidurlah sayang kalau memang kamu sudah ngantuk jangan tahan-tahan begitu. Kalau Kamu sakit ibu bisa marah besar sama mas nanti" ujarku. Karena aku perhatikan wajah istriku sangat berat untuk membukànya dan kelihatan kecapean.
"Iya mas entah kenapa rasanya cape sekali, padahal bukannya ngapa-ngapain tadi tapi cape kali, mungkin bawaan bayi kali ya mas, biarlah nanti sampai dirumah saja mas Dinda tidur." ujar Dinda memasang senyum manisnya membuat aku kembali bersemangat.
Aku membawah kepalanya ke dada bindangku untuk dia nyandar agar kalau Dinda mau tidur tidak masalah.
"Oke sayang kalau begitu sampai dirumah langsung istirahat ya awas kalau tidak istirahat, letakan aja kepala kamu disini sayang soalnya masih agak jauh jadi sini nyandar ya sayang."
Dinda menurut saja dan meletakan kepala di dada bidangku dia sempat menutup mata.
Hampir empat puluh menit akhirnya kami sampai dirumah, asisten Arfan langsung menghentikan mobil, dan gegas membuka pintu untuk aku dan Dinda, aku menuntun Dinda langsung langsung kekamar saat kami sampai karena ternyata tidak ada orang di ruang tengah sepertinya ibu sudah pulang tapi di kamar.
Setelah sampai di kamar Dinda langsung ganti pakian dan istirahat, aku juga ikut istihat, aku membaribingkan tubuhku di samping Dinda akhirnya tertidur.
Aku mengeliat dan melihat jam ternyata sudah jam lima sore, aku langsung bangkit dari tidurku dan gegas ke kamar mandi pengen bersihkan tubuh ini, karena tadi pulang langsung istirahat aku biarkan Dinda istirahat aku mandi, ternyata kalau sudah mandi rasanya segar sekali badan ini.
Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat segar dan frest banget. Namum saat aku keluar aku di kejutkan dengan istriku sudah bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Mas sudah mandi ya kenapa mas tidak bangunkan Dinda sih Dinda juga mau mandi, rasanya tidak enak kalau belum mandi mas karena tadi pas pulang langsung istirahat."
"Ya sudah sayang sini biar mas antar ke kamar mandi, bagaimana sudah puas tidurnya masih terasa capek tidak." Tanyaku.
"Kan Dinda sudah bilang tadi mas kalau badan Dinda agak sedikit tidak enak karena tadi pulang tidak mandi, mungkin kalau sudah mandi pasti sangat sengar."
"Hehehe...iya sayang maaf tadi mas tidak fokus"
Aku menuntun Dinda kekamar mandi untuk mandi, aku juga siapkan air mandinya, setelah semuanya beres aku keluar dari kamar mandi membiarkan Dinda mandi dulu nanti kalau Dinda butuh bantuanku baru lah aku datang.
Hampir tiga puluh menit Dinda didalam kamar mandi, akhirnya Dinda keluar dari kamar mandi dengan wajahnya makin frest dan cantik.
"Segar banget loh mas, oh ya mas setelah Dinda ganti pakian kita keluar yuk tiba-tiba Dinda pengen banget makan pempek yang ada jual di taman kota itu mas, boleh ya" ujar Dinda memelas.
"Sayang apa tidak sebaiknya biarkan asisten Arfan yang pergi membelih ini sudah jam enam sayang tidak baik kamu diluar malan-malam, tapi tidak apa-apa ini juga masih jam enam jadi masih bisa kalau di taman kota. Cepatlah bersiap biar kita pergi sayang takutbya keburu malam."
"Serius mas, tidak masalah kalau kita keluar ke taman kota"? Tanya Dinda
"Iya sayang tidak masalah yuk lah"
Setelah Dinda selesai bersiap akhirnya kami keluar dari rumah tujuan kami saat ini adalah taman kota, sesuai dengan permintaan istriku yang katakanya mau makan pempek disana entah makanan apa itu aku juga baru mendengarnya tapi tidak masalah kalau Dinda suka ya aku senang.
__ADS_1
Selagi aku masih sanggup untuk memberikan apa yang Dinda inginkan akan aku usahakan agar istriku bahagia, karena dengan permintaan sederhana itulah yang membuat dia bahagia karena merasa aku menjadi suami siaga untuknya.
Aku merasa beruntung sebagai suami yang memiliki istri yang tidak banyak tingkah atau banyak menuntut, Dinda seperti ini karena sedang hamil makanya agak sedikit ane-ane permintaannya kalau tidak hamil dia tidak perna seperti ini.
Kami berdua masuk kedalam mobil dan berlalu pergi tujuan kami taman kota kalau di taman kota malam-malam begini sangat ramai mau itu malam minggu atau pun tidak tetap rame.
Saat kami dalam perjalanan ke taman kota aku dapat telpon dari pak Erik yang mengatakan kalau tadi siang Emelia datang ke perusahaan. Nekat sekali perempuan sinting itu termyata dia belum kapok juga dengan ancaman istriku, dia pikir ancaman istriku itu main-main atau bagaimana ya.
"Hallo pak Erik"
"Hallo Tuan maaf, tadi saya ingin bicara dengan Tuan tapi saya lihat Tuan sudah keburu keluar sama nona muda" ujarnya.
"Memangnya pak Erik mau bicara soal apa, sangat penting kah kalau penting nanti aku pulang baru kita bicara di ruang kerja aku saja" ujarku.
"Tidak terlalu penting Tuan, tapi saya harus sampaikan kalau tadi siang Tuan tidak masuk kantor tapi bu Emelia datang kesini Tuan nyari,in Tuan katanya ada perlu penting, tapi saya sampaikan kalau Tuan tidak masuk kantor jadi sampaikan saja tapi justru dia langsung pulang"
"Ha...ngapain perempuan sinting itu masuk ke perusahaan pak Erik, seharusnya usir saja tidak penting juga aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, kita juga tidak ada hubungan kerja sama kenapq dia berani datang kesana terus dia masuk sampai di ruangan pak Erik" tanya ku.
" Tidak Tuan saya tidak ijinkan jadi dia hanya ketemu di lantai satu saja langsung pulang, awalnya memang dia nekat mau masuk tapi setelah saya bilang kalau Tuan tidak masuk justru wajahnya terlihat sangat kesal Tuan."
Kurang ajar sih Emelia mau cari mati perempuan ini, ada urusan apa dia datang ke perusahaanku.
__ADS_1
"Bagus, jangan perna injinkan siapapun masuk kalau bukan aku yang mengijinkan, kecuwali klien yang janji dengan pak Erik tapi kalau ada yang ingin bertemu dengan aku, tapi aku tidal ijinkan usir saja."