Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
69:69


__ADS_3

Kenedy dan Lexza berikan kesaksian kepada wartawan dan polisi soal motif penembak terjadi pada sang ibu, belum jelas motif penembakan ini jadi tunggu saja dari pihak kepolisian masih mendalaminya, dan keluarga Winata juga masih menunggu penyelidikan dari kepolisian.


"Sekarang kami serahkan semua penyelidikan kepada pihak kepolisian, jadi nanti kita sama-sama menunggu kabar selanjutnya" ujar Kenedy


Setelah selesai memberikan kesaksian kepada wartawan akhirnya semua orang bubar, hanya tinggal beberapa wartawan yang masih menunggu untuk mendapatkan berita selanjutnya tentang kondisi bu Anjani.


Sedangkan Dea dan Tahir lagi bersiap untuk kembali ke rumah sakit mengecek kondisi sang ibu. Dan mereka juga mau minta solusi dari Kenedy dan Lexza karena berita yang mengemparkan semua orang membuat keluarga Winata pusing.


Dan binggung apa yang harus mereka lakukan, sedangkan di suatu tempat yaitu sebuah gedung yang tinggi seorang pria sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menonton tv ia tersenyum lebar saat melihat siaran tv dimana-mana memberitakan tentang kasus yang yang menimpah bu Anjani.


"Makanya Anjani jangan main-main dengan saya itu belum seberapa pikir-pikir itu pemanasan untuk wanita jahat seperti kamu. Kama tunggu saja kado selanjutnya, saya tunggu kamu keluar dulu dari rumah sakit.


Tidak seruh kalau kamu cepat mati. Apa yang sudah kamu rencanakan terhadap saya dan juga apa yang sudah kamu lakukan terhadap Dinda setelah kamu tahu saya tidak ada, kamu sebagai ibu yang tidak punya hati nurani, akan saya pastikan kamu membayar semuannya dengan harga yang mahal."


Pria itu terus menonton siaran ternyata kesaksian yang di lakukan Kenedy dan Lexza juga langsung tersebar.


"Kamu dengan ibu kamu sama-sama wanita jahat, kamu juga akan kena karma nanti tunggu saja bagianmu, selama ini saya menyayangimu walaupun saya tahu kamu itu bukan anakku tapi saya tidak pernah membedahkan kamu dengan Dinda maupun Dea tapi sekarang kamu sudah kelewatan batas saya pastikan suami kamu tidak akan lolos nanti."


Ya bagi siapa saja pasti murka jika mengetahui istri dan anak tirinya itu menyiksa anak kandungnya sendiri sampai keguguran.


"Reno" panggil pria itu.


"Iya Tuan ada yang bisa saya bantu" tanya Reno orang kepercayaannya.

__ADS_1


"Tolong kamu hubungi orang itu, pake hp saya saja, tolong ambilkan di kamar


Reno gegas ke kamar dan saat ia keluar membawah hp di tanggannya, Reno langsung menelpon orang yang dimaksud oleh Tuannya.


Apa lagi ya kira-kira pria bertopeng ini lakukan, padahal masalah bu Anjani saja belum selesai sekarang ia sudah merencanakan sesuatu.


Setelah selesai Reno telpon pria itu menyuruh Reno untuk mengirim video ke sebuah gmail.


Reno sengera mengirim video itu ke gmail yang di maksud pria bertopeng itu.


Kita kembali lagi ke rumah sakit saat ini rumah sakit semakin rame karena banyak wartawan juga dan ada beberapa polisi yang menjaga bederta denga pengawal.


Karena mereka takut jika musu yang ingin mencelakai bu Anjani tiba-tiba menyusup masuk kedalam rumah sakit, operasi saja belum selesai mana mungkin ada orang yang ingin mencelakainya.


Lagian kalau seadainya musuh ingin kematian bu Anjani satu kali peluru menembus dadanya saja sudah langsung merengang nyawa, hanya saja musunya belum ingin korbannya meninggal begitu saja, sehingga ia menargetkan lengannya.


