Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
71:71


__ADS_3

Sesudah ayah dan ibu masuk kekamar aku mengajak Dinda untuk masuk kekamar juga, Dinda hanya menurut saja, namun masih kelihatan cemberut wajahnya.


Saat kami berdua sampai di kamar aku berusaha membujuk Dinda aku tahu hatinya masih sakit tapi dengan Cara seperti ini biar semua publik tahu seperti apa keburukan keluarga Winata.


Aku mendudukan istriku di pinggir ranjang dan aku juga ikut duduk di sampingnya, aku memeluk Dinda tapi ia masih diam belum buka suarah.


"Mas jelaskan padaku kenapa mas dan ayah ingin aku ke rumah sakit untuk menjenguk perempuan itu, bukankah ayah dan mas tahu kalau keluarga itu sudah tidak menginginkan aku lagi, terus kenapa aku harus datang kesana mas jika aku kesana bersama dengan mas pasti kita dapat hinaan dari mereka lagi"


"Sayang dengarkan mas, ayah dan mas tahu apa yang kamu rasakan tapi bukankah kamu adalah wanita hebat dan kuat seharusnya kamu tunjukan ke mereka jika kamu adalah wanita yang hebat tidak bergantung pada mereka, kamu tahu gak sayang dengan adanya kamu muncul dengan kondisi seperti ini, akan membuat mereka ketakutan karena selama ini pertahanan mereka adalah bu Anjani tapi sekarang orangnya lagi dalam kondisi kritis jadi mereka tidak berani macam-macam. Apalagi kamu datang dengan penampilang yang jauh lebih sempurna dari sebelumnya ini satu tamparan untuk mereka"


Aku berusaha untuk membujuk Dinda dan ayah berusaha membujuk ibu kerena kalau aku berhasil membujuk Dinda tapi kalau ibu tetap tidak setuju parcuma juga karena Dinda sangat nurut dengan ibu.


Ternyata usaha bujukanku tidak sia-sia akhirnya Dinda setujuh juga pergi ke rumah sakit tapi harus bersama denganku, tidak masalah memang aku juga harus ikut untuk andil dalam melindungi istriku.


"Ya sudah mas kalau begitu aku pergi tapi mas juga harus ikut aku gak mau pergi sendiri, melihat wajah mereka saja sudah muak duluan, sebenarnya aku malas mas pergi kesana biarlah kita lihat dari berita aja palingan disana sudah banyak wartawan yang menanti berita terbarunya."


"Iya sayang mas ikut kok tenang saja, dan pastinya rumah sakit sudah dipenuhi dengan wartawan dimana-mana. Tapi untuk apa kita takut sayang, kita datang karena menjenguk bu Anjani bukan untuk membuat kekacauan, kalau mereka mau buat masaalah ya silakan itu artinya mereka yang mau menghancurkan nama baik mereka sendiri"


Setelah aku berhasil membujuk Dinda sekarang hanya menunggu ayah dan ibu saja setelah itu kami akan berangkat ke rumah sakit yang pasti kami tidak sendirian, ada pengawal tapi karena nanti di rumah sakit ada banyak wartawan dan mereka juga tidak tahu siapa aku dan Dinda lebih baik pengawalnya menunggu di kejauhan aja, agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Hmmm ternyata membujuk ibu juga susa ya buktinya ayah belum juga keluar dari kamar aku menunggu hampir satu jam lebih barulah ayah muncul bersama dengan ibu masuk kekamarku.


Walaupun aku anaknya tapi ibu dan ayah tidak sembarang masuk kekamarku kecuwali mereka dapat ijin dariku bukan karena sekarang aku sudah menikah jadi seperti ini tapi memang dari dulu, karena kamar pribadi pasti kita punya privasi yang tidak perlu di ketahui oleh siapapun termasuk orang tua kita.

__ADS_1


Tok tok tok!


"Nak apakah ibu dan ayah boleh masuk"? Tanya ibu meminta ijin untuk masuk.


"Masuk aja bu, yah pintu tidak terkunci" ujar Dinda


Krekkkkkk!


