
Keesokan harinya semua penghuni di kediaman keluarga Winata sudah pada siap untuk berangkat ke pekerjaan masing-masing biarpun Kenedy masih sakit tapi dia harus pergi kampaye untuk mengenmbalikan nama baiknya karena sempat menjadi perbincangan publik. Satu minggu yang lalu bahkan sampai hari ini pun masih ada media yang memberitakan kasus itu. Yang jelas Lexza sebagai istrinya harus ikut adil untuk memberikan sangat dan dukungan kepada suaminya mereka lagi bersiap didalam kamar.
Begitu juga dengan bu Anjani dan Dea mereka lagi siap-siap di kamar masing-masing kalau bu Anjani yang pasti dia akan menuju ke perusahaan dan membuat meeting mendadak untuk mencari solusi yang terbaik agar mengembalikan kestabilan dana dalam perusahaan.
Sedangkan Dea juga lagi siap-siap bukan karena pergi ke restoran melainkan ingin ketemu dengan Dinda dan Dava di restoran milik keluarga Dava di restoran bintang lima.
"Mas..apapun yang terjadi nanti tetap semangat ya jangan menyerah percaya saja kalau kamu akan menang di pilpres, yang penting nanti mas harus buat konferensi pers untuk kembalikan nama baik kamu mas lebih baik salahkan saja nenek lampir itu mas biar tahu rasa." ujar Lexza.
"Kamu tenang sayang semua pasti berjalan dengan baik kalau soal konferensi pers itu nanti sekalian di lakukan atau kalau mau lebih tepat lagi kita undang media datang ke rumah ini biar mampus tuh ibu kamu, ternyata benar ya sayang kamu bukan anak kandung ayah Evan berarti kamu tidak dapat apa-apa dari hartanya sayang karena kamu bukan ahli waris."
Lexza terdiam memikirkan sesuatu apakah benar seperti yang di bilang suaminya kalau dirinya tidak mendapatkan hak apapun dari harta keluarga Winata, cobak Lexza baik mungkin Tuan Evan akan memberikan sebagian dari hartanya tapi sayangnya Lexza jahat bahkan dia yang dominan melakukan kejahatan terhadap Dinda itu yang membuat Tuan Evan murka. Dan tidak mau memberikan apapun kepadanya bahkan Tuan Evan rencana untuk menghancurkan hidup Lexza dan bu Anjani.
"Tapi mas didalan surat wasiat itu nama aku ada mas masa aku gak dapat apa-apa sih setidaknya aku dapat apertemen dan restoran satu ke masa sama sekali gak enak kali dong si Dea nya aku juga mau minta hakku enak aja aku gak dapat."
"Sayang dimana-mana kamu itu tidak dihitung dalam penerimaan hak waris karena kamu bukan anak dari ayah Evan, yang berhak menerima hak Waris itu adalah Dea dan Dinda itupun Dea tidak dapat sebanyak yang didapati Dinda karena Dinda adalah anak bungsu. Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu kenapa disurat wariat itu ada nama kamu sedangkan tidak ada nama Dinda karena surat Wasiat itu palsu sudah di palsukan oleh ibu kalau yang asli itu di pengacara itu tidak bisa di ganggu gungat sayang."
Setelah Kenedy dan Lexza selesai bersiap mereka keluar dari kamar tapi tidak menuju ke meja makan melainkan mereka langsung pergi ini sejarah baru dalam kehidupan keluarga Winata mereka tidak sarapan bersama pagi itu.
__ADS_1
Bu Anjani berpikir kalau Lexza dan Kenedy masih di kamar jadi bu Anjani menunggu mereka di meja makan, bu Anjani sangat berharap dengan adanya pagi ini mereka semua sarapan bersama kekeluargaan kembali membaik seperti semula. Namun sayang bu Anjani salah karena tidak ada satupun yang mau sarapan di meja makan itu.
Bu Anjani duduk di meja makan sambil tersenyum karena ia percaya bahwa sebentar lagi Dea dan Lexza bersama yang lain datang makan tidak apa-apa bu Anjani menunggu mereka yang penting hubungan mereka kembali baik pikirnya.
Sedangkan didalam kamar Dea dan Tahir lagi siap-siap untuk berangkat tapi dengan mobil masing-masing karena mobil yang Dea pake itu adalah hadia dari sang ayah makanya Dea sangat sayang dengan mobil itu.
"Maa mau sarapan gak atau langsung berangkat saja. Kalau aku sih sarapan diluar saja mas ogah aku sarapan bersama dengan manusia-manusia berhati iblis itu"
"Hmm kayaknya mas juga gak sarapan di rumah deh sayang mas sarapan di luar saja kan di kantor ada restoran juga jadi sebelum masuk kantor makan dulu, mamangnya sayang mau kemana kerestoran ya"?
"Ya sudah jangan lupa sarapan disana jaga kesehatan ya" ujar Tahir
"Maafin aku ya mas aku terpaksa berbohong, aku tidak bermaksud melakukan ini mas tapi aku takut nanti mas keceplosan bicara bisa gawat tapi nanti kalau semua sudah selesai kamu pasti tahu mas kalau sementara waktu mas tidak perlu tahu dulu."
"Sayang kamu kenapa melamun begitu ada apa, ada yang kamu pikirkan sayang jangan menutupi apapun dari mas sayang kita ini suami istri jadi tolong apapun yang terjadi biarlah kita menghadapi bersama"
"Gak ada mas, mas sudah selesai siap yuk kita berangkat nanti mas terlambat"
__ADS_1
Akhirnya Tahir dan Dea keluar dari kamar dan melewati ruang tengah tapi tidak ada satu manusiapun disitu namun saat mereka melewati ruang makan mereka melihat bu Anjani yang lagi duduk termenung disitu.
Saat bu Anjani melihat Dea dan Tahir ia langsung tersenyum tapi sayangnya baik Dea maupun Tahir sama sekali tidak menyapahnya, membuat bu Anjani kecewa tapi ia harus sabar jangan sampai emosi.
"Dea, Tahir mana Lexza dan Kenedy kok mereka belum keluar padahal ibu sudah menunggu dari tadi loh disini kita tunggu mereka dulu mungkin sebentar lagi mereka berdua keluar dari kamar"
"Maaf ya bu hari ini Dea dan mas Tahir tidak bisa sarapan bersama karena ada urusan penting jadi nanti kami sarapan diluar saja" ucapan Dea seketikan membuat bu Anjani cemberut awalnya bu Anjani tersenyum sekarang beruba menjadi datar tapi Dea dan Tahir tidak peduli justru mereka berlalu pergi meninggalkan bu Anjani sendirian di meja makan.
"Kurang ajar sih Dea dan suaminya aku sudah bersikap baik mala dikacangin, aku terpaksa melakukan ini kalau tidak enak aja baik-baikin mereka lagian Lexza dan Kenedy diaman sih kok lama sekali datangnya sudah dari tadi aku duduk disini mereka tidak mucul....Maya....sini dulu"
"Iya Nya...."
"Tolong ke kamar nona Lexza katakan kepadanya kalau nyonya sudah menunggu disini dari tadi"
"Maaf Nya...bukankah nona Lexza dan Tuan Kenedy sudah berangkat dari tadi nyonya sebelum nyonya turun kebawah."
"Apa.....kenapa kamu tidak bilang dari tadi sih buang-buang waktu aja benar-benar mereka memperlakukan aku seperti ini mereka sama sekali tidak menghargai aku lagi sebagai orang tua keterlaluan"
__ADS_1