
Aku sudah pasra jika nanti pak Erik jujur sama ibu, ayah mertua dan yang lain saling pandang, karena Gama melihat pak Erik belum menjawab Gama mendekati ibu dan memengang tangan ibu dengan lembut, Gama bisa juga kalau ingin melembutkan dan berikan ketenangan kepada seorang wanita tapi anenya kenapa sampai sekarang dia belum memperkenalkan wanita itu kepada keluarga.
"Bibi, bibi tidak mau bukan kami sedih karena melihat bibi sakit, asal bibi tahu saja saat Gama mendengar bibi masuk rumah sakit hati Gama sangat sedih, anak siapa yang tidak sedih melihat orang tua nya sakit, siapapun bibi pasti merasakan sakit hanya anak durhaka saja yang tidak peduli pada saat orang tua nya sakit. Jadi Gama mohon bibi tenangkan pikiran bibi dan Gama harap apapun penjelasan dari kami bibi siap dengan tenang mendengarnya.
Atau sekarang bibi istirahat saja untuk memulihkan kondisi bibi dulu, nanti kalau kakak Dava atau pak Erik yang tidak menjelaskan kepada bibi, kemana paman pergi sehingga tidak ada disini bersama dengan kita semua Gama siap menjelaskan semua hanya bibi janji bibi kuat dan sabar. Gama tidak mau bibi sakit lagi Gama pengen kita semua sehat dan berkumpul di rumah seperti biasa" ujar Gama.
Bijak juga anak ini, tumben dia bicara seseriuas ini tapi aku bersyukur Gama sudah membuat ibu tenang Gama bicara sambil mengelus pundak ibu dan tangan ibu. Hal itu membuat ibu tersenyum aku bernapas lega melihat senyum ibu.
Semoga dengan adanya Gama bicara begini ibu tenang dan tidak syok saat mendengar ayah sakit.
"Iya nak, bicaralah bibi janji akan tenang asal semuanya baik-baik saja, bibi hanya cemas aja kemana paman kamu sehingga tidak ada disini biasanya paman kamu yang paling kuatir saat bibi sakit" ujar ibu.
"Iya bik, semuanya baik-baik saja jadi bibi istirahat lah biar kondisi bibi makin segar. Nanti kalau sudah bangun baru kita bercerita karena Gama tetap disini malam ini untuk menjaga bibi boleh ya bik. Dam satu lagi bibi tidak perlu mengkuatirkan paman karena paman baik-baik saja" Ujar Gama.
Entah kenapa ibu juga hanya menurut saja ibu justru tidak bertanya lagi dimana ayah, aku tahu ibu sudah merasa kalau ada sesuatu terjadi terhadap ayah. Gama begitu yakin kalau ayah baik-baik saja tapi aku juga berharap begitu semoga ayah cepat sadar.
Setelah ibu istriahat kami semua duduk di dalam ruangan ibu karena ruanga ibu ruang sangat luas kayak kamar tidur, aku harus antar pulang Dinda dulu ke rumah karena Dinda sudah dari tadi pagi disini dan Dinda juga belum lama melahirkan jadi kondisinya juga belum begitu sehat.
__ADS_1
"Gam, kamu pulang atau disini saja? Soalnya kakak mau pulang dulu antar kakak ipar kamu sekalian ganti lagi pakian, soalnya kakak ipar kamu tidak bisa lama-lama disini ayah juga belum sadar jadi kakak pulang dulu sebentar kalau kamu mau pulang biar barenangan saja, ayah juga boleh pulang karena ibu Riska dimana pasti sudah kuatir dengan ayah yang tidak kunjung pulang." Ujarku.
"Ya sudah kakak, kalau begitu Gama ikut pulang aja biar Gama mandi dulu baru ikut kakak balik lagi kesini, biar ada yang temani kakak" ukar Gama.
"Iya nak ayah pulang dulu kalau ada apa-apa kabarin saja, nanti besok saja baru ibu Riska datang kesini soalnya tadi ayah tidak sempat pulang ke rumah, untung Tahir datang tadi makanya Dea pulang hati-hati di jalan ya" ujar ayah.
Akhirnya kami bersiap untuk pulang aku menitipkan ibu kepada suster dan ayah kepada pengawal, nanti aku menyuruh beberapa pengawal yang di rumah datang mengantikan pengawal yang di rumah sakit. Mereka juga manusia butuh istirahat kalau soal makan tadi mereka juga sudah makan malam jadi pulang bisa ganti shif dan mereka istirahat.