Pintu di dorong dan nampaklah ayah dan ibu berdiri di depan pintu dengan senyum mengembang.


Wah...ayah hebat juga sudah berhasil menjinakan pawang ibu haahh baguslah kalau gak berhasil kesulitan menimpah aku dan ayah.


"Masuk bu, yah" ujarku


Setelah duduk baru ibu mulai bicara, aku jadi was-was semoga ibu tidak salah bicara karena kalau melenceng sedikit saja bisa gawat Dinda akan curiga.


"Nak maaf ya tadi ibu sempat melarang kamu datang ke rumah sakit untuk menjenguk nyonya Anjani. Tapi setelah ibu sampai di kamar ibu berpikir lagi kenapa tidak sekarang aja kamu pergi kesana sekalian menjenguk nya dan pamit pada mereka karena setelah ini kamu tidak ada ikatan dengan mereka lagi, ibu tidak mau mereka menganggu kamu terus menerus. Lagian pas resepsi kalian juga mereka tidak di undang jadi gapapa sekarang ibu mengijinkan kamu pergi kesana." ujar ibu


Baguslah ibu tidak bicara yang lain jadi Dinda tidak merasa curiga, lagian ini memang terakhir kalinya nanti kami membiarkan Dinda datang kesana untuk bertemu dengan mereka, tapi aku yakin kedatangan kami akan membawah kegaduhan untuk mereka.


Apalagi Lexza dan Dea mereka pasti mengalihkan masalah kepada Dinda. Aku sangat tahu sifat kedua manusia itu.


"Iya nak memang tadi itu maksud ayah dan suamimu, kamu kesana saja hanya unjuk muka nanti langsung pulang, kalau kamu mau sekali-sekali mampir ke perusahaan suamimu nak"

__ADS_1


Astaga apa ayah lupa kalau sekarang aku masih bekerja sebagai ob, bukan bos besar di kantor itu bagaimana sih ayah lupa deh. Masa di suruh Dinda datang.


"Loh kok mampir ayah keperusahaan? Memang ayah lupa kalau Dava sekarang masih kerja sebagai ob ayah, kalau nanti Dinda datang bagaimana dong."


"Haahha....maaf, ayah lupa kalau sekarang bos besar masih menjadi ob diperusahaan"


Setelah kami berbincang sebentar kami bersiap untuk berangkat ke rumah sakit ibu dan ayah juga sudah keluar dari kamar.


"Sayang bersiaplah kita ke rumah sakit kamu harus tampil cantik pake semua perhiasan kamu dan apapun yang kamu ingin pake silakan, mas tidak melarangmu."


"Baik mas Dinda bersiap dulu mas juga itu pakian mas sudah Dinda siapkan, mas juga harus tampin bagus dong jangan hanya aku aja"


aku perhatikan Dinda merias wajahnya dengan make up tipis tapi tetap saja cantik, setelah itu dia memilih gaun selutut dan haihils senada juga, aku biarkan saja apa yang menurutnya bagus gapapa yang penting dia puas dan senang.


Setelah aku melihat sudah cukup kami bersiap aku mengajak Dinda untuk turun kebawah, saat kami turun ke bawah ternyata ibu dan ayah masih duduk di ruang tengah bersama dengan paman dan bibik, kalau yang lain ada yang pergi jalan-jalan biasanya kalau mereka juga sibuk kerja tapi karena mereka berlibur kesini jadi hanya di rumah membuat mereka bosan apalagi Gama dan Ririn kedua anak itu cepat bosan dirumah.


"Ayah, ibu kami berangkat dulu" ujar ku dan Dinda.


"Iya hati-hati dijalan ya nak" ujar ayah dan ibu.


"Oh ya, ayah gak kekantor"?


"Ayah pergi dong tapi sebentar lagi tidak ada meeting penting hari ini jadi ayah pergi agak sedikit lambat."

__ADS_1


Aku dan Dinda gegas keluar dari rumah dan hendak ke perkarangan rumah karena pak Erik sudah mengeluarkan mobil dari garasi jadi tidak perlu repot-repot keluarkan.


__ADS_2