
Hampir satu jam lebih pintu ruang operasi terbuka dan nampak lah seorang dokter berdiri di depan pintu dengan keringat bercucuran, dokter itu adalah salah satu dokter dari rumah sakit Adinata ikut melakukan operasi. Aku yang melihat dokter segerah bangkit dari duduk ku di ikuti yang lain dan menghampiri dokter.
Aku takut dokter akan menyampaikan sesuatu yang buruk sehingga badanku sampai gemetaran, aku belum siap menerimah jika sesuatu terjadi terhadap ayah.
"Dok bagaimana dengan kondisi ayah saya dok, apakah ayah saya baik-baik saja? dan bagaimana dengan operasinya semua berjalan dengan baik bukan? Dan ayah sudah siuman kan?" Tanya ku. Pertanyaan macam apa ini masa baru selesai operasi langsung siuman.
"Iya dok bagaimana dengan paman saya , semua baik-baik saja bukan? Tidak terjadi sesuayu kan? " Sambung Gama.
Dokter justru masih dism belum menjawab setiap pertanyaan aku dan Gama, namun dokter menarik nafasnya dengan kasar barulah dokter angkat bicara.
" Mohon ampun Tuan muda dan semuanya tenang, alhamdulillah operasi Tuan Adinata berjalan dengan lancar, untung secepatnya di bawah kesini karena kalau terlambat sedikit saja bisa lewat karena kehabisan darah, di tambah lagi operasi tadi tadi Tuan Adinata memang kekurangan darah tapi untung disini masih ada stok darah, dan kondisi Tuan Adinata saat ini masih kritis dan belum sadar. Saya sarankan untuk di rujuk saja Tuan muda karena disini alat medis kurang memadai" Ujar dokter.
Mendengar penjelasan dari dokter rasanya dunia ku runtuh, waktu ibu sakit di tambah penganiayaan terhadap Dinda saja dunia ku sudah hancur apalagi sekarang yang kritis adalah orang terhebatku penyemangatku yang aku masih sangat membutuhkan dukungan darinya, kenapa aku yang bodoh dan teledor tidak memperhatikan samping kiri kana sehingga menyebabkan semua ini terjadi, kalau bukan karena ayah menolongku mungkin aku sudah tiada alias meninggal.
"Memang bisa rujuk sekarang dok apa itu tidak akan berbahaya dok terhadap pasien yang baru selesai operasi dok, memang saya rencana berbicara dengan pihak rumah sakit untuk ayah memang harus di rujuk tapi saya takut beresiko " tanya ku ingin secepatnya keluar dari rumah sakit ini.
"Mohon ampun Tuan muda jika saya lancang tapi jika kita mengambil keputusan untuk rujuk jelas beresiko karena Tuan Adinata baru selesai operasi takutnya di jalan ada kendalah hanya saja. Lebih sangat beresiko lagi Tuan muda! jika Tuan Adinata tetap disini karena seperti yang saya bilang tadi alat medis disini kurang, tadi kami datang memang membawah alat medis dari sana hanya saja tidak lengkap karena kami pikir ada alat-alat itu di rumah sakit ini, sayangnya saat kami sampai tidak ada, maafkan kelalaian kami Tuan muda karena kami kurang persiapan" tambah dokter itu.
Sekarang bukan waktunya saling menyalakan satu sama lain, para dokter juga manusia bukan robot, tapi harus memikirkan bagaimana caranya untuk membawah keluar ayah dari sini.
__ADS_1
Akhirnya setelah banyak pertimbangan dan diskusi dengan dokter dan pihak rumah sakit, aku memilih untuk membawah ayah pulang dan meminta rujuk ke rumah salit pribadi saja memang sangat berat bagiku tapi aku siap ambil resiko jika terjadi apa-apa dengan ayah. Ayah mertua dan yang lain juga mendukung karena melihat kondisi sekarang memang harus pulang.
Ke tua Heri dan beberapa anak buahnya turut ikut mengantarkan kami ke rumah sakit, padahal baik aku maupun Gama dan ayah mertua sudah melarang untuk antar lantaran jauh tapi ke Tua Heri tetap ngotot untuk antar, dan sebagian anak buahnya pulang ke markas.
"Ketua Heri lebih baik tidak perlu antar karena perjalanan kembali kesini sangat jauh. Tidak masalah ke Tua Heri dan semua anak buah pulang saja untuk menjaga marlas, hari ini kami tidak bisa mampir ke markas dulu karena kondisi ayah begini, tapi sewaktu-waktu aku akan datang."
" Tidak masalah Tuan muda, saya sebagai anak buah yang setia jika Tuan saya mengalami musiba saya akan mengantarnya sampai tujuan, jadi Tuan muda dan yang lain tidak perlu risau dengan saya karena sebagian anak buah mereka akan kembali ke markas" ujar ketua Heri.
Karena ketua Heri ngotot untuk mengantar akhirnya aku diam saja, biarlah kalau memang ketua Heri mau antar tidak masalah asal tidak terbebani saja karena mengingat jarak sangat jauh.
Aku ingin memberitahu Ririn soal ayah yang sudah dalam perjalanan ke rumah sakit, tapi aku tahu Ririn orangnya suka keceplosan saat bicara jadi takut saat Ririn bicara dengan Dinda justru keceplosan dan Dinda tahu semua. Tapi kalau tidal beritahu Dinda dan Dinda tahu belakangan pasti marah besar semua sebah salah.
Saat dalam perjalanan pulang tiba-tiba hp ku berdering, dan saat aku melihatnya ternyata Dinda kembali menghubungi, aku tidak mau Dinda semakin curiga akhirnya aku memutuskan untuk mengangkat telponnya. Karena aku yakin Dinda pasti sudah curiga karena dari tadi aku tidak menerima telpon darinya.
"Hallo sayang, ada apa? Kok telpon dari tadi maaf mas tidak sempat angkat telpon kamu karena masih mengurus penjahat"? Tanyaku.
"Hallo mas, dari tadi kemana aja sih Dinda telpon dari tadi tidak ada respon sama sekali, apa yang terjadi mas tolong beritahu Dinda jangan menyembunyikan dari Dinda, ingat mas Dinda adalah istri mas jadi Dinda hafal betul sikap mas seperti apa. Hari ini sikap mas itu sangat berubah bahkan Gama juga begitu Dinda merasa ada sesuatu yang terjadi sehingga mas dan yang lain menghindar. Daro tadi Dinda telpon mas karena ingin memberitahu mas kalau ibu masuk rumah sakit jadi Dinda lagi di rumaj sakit."
Kan, filing ku tidak salah Dinda itu seperti malaikat yang tahu semuanya tanpa di beritahu, aku gugup apakah aku harus memberitahu Dinda saja atau jangan, kebetulan ayah mertua juga ikut sama aku sedangkan mobilnya di bawah pengawal jadi ayah mertua memberikan saran agar lebih baik aku memberitahu Dinda saja.
__ADS_1
"Ayah bagaimana ini, apakah Dava harus memberitahu Dinda, karena sepertinya Dinda sudah merasa kalau terjadi sesuatu di antara kita ayah."
"Iya nak menurut ayah tidak masalah jika beritahu Dinda karena kamu tahu sendiri kan nak bahwa Dinda itu filingnya sangat kuat"
Akhirnya aku memutuskan untuk beritahu Dinda, aku yakin Dinda istri yang kuat jadi bisa menghadapi semua ini.
"Hallo mas, kenapa diam aja disitu jawab dong ada apa sebenarnya" tanya Dinda.
"I, iya sayang kamu tenang dulu ya dan maafkan mas sayang karena tidak mengabari kamu, soalnya mas bingung apa yang harus mas lakukan. Saat ini mas dan rombong lagi dalam perjalanan ke rumah sakit sayang, tapi ada hal penting yang ingin mas sampaikan sama kamu. Mas harap kamu tenang saat mendengar berita ini" ujarku.
"Berita apa itu mas, jangam ane-ane deh mas, beritahu saja Dinda tenang kok."
"Jadi begini sayang sebenarnya tadi sayang telpon itu mas di rumah sakit, soalnya ayah Adinata kena tikam di perut saat hendak menolong mas" ujarku.
"Apa!...ayah kenah tikam mas kok bisa bagaimana ceritanya" teriak Dinda
"Tenang dulu sayang tunggu mas pulang baru cerita soalnya panjang ceritannta sekarang mas matikan telpon ya biar fokus di jalan"
Aku langsung matikan telpon aku tahu Dinda pasti sangat syok mendengarnya. Semoga Dinda tidak kenapa-kenapa setelah mendengar kalau ayah kena tikam.
__ADS_1
Hampir dua jam lebih akhirnya mobil yang aku dan yang lain timpangin berbelok ke loby utama rumah sakit, ternyata sudah ada beberapa dokter dan suster menunggu di situ dan siap membawah ayah kedalam ruang IGD untuk penanganan lebih lanjut.
"Dokter berikan yang terbaim untuk ayah saya dok, tadi kata dokter ayah kekurangan darah jadi kalau stok darah disini tisam ada cepat beritahu ya dokter biar kita bisa mencari pendonor, jangan sampai ayah saya kenapa-kenapa" ujarku saat ayaj di dorong masuk kedalam riangan.