Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda

Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Seorang Tuan Muda
60:60


__ADS_3

Malam harinya semua keluarga Winata kembali berkumpul di rumah karena Kenedy dan Lexza sudah pulang kampanye, dengan hati yang gembira karena banyak pendukungnya yang datang hari ini. Walaupun ada beberapa insiden yang terjadi tapi itu hal biasa.


Setelah mereka semua selesai makan, mereka hanya berbincang sebentar saja karena semua sudah cape, bukan capek fisik namun cape pikiran juga. Bu Anjani masih bertanya tentang perjalanan kampanye hari ini.


"Ken..bagaimana dengan kampanye hari ini, menurut prediksi kalian ada peluang besar gak untuk kamu menang, berapa banyak pendukung yang hadir hari ini."


"Syukur bu kampanye hari ini sangat lancar, karena tanpa kami dunga banyak sekali pendukung yang datang sampai ribuan orang, membuat Ken senang bu ini suatu hal positif yang di tujukan oleh masyarakat kalau memang Ken yang pantas menjadi pemimpin yang baik dan bisa mengayomi rakya bu."


"Baguslah kalau begitu, mungkin juga karena yang mendukung kamu itu adalah Tuan Adinata sehinga masyarakat percaya kalau kamu yang terbaik, Tuan Adinata saja sudah mendukung dan mengeluarkan uang begitu banyak apa lagi rakyat miskin yang tidak tahu apa-apa"


"Iya itu juga bu salah satunya, semoga kampanye selanjutnya lebih banyak lagi pendukungnya bu karena tinggal dua minggu lagi waktu kampanye, setelah itu tidak ada lagi"


"Makanya kalian harus minta tolong lagi ke Tuan Adinata agar menambah uangnya, kalau tidak habiskan bisa di bagi- bagi."


"Iya memang Ken dengan Lexza rencana begitu juga bu hanya saja kami takut tidak di setujui lagi, karena pertama saja sudah tiga miliyar masa minta tambah lagi" ujar Kenedy.


"Coba saja dulu, siapa tahu saja Tuan Adinata setuju, jangan menyerah kalau belum mencobanya." ujar bu Anjani


"Iya bu nanti Lexza aja yang coba datang kesana, lagian nih, seharusnya ibu juga bantu dong keluarkan uang satu miliyar begitu ke untuk mendukung mantu masa minta dukungan dari orang lain tapi mertua sendiri tidak bisa bantu" ujar Lexza.


Perkataan Lexza berhasil memancing emosi bu Anjani. Sehingga bu Anjani membentak Lexza.


"Lexza kamu memang tidak punya hati dan perasaan ya, kamu tahu sendiri kita baru kehilangan uang sebesar lima ratus miliyar, dari mana uangnya aku ambil untuk kasih ke kalian, memang kamu anak tidak tahur diri" makin bu Anjani.

__ADS_1


"Ya jelas hilanglah bu kita hanya minta dua miliyar aja ibu tidak kasih justru ibu marah makanya uang hilang, ibu sih pelit banget sama keluarga, sekarang lihat hangus semua uang itu baguslah, lagian sebelum uang itu hilang bukankah Lexza sudah pernah minta sama ibu, tapi ibu sama sekali tidak membantu"


Brak.....bu Anjani mendobrak meja dan menghasilkan bunyi yang kuat untung saja kaca mejanya tidak pecah karena tebal kalau gak sudah berhambur kemana-mana"


"Dasar kamu anak tidak tahu di untung, kamu sama sekali tidak ada simpati dengan ibu, kamu tahu ibu lagi pusing jangan menambah beban ibu Lexza. Jika kamu anak yang baik seharusnya kamu mengerti dan paham dengan kondisi ibu bukan mala nambah beban.


"Sudah bu...sudah kak Lexza, aku heran sama ibu dan kak Lexza kenapa akhir-akhir ini ibu dan kak Lexza selalu berdebat semenjak. Kepergian ayah dan Dinda dari rumah ini kalian berdebat terus, kenapa sih bu, kak Lexza? Apa yang membuat kalian tidak akur sekarang" tanya Dea


Memang Dea heran dengan kaknya Lexza yang akhir-akhir ini dia selalu melawan sang ibu.


