
Aku hanya memperhatikan keluargaku yang sudah mengelilingi kakak Dea dan mas Tahir, jujur aku sangat terharu dengan keharmonisan keluargaku mereka tidak memandang seseorang dari kastanya. Yang penting baik sopan itu sudah lebih dari cukup, ayah dan ibuku orang tua yang sangat lembut dan baik terutama ibu hati ibu sangat lembut tapi jangan coba-coba mempermainkan kebaikannya kalau mau hidup kalian tetap aman.
Apalagi orang seperti bu Anjani jangankan ibu menyapahnya melihatnya saja pasti ibu gak suka, tapi ibu juga punya cara yang unik untuk membalas seseorang dia lakukan tidak pakek kekerasan tapi dengan cara halus.
Setelah kakak Dea tenang dan pas juga dengan makanana yang sudah di hidangkan di atas meja panjang untuk muat semua keluarga.
Kami menikmati makanan dengan halap, tapi sayangnya istriku masih tidur jadi tidak makan bersama dengan kami, nanti aku menyuruh pelayan restoran antar makanan ke kamar saja karena rencana besok aku dan Dinda akan pergi honeymoon ke paris, kalau istri gak mau biarkan saja dia yang milih mau kemana ikuti kemauannya.
Saat kami sedang makan mataku menangkap seorang perempuan yang sangat aku kenal Emelia?...kok dia bisa ada disini atau jangan-jangan dia nginap disini dan semalam dia ikut acara resepsi ku, tapi itu tidak mungkin kalau dia ikut dapat dari mana undangannya sedangkan ayah dan ibu saja tidak mengenalnya, perempuan bar-bar seperti dia. Dia jalan santai dan duduk di meja yang tidak jauh dari kami berarti dia tidak melihat aku disini karena dia santai dan tidak melirik kesini.
Aduh kenapa lagi perempuan bar-bar ini bisa ada disini sih aku yakin dia pasti nginap di hotel ini juga atau dia nginap di hotel sebelah tapi dia datang makan disini. Ah bodoh amat deh dia mau ngapain terserah yang penting dia tidak menganggu kami lagi makan. Aku melirik kakak Dea tapi sepertinya kakak Dea tidak menyadari ada perempuan itu.
Sehabis kami makan kami belum beranjak masih santai karena semua piring kotor sudah diangkat. Seketika aku melupakan perempuam itu.
Kami kembali bercanda ria namun tiba-tiba namaku di panggil seketikan semua mata tertuju kepada asal suara itu, dan kembali menatap tajam kearahku aduh, perempuan ular ini kenapa aku tidak bisa lepas darinya. Kayaka jelengkung aja muncul dimana-mana.
Dia berjalan lengak-lengok datang menghampiri aku dan ingin menyentuh bahuku tapi dengan kasar Ririn yang kebetulan duduk disampingku menepis tangannya. Padahal aku juga sudah rencana menepisnya belum sempat aku lakukan adikku yang cantik ini sudah duluan baguslah.
"Sopan kamu ya, jangan sembarangan menyentuh orang, siapa kamu? Nanti kakak iparku lihat jadi salah paham" seketikan wajahnya pias karena malu melihat semua mata tertuju kepadanya.
"Ririn jangan begitu nak....siapa tahu kakak kamu mengenalnya biarkan dulu mungkin ada yang mau dia sampaikan" ujar bibi.
__ADS_1
"Maaf saya menganggu perkenalkan nama saya Emelia saya pacarnya Dava....ini ada acara ya kok Dava tidak mengundang saya sih kitakan pacaran. Semua keluargaku terkejut dengan pengakuan Enelia karena mereka pikir perktaan Emelia itu benar namun beda dengan kakak Dea dia tenang belum buka suara."
"Ha....pacar....Dava ada yang mau kamu jelaskan ini ada apa siapa perempuan ini mengaku sebagai pacar kamu" paman mulai emosi tapi berbedah dengan ibu dan ayah mereka masih santai.
