
Dear readers, jika kamu telah membaca sampai bab ini, berarti kamu cukup menyukai kisah di novel KDPU. Maka untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author yang tentunya juga menyemangati author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini. Terima kasih.
******
Dengan perasaan kaget semua yang berada didalam ruangan Latihan bela-diri itu menatap kearah Sima Yong.
“Apakah dia ini adalah Elf?”
“Penampilannya sungguh unik”
Elder Wu Wangtian tidak berusaha menahan Sima Yong Ketika pria itu memasuki arena. Dia tahu dengan kemampuan jiwa di peringkat Master Surgawi Tiga (sebagai Master Simbol), jelas-jelas Huang Feng bukan lawan dari teman cilik itu. Jadi mari kita menonton pertunjukan batinnya. Elder Wu menatap iba kearah Huang Feng.
“Hahaha… anak kecil seperti kamu mau menantangku?” Huang Feng tertawa dengan nada merendahkan ketika melihat Sima Yong memasuki arena. Meski telah berusia 21 tahun, namun memang penampakan Sima Yong terlihat seperti remaja usia 16-17 tahun saja.
“Tolong sebutkan nama mu agar aku tidak merasa menyesal ketika nanti menurunkan tangan kejam terhadapmu”
“Namaku Sima Yong. Akan tetapi aku bukan berasal dari Klan Wu. Aku hanya seorang magang untuk pelatihan dasar Teknik Array dibawah bimbingan Elder Wu Wangtian” Sima Yong menatap polos ke bola mata Huang Feng.
“hmm… Aku tidak dapat membaca kultivasi bocah ini. Selain itu, kemampuan jiwanya pun seakan tertutupi oleh sesuatu” Huang Fengmencoba memikirkan tentang kemampuan kultivasi dan kekuatan jiwa Sima Yong yang sama sekali tidak terbaca itu.
Sebenarnya dia agak sedikit khawatir ketika mengetahui aura kultivasi anak kecil ini sama sekali tidak,terbaca.
Bukankah orang bijak berkata bahwa “seseorang yang mampu menyembunyikan semua kekuatannya adalah sosok yang berbahaya?”. Namun Huang Feng menyingkirkan perasaan itu jauh-jauh.
Penampilan kekanakkan pria dihadapannya membuat dirinya lengah. Huang Feng tidak menyadari bahwa kelengahan itu akan berdampak buruk bagi dirinya nanti.
“Apakah kamu adalah perwakilan sesuatu dari Sekte Bintang Lima yang akan berlomba di perburuan Domain Elf Abu-abu? Aku tidak mau disebut seorang yang berjiwa rendah, ketika nanti menindas seseorang yang bukan dari Sekte Kelas Lima” Huang Feng masih mencoba untuk menggali lebih dalam siapakah pria di hadapannya itu.
“Aku tidak mewakili siapapun dari Sekte Kelas Lima. Namun jika anda menanyakan apakah aku akan mengikuti perburuan di Domain Elf abu-abu? Ya… aku akan mengikuti perburuan di domain itu. Aku memiliki undangan untuk masuk ke domain dengan undangan dari Klan Ouyang” kata Sima Yong.
“Bagus… kalau begitu aku tidak usah repot-repot menyingkirkan seorang pesaing didalam domain nanti. Saat ini juga aku akan menyingkirkan kamu”
Sambil berkata demikian, Huang Feng segera merapalkan mantra dan mengumpulkan segenap kekuatan jiwanya. Dengan full power dia berniat mengakhiri hidup Sima Yong dalam sekali serangan.
Sebilah pedang raksasa berwarna terlihat terbentuk Ketika Huang Feng membacakan mantra dan mengerahkan semua kekuatan jiwanya yang berada di Kekuatan Jiwa Surgawi level satu. Dengan bentakan halus dia menginstruksikan Pedang ilusi itu untuk merobak jiwa Sima Yong’
“Hancurkan…!!!”
Semua penonton menjerit ngeri. Pria berpenampilan Elf itu terlihat terlalu rapuh untuk menghadapai serangan jiwa berbentuk pedang ilusi. Bahkan tidak sedikit diantara penonton yang mencela Huang Feng dengan kata-kata bahwa Huang Feng adalah sosok Kejam dan berdarah dingin.
