
Kami berlima makan makanan itu seperti mengunya batu, dan susa di telan melalui tengorokan ini sangking sesaknya napas ini karena menahan gejolak emosi yang sudah mengebu-gebuh, aku melihat istriku dan kakak Dea awalnya mereka makan dengan lahap seketika hilang rasa lapar mereka, termasuk aku dan mas Tahir kalau Gama tidak perlu tanya dia lurus saja itu makan kerjanya hehe.
Dinda dan kakak Dea hanya mengaduk makanan di dalam piring tapi tidak di masukan kedalam mulutnya, karena aku takut Dinda sakit karena tidak makan terganggu moodnya aku inisiatif untuk menyuapinya, mungkin kalau aku yang menyuapin pasti dia luluh dan benar saja dia langsung makan begitu juga mas Tahir ikuti trik ku jadi akhirnya aku dengan mas tahir bisa meluluhkan harimau betina kami berdua. Gama yang melihat kami hanya melogo saja, makanya jangan mau hadi jomblo carilah istri biar bisa suapin.
Jujur, sebenarnya aku kasihan dengan istriku, dia lagi hamil tapi banyak sekali promblema yang harus dia hadapi, baru saja dia habis meluapkan emosinya dengan Emelia dan sekarang di buat sakit hati oleh ibu, yang seharusnya menjadi pelindung dan menganyomi anaknya justru menjadi ibu yang jahat dan tega merencanakan pembunuhan terhadap kedua putri nya hanya karena harta keterlaluan.
"Sayang kamu harus banyak makan, tadi kamu baru selesai mengeluarkan banyak tenaga karena berantam tadi" ujarku.
"Ha...adik berantam? Sama siapa dan kapan?" tanya kakak Dea
Ya Tuhan mulut ini tidak bisa di ajak kompromi kenapa pakek keceplosan segala, padahal tadi aku sengaja tidak bicara ini kepada kakak Dea kenapa Justru mala keluar sendiri, inilah kekurangan yang belum bisa aku sembuhkan.
"Hehehe...tidak ada kakak tadi kami pas mau masuk kesini, ada orang gila yang tidak sengaja menabrak kami di depan makanya istriku ini marah." Humm semoga kakak Dea tidak bertanya lagi.
"Oh...kirain ap.....apa?...kalian kena tabrak terus ada yang terluka tidak, kamu tidak apa-apakan dik.? Tanya kakak Dea.
Untung suara kakak dea masih bisa di kontrol kalau tidak kami bisa ketahuan disini gara-gara suara kakak Dea.
__ADS_1
Akhirnya Dinda habiskan makanannya juga, begitu dengan kakak Dea walaupun dari tadi tanya mulu tapi mulutnya tidak perna kosong.
Setelah kami selesai makan, kami kembali ngobrol masih memperhatikan kedua manusia itu duduk di belakang kami sambil tertawa, dan sesekali menunjukan kemesraan didepan banyak orang. Lucunya di dalam restoran banyak pengunjung tapi justru mereka seolah tidak merasa malau ci**an bi**r di situ gila sampai jijik kami lihatnya.
"Sayang..jadi bagaimana rencana kita, sayang harus memperjelas biar mas bisa cari cara untuk menghabisi mereka, atau mas membayar orang untuk meleyapkan mereka berdua, karena jujur mas juga merasa ternganggu dengan kedua anak mu itu sayang.
Kalau Dea sih gampang di singkirkan, karena suaminya yang bodoh itu tidak bisa menjaga istrinya, sedangkan Dinda itu sulit karena selain mertuanya orang terpandang, suaminya juga hebat dalam seni bela diri bahkan keluarga dari suami Dinda sangat menyanyangi Dinda. Sayang apakah kamu tidak cemburu putrymu disayang oleh orang lain sedangkan kamu sebagai ibu tidak bisa melakukan itu.?
Mungkin itu salah satu penyebab juga sayang Dinda tidak menghargai kamu sebagai ibunya, karena dari dulu kamu sudah memperlakukannya dengan begitu buruk, sehingga hal itu terus tertanam dalam hati dan pikirannya kalau ibu kandungnya jahat, seharusnya sayang berlaku baik pada semua putry kamu sayang."
" Kalau seandaninya sayang baik pada mereka, mas yakin Dinda pasti sangat menyayangi kamu sayang dan setelah dia menikah dengan Tuan muda kamu pasti jaya dan bangga karena apa yang kamu inginkan pasti diberikan, tapi sayangnya sudah terlambat dari dulu sayang hanya terapkan kebaikan dan perhatian penuh kepada Lexza jadi seperti ini sekarang mereka kembali menyerang dan melawanmu."
"Astaga kamu memang pintar banget sayang benar juga yang kamu katakan sayang, bisa kaya kita kalau begini ya sudah kalau begitu kita harus secepatnya lakukan biar kita langsung memoroti keluarga itu."
Emosiku dari tadi tidak bisa kukendalikan kalau bukan menyangkut nyawa orang tersayangku mungkin aku sudah hajar mereka berdua, tapi kalau aku hajar nanti ketahuan lagi. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Aku mengalihakan perhatian kami dari mereka dan membuka percakapan.
__ADS_1
"Kakak Dea, mas Tahir sebenarnya kami minta ketemuan bukan hanya ingin memberikan hadia untuk kakak Dea dan mas Tahir saja, tapi aku dan Dinda juga mau menyampaikan. Kabar bahagia kalau Dinda adik kakak sudah hamil satu bukan kakak, mas" ujarku di sambut angggukan oleh Dinda.
Kakak Dea terkejut sampai menutup mulutnya tapi dia tidak langsung memeluk Dinda, justru kakak Dea menunduk kepala dan sedih kami binggung kenapa kakak ini.
"Maaf ya dik, Dav. Jujur kakak sangat bahagia dengan kehamilan Adik, tapi kakak merasa bersalah kalau seandainya waktu itu adik tidak keguguran mungkin sebentar lagi adik sudah melihirkan. Maafin kakak ya Dik dan selamat ya kamu sebentar lagi sudah jadi ibu" kakak Dea langsung memeluk Dinda.
"Sekarang lupakan masa lalu dan mari kita lewati bersama kakak saling rukun sebagai saudara"
Aku melihat perempuan tua ibu minta bill untuk membayar tagihan yang sudah mereka makan tadi, kami semua senganja menuduk agar tidak ketahuan sama perempuan tua itu.
Setelah selesai membayar ternyata mereka belum beranjak justru mereka masih duduk, dan kembali melanjutkan rencana mereka.
"Kalau begitu mas tunggu saja ya selesai pemilihan presiden baru mas lancarkan aksi mas semoga Kenedy bisa menang dan sayang bahagia."
"Aku yakin Kenedy menang soalnya waktu survei dia menang dan relawan Kenedy juga bilang kok kalau pasti dia menang"
Jadi mereka sudah rencana melancarkan aksi mereka, setelah pemilihan baiklah saya juga akan tunggu hari itu tiba.
__ADS_1
"Sayang tadi datang bawah mobil sendirikan, berarti mas tidak perlu antar sayang, bisa pulang sendiri kalau begitu kita pulang ayok, nanti sampai di rumah kemalaman di tanya lagi sama anak-anak kamu"
Mereka beranjak dan hendak mau pergi tapi dia terkejut siapa yang berdiri di hadapannya.