"Mas..sabar jangan marah dulu saya mau bertanya sama gadis ini jadi diam semua ya." ibu menatap Emelia dengan tatapan tidak bisa dijelaskan." nak kamu tahu siapa Dava kan? Dia dari keluarga terpandang dan didalam keluarga kami tidak suka ada kebohongan, saya mau tanya apa benar kamu pacarnya Dava dan sejak kapan kalian pacaran?jawab dengan benar karena saya satu orang tidak suka kebohongan jadi kalau ada orang yang bohong terhadap saya, saya tidak akan biarkan dia lolos dan harus bertanggung jawab dengan apa yang orang itu perbuat.
Saya minta kamu jawab jujur nak, orang yang suka berbohong akan tahu akibatnya, saya dan semua keluarga tidak ada yang mengenal kamu terus dari mana kamu bisa pacaran sama Dava, kalau memang benar kamu pacarnya kenapa Dava tidak memperkenalkan kepada keluarga dan orang tuanya"
keberanian Emelia seketika ciut mendengar perkataan ibu, sepertinya dia juga tidak tahu kalau ibu adalah orang tuaku.
"Ya...ya..me-menang saya pacarnya nyonya tapi Dava tidak mau mengakui kalau saya ini pacarannya padahal kami sudah lama pacaran, Dava juga tidak mau memperkenalkan saya dengan orang tuanya" aduh Emelia kamu ini kenapa asal bicara mau cari perkara saja deh.
"Gak bisa begitu dong nyonya dimana tanggung jawab Dava terhadap saya sedangkan Dava sudah sering tidur dengan saya di hotel tanpa pengetahuan nyonya"
Dasar wanita ular berani-beraninya di berkata begitu. Karena ibu tahu Emelia berbohong sehingga ibu minta bukti"
"Kalau memang benar mana buktinya, saya butuh bukti bukan butuh omong kosong"
"Maaf nyonya gak ada bukti."
"Sekarang kamu tinggal pilih kamu pergi dari sini atau kamu diseret oleh polisi"
__ADS_1
Karena Emelia tidak mau di murkai oleh ibu dan yang lain akhirnya dia pergi begitu saja. Setelah Emelia pergi semua yang ada di meja makan minta penjelasanku. Aku tidak bisa mengelak dan me jelaskan semuanya bukannya marah justru mereka tertawa.
"Kayak ginilah kalau putra ibu sangat tanpan makanya banyak gadis yang ngaku jadi pacaranya padahal halu."
Kami kembali ke hotel karena keluarga besar masih nginap disini beberapa hari lagi, kalau aku dan Dinda besok berangkat dari hotel kalau soal pakian sudah disiapkan oleh orang pak Erik.
Saat aku sampai di kamar ternyata istriku sudah bangun dan bahkan sudah bersih dan rapi.
"Sayang kamu sudah bangun tunggu sebentar pelayan akan mengantarkan makanan kesini." belum selesai aku bicara ber kamar berbunyi saat aku buka ternyata satu orang pelayan mengantarkan makanan untuk Dinda.
"Parmisi Tuan muda dan nona muda saya mengantarkan makanan untuk nona muda."
"Silakan masuk taru saja disitu"
Setelah ditaruhnya makanan di atas meja pelayan itu bergegas pergi dan aku menyuruh Dinda sarapa, takutnya sakit apalagi nanti kami mau honeymoon jadi harus butuh tenaga ekstra hahaha...
"Sayang sarapan dulu yuk, mas sudah sarapan di bawah tadi dengan semua keluarga hanya kamu yang tidak hadir tadi jadi makanannya diantar kesini makan yang banyak biar punya tenanga nanti malam kita harus lembur siapa tahu langsung ada Dava junior."
"Pukkkk....pikiran mas seputar itu saja gak mikirin yang lain lagi, semalam belum puas jadi mau nambah lagi kayak nambah nasi dan lauknya"
Dinda bisa saja deh kalau ngomong selalu benar, setiap kali aku memandang istriku aku kembali mengingat mbak Hawari.
__ADS_1