Ketika Ilusi Pedang Hitam itu bergerak mendekati Sima Yong, Sima Yong dengan santainya mengacungkan jari telunjuknya kearah pedang ilusi itu. Pedang ilusi itu terhenti ditengah perjalanan, seakan di tahan oleh sesuatu kekuatan yang tidak terlihat.
Ketika pedang tersebut telah terhenti diudara selama 3 menit, wajah Huang Feng terlihat dipenuhi peluh. Keringat bercucuran pertanda Huang Feng tengah mengerahkan seluruh kekuatan jiwa. Dia mencoba untuk memerintahkan Pedang Ilusi itu untuk bergerak kembali. Keinginan terbesarnya adalah merobek benak dan jiwa pria kecil di depannya.
Dengan terengah-engah, Huang Feng kemudian menarik semua kekuatan jiwanya dan kembali menyerang dengan sebuah Teknik serangan jiwa yang baru. Tampak api berwarna keemasan seketika berkobar di sekeliling Sima Yong, bersiap untuk membuat pria itu menjadi debu. Udara disekeliling ruang pelatihan berubah menjadi sangat panas.
Akan tetapi serangan ilusi api itu Kembali seperti membentur sebuah tembok. Api terlihat berkobar dengan kencang, akan tetapi tidak seinchi pun api itu mampu untuk lebih mendekati bahkan membakar tubuh Sima Yong. Terlihat wajah Huang Feng telah penuh dengan cucuran keringat. Bahkan urat-urat biru terlihat jelas di wajahnya karena pengerahkan kekuatan jiwa secara maksimum.
Kembali Sima Yong membiarkan keadaan dalam diam seperti ketika menghentikan Pedang Ilusi tadi. Waktu telah berlalu hingga 10 menit. Tampak Huang Feng terlihat telah mengerahan seluruh kekuatan jiwanya, sementara sebaliknya Sima Yong hanya santai-santai saja.
Sima Yong memecahkan ketegangan yang hening itu….
“Rasanya telah cukup aku memberi waktu dirimu untuk menyerang diriku. Sekarang kamu harus merasakan serangan balik dari kekuatan jiwa milik ku… berhati-hatilah….” Sima Yong menatap kearah Huang Feng sambil memberi peringatan.
“Mantra Kematian ketiga… Badai Es Teratai Salju….” Sima Yong berbicara pelan, namun suara itu terdengar jelas di telinga semua orang dalam ruangan.
__ADS_1
Seketika setelah mantra itu dirapalkan, dimana mulut Sima Yong terlihat berkomat-kamit… Seluruh ruang seketika berubah dari panas membera menjadi dingin menggigit. Begitu dinginnya sampai-sampai banyak penonton yang terlihat mengambil posisi duduk untuk bermeditasi. Tindakan ini bertujuan untuk menimbulkan hawa hangat di tubuh mereka.
Menyadari perubahan drastis itu, wajah Elder Wu Wangtian, Patriak Wu Ju-Long dan Patriak Huang Jing berubah seketika. Patriak Huang Jing bahkan berteriak “Celaka….”.
Ketika Patriak Klan Huang akan melompat menyelamatkan Huang Feng, Patriak Wu Ju_long menahan tangannya. Dia menggelengkan kepala
“ini urusan generasi muda. Jangan ikut campur…” Huang Jing terhenti karena Tindakan Wu Ju-Long itu. Akan tetapi hatinya sangat galau. Murid dan ponakan kesayangannya sepertinya akan menemui kesulitan.
Sementara itu dari arena itu terdengar tangisan Sima Yong ketika dia memerintahkan mantra itu untuk menyerang Huang Feng,
“Pergilah ….”
Kumpulan Kutukan Mantra Kematian itu bergulung lalu membungkus seisi rungan dalam kegelapan mencekam. Kerlap-kerlip Teratai es terlihat berguguran dari udara yang kemudian jatuh menimpa Huang Feng.