"Suster tolong titip nyonya besar ya, jika ada apa-apa tolong hubungi dan nanti kalau nyonya besar bangun bilang aku ada pulang antar nona muda dan langsung balik kesini, suster juga bisa istirahat di sini aja selagi nyonya besar istirahat lebih baik suster juga ikut istirahat"
"Baik Tuan muda." Ujar Suster.
Aku mengantarkan Dinda pulang ke rumah setelah sampai di rumah ternyata sudah setengah sembilan, aku langsung mandi dan bersiap untuk kembali ke rumah sakit ternyata setelah aku dan Gama mau berangkat paman juga ikut, Elsa minta ikut tapi karena sudah malam jadi aku bilang nanti besok saja baru temani Dinda ke rumah sakit.
"Kakak Dava Elsa boleh ikut tidak? Dari tadi pagi Elsa tidak ke rumah sakit jadi biar Elsa ikut sama kakak Dava dan kakak Gama aja" ujar Elsa.
"Nanti besok aja ya dik baru ke rumah sakit ini sudah malam soalnya jadi besok saja lebih baik kamu istirahat saja di rumah nanti besok pergi sama kakak ipar kamu ke rumah sakit." Ujarku.
__ADS_1
Akhirnya kami kembali berangkat ke rumah sakit jam sembilan lewat, aku, Gama dan paman terus beberapa pengawal sepanjang perjalanan ke rumah sakit pikiranku tidak tenang memikirksn kondisi ayah saat ini semoga setelah ayah mendapatkan donor darah lima kantong itu kondisi ayah kembali stabil.
Hampir satu jam akhirnya kami sampai di rumah sakit dan kebetulan saat kami hendak ke ruang IGD kami berpapasan dengan dokter Riski, sehingga aku langsung bertanya kondisi ayah.
"Dokter! Bagaimana dengan kondisi Tuan Adinata , apakah kondisinya sudah stabil atau bagaimana?" tanyaku.
"Alhamdulillah Tuan muda, setelah Tuan Adinata mendapatkan donor darah itu kondisinya kembali stabil kalau di dalam medis Tuan Adinata sudah melewati masa kritisnya, kita tunggu saja kapan Tuan Adinata sadar semoga kondisi Tuan Adinata tidak drop lagi"
" Syukurlah dok aku agak sedikit legah mendengarnya, semoga Tuan Adinata cepat siuman tolong di pantau terus ya dok. oh ya dok boleh kah aku masuk kedalam melihat kondisi Tuan Adinata"? Tanyaku.
"Boleh Tuan muda silahkan, tapi maaf cukup satu orang saja nanti gantian satu-satu masuk kedalam biar tidak mengundang keributan"
Aku gegas masuk kedalam meninggalkan paman dan Gama di luar, aku harus pake baju steril dulu baru masuk namun saat aku melangkah mendekati ranjang ayah aku tidak kuasa menahan air mata ku. Melihat ayah terbaring lemah di atas ranjang di penuhi dengan alat-alat medis di sekujur tubuhnya, rasanya aku pengen berteriak kenapa aku tidak bisa menjaga diriku dan kenapa bukan aku saja yang di posisi ini.
Aku mendekati ranjang ayah dan duduk di sofa di samping ranjangnya aku dengan pelan menyentuh tangannya yang agak sedikit dingin, matanya tetap tertutup dan tidak bergerak sama sekali.
"Ayah, maafin Dava ayah. Ini semua gara-gara Dava yang tidak bisa menjaga diri cepatlah sadar ayah kasian ibu yang saat ini dalam keadaan sakit juga, Dava tahu ayah kenapa ibu sakit karena ibu merasakan apa yang ayah rasakan saat ini. Dava takut ayah..Dava takut saat Dava menceritakan semua kepada ibu justru membuat ibu drop, ayah bukankah ayah sudah bilang kalau kita harus bersatu dan menyingkirkan semua penjahat agar kehidupan kita damai, sekarsng semua penjahat sudah di singkirkan tapi justru ayah sakit.
__ADS_1
Bagun ayah, Dava mohon sadarlah putrymu ayah tidak henti-hentinya dia menangis, apa ayah tidak kasian dengannya baru selesai melahirkan kedua cucu ayah dia mengalami tekanan karena ayah dan ibu harus masuk rumah sakit. Bukankah ayah perna bilang sama Dava dan Gama jika kita jadi seorang pria itu harus kuat dan menjadi sandaran kuat bagi istri dan anak cucu kita, terus mana janji ayah bangunlah ayah kami menunggu."
Sudah panjang lebar aku bicara tapi sama saja tidak ada respon apa pun dari ayah, aku tahu ayah mendengar tapi tidak memberikan respon.