
Sedangkan di rumah sakit Dea setelah selesai pulang ambil darah dari PMI Dea langsung memberikan kepada pihak rumah sakit untuk transfusi darah karena bu Anjani sangat membutuhkan darah itu.
Dea gegas menghampiri dokter dan memberikannya kepada dokter untuk segerah melakukan tindakan terhadap bu Anjani, setelah selesai Dea keluar dari dalam ruangan dan menghampiri suaminya yang masih duduk di ruang tunggu tanpa melakukan sesuatu.
"Mas aku kira mas sudah kemana tapi ternyata masih disini. Mas kenapa lemas banget kayak begitu ada apa mas?" tanya Dea.
"Bagaimana mas gak pikiran sayang, semua ini karena Kenedy dan Lexza sehingga nama baik kita semua terseret dalam perlakuan mereka, lihat nama keluarga Winata sudah tersebar dimana-mana dan pasti akan berimbas ke pekerjaan mas juga, heran sama pikiran Lexza dan Kenedy kenapa sifat mereka berdua begitu ya. Apalagi Lexza, semua masalah ini terjadi karena berawal dari dia seandainya tadi Dava dan Dinda datang dia tidak menunjukan sifat bar-barnya mas yakin Dinda dan Dava tidak akan bertidak kasar seperti itu."
"Apalagi ini di rumah sakit loh bukan di rumah, kalau di rumah terserah dia mau berbuat apa tapi masalahnya di rumah sakit kok bisa gak ada sopan-sopannya, makin kesini mas makin tidak menyukai sikap Lexza maaf ya sayang jika mas berkata jujur, kamu tahu gak sayang sekarang ini perusahan Winata grup lagi dalam masa krisis karena sudah banyak penanam saham yang menarik kembali semua saham mereka karena video Kenedy dan Lexza yang viral itu, belum lagi video ibu yang viral karena kena tembak."
Teenyata bukan hanya paman Gibran dan bibik Lya yang tidak menyukai Lexza dan Kenedy tapi Tahir dan Dea juga sudah mulai tidak suka dengan cara Lexza. Apalagi sekarang Dea sudah tahu siapa Lexza sebenarnya jadi Dea sudah mulai jaga jarak dengan Lexza, cobak Lexza orang baik mau dia bukan anak kandung Tuan Evan juga tetap di sayangi oleh orang-orang di keluarga Winata.
"Iya mas aku juga sama sebenarnya aku benci sama Lexza mas jujur saja setelah dia menamparku, aku bukan kakak yang baik untuk Dinda tapi kakak yang sangat buruk, seharusnya aku yang menjadi pelindungnya setelah ayah gak ada ini aku justru melukai hatinya, aku ikut menyiksanya walaupun aku lakukan itu hanya untuk melindunginya biar dia gak tahan dan segerah pergi dari rumah tapi kelihatan aku sangat jahat"
__ADS_1
"Aku sangat menyesal mas aku menyesal sama adikku sendiri pasti ayah di atas kecewa dengan sifat jahatku, tapi mau bagaimanapun sudah takdir aku sekarang tenang karena Dinda sudah bahagia dengan keluarga barunya Dava sangat menyayanginya, tapi sampai sekarang aku masih kepikiran dengan penampilan mereka sebenarnya siapa Dava sebenarnya ya mas."
"Mas gak tahu sayang tapi kalau mas lihat dari penampilan mereka berdua baju yang di pake Dava saja sayang harga jutaan itu. Apalagi gaun yang di pake Dinda sayang, sayang tahu gak gaun itu bukan gaun murahan gaun itu sangat mahal dan hanya satu butik saja yang jual gaun itu kamu tahu butik siapa." tanya Tahir
"Aku mana tahu baju itu dari mana mas, selama ini kan aku belanjar di mall tapi harga paling tingga jutaan gak perna sampai ratusan juta."