Diiringi sebuah jeritan menyayat hati terdengar di ruangan itu, menyusul terlihat sosok yang roboh kelantai. Terlihat jelas percikan darah dimana-mana. Huang Feng telah tergeletak diatas tumpukan es dalam kondisi diam. Tidak diketahui apakah dia telah mati atau masih hidup.
Ketika semua orang masih dicekam dengan keterkejutan serangan Kutukan Kematian Sima Yong, terdengar bentakan keras disusul sebuah serangan pedang mematikan tertuju ke Sima Yong.
Patriak Huang Jing terlihat meluncur dengan sebuah Teknik Pedang mematikan yang langsung akan menaklukkan Sima Yong. Pria itu sudah tidak memikirkan martabatnya sebagai senior. Yang ada dalam benaknya adalah keinginannya untuk membunuh Sima Yong yang telah membuat murid kesayangannya celaka.
Kembali penonto menjerit tertahan. Ketika itu semua
penonton didalam ruangan ikut merasa tegang. Pedang Peringkat Dewa milik Patriak Klan Huang itu melesat tidak terbendung untuk menghabisi nyawa Elf itu.
Sima Yong berkata didalam hatinya, “Kekuatan jiwa anda dan ranah kultivasi anda bukanlah tandingan Teknik Jiwa Kutukan Mantra Kematian ini. Bahkan seorang praktisi Alam Tanpa Batas tidak akan berani bertindak gegabah dihadapan Teknik Kutukan 7 Mantra Es ini”
“Kutukan keempat Badai Es Bumi..”
Udara yang dingin itu kini bertambah dingin lagi. Pria Klan Huang itu terhenti dalam serangan kejamnya. Badai es raksasa terasa menerpa dirinya.
Yang orang lain rasakan adalah keadaan disekitar bertambah suram dan suhu diruangan itu berubah menjadi lebih dingin lagi. Saking dinginnya hawa itu terasa bagaikan irisan pedang ke kulit mereka.
Beberapa praktisi bahkan merasakan pecah-pecah di kulit akibat serangan hawa dingin itu. Mereka buru-buru duduk bermeditasi menghalau hawa dingin. Selama ini Sima Yong belum pernah menggunakan Mantra Kutukan Nomor 4 ini. Patriak Klan Huang adalah praktisi yang pertama merasakan Teknik kutukan jiwa ini.
Dengan kekuatan jiwa Master Surgawi level tiga Patriak Klan Huang berusaha bertahan. Dia berharap kekuatan jiwanya dapat menghalau ilusi badai es itu. Akan tetapi sayang sekali bagi Patriak Huang. Serangan ilusi jiwa yang di lancarkan oleh Sima Yong adalah serangan jiwa seorang Ahli Waris Elf sejati di Utara.
Teknik Kutukan 7 Mantra Es ini adalah Teknik yang sangat langka hasil karya Elf kuno. Teknik ini tercipta setelah Elf kuno menyanyikan lagu-lagu sihir kuno untuk membuat sebuah serangan jiwa dan memadukannya dengan sihir Elf Kuno. Telah diketahui Elf adalah sosok pewaris kemampuan Sihir dan kekuatan jiwa tertinggi di Seluruh dunia ini. Mereka tidak terkalahkan didalam bidang ini.
Tentu saja Ketika Teknik kutukan ini menyerang Patriak Huang, orang itu hanya dapat berharap dan berjuang mati-matian untuk bertahan dalam dinginnya kutukan ke 4 mantra es. Jiwa nya terancam kerusakan.
Saat itu darah terlihat mulai mengalir dari bibir Patriak. Beberapa Ahli yang masih dapat melawan hawa dingin serta menyaksikan pertempuran melawan kekuatan jiwa itu menjadi iba melihat Patriak Huang.
Jika serangan jiwa itu tidak di hentikan Sima Yong, di khawatirkan akan memberi trauma yang dalam bagi jiwa Patriak Huang.
Setelah merasa cukup, Sima Yong mengakhiri serangan jiwa itu dengan mengucapkan sebuah kata.
“Selesai…!!!”
Patriak Huang Jing jatuh terlihat terduduk ketika Sima Yong mengakhiri serangan Kutukan Mantra Es itu. Wajahnya benar-benar pucat. Dia menatap Sima Yong dan berkata sambil terbata-bata menahan rasa sakit,
“Siapa kamu sebenarnya ..??? dari mana kamu berasal??”
