Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Bentrok di Hutan Kematian


__ADS_3


Suara langkah kaki pelan-pelan itu terdengar semakin dekat. Sima Yong lalu menutup mata melanjutkan meditasi, bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa. Menyusul terdengar suara pintu gerbang yang terbuat dari bambu terdengar di geser orang..


'Sreek !'


"Nyonya Hua.. apakah anda yakin kalau seseorang telah masuk kedalam kedai ini setelah kita menurunkan tangan atas kematian orang-orang Sekte Black Dragon?" suara seorang laki-laki muda terdengar berbisik.


Suara perempuan terdengar pelan di telinga Sima Yong..


"Aku dapat memastikan. Menurut magical beast burung hantu bernama Owl yang sengaja kutempatkan di sekitar Hutan Kematian, dia memberi kabar bahwa seseorang telah datang dari arah Pegunungan Pembunuh, dan menginap di Kedai makan Nyonya Hua ku. Dia bahkan tidak memerdulikan mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam kedai" suara perempuan itu diam sebentar..


"Meski dia terlihat seperti orang dari dunia fana dan tidak terbaca kultivasinya, namun aku berpikir lagi.. Untuk seseorang yang dapat menyeberang Pegunungan Pembunuh dengan selamat, apalagi di malam hari.. Well ia bukanlah sosok yang sederhana.." Nyonya Hua menatap meyakinkan dua pria yang datang bersamanya.


Lalu lengkungan tipis segera tergambar di bibir Nyonya Hua, lalu dia berkata,


"Aku menyusun satu rencana bagus.. bukankah ini merupakan kesempatan bagi kita untuk cuci tangan?" bisik perempuan berbadan bongkok itu. Dia melirik dengan licik sambil mengumbar senyum iblisnya.


Dua orang yang datang bersama Nyonya Hua itu seketika membelalakkan matanya. Pria muda bertompel yang sebelumnya menyamar menjadi pelayan di kedai berkata pelan,


"Jadi maksud anda adalah, kita melakukan teknik melempar batu sembunyi tangan? Kita berpura-pura memergoki orang itu dan menjatuhkan semua kesalahan atas kematian orang-orang Sekte Black Dragon kepadanya?"


"Anda sungguh jenius Nyonya Hua" pria muda bernama Bai Er itu langsung terkagum-kagum mendengar akal bulus perempuan bongkok tersebut.


"Mari kita masuk !" bisik Nyonya Hua.


Dia langsung menendang pintu kedai yang masih tertutup..


Brak !


Daun pintu yang terbuat dari bambu itu langsung hancur menjadi serpihan kayu ketika Nyonya Hua menendangnya. Perempuan bongkok itu memiliki kultivasi di ranah Alam Tanpa Batas menengah, tentu saja mudah baginya untuk menghancurkan pintu kayu seperti itu.


"Pembunuh !" dua laki-laki itu berteriak mengancam. Wajah mereka seperti terkejut melihat Sima Yong duduk bersemedi diantara lima mayat.


"Jadi rupa-rupanya kamu adalah orang yang membunuh orang-orang Sekte Black Dragon?" kata Bai Er langsung meloloskan golok dari sarung nya. Benda berkilau itu lantas menempel di leher pria yang terlihat masih menutup mata di dalam kedai. Sima Yong hanya diam saja.

__ADS_1


Nyonya Hua dan Chen Yi - pria yang satu nya lagi, lantas bersikap seperti tergopoh-gopoh memeriksa nadi lima mayat anggota Sekte Black Dragon.


"Dingin !." kata Nyonya Hua ketika memegang tubuh sosok terdekat.


"Menurut perhitunganku orang-orang ini telah mati lebih dari enam jam..


Aku berpikir kejadian ini harus kita laporkan kepada Patriak Suku kami Jinzhi" dia melirik ke arah pria yg terliht tetap tenang meskipun golok Bai Er menempel di lehernya.


"Pria ini harus bertanggung jawab. Dia adalah satu-satunya orang yang berada di sini, dan kita memergoki kalau semua praktisi Sekte Black Dragon telah tewas" Kata Nyonya Hua dengan berpura-pura memasang wajah serius.


Bai Er makin mendekatkan goloknya ke leher Sima Yong, katanya..


"Kamu harus mengikuti kami menuju desa Suku Jinzhi. Tidak tahukah kamu kalau lima orang Sekte Black Dragon ini adalah tamu-tamu kehormatan Kepala Suku Jinzhi kami?"


"Berdiri dan bergerak ! ikuti kami dan jangan berpikir untuk coba-coba mencari cara meloloskan diri..


Perlu kamu ketahui, belum pernah ada seorangpun yang lolos hidup-hidup, ketika dia telah menjadi target oleh orang-orang Suku Jinzhi kami" katanya mengancam..


"Turuti perintah kami jika kamu ingin tetap hidup" pungkas Bai Er dingin.


Sima Yong berjalan pelan mengikuti Bai Er, Nyonya Hua dan Chen Yi. Mereka melewati jalan setapak dari Kedai Nyonya Hua, berjalan berkelok-kelok dan memasuki Hutan Kematian. Kedatangan mereka di dalam hutan kering itu di sambut dengan suara burung-burung hutan. Dan gagak adalah suara burung paling dominan yang terdengar berkaok-kaok di hutan kering nan sepi itu.


"Entah mengapa semua bulu tengkuk ku merinding" bisik Bai er kepada Chen Yi.


"Aku pun demikian. Aku merasa seperti ada sesuatu yang memperhatikan kita." jawab Chen Yi.


"Dasar penakut !" desis Nyonya Hua


"Semua anggota Serikat Penguasa Pedang bukanlah kelompok Suku Jinzhi yang dapat dengan mudah di takut-takuti semacam ini. Sikap melempem kalian berdua, kelak akan mempermalukan serikat ini di mata serikat dan kelompok lain di Suku Jinzhi kami" kata Nyonya Hua gagah.


"Kami tidak takut ! " jawab Bai Er tersinggung.


"Maafkan kami Nyonya Hua.. Selanjutnya kami tidak akan banyak berbicara lagi" kata Bai er dan Chen Yi serempak.


Nyonya Hua terlihat lega. Katanya.

__ADS_1


"Begitu lebih baik. Di masa mendatang, sosok-sosok muda seperti kalianlah yang akan menjadi ujung tombak dari Serikat Penguasa Pedang Suku Jinzhi kami !" kata Nyonya Hua memuji. Dia berbalik menjadi puas setelah melihat dua anak muda itu kini menunjukkan sikap seorang laki-laki sejati..


Namun ketika perempuan bongkok itu baru saja menegur dua orang anggota Serikat Penguasa Pedang, mendadak terdengar satu suara memecah bisunya Hutan Kematian. Suara itu terdengar dalam kata-kata dan nada yang dingin.


Menyusul tiga sosok muncul dari kehampaan.


"Bagus..! Rupa-rupanya anggota Serikat Penguasa Pedang kalian diam-diam telah bertindak di luar titah Patriak Ye. Klompok kamu rupa-rupanya dengan diam-diam berniat mengangkangi sendiri informasi tentang Bangau Berkaki Satu.


Kalian dengan sembunyi-sembunyisaