
Ayah bertanya tapi aku hanya jawab kalau aku terharu karena aku berhasil melahirkan kedua anakku dengan selamat, aku tidak ingin menyakiti hati ayah dan ibu Riska aku juga harus jaga perasaan mereka, apalagi semua keluarga besar ada disini. Kalau aku ceritakan apa yang aku rasakan pasti ada hato yang tersakiti jadi lebih baik aku saja yang merasakan jangan orang lain.
"Tidak ayah, Dinda hanya terharu karena Dinda sudah resmi menjadi seorang ibu dan kebahagiaan itu dirasakan oleh kita semua ayah itu yang membuat Dinda terharu. Oh, ya. Ayah Dinda merasa sangat lelah jadi bolehkah Dinda istirahat dulu. Nanti setelah Dinda bangun baru kita lanjut cerita lagi ayah" Ujarku karena selain menghindar banyak pertanyaan, aku memang merasa sangat lelah dan ngantuk mungkin karena baru selesai melahirkan sehingga bawa,annya ngantuk.
"Ya sudah sayang tidurlah biar mas menjangamu karena yang lain sudah tidak sabar untuk menjenguk baby twins, jadi masxakan menjaga mu dan ayah terus yang lain pergi melihat bayi kita sayang, tadi kamu dengarkan sayang mas sholatkan kedua bayir kembar kita, mas sangat bahagia bisa sholatkan bayi kembar kita." ujar mas Dava mereka ingin cepat melihat bayi kembarku walaupun belum berikan nama. Tidak masalah karena nanti baru aku dan mas Dava memberikan nama yang indah kepada bayi twins.
Karena mata ini sudah tidak tahan akhirnya aku istirahat, aku tidur hampir tiga jam saat aku bangun ternyata semua keluarga masih setia menunggu bahkan kata ayah, keluarga di luar kota segerah datang karena ayah dan ibu akan buat acara besar untuk menyambut kelahiran kedua bayi kembarku. Aku terharu karena keluarga besar menyambut kedua bayiku dengan bahagia. Momen seperti inilah yang aku inginkan dari dulu seandainya ibu Anjani ada dengan Lexza mungkin semua lengkap.
Mas Dava yang melihat aku sudah bangun langsung menghampiriku dan memberikan ciuman terbaik untukku.
"Sayang! Kamu sudah bangun makan dulu ya soalnya dari tadi belum ada apa-apa masuk kedalam perutmu sayang, makan sedikit saja tidak masalah atau apa yang ingin sayang makan, biar mas menyuruh asisten Arfan pergi beli." Ujar mas Dava.
"Tidak perlu mas, makanan rumah sakit juga enak kok jadi biar Dinda makan makananan rumah sakit saja, mas tidak perlu pergi beli, lagian bukanlah ada seorang pelayan terbaik disini jadi pasti pelayan menyediakan makanan terbaik untuk ku mas." ujarku.
Tidak lama kemudian seorang pelayan rumah mengantarkan makanan, biasanya di rumah sakit suster yang antar makanan tapi kali ini justru bukam suster melainkan pelayan sendiri yang antar, namanya juga pemilik rumah sakit sultan Adinata jadi pelayan di bawah kerumah sakit untuk masak.
__ADS_1
"Maaf nona muda...sekarang nona muda harus isi perut agar nona muda memiliki kekuatan nona muda juga harus banyak makan kacang agar air susa banyak" ujar pelayan.
Aku tersenyum mendengar perkataan pelayanan, semua orang sangat perhatian terhadapku, aku langsung di bantu oleh mas Dava dan menyandarkan aku disandaran tempat tidur rumah sakit. Aku disuapin oleh mas Dava memang makanan sangat enak walaupun makan bubur tapi pelayan sangat pintar buat bubur kebetulan aku juga sudah lapar.
"Sayang makan yang banyak enak gak buburnya sayang" tanya mas Dava.
"Sangat enak mas buburnya Dinda sangat suka dengan bubur buatan pelayan" ujarku.
Saat aku sedang makan Kakak Dea dan mas Tahir mendekat dengan senyum manis kakak Dea mengelus kepalaku.
"Iya kakak, kakak tenang saja Dinda baik-baik saja kok lagian ada mas Dava dan banyak sekali pengawal disini, jadi tidak ada satu orang jahat pun yang berani masuk kesini kalaupun ada Dinda jamin tidak ada yang lolos dari sini." ujarku.
Perkataanku mengundang tawa semua orang yang ada di ruangan, mereka tertawa renyah termasuk ayah dan ibu aku senang melihat kebahagian mereka terpancar di wajah mereka semua.
Setelah pamitan kakak Dea dan mas Tahir pergi meninggalkan rumah sakit dan tinggallah kami semua, karena ayah dan ibu sudah lama datang jadi aku menyuruh mereka pukang untuk istirahat karena kasian ibu masih kurang sehat jadi ibu juga masih harus rutin minum obat.
__ADS_1
"Ayah, ibu. Pulanglah biar istirahat ibu dan ayah sudah dari tadi disini jadi harus istirahat juga ibu masih butuh banyak istirahat, jangan takut karena disini ada pengawal dan mas Dava siap sedia menjaga aku dan baby twins kalau besok ayah dan ibu mau datang silahkan" pintaku aku kasiam dengan ibu.
"Tidak masalah sayang, kamu tenang saja ibu tidak apa-apa ibu sehat kok, selagi putry dan cucu ibu sehat, ibu selalu menjaga kesehatan ibu" ujar ibu.
Tapi aku memaksa ibu untuk pulang ke rumah untuk istirahat akhirnya ibu juga menurut dan pulang ke rumah, sebenarnya di ruanganku ini ada kamar tidur jadi ibu bisa istirahat disini tapi aku ingin ibu tidak memikirkan aku dab bayi kembarku kasian ibu takutnya kambuh lagi penyakitnya, aku tidak mau orang yang sangat aku sayangi sakit.
Akhirnya ayah dan ibu pulang satu persatu pulang sekarang tinggal aku mas Dava, dari tadi yang tidak hadir hanya Gama karena Gama sangat sibuk perusahaan bermasalah jadi Gama masih mengurus masalah itu tapi kata ayah semua sudah selesai.
Saat aku dan mas Dava lagi asyik berbincang tiba-tiba pintu terbuka nampaklah seorang pria tanpan berdiri didepan pintu dengan senyum manisnya. Melangkah mendekati aku dan mas Dava. Gama langsung memeluk mas Dava dan mengucapkan selamat.
"Selamat ya kakak Dava dan kakak ipar atas kelahiran baby twins maaf Gama bari datang karena tadi ada masalah di kantor, jadi Gama harus selesaikan urusannya barulah kesini, mana ponakan Gama kakak" ujar Gama.
"Tidak masalah Gam...kamu datang saja sudah lebih dari cukup, baby twins lagi di balik tirai itu tadi sebenarnya di ruangan lain bersama baby lainnya tapi ayah meminta baby di pindahkan kesini makanya mereka ada di balik situ. Bagaimana dengan masalah perusahaan sudah kelar belum, kalau kamu butuh bantuan kakak biar kakak bantu kalau belum selesai jangan diam saja." ujar mas Dava.
"Makasih kakak, tapi sudah selesai kok, kalau Gama butuh bantuan pasti Gama kasih tahu kakak Dava." ujar Gama.
__ADS_1