Dengan tersenyum Sima Yong Kembali menjawab,
“Sudah kukatakan tadi Namaku Sima Yong. Dan aku adalah seorang pengelana. Aku tidak tergabung dalam Sekte atau Klan apapun. Aku hanya seorang Independent Kultivator…”
Meskipun terlihat tidak puas dengan jawaban Sima Yong. Sebagai seorang Alkemis, buru-buru Huang Jiang melempar sebuah pil kedalam mulutnya. Pil itu dia rasa cukup membantu pemulihan Kesehatan jiwanya. Terlihat jelas wajahnya yang mulai membiru itu perlahan menunjukkan warna kehangatan. Namun Patriak Haung tahu. Jiwanya telah terluka. Akan dibutuhkan waktu yang lama untuk sembuh dari luka jiwa karena pertempuran kekuatan jiwa seperti itu.
Keadaan menjadi hening. Beberapa tabib dan Alkemis Klan Huang mendekati Patriak mereka dan menawarkan bantuan pengobatan. Patriak Huang memilih untuk Kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Setelah kelompok Klan Huang Kembali ke pavilion tempat mereka menginap, Elder Wu Wangtian mendekati Sima Yong. Dengan tatapan yang menyala dan kekaguman dia berkata,
“Teman Kecil Sima… tidak ku sangka anda selain seorang Master dalam bidang penulisan Simbol, ternyata anda adalah seorang praktisi bela diri seni Jiwa Dao yang sangat mengerikan”
“hahaha… Elder Wu. Aku adalah sosok yang mencoba untuk bersikap rendah hati. Namun mengenai Teknik dan kekuatan jiwaku, itu adalah sebuah Teknik Kelas Tinggi. Bahkan praktisi Alam Tanpa Batas harus berhati-hati ketika bertempur melawan kekuatan jiwaku” Sima Yong tertawa sambil tersipu malu.
“Jadi ternyata teman kecil ini juga akan mengikuti perburuan didalam domain Elf abu-abu itu? Klan Ouyang sungguh beruntung dapat merekrut teman kecil ini untuk berpartisipasi. Sepertinya perburuan yang diadakan setiap 250 tahun ini akan menarik ketika teman kecil bergabung”.
“Sayang sekali, jenius nomor satu Klan Wu kami saat tengah terluka parah. Wu Zhen mungkin harus beristirahat selama enam bulan untuk memulihkan luka jiwanya itu. Jiwa yang sobek karena keganasan Huang Feng tidaklah mudah untuk disembuhkan” Wu Wengtian menunjukkan wajah prihatin. Dia berusaha menutupi kemurungannya dengan mengucapkan kata-kata menghibur seperti ini.
“Hmm namun kami semua bersyukur sekali. Teman kecil ini telah membalas sehingga kehinaan Klan Wu Ketika dikalahkan di kandang sendiri. Mari aku perkenalkan dengan Patriak Klan Wu kami”
Wu Wangtian kemudian membimbing Sima Yong menuju Patriak Klan Wu dan memperkenalkannya. Patriak Wu sendiri adalah seorang yang santai dan pandai bergaul. Dia adalah orang yang tidak mempermasalahkan kedudukannya yang tinggi sebagai Patriak Sekte Kelas Enam. Maka dengan cepat dirinya menjadi akrab dengan Sima Yong.
Ketika pembicaraan beralih ke perburuan di domain Elf, dengan wajah murung dia mengungkapkan kesedihannya.
“Bagiku Wu Zhen sudah seperti anak sendiri. Dia bahkan merupakan satu-satunya jenius di Klan ini yang memiliki Kekuatan Jiwa tinggi. Bahkan di usia muda dia dapat menerobos ke ranah Alam Raja. Alangkah menyedihkannya jika seorang jenius seperti itu, tingkat kultivasinya akan terhenti gara-gara kerusakan jiwa”
Patriak Wu menghela nafas dalam dalam. Tidak dapat disembunyikannya kesedihan di hatinya.
