Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
72:72


__ADS_3

Saat kami sampai di luar ternyata mobilnya sudah disiapkan jadi tinggal berangkat saja ke rumah sakit, aku menghubungi pak Erik jika aku telat masuk kantor lagi karena rencana setelah selesai ketemu dengan keluarga Winata sekalian aku dan Dinda menjenguk Andy karena kebetulan Andy juga di rumah sakit yang sama.


Kami sekarang sudah didalam mobil dan keluar dari pekarangan rumah untuk menuju ke rumah sakit.


Aku yang menyetir sendiri dan didalam mobil hanya aku dan Dinda tidak ada pengawal karena pengawal beda mobil. Aku sendiri yang meminta biar tidak ada yang tahu kalau kami datang dengan pengawal.


Aku melihat istriku sangat tenang tidak ada rasa gugup atau rasa takut di wajahnya justru aku melihat dia tersenyum, apakah istriku sudah siap dengan segala resiko nanti jika sampai di rumah sakit.


"Sayang, kamu gapapa kan? Kamu takut ya sayang datang kesana jangan takut ya mas ada kok yang akan melindungmu" ujarku namun justru Dinda memandangku dan senyum.


"Mas tidak perlu kuwatirkan aku, aku baik-baik saja biarpun tadi mas tidak ikut percayalah sama aku mas, aku bisa membelah diri jika hanya menghadapi empat cecunut itu. Jangan samakan Dinda yang dulu dengan sekarang mas. Dinda yang dulu masih punya hati nurani dan masih memiliki kelembutan hati, tapi Dinda yang sekarang sudah beruba tidak ada kata lembut untuk manusia jahat. Jika hanya menghadapi mereka berempat aku bisa pake satu tangan mas untuk mematahkan leher mereka."


Jawaban istriku membuat aku susa menelan salivaku, sehebat apa sih istriku sampai dia berkata begitu aku yang mendengar aja sampai merinding, inilah efeknya orang yang dulu baik dan lembut hatinya tapi disakiti dan diinjak, jadi setelah ia menyimpan dendam lebih sadis Dari pada mavia. Memang aku sudah tahu kalau Dinda perna belajar latihan seni belah diri tapi aku gak tahu seni belah diri jenis apa yang dipelajari oleh Dinda.


"Serius kamu sayang, memangnya waktu ayah masukan kamu ke pelatihan seni beladiri jenis apa yang kamu pelajari sayang."


"Waktu itu aku bukan belajar hanya satu macam jenis seni belah diri mas tapi beberapa macam"


"Salah satunya apa sayang, maaf mas penasaran aja karena selama ini kamu tidak cerita semuanya ke mas"

__ADS_1


" ada beberapa tapi mas tidak perlu tahu, nanti juga mas bisa lihat sendiri jika ada sesuatu yang terjadi, ayah daftarkan awalnya aku tidak mau mas tapi aku berpikir mungkin pas aku dewasa nanti ini bisa membantu aku untuk membelah diri."


"Yaudah kalau memang sayang tidak mau kasih tahu juga tidak apa-apa yang penting mas tahu sayang bisa belah diri aja mas senang padahal awalnya mas rencana mau ngajarin kamu agar bisa menjaga diri ternyata mas tidak menyangka istri mas yang cantik ini sudah bisa menjaga diri , terus Lexza dan Dea bisa juga?" tanyaku


"Haahha....mereka berdua tahunya berlindung di ketiak pengawal aja, waktu itu ayah mau daftarkan kami bertiga tapi mereka berdua justru melawan ayah dan mereka tidak mau, yaudah ayah tidak memaksa mereka, aku tahu sekarang mereka menyesal karena tidak bisa apa-apa."


Aku merasa kangum sama istriku karena ternyata tanpa aku sadari istriku perempuan yang hebat.