"Butik dari keluarga Adinata sayang butik yang di kelola oleh nyonya Adinata gaun itu hangarnya bukan puluhan juta sayang tapi ratusan juta. Mana lagi sepatu dan tas yang di pake Dinda"
Dinda yang mendengar perkataan sang suami terkejut dan bahkan hampir gak percaya karena dari mana Dinda dan Dava dapat uang sebayak itu, hanya untuk membeli barang mewah itu, secarakan selama tinggal seatap dengan mereka Dava tidak menunjukan kalau dia itu orang kayak tapi kenapa saat pergi dari rumah dan saat ketemu sudah dengan penampilan yang wah....
"Yaelah sayang kamu lupa ya kalau teman-teman mas banyak yang berprofesi sebagai model dan juga beberapa artis terkenal, jadi otomatis mas tahu lah barang yang berkualitas dan barang yang tidak berkualitas karena dulu sebelum mas masuk Dewan mas juga terjun di dunia fashion jadi mas tahu."
Kalau nanti kamu tidak percaya mas tanya teman mas pasti jawabannya sama kayak mas, mas ini sebenarnya pintar dalam menilai mana fashion yang bagus dan mana yang gak.
__ADS_1
"Loh kok aku gak tahu mas, mas gak perna cerita kalau mas punya bakat itu" tanya Dea heran karena menyurut Dea Tahir gak perna cerita soal pekerjaannya dulu sebelum menjadi seorang dewan.
"Ya karena kamu tidak perna bertanya sayang makanya mas diam aja, oh ya kalau mas lihat kondisi keluarga kita sudah tidak harmonis lagi sayang mas yakin setelah ibu sadar pasti Lexza akan mengaduh sama ibu dan kita pasti di marahin habis-habisan apalagi ibu tahu kamu belain Dinda dengan Dava dan justru kamu tidak membelah Lexza ibu pasti murka. Pasti kita yang akan di tindas oleh ibu jadi mas gak mau itu terjadi sama kita lagi sayang, mas mau kita lakukan sesuatu".
"Terus maksud mas apa kita keluar begitu dari rumah winata begitu mas"?
"Tidak sayang sementara waktu selagi ibu masih sakit biarkan kita tetap tinggal di rumah dulu, tapi kita harus punya persiapan jika sewaktu-waktu kita di usir dari rumah itu kita sudah punya tempat tinggal sayang. Jadi sekarang ini kesempatan untuk kita mencari tempat tinggal tapi jangan sampai Lexza, Kenedy dan paman Gibran terus bibik Lya tahu nanti menjadi masalah"
"Jadi maksud mas kita cari rumah untuk beli begitu? Mas dari mana uang kita mas, mas tahu sendiri selama ini semua penghasilan dari restoran masuk ke tabungan ibu, aku yang cape kerja tapi justru ibu yang menikmati kadang Dea sangat malas mengurus semua bisnis ini"
Jadi sekarang Tahir dan Dea rencana mau beli rumah baru untuk persediaan jika sewaktu-waktu mereka di usir dari kediaman keluarga Winata mereka sudah memiliki tempat untuk berteduh. Jangan nanti mereka jadi gelandangan diluaran sana, lagia selama ini tanpa pengetahuan Dea sebenarnya Tahir punya gaji besar dan menabung untuk menjaga-jaga jika ada kebutuhsn mendadak.
Makanya Dea binggung mau beli rumah pakek apa sedangkan mereka tidak punya uang gak mungkin beli rumah pake daun.
__ADS_1
"Sayang dengarin mas percayalah mas bisa membelikan rumah untuk kamu mas ini suami kamu jadi kalau mas bilang beli rumah itu artinya mas punya uang yang masih cukup untuk beli satu rumah. Bahkan lebih jika kita beli rumah sederhana dua lantai saja yang penting nyama jika kita tidur, jadi sekarang ssyang mau gak ikut mas untuk cari rumah kebetulan. Ibu belum bisa di jenguk juga nanti kalau ada apa-apa biar Lexsa yang urus semua."
"Dari tadi kamu sibuk urus ini urus itu tapi dia justru sibuk berantem sampai suaminya juga ikut masuk rumah sakit ane juga punya kakak ipar kok gini amat heran deh. Selalu cari perkara saja tidak habis pikir dengan tindakannya tadi