
Wah....kata-kata ayah ngena di hati walaupun ayah tidak melakukan kekerasan seperti memukul menendang tapi ayah melakukan dengan menyerang mental pria itu dengan kata-kata, tapi memang benar yang di katakan oleh ayah, kalau memang dia benaran menyayangi keluarga terutama istri dan anaknya tidak mungkin dong dia melakukan hal jahat itu.
Apalagi sebelum dia masuk kesitu pasti ada perjanjian yang tidak bisa di langar kalau dia berani melangar perjanjian itu nyawa keluarganya juga tetap dalam bahaya, karena itu aku jadi berpikir apa yang ada didalam pikiran orang ini sampai dia rela kehilangan nyawa demi membelah orang jahat yang jelas-jelas sewaktu-waktu akan kembali menyerangnya.
Tapi mungkin ada alasan tertentu bagi orang ini untuk melakukan hal itu bisa jadi karena tuntutan ekonomi dia bisa masuk kesana dengan pembayaran yang mahal, nyawan terancam tapalah asal keluarga bisa makan pikirnya, tapi tidak tahu juga kenapa dia bisa masuk.
Setelah ayah bicara begitu dia justru tidak menanggapi dia hanya diam awalnya dia menatap ayah dengan tatapan sinis sekarang gak lagi justru ia hanya menunduk kepala mungkin dia lagi berpikir.
Karena tidak ada jawaban apapun darinya akhirnya ayah memutuskan untuk masukan kembali kedalam ruangan.
"Pengawal masukan kembali kedalam jika nanti dia tidak berikan jawaban habisi dia dan cari semua keluarganya untuk habisi mereka jangan sisahkan satupun juga," ujar ayah membuat orang itu mendongakkan kepalanya menatap kami satu persatu. Tapi kami sudah tidak peduli dan berlalu pergi kalau tahanan yang satu lagi sudah mengakui jika yang menyuruhnya adalah bu Anjani jadi biarkan saja dia terkurung disitu.
Ayah mengajak kami masuk melalui satu lorang dan masuk kedalam ruangan yang dimana banyak senjata api yang sudah berjejer disana, yang jelas sudah mengantongi ijin ayah tidak perna main curang selama ini, yang aku tahu apapun yang ayah lakukan itu semua harus ada ijin kalau tidak ayah tidak akan mau.
"Wah....ayah....ini surganya aku ayah kenapa ayah gak perna bilang kalau disini banyak sekali senjata ayah" teriak Dinda terkejut di tambah lagi kangum dengan apa yang di lihatnya.
Saat kami masuk mata Dinda berbinar melihat banyak macam senjatah, memang istriku kadang ngeselin juga tanpa ijin ia langsung mengulurkan tangannya dan mengambil sebuah senjatah yang pengedap suara itu senjata paling bagus. Dengan senyum bahagia Dinda mulai manja dengan ayah agar ayah mau memberikan senjata itu untuknya.
"Ayah boleh gak ini untuk Dinda inikan agak kecil jadi bisa di dalam tas bisa di pinggang dan bisa dimana kita suka menyimpannya, boleh ya ayah...yah boleh ya...Dinda janji ayah Dinda akan menjaganya dengan baik" ujarnya penuh senyum.
"Kamu ini ya sikap kamu dengan sikap mbak kamu Hawari tidak bedah jauh jika ada yang dia inginkan dia memasang wajah paling imutnya agar ayah kasihaninya" ujar ayah membuat hatiku berdesir setiap kali mengingat mbak Hawira.
__ADS_1
Tapi memang benar apa yang di katakan ayah Dinda dan mbak Hawari hampir sama sifat mereka mungkin karena ini juga Tuhan mempertemukan aku dengannya dan dengan kehadirannya didalam keluarga kami bisa melupakan kesedihan terhadap mbak Hawari.
Ayah mengelus kepala Dinda sambil tersenyum aku tahu arti dari senyum ayah, ayah juga sama sepertiku mengingat mbak Hawari.