"Sayang bagaimana kalau kita memiliki anak lagi kamu sudah siap belum sayang untuk punya anak karena sebentar lagi kita sudah melangsungkan acara resepsi jadi bagaimana kalau setelah selesai kita pergi honeymoon ke mana kamu mau sayang mas ikut saja."


"Mas kenapa nanya begitu siapapun itu kalau sudah menikah pasti pengen punya anak, seandainya aku tidak keguguran mungkin sebentar lagi kita sudah punya anak mas kalau soal honeymoon itu nanti kita pikirkan sekarang kita fokus dengan resepsi kita dulu."


"Sekarang aku bahagia mas lebih dari sengalanya, tapi sayangnya ayah tidak bisa melihat kebahagiaanku mas, aku rindu sama ayah mas aku pengen ketemu ayah, nanti kita pergi ke makam ayah ya mas."


Aduh gimana ya, makan itu kan bukan ayah yang didalam tapi orang lain, masa Dinda pergi menangisi orang lain ah....aku harus cari cara agar mengalihkan perhatian Dinda sampai ayah sudah siap ketemu dengan Dinda, kasian juga Dinda pikirnya ayah sudah meninggal. Aduh aku baru ingat soal uang yang di transfer oleh ayah ke nomor rekening Dinda.


Nanti aja aku yang cek jangan sampai Dinda curiga uang itu dari mana, atau aku sengaja aja kali ya bilang kalau uang itu dariku nanti setelah ayah ketemu dengan Dinda baru aku jujur kalau uang itu dari ayah, karena cepat atau lambat Dinda pasti akan tahu.


"Iya sayang tapi jangan sekarang ya kita masih sangat sibuk soalnya mas juga masih sibuk di kantor, nanti kalau ada waktu pasti kita akan datang ke makam ayah."

__ADS_1


"Iya mas aku pengen menyampaikan semuanya ke ayah kalau sekarang aku sudah sangat bahagia karena mendapatkan keluarga baru yang sangat menyayangiku dan suamiku adalah Dava Adinata putra tunggal dari pemilik Adinata grup hahaha"


Astaga dalam kondisi seperti itu kayak tidak ada beban sama sekali, padahal bu Anjani di rumah sakit antara hidup dan mati tapi memang Dinda sudah tidak menghiraukan mereka lagi buktinya dia masih tertawa kuat seperti tidak ada yang ia pikirkan.


Karena aku menyetir sangat santai jadi kami lama sampai di rumah sakit apa lagi masih pagi begini macetnya tidak terhindarkan, sangat macet pagi ini tapi lebih bagus juga biar lama-lama dengan istriku rasanya tidak pengen jauh darinya.


Tidak lama kemudia aku membelokan mobil masuk kedalam parkir rumah sakit masih didalam mobil saja aku sudah melihat banyak wartawan dan polisi yang masih wara-wiri di sekitaran rumah sakit.


Setelah aku selesai parkir mobil dengan sempurna aku membukakan pintu mobil untuk istriku dan keluar dari dalam mobil.


Aku langsung memengang tangannya dan kami melangkah masuk kedalam rumah sakit, aku sangat bersyukur karena ayah tidak memperkenalkan aku ke publik jadi aku dan Dinda bebas dari kejaran wartawan kalau gak kami bisa kewalahan.


Namun yang membuat aku takutkan adalah, jangan sampai dokter atau suster yang melihat kami berdua terus memanggil kami dengan sebutan Tuan muda, sudahlah kebongkar semua identitas ku.


Untung pengawal mereka hanya tunggu di luar karena memang itu permintaanku.


Aku dan Dinda melalui koridor rumah sakit dan dari jauh kami sudah melihat keluarga Winata lagi berkumpul di depan ruang IGD.


Lexza yang duluan melihat kedatangan kami dia terkejut tapi dia belum berkata apapun kami berdua makin mendekat dan akhirnya kami sampai di depan mereka membuat semua kembali terkejut melihat kami.

__ADS_1


__ADS_2