Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
310


__ADS_3

Ternyata benar filingku kalau pengawal Budy sudah keluar dari pekerjaan sebagai pengawal, mungkin setelah bu Anjani di usir dari rumah pengawal Budy takut makanya dia langsung kabur, lagian bukan salah pengawal Budy sepenuhnya majikannya aja yang kega***an, setelah ayah mertua berbuncang dengan pengawal kami langsung masuk kedalam rumah karena tidak ada yang menempati jadi masih rapih banget.


Mungkin waktu pihak bank datang bu Anjani tidak sempai ngamuk makanya semua barang masih utuh kalau tidak rumah ini sudah seperti kapal pecah. Aduh aku baru ingat Maya kemana Maya pergi ya nanti aku suruh pak Erik bawah kerumah untuk menjadi pengawal Dinda aja.


"Kakak Dea, Maya kemana ya? Dava pengen dia kerja di rumah sebagai asisten Dinda aja" tanya ku pada kakak Dea.


"Nah itu dia Dav, kakak juga tidak tahu dimana Maya berada, tapi nanti kita tanya saja sama pak Erik pasti pak Erik tahu" ujar kakak Dea.


"Iya kk nanti Dava tanya sama pak Erik"


Kata ayah mertua, nanti ayah mertua kembali ke rumah ini lagi untuk tinggal, karena ayah mertua tidak mau rumah ini di biarkan kosong lama-lama takutnya ada makluk halus yang menunggu di rumah ini.


"Untung masih rapi banget, ayah rencana akan kembali tinggal disini karena ayah tidak mau nanti kalau lama-lama di tinggal kosong yang ada di tinggal sama yang lain, bagaimana Dea kamu dan Tahir kembali tinggal disini atau tinggal dimana kalian"? Tanya ayah mertua

__ADS_1


"Maaf ayah, kalau Dea dan mas Tahir tidak cerita ke ayah, sebenarnya setelah ayah tiada dan ibu masuk rumah sakit, Dea dan mas Tahir sudah beli rumah seharga lima belas miliyar ayah jadi sekarang Dea dan mas Tahir tinggal disana karena waktu Dinda dan Dava keluar dari sini bahkan kami mendapatkan kabar tentang ayah disitu rumah ini menjadi kacau, hancur di kuasai oleh ibu jadi Dea kayak tidak di anggap dirumah ini, Dea merasa kalau yang tinggal dirumah ini bukan anak dengan ibu tapi orang asing, sangking Dea menahan tekanan dari ibu Dea merasa tidak sanggup.


Tapi sekarang Dea bersyukur karena ayah masih hidup dan sekarang kita berkumpul kembali, tapi soal tinggal disini sepertinya tidak ayah, Dea sudah menikah dan Dea harus belajar mandiri jangan apa-apa selalu dibawah orang tua."


"Ya sudah nak, ayah mengerti kok tidak masalah kalau kalian tinggal di rumah baru kalian tapi jangan lupakan sama ayah, sekali-sekali nginap disini agar kamar tidur kalian tidak kosong terus begitu juga nak Dava dan Dinda, terus Gibran dan Lya aku tidak minta banyak hanya nginap saja sekali-sekali sudah cukup, sekarang ayah sudah berumur nanti kalau sudah ada ibu kalian beruntung ayah sudah punya teman tapi ayah juga ingin anak-anak ayah dan adik mas satu-satunya selalu punya waktu untuk bersama.


Kalau dengar perkataan ayah mertua aku jadi ikut terharu, ternyata seperti ini juga dirasakan oleh kedua orang tua ku waktu itu, ayah dan ibu saat aku pergi dari rumah karena keegoisan aku sendiri, padahal mbak Hawari sudah tiada seharusnya aku menjadi kebanggaan bagi ayah dan ibu bukannya justru membuat mereka sedih dan kesepian karena atas kepergianku. Pantas aja waktu itu ibu sampai sakit parah. Aku janji aku akan menjaga mereka dan merawat mereka sampai hari tua nanti.


"Iya ayah, Dava akan bersama Dinda sebulan sekali nginap disini kalau tidak dua minggu sekali, ayah juga tahu kondisi Dinda saat ini ayah kalau Dinda masih belum hamil tidak masalah, tapi sekarang Dinda berbadan dua ayah jadi harus di jaga ekstra, kalau terjadi apa-apa dengan Dinda bisa-bisa ayah dan ibu menalan Dava hidup-hidup. Kadang Dava berpikir sebenarnya dirumah keluarga Adinata siapa yang mantu, Dava atau Dinda, Dava merasa jadi anak tiri di rumah itu heheheh"


Ayah memelukku dengan erat membuat aku sedih, memang sih apa yang ayah bicarakan benar tapi aku benar-benar mencintai Dinda dan aku berusaha memperjuangkannya.


Ayah mertua menepuk-nepuk pundakku, dan tersenyum, aku tahu maksud dari senyum ayah mertua.

__ADS_1


"Mas, kembalilah kesini agar rumah kembali terawat , karena kalau mas tidak kembali takutnya rumah dihuni oleh yang lain, lagian semua masalah sudah selesai mas tinggal proses persidangan, sayang kalau rumah sebagus tidak terhuni nanti Gibran dengan Lya kesini untuk nginap nanti." paman Gibran membujuk ayah mertua, padahal dari awal bukannya ayah mertua tidak mau kembali tinggal disini tapi karena ayah mertua masih sendiri.


Ayah mertua butuh anak-anaknya untuk bisa menemaninya.


Setelah ayah mertua membuka semua pintu, ayah mertua periksa mobil bu Anjani dan Lexza bahkan mobil Kenedy, karena mobil itu di belikan oleh ayah mertua, sebenarnya Kenedy punya mobil dan rumah tapi yang aku dengar dari cerita Dinda kalau setelah Kenedy menikah dengan Lexza rumahnya di jual atas permintaan bu Anjani, bodohnya Kenedy hanya ikut saja sekarang hidupnya jadi gembel karena ikuti kebodohannya.


Setelah selesai semua kami pamit pulang aku dan Dinda pamit pulang karena Dinda harus istirahat, lagian kami juga sudah lama disini ayah mertua juga antar pulang tante Riska begitu juga kakak Dea dan mas Tahir pulang ke rumah baru mereka, sedangkan paman Gibran dan bibi Lya mungkin ada keperluan. Aku dan Dinda pamit sama ayah mertua dan yang lain.


"Maaf ayah, kalau begitu Dava harus pulang dengan Dinda karena Dinda tidak bisa cape ayah, tidak masalah ya ayah, kakak Dea , paman, bibi Lya danmas Tahir kami pulang duluan ya."


"Baiklah nak pulang lah Dinda harus banyak istirahat, jangan sampai kecapean ayah tidak mau nanti terjadi apa-apa lagi dengan kandungan kamu nak, pulanglah kalian." ujar ayah mertua.


"Kakak Dea, mas Tahir, bibi dan paman kami pamit duluan ya soalnya Dinda tidak boleh kecapean, biar nanti Dinda istirahat dulu"

__ADS_1


"Ya sudah Dav kalau begitu pulanglah kalian hati-hati Di jalan ya soalnya kami juga sebentar lagi pulang" ujar paman Gibran di sambut anggukan oleh yang lain.


Akhirnya aku dan Dinda pergi meninggalkan kediaman keluarga Winata.


__ADS_2