“Kalau saja Teknik penyembuhan jiwa itu dapat kami kuasai… kurasa Wu Zhen dapat diselamatkan. Aih sayang sekali… ”
Elder Wu Wangtian dengan prihatin menambahkan,
“Yang ku baca dari Salinan-salinan kuno di perpustakaan Klan Wu, nun jauh disana di kedalaman Hutan Utara… kelompok itu dapat ditemui. Akan tetapi apakah mereka akan mau memberi muka kepada kita yang hanya keturunan dengan darah campuran ini?”
Sima Yong menyimak pembicaraan diantara kedua orang itu. Dia hanya mencoba mencerna apa maksud kedua orang petinggi Klan Wu itu. Sepertinya Sima Yong paham inti pembicaraan mereka, namun dia tidak mau mengungkapkan siapa dirinya.
“Patriak Wu Ju-Long dan Elder Wu Wangtian. Tahukah anda bahwa kerusakan jiwa seperti itu, masih dapat disembuhkan sepanjang dilakukan dengan terapi yang tepat?”
Mendengar kata-kata Sima Yong, terlihat sebersit harapan di wajah Wu Ju_Long,
“Tuan Muda Sima, jika anda memiliki saran. Tolong jangan ragu-ragu. Klan Wu akan sangat berterima kasih jika Tuan Muda ini mau membantu penyembuhan Jenius Klan kami. Aku akan memberikan kompensasi yang seimbang jika ada yang dapat menyembuhkan luka jiwa Wu Zhen”.
“Pernahkah Patriak dan Elder Wu mendengar tentang sebuah Teknik Pengolahan Jiwa kuno yang telah hilang dari Benua ini? Teknik Pengolahan jiwa Musisi Kematian dan Teknik Tarian Jiwa?” Sima Yong menatap Wajah Elder Wu dan Patriak Klan Wu.
Patriak Klan Wu dan Elder Wu menunjukkan,wajah yang sangat terkejut. Teknik itu adalah sebuah Teknik yang sangat kuno dan telah menghilang dari Benua ini. Sebenarnya mereka memang memikirkan untuk mencari domain Elf kuno di Utara dan akan meminta pemberian pengobatan Jiwa Wu Zhen dengan Teknik itu.
“Teman kecil Sima… jangan anda main-main. Apakah anda bermaksud mengatakan bahwa anda mengenal seseorang yang mampu mengolah Teknik kuno itu?” Elder Wu mendesak Sima Yong. Sementara Patriak Klan Wu juga menampakkan wajah yang tidak percaya Ketika mendengar kata-kata Sima Yong.
Setelah keduanya reda dari keterkejutan itu, Sima Yong berkata.
“Aku tidak mengenal seseorang yang mampu mengolah Teknik kuno itu. Akan tetapi aku dapat memainkan dan mengolah Teknik Jiwa Musisi Kematian itu”
“Apaaa…!!!!” untuk kali ini kedua praktisi Klan Wu itu benar-benar terperanjat. Teriakan terkejut itu sampai-sampai membuat orang-orang yang masih berada di aula latih tanding itu memandang heran kearah mereka.
******
Pada akhirnya setelah Sima Yong memperagakan sedikit kemampuan Musisi Kematiannya, Patriak Klan Wu itu memohon dengan sangat agar Sima Yong mau menyembuhkan luka jiwa Wu Zhen. Negosiasi diantara kedua nya pada akhirnya membuat Sima Yong akan memiliki hak akses ke seluruh lantai Perpustakaan Klan Wu untuk pelatihan Teknik array tingkat tinggi.
Sima Yong menjanjikan pengobatan Wu Zhen akan dia lakukan besok hari. Saat ini malam telah menjelang. Sehingga gelapnya Negri di ujung dunia itu semakin kelam ketika malam telah tiba. Setelah berpamitan dari Elder Wu dan Patriak Kan Wu, Sima Yong berjalan balik menuju Gudang Kemakmuran.
******
Ditengah perjalanan pulang ke Gudang Kemakmuran, tiba-tiba Sima Yong berkata dengan dingin kearah kegelapan malam.
“Kamu telah mengikutiku sejak dari Klan Wu. Mengapa tidak menampakkan diri?”…..
*Bersambung*
__ADS_1