
Ayah dan pak Erik sampai terkejut mendengar kalau Dinda yang sudah membunuh kelima orang itu dan satu jadi tahanan saat ini, karena ayah pikir Dinda hanya perempuan biasa yang harus di lindungi bukan melindungan padahal ayah dan pak Erik tidak tahu kalau Dinda yang sudah menolong kami semua.
"A, apa kamu bilang nak kamu yang sudah membunuh kelima orang itu? kamu membunuh mereka dengan apa bukannya selama ini kamu tidak bisa belah diri apalagi pakek senjata api?" ujar ayah.
Mendengar itu aku langsung membantah perkataan ayah karena memang selama ini Dinda tidak menunjukan kehebatannya di depan kami, hanya saja tadi baru aku juga tahu kehebatan Dinda jadi mungkin ayah belum bisa percaya begitu saja jika hanya omongan saja.
"Ayah apa yang di katakan Dinda benar kalau seandainya tadi tidak ada Dinda mungkin ada korban jiwa entah aku yang jadi korban atau pengawal yang jadi korban, karena baik aku maupun pengawal belum ahli dalam menembak hanya sekedar saja tapi ayah tidak perlu meragukan kehebatan putry ayah ini dia hebat dari segi apapun dari belah diri dan juga penembakan".
"Jadi Dava sudah putuskan untuk ikut diajarkan oleh Dinda ayah jika ayah belum percaya boleh kok ayah ikut bukankah area latihan di belakang paviliun biar ayah bisa menyaksikan sendiri kehebatan seperti apa yang istri Dava miliki. Karena Dava juga awalnya tidak percaya bahkan Dava berpikir untuk mengajari Dinda seni belah diri tahunya dia lebih hebat dari Dava yah."
Aku menjelaskan kepada ayah agar mau ikut nanti ke area pelatihan kalau ibu ikut juga lebih seru biar kami semua belajar.
"Dava saja malu ayah dengan istri Dava sendiri karena seharusnya Dava yang melindunginya bukan istriku yang melindungi aku."
Ayah belum bisa menjawab ayah masih diam dalam hati tapi terlihat jelas di wajahnya ada kekanguman terhadap Dinda.
__ADS_1
"Putryku Hawari kamu tenang disana ya, karena adik kamu Dava sudah mrmiliki seorang istri yang sangat cantik, bahkan memiliki kehebatan yang tidak dapat dimiliki orang yang ada dirumah ini, ayah salut dengan kehebatan adik ipar kamu putryku ayah dan adik-adik kamu akan mencari keadilan untukmu," gumam Tuan Adinata dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah diam buka berarti ayah tidak percaya, tapi ayah kangum dengan kehebatan kamu putry ayah, kamu bisa mengalahkan enam orang itu bukannya hal yang luar biasa seperti yang di katakan suami kamu tadi kalau bukan kamu yang menghabisi mereka mungkin di antara kalian ada yang terluka bahkan bisa jadi ikut kehilangan nyawa."
"Ayah setuju kalau putry ayah yang mengajari Tuan muda Dava dan juga semua pengawal nanti ayah dan ibu jadi penonton saja kalau bisa ayah juga mau ikut latihan, sudah lama juga ayah tidak kontak senjatah dengan musuh. Oh ya ayah lupa nanya sesuatu boleh tahu kamu punya senjatah itu dari mana nak apakah sudah ada ijin"?
"Baiklah ayah terimah kasih banyak karena ayah sudah berkenan mengijinkan Dinda ngajarin yang lain untuk ikut latihan tapi kalau Dinda rasa ayah tidak perlu ikut latihan bahkan kalau Dinda mau seharusnya ayahlah yang mengajari kami, kalau soal senjata itu sudah ada ijin ayah ada surat ijinnya karena itu di berikan oleh ayah jadi Dinda sembunyikan selama ini diluar."
Setelah selesai kami bicarakan semua tentang persiapan besok untuk latihan nanti kami juga rencana langsung turun ke ruang bawah tanah untuk interogasi musuh yang menjadi sandera kami. Sebelum ibu bangun dan menangkap basa kami karena berani sembunyikan ini dari ibu.
"Ayah bagaimana kalau kita langsung saja ke penjara bawah tanah untuk interogasi musu itu karena aku yakin dia tidak akan beritahu tapi kita coba saja dulu siapa tahu karena dia takut terus dia mau bicara." ujarku.
Pak Erik yang sedari tadi hanya diam tanpa mengeluarkan sepata katapun sekarang turut menyuarahkan pendapatnya.
"Benar Tuan apa yang di katakan oleh nona muda jangan sampai nyonya kembali merasa terluka setelah tahu apa yang terjadi, jadi lebih baik memang sekarang saja kita datangi orang tersebut dan interogasi dia kalau hari ini belum berhasil biarkan saja di situ nanti kita cari waktu yang tepat untuk interogasi lagi sampai dia mengakuinya"
__ADS_1
"Baiklah ayah akan mengikuti kalian, yuk kita keruang bawah tanah"
Kami semua bangkit dari duduk kami masing-masing dan gegas keluar dari ruangan ayah, ayah melangkah duluan baru aku dan Dinda dan pak Erik nyusul karena kalau pergi penjara bawah tanah harus keluar dari rumah karena penjara bawah tanah ada di belakang paviliun bersamaan dengan area penembakan kami keluar kayak pencuri harus lihat sana sini takut tiba-tiba ibu muncul habis lah kami.
Namun baru saja kami ingin keluar dari rumah sepupu tak punya ahklak mengangetkan kami pengen aku ketok kepalanya kalau gak kasian sama dia heran dari mana dia muncul.
"Kakak Dava mau kemana sama kakak ipar".tanya Gama.
Ayah menoleh dan menatap Gama, sedangakan Gama justru cengegesan astaga anak ini.
"Gama kalau kamu mau ikut silahkan tapi kamu janji jangan bilang pada siapapun termasuk bibik kamu paham"ujar ayah
"Iy Paman Gama janji tidak akan bilang siapapun" janji Gama.
Kami jalan beriringan keluar dari rumah dan menuju ke paviliun ya elah hanya jalan seratus meter saja capenya itu rasanya sudah jalan berapa kilo.
__ADS_1
Sepanjang jalan menuju kesana Gama hanya diam aku tahu pasti dia bertanya-tanya dalam hati kami mau kemana, karena jujur selama ini dari keluarga besar banyak yang belum tahu tentang penjara bawah tanah yang dibuat oleh ayah di belakang pavilun jadi pasti Gama akan terkejut kalau tahu ternyata disitu ada penjara.
Namun menurutku biarlah dia tahu asal dia tidak membocorkan kepada siapapun, karena ini tempat rahasia jadi tidak banyak orang yang tahu, sebenarnya tadi aku ragu kalau Gama ikut tapi karena ayah sudah menginjinkan jadi tidak apa-apa ayah yang tahu mana yang terbaik. Tidak masalah jika Gama melihat musu yang di kurung di penjara bawah tanah.