"Iya boleh kamu ambil apa yang tidak bisa ayah dan suamumu berikan untuk mu nak semua disini boleh kamu ambil apapun yang kamu mau, tapi ada syaratnya" ujar Ayah membuat Dinda tersenyum tapi setelah ayah bilang syarat Dinda langsung cemberut..
"Astaga kakak Dava cobak lihat kakak ipar kalau dia manja sama paman terus cemberut begitu imut kali" ujar Gama.
"Husss cari istri sana biar jangan lihat istriku"
"Hahaha cieehhh kakak Dava cemburu." ujar Gama justru Jailin aku akan ini memang keterlaluan
"Syaratnya besok nanti kita sampai di lapagan latihan baru ayah kasih syarat dan besok Gama juga harus ikut, kamu harus ikut latihan Gama agar bisa jaga diri"
Astaga ayah menyuruh Gama latihan lagi, tapi gapapa juga sih karena Gama kan sama kayak aku juga orang tua pembisnis perusahaan Gama juga gak kalah besar tapi heran aja kenpa paman terlalu santai tidak membekali Gama dengan ilmu belah diri atau latihan penembak.
Atau jangan-jangan aku yang tidak tahu padahal Gama sudah belajar.
"Ok baiklah ayah tapi nanti setelah selesai syarat itu Dinda bisa ambilkan ayah" ujar Dinda dan langsung dibalas oleh ayah" bisa dong nak nanti ayah kasih tahu kode pintu ini" ujar ayah sambil menatap Gama sambil meminta kepastia Gama siap gak ikut latihan.
"Bagaimana Gama siap gak besok latihan," tanya ayah.
__ADS_1
"Hahaha siap dong paman siapa takut kita lihat saja besok nanti Gama saingan dengan kakak Dava setelah itu baru dengan kakak ipar." ujar Gama mengundang tawa.
"Baiklah kalau begitu kita keluar karena kita sudah lama disini jadi pasti ibu dan yang lain sudah mencari kita" ujar ayah.
Benar juga ibu pasti sudah mencari kami apalagi semua mobil sudah pada masuk garasi kalau ibu lihat pasti ibu tahu kalau kami semua sudah pulang dan pasti banyak pertanyaan yang nanti akan di lontarkan oleh ibu.
Kami keluar melalui lorong dan ayah mengunci kembali pintu, karena itu pintu rahasia.
Kami kembali Naik tangga dan keluar dari ruang bawah tanah dan setelah kami sampai di luar pengawal kembali menutup pintu.
Ayah mengajak kami untuk mengecek lapangan latihan memang sih luas banget bebas kita kalau mau latihan membuat Dinda kagum dengan tempat latihan penembakan itu.
"Wah...luas baget areanya kayak lapangan basket... sangat seru nih karena tempatnya luas dan nyaman banget mas aku sangat menyukainya ternyata disini lengkap ya alat vitnes juga disini kenapa gak di rumah saja mas alat vitnesnya kalau kesinikan agak jauh"
"Hahaha kamu lucu banget deh sayang. Inilah karena efeknya kamu belum keliling rumah sayang makanya kamu tidak tahu apa-apa saja fasilitas di rumah itu nanti mas akan menunjukan semua sama kamu."
"Alat Vitnes ini khusus untuk pengawal dan juga jika ada tamu yang nginap disini mereka akan pakek ini kalau yang dirumah itu khusus untuk kita sayang, bukan dalam arti tidak ada ruangan vitnes di rumah kita"
Astaga Dinda pikir gak ada alat vitnes di rumah padahal tempatnya tidak jauh juga dari kamar yang kami berdua tempati, tapi karena selama Dinda tinggal dirumah aku tidak perna vitnes jadi dia tidak tahu kalau ternyata didalam rumah ada alat vitnes.
Nanti aku akan membawahnya keliling rumah karena banyak ruangan di rumah itu belum di ketahui oleh Dinda, maklumlah Dinda baru datang soalnya
__ADS_1