
Selain angin yang terasa begitu keras diatas Puncak Pegunungan Himalaya, rasanya sulit sekali mendirikan bangunan permanen karena selain lokasi yang jauh, tanah disini tidak stabil karena tebalnya lapisan es yang sewaktu-waktu dapat dapat membuat tanah atau gundukan es itu bisa retak-retak, lalu longsor tak menyisakan apa-apa.
"Dimana kira-kira sosok yang dipanggil dewa itu mendirikan istana nya? Bukankah seorang dewa udah mesti berkediaman di istana yang megah?" batin Sima Yong setelah ia mengikuti Yeti itu berputar-putar di puncak dan kini melompat menuju jurang dalam di satu jeurang es.
Sepanjang mata memandang, hanyalah pemandangan hamparan permadani putih, sehingga jika mata seseorang tidak awas, bisa-bisa orang itu dapat terperosok masuk kedalam jurang, karena perbedaan gradasi warna antara pijakan di tanah tidak terasa bedanya dibanding warna jurang yang semuanya terlihat serba putih.
Anehnya Sima Yong merasa di bagian jurang ini, udara lebih terasa hangat dan tiupan angin hanya terasa seperti angin semilir yang berhawa sejuk.
Yeti itu menunjuk ke satu celah yang samar terlihat, dan berulang kali menunjuk kedalam celah, seperti meminta Sima Yong untuk masuk kedalamnya.
Yeti itu segera berlari pergi setelah Sima Yong memasuki celah yang ternyata di bagian dalam mebentuk lorong yang panjang, dengan penerangan yang cukup karena banyaknya kristal2 berpendar di sisi-sisi lorong.
Sepeminum teh ia berjalan di dalam lorong yang cukup untuk di lewati dua orang, sepertinya langkahnya semakin dalam ke perut bumi - mirip neraka dunia di utara - pada akhirnya Sima Yong tiba di ujung lorong itu.
Penghujung jalan kecil itu pada kenyataannya adalah satu ruang atrium besar yang beratapkan langit dengan sisi-sisi nya berbentuk bangunan istana yang di ukir di tembok-tembok es.
"Ini adalah karya seni tinggi yang memerlukan pahatan dan pengerjaan ahli-ahli seni kuno" batin Sima Yong.
"Apakah ini adalah sisa-sisa peninggalan kaum kurcaci di masa lalu?
Yang aku dengar, konon kaum kurcaci adalah ahli-ahli seni dalam penempaan senjata maupun arstitek terbaik dalam mengerjakan bangunan-bangunan raja jaman dulu" Sima Yong bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Siapa kamu !" mendadak dua magus yang merupakan penjaga di atrium itu memergoki Sima Yong yang menengadah sambil mengagumi karya seni pahatan berbentuk istana es itu.
Namun Sima Yong tidak memerdulikan pertanyaan dua magus penjaga itu. Matanya tetap fokus dan pelan-pelan berpindah dari satu ukiran ke ukiran lainnya di ketinggian istana es itu.
"Kurang ajar, kematian adalah bagianmu setelah dengan lancang memasuki istana suci ini" bentak satu magus. Tangannya lantas terulur ke depan, kearah Sima Yong. Api keluar dari lengan kirinya, membentuk tombak api, yang lalu diayunkan dan di tusuk kearah Sima Yong.
"Mati !"
Tombak api itu meluncur cepat dalam gerakan sodokan, dimana tombak itu mengandung kekuatan besar yang dapat membakar apapun menjadi abu.
Magus pemilik tombak itu tersenyum dingin. Dia yakin serangannya akan membuat penyusup itu menjadi debu. Sementara kawan magus yang seorang lagi, kini telah memegang dua pedang pendek yang menyala-nyala dengan api.
"Dua penyihir kecil afinitas api - pemanggil api yang kejam" Sima Yong menggumam pelan. Meskipun bersuara, ia tidak memalingkan wajah sama sekali.
Tangan kiri Sima Yong membentuk suatu teknik cengkeraman, yang seperti nya tengah menyerap da menarik kekuatan dan energi dari inti es, yang terlihat telah menjadi lantai pijakan.
Blep !
__ADS_1
Uap dingin langsung mengembun ketika SIma Yong menghisap energi es dan bumi, yang dengan cepat merubah uap es itu menjadi satu pedang berkilauan - pedang kristal es.
Tangan kirinya bergerak pelan kearah tombak api, nyaris tak kentara. Seketika serangkum hawa dingin menusuk tulang, terbang dengan cepat bersama pedang kristal es menyambut datangnya Tombak Api.
Wush ! suara angin dingin membeku, ikut berkelebat dalam warna kilauan, begitu cepat mengikuti pedang es.
Kraak !
"Tak mungkin !" magus pemilik tombak api itu tak percaya. Dia melihat tombaknya terbelah menjadi seperti kerupuk di patahkan.
Magus itu belum lagi sempat berkata-kata, tahu-tahu..
Blam !
Ia menatap nanar ketika pedang kristal es itu menembus dadanya. Kemudian nyawanya ikut terbang hanya dalam satu kerdipan mata. Magus yang satunya, yang memegang dua pedang pendek berapi itu menjadi pucat.
"Grand Magus !" desis magus yang satunya.
Dialah pemegang sepasang pedang api yang kini berubah air mukanya menjadi pucat. Di hadapan ahli peringkat Grand Magus, keberadaannya dirinya adalah sama seperti sebutir debu. Tak dianggap tak berarti dan hanya di abaikan.
Tanpa perlu merasa susah-susah menyerang pria penyusup ini (Sima Yong), si pedang api berlari dengan suara yang melolong.
"Tolong..! ada penyusup !"
"Ah... padahal aku hanya ingin menanyakan. Di bagian mana Dewa Puncak Himalaya itu bersembunyi" gumam Sima Yong acuh tak acuh
Lalu dengan suara yang mengandung Qi, Sima Yong berteriak di atrium itu.
"Keluarlah.. temui aku. Aku tahu, kamu mengawasiku sejak aku pertama kali masuk ke dalam atrium ini" teriak Sima Yong yang kini telah melayang di udara.
Hening.. tidak ada jawaban.
"Baiklah .." teriak Sima Yong.
"Kalau kamu enggan untuk menjumpaiku, aku akan menghancurkan istana ini. satu demi satu sampai kamu keluar menemui ku.
Dimulai dari sini" ancamnya
Ia lantas mengangkat tangan kirinya, ia menunjuk ke satu bangunan berlantai dua yang di ukir indah di tembok es itu, lalu..
Blam ! satu dari puluhan bangunan es artistik itu roboh oleh tiupan Taufan dahsyat.
__ADS_1
"Ku beri kamu waktu sepuluh tarikan napas untuk menemuiku. Jika juga belum keluar, bagunan berikutnya akan ku hancur kan"...
Tak juga ada reaksi, seketika angin Taufan lokal menerjang bangunan kedua, dan mulai membuat penampilan keseluruhan istana es itu menjadi kurang terlihat artistik lagi.
Blam !
Blam !
Blam !
Wajah Sima Yong tidak terlihat merasa bersalah sedikitpun. Ia memang telah berencana untuk mengungkap, siapa Dewa Puncak Himalaya itu. Satu kesimpulan sementara telah ia dapatkan, namun masih menunggu Dewa itu muncul dan membuktikan teorinya.
Sekonyong-konyong..
Suiittt !
Satu anak panah meluncur dan mendarat tepat di kaki Sima Yong. Anak muda itu hanya tersenyum tatkala melihat panah itu, ia langsung mendongak dan memandang ke bagi lain dari Istana Es.
"Ah... kamu akhirnya muncul.. Dewa Puncak Himalaya.
Nama dewa mu itu terdengar terlalu merdu untuk sebuah benda yang hanyalah jelmaan Relikui peninggalan Klan Kurcaci..." suara Sima Yong demikian jernih dan lembut.
Akan tetapi sosok Dewa Puncak Himalaya itu terlihat amat kaget. Katanya dengan dingin..
"Apa maksudmu dengan kata-kata mu itu? Tidak tahukan kamu kalau diriku ini agung dan di sembah oleh banyak orang layaknya dewa?" dia berusaha menyembunyikan suara nya yang bergetar..
Sima Yong mencibir. Jawabnya..
"Well sekali lagi aku ulangi. Aku harus memanggil kamu apa? Dewa? ataukah Roh Relikui Klan Kurcaci?
Tidak perlu berkelit. Mata batinku melihat hingga lapisan keempat. Dan yang aku lihat dari diri kamu tidak lebih satu relikui berbentuk busur panah..." Sima Yong semakin senang ketika melihat sosok berpakaian hitam itu gelisah..
"Kamu hanya jiwa tersisa yang ada di busur peninggalan Raja Kurcaci, yang mencoba-coba mencari jalan mistis untuk membentuk tubuh baru, dan menjadi karakter yang baru seperti mahluk hidup saja"
Dewa Puncak Himalaya terdiam...
"Apakah kata-kataku salah?" ejek Sima Yong.
Tubuh Dewa Puncak Himalaya itu terlihat bergetar. Dia marah dan panik. Lalu dengan cepat ia meraih anak panah dari punggungnya dan menembak kearah Sima Yong. Badai Salju yang dapat mencabik kulit segera tercipta.
Bersambung
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3