Karena sesuai dengan janji Tuannya, pas pria itu sampai di rumahnya karena misinya sudah selesai, ternyata uang satu amplop coklat penuh sudah simpan rapi di rumahnya. Membuat pria itu sangat bahagia, walaupun dapat uang itu dengan cara yang salah namun memang sudah jalannya jadi mau bagaimana lagi.


Hapir dua jam dokter melakukan operasi pengeluaran peluru dari lengan bu Anjani, akhirnya berhasil keluar hanya saja darah terus mengalir dari tempat peluruh itu. Dan bu Anjani juga kritis.


Para dokter bisa bernafas lega karena operasi bisa berjalan dengan baik. Walaupun mereka sampai berkeringat dingin mengeluarkan peluru itu.


Sekarang semua keluarga sudah pada ngumpul di rumah sakit Dea dan Tahir juga sudah sampai, mereka masih menunggu kabar baik dari dokter karena sampai sekarang dokter belum juga keluar dari ruang operasi membuat Lexza dan Dea sangat kuwatir.

__ADS_1


"Ya Tuhan ayah baru saja meninggal, Dinda pergi dari rumah dan sekarang ibu terbaring lemas didalam ruang operasi, semoga operasinya berjalan dengan baik, sebenarnya apa yang sudah ibu lakukan sehingga musunya bisa mengincar nyawahnya masih beruntung kena lengannya kalau tadi peluruh kena dadanya menembus jantung bagaimana"


"Selamatakan ibu ya Tuhan semoga ibu bisa melewati masa kritisnya biarpun kadang ibu jahat tapi mau bagaimanapun dia tetap ibu ku jangan ambil nyawanya ya Tuhan aku mohon, sejahat apapun dia ayah sudah gak ada jadi biarkan dia hidup untuk kami anak-anaknya, apakah ini karma buat ibu karena sudah berenai menjahati Dinda sehingga ini bisa terjadi karena doa Dinda "


Dea berangapan kalau semua yang terjadi atas doa dan sumpah dari Dinda saat dia di siksa dan dihina.


Tapi memang benar adanya ini semua karma untuk bu Anjani yang sudah berlaku buruk terhadap orang apalagi anak dan suaminya sendiri.


Semoga bu Anjani selamat dari penembak itu tapi sautu saat bu Anjani akan mendapatkan lebih dari pada sekarang yang dia dapatkan, karena pembalasan semakin berjalan apalagi ini semua terjadi atas pembalasan dari suaminya sendiri.


Semua orang menanti kabar dari dokter, keluarga besar sudah menunggu, tak lama kemudian pintu ruang operasi terbukan muncul dokter dari dalam ruang operasi, melihat dokter keluar dari dalam Dea dan Lexza langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter.


"Dok bagaimana dengan kondisi ibu saya dok, operasinya berjalan dengan baik kan, tidak terjadi sesuatukan dok dengan ibu saya"


"Maaf nonaboleh ikut saya ke ruangan nanti saya jelaskan disana"


Lexza dan Dea ikut dokter kedalam ruangannya setelah di persilahkan duduk oleh dokter, barulah dokter jelaskan kondisi bu Anjani saat ini.


"Jadi begini nona. Saat ini kondisi nyonya Anjani belum sadarkan diri dan kritis dikarenakan kelamaan di bawah keseni jadi banyak darah yang keluar, sekarang kami berhasil mengeluarkan peluru dari dalam lengan tapi kita butuh beberapa kantong darah" ujar dokter.


"Memangnya golongan darah apa dok yang dibutuhkan Dan butuh berapa kantung darah dok."


"Golongan darah A dan sentara waktu butuh tiga kantong tidak tahu nanti kedepannya kita harus lihat dari perkembangan pada pasien, dan saya minta secepatnya untuk mendonorkan darah karena disini stok darah A kosong."

__ADS_1


"Saya dok, ambil saja darah saya" ujar Dea.


Sedangkan Lexza tidak bicara apa-apa karena golongan darahnya O jadi tidak sama dengan sang ibu, parcuma juga kalau dia nodor tapi bukan untuk sang ibu pikirnya.


__ADS_2