
Perkataan Dinda seperti sebuah tamparan keras untuk bu Anjani, sehingga berhasil membuat bu Anjani emosi dan ia ingin melayangkan tamparan keras ke pipi Dinda. Namun Dinda dengan cepat menangkap tangan bu Anjani dan langsung menghempaskannya dengan kasar, membuat bu Anjani hampir sedikit tersungkur ke lantai untung bu Anjani masih bisa menjaga keseimbangannya sehingga tidak terjatuh.
"Jaga tangan kotor anda ya nyonya Winata! Jangan sampai saya tidak sengan untuk mematahkan tangan tua anda. Dan ingat saya bukan siapa-siapanya anda jadi tolong jangan sampai saya membuat anda menyesal seumur hidup anda. Jangan ikut campur urusan saya."
"Oh...semenjak pergi dari rumah dan hidup dengan laki-laki miskin itu kamu mulai kurang ajar ya sama orang tua, apa seperti ini didikan suami kamu yang tidak punya attitude, kamu tahu tidak tadi saya ketemu dengan suami kamu yang miskin itu di perusahaan Adinata grup, dia melarat disana."
"Hahaha....anda yakin suami saya laki-laki yang melarat, kalau benar suami saya melarat tidak mungkin dong setelah saya keluar dari keluarga Winata hidup saya sebahagia ini. Dan penuh kelimpahan dan kemewahan bukankah anda sendiri yang melihat seperti apa kehidupan saya saat ini nyonya"
" Betapa bahagiannya hidup saya tanpa ada tekanan dan hidup seperti di neraka, bukanka anda orang kaya jadi yang jelas dong anda tahu perhiasan yang saya pakai ini berapa harganya, dari mobil dan barang-barang yang saya pake anda masih yakin suami saya miskin. Yups saya lupa jika dulu hidup anda juga melarat untuk di punggut oleh ayah."
"Dasar anak kurang ajar siapa yang mengajarkan kamu bersikap seperti ini, saya tidak perna mengajarkan kamu" ujar bu Anjani
"Ya jelas anda tidak mengajarkan kepada saya, karena memang dari dulu bukankah anda sudah membuang saya bahkan asi dari seorang ibupun saya tidak pernah merasakannya, jadi apa yang anda katakan benar adanya tapi asal anda tahu saya bersyikur tidak bisa mendapatkan kasih itu, jadi pada saat saya pergi tidak perlu berbalaa budi."
"Deg......"perkatasn Dinda berhasil menusuk jantung bu Anjani.
"Benar juga yang di bilang anak ini barang-barang yang ia pake semua barang brand, apalagi berlian yang ia pake harga kisaran miliyaran, kalau bukan dapat uanh dari suaminya yang miskin itu terus dari siapa. Dan satu lagi kenapa juga Dinda tiba-tiba masuk ke grup arisan saya. Padahal grup arisan itu bukan sembarangan orang masuk kesitu. ." gumam bu Anjani dalam hati.
Karena Dinda melihat bu Anjani diam saja sehingga Dinda melanjutkan perkataannya.
"Ingat ya nyonya, masalah kita belum selesai, saya akan membuat perhitungan kepada kalian semua karena sudah berani menyiksa saya dan menghina suami saya."
__ADS_1
Setelah selesai bicara demikian, Dinda langsung masuk kedalam mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan bu Anjani masih syok di tempat. Ia benar-benar terkejut dengan keberanian Dinda sekarang Dinda beruba 180 derajat. Itu yang membuat bu Anjani syok bagaimana lagi kalau nanti bu Anjani sampai di rumah dan mendengar Cerita dari Dea.
Bu Anjani yang melihat Dinda sudah pergi ia hendak berteriak memaki Dinda. Tapi dengan secepatnya ia sadar jika saat ini ia berada di depan restoran, kalau ia berteriak dan memaki pasti perhatian semua orang tertuju kepadanya sehingga. Dengan emosi mengebu-gebu.
Bu Anjani langsung masuk kedalam mobilnya dan berlalu pergi ia berencana kembali ke kantor. Karena ada yang harus ia selesaikan, sedangkan sih Dea setelah ia keluar dari mall langsung kembali ke rumah, ia masih sangat emosi dengan perkataan Dinda dan ternyata Dea juga iri dengan apa yang Dinda miliki.
Dea juga heran Dinda dapat uang sebayak itu dari mana, sehingga dengan entengnya ia membeli semua barang-barang mewah yang Dinda pake, yang paling membuat Dea penasaran siapa nyonya besar yang dimaksud pelayan toko itu, namun sayangnya setelah Dinda pergi dan Dea kembali untuk bertanya siapa nyonya besar itu justru pelayan kacangin, membuat Dea makin murka dan berlalu pergi.
"Sial kenapa sih, setelah anak miskin itu pergi dari rumah makin kurang ajar dan makin sombong, ah coba dulu aku baik sama dia pasti dia mau beliin aku berlian satu, tapi apa ibu tahu soal anak itu, coba nanti ibu dan kak Lexza pulang aku tanya saja sama mereka siapa tahu aja mereka juga mengetahui semua tentang Dinda."
"Aku pikir setelah dia di usir dari sini, hidupnya dia melarat dan dia akan kembali kesini untuk meminta bantuan ibu untuk menikahkan dengan Bay, namun ternyata bukan hudipnya menderita justru kelihatan dia makin bahagia."
Sore harinya saatnya semua orang pulang ke rumah masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka dari lelah. Karena sudah seharian mereka bekerja hanya untuk mencukupi setiap kebutuhan mereka.
Begitu juga yang di alami oleh bu Anjani serta anak dan menantunya, karena dari siang Dea sudah dirumah jadi, sudah bersih dan sekarang lagi duduk santai di ruang tengah menunggu kepulangan keluarganya yang lain terutamah kepulangan suaminya.
Ternyata kali ini mereka semua pulang barengan, mobil beriringan masuk kedalam pekarangan rumah, yang pertama masuk bu Anjani baru mobil Lexza dan yang terakhir mobil Tahir suami Dea.
Paman Gibran melihat itu heran karena baru kali ini, selama ia tinggal di keluarga Winata baru sejarah kak iparnya itu pulang berbarengan dengan anak dan menantunya. Begitu juga dengan Dea merasakan hal yang sama.
Setelah semua mobil terparkir dengan sempurna bu Anjani dan yang lain keluar dari mobil masing-masing dan hendak kemasuk kedalam rumah Lexza yang melihat ibunya sengerah menyapanya.
__ADS_1
"Tumben ibu baru pulang barenangan kami biasanya itu tidak sudih, kalau ibu melihat mobil kami pasti ibu sengaja menepih setelah itu baru ibu jalan." tanya Lexza
"Memangnya kenapa kalau ibu pulang bareng sama kalian, Lexza jangan bikin mood ibu makin rusak dari tadi siang pikiran ibu lagi tidak tenang jadi jangan menambah beban ibu ya" ujar bu Anjani, membuat Lexza langsung diam dan meninggalkan bu Anjani masih berdiri mematung disitu.
Mereka semua masuk kedalam rumah dan langsung mandi untuk membersihkan diri mereka dari keringatan.
Setelah mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah, barulah Dea mulai buka obralan sedangkan bu Anjani masih diam dan dengan tatapan datar kedepan.
"Bu..Dea punya kabar entah ini buruk atau kabar baik tapi menurut Dea ini kabar yang sangat buruk" ujar Dea.
"Kabar apa tuh Dea" tanya Lexza penasaran.
"Jadi tadi pagi aku pergi ke mall rencana mau beli berlian tapi kalian tahu siapa yang ku temui disana? Dinda! Aku ketemu Dinda yang paling parahnya lagi dia beli berlian satu set seharga miliyaran,"
"Ha....apa kamu serius Dea, kamu ketemu dengan anak itu. Kok bisa da? Tapi aku yakin dia hanya sengaja manas-manasin kamu aja itu padahal dia tidak beli."
" Bukan manas-manasin kak Lexza tapi nemang sudah dibeliin, dan ternyata bukan dia yang bayar melainkam seorang perempuan yang disebut oleh pelayan itu nyonya besar sedangkan, Dinda menyebut perempuan itu ibu. Aku dipermalukan oleh anak itu. Buka cuman itu semua barang yang dia pake barang brand semua."
"Terus kenapa kamu tidak seret dia kembali ke rumah, biar kita bisa nanya sama dia dapat uang banyak itu dari mana"
"Ah gila kamu ya kak mana berani aku jangan nyeret aku mau nampar dia aja, aku urunkan, tapi kalian tahu dia sangat berubah, dia tidak seperti orang miskin. kirain setelah dia keluar dari sini hidupnya melarat ternyata tidak."
__ADS_1