Tepat setengah delapan bu Anjani masuk kedalam kamarnya, tapi memang sudah kebiasaan bu Anjani tidak menutup gordennya karena ia berpikir masih jam segitu jadi tidak masalah. Lagian waktu masih ada Tuan Evan gordennya tidak perna di tutup. Bukan hanya gorden yang tidak di tutup tapi bu Anjani juga sengaja membuka jendelanya dan membiarkan angin malam masuk kedalam kamar padahal ada Ac juga


Bu Anjani mengambil sebuah buku dan membaca sambil menghap keluar jendela karena kalau malam pemandangannya sangat indah.


Sedangkan ada seseorang yang memakai topi dan masker sudah ada di atas gedung tua yang sudah lama tidak ada penghuninya, dengan mental yang kuat pria itu sudah mengarahkan senjata apinya ke arah bu Anjani tapi sayangnya bu Anjani tidak ada firasat apapun jadi dia tetap santai.


Dorrrrrrrr!


"Argh......." setelah bunyi tembakan teriakan mengemah di ruangan bu Anjani.


Bu Anjani langsung jatuh terkapar ke lantai dengan bersimbah darah. Sedangkan hpnya juga ikut terjatu dan tergeletak di lantai.


Kebetulan Lexza dan suaminya, Dea dan suaminya Serta paman Gibran dan istrinya masih duduk- duduk santai di ruang tengah, memang mereka tidak mendengar bunyi tembakan tetapi mereka mendengar teriakan bu Anjani dan langsung hilang seketika.

__ADS_1


"Eh....kalian dengar tidak teriakan ibu diatas sepertinya terjadi sesuatu terhadap ibu" ujar Dea.


Karena Lexza yang masih kesal dengan bu Anjani engan untuk pergi ke kamar sang ibu karena Lexza yang ibunya hanya cari akal-akalnya saja.


"Ah bodoh amat palingan itu hanya akal-akalan ibu saja, lagian untuk apalagi kita harus peduli pada ibu sedangkan ibu saja tidak peduli sama kita" ujar Lexza.


"Sayang kamu tidak boleh bicara begitu mau bagaimanapun ibu tetap ibu kamu jangan egois kamu, tadi mas juga mendengar teriakan ibu yang begitu kencang tapi sekarang sudah tidak terdengar ayuk kita harus periksa takut terjadi apa-apa sama ibu" ujar Kenedy ia tidak setuju dengan pendapat istrinya. Mau bagaimana pun bu Anjani ibu mertuannya."


"Tahu nih kak Lexza, kayak dendam pribadi aja dengan ibu" ujar Dea kesal.


"Benar sih kalau menurut aku, untuk apa peduli dengan orang seperti ibu kamu, sedangkan dia aja tidak memikirkan kalian, palingan dia hanya mau cari sensasi aja" ujar paman Gibran.


"Stop....paman, kak Lexza kalau kalian tidak mau juga tidak apa-apa kalian tunggu aja disini dan biar aku naik ke atas." bentak Dea tidak suka sang ibu di gituin oleh kak dan pamannya.


Sedangkan di gedung tua itu setelah penembak jitu itu tahu kalau targetnya sudah terkapar di lantai, ia bergegas menyimpan kembali senjatanya kedalam sarungnya dan gegas turun dari gedung dan masuk kedalam mobil yang di parkir agak jauh dari lokasih dan langsung pergi.


Sedangkan Dea gegas naik ke lantai atas ia menuju ke kamar ibu Anjani. Setelah sampai di depan pintu Dea mengetuk pintunya.


Tok tok tok!


Sudah tiga kali Dea mengetuk pintu tapi sayangnya tidak ada sahutan dari dalam, Dea sengaja memutar gagang pintunya dan ternyata tidak terkunci, Dea mendorong dengan perlahan sambil memanggil nama ibunya tapi sayang tetap tidak ada jawaban.


"Ibu...ibu.."

__ADS_1


Dea masuk kedalam tapi tidak melihat ibunya.


Kira-kira bu Anjani kemana ya?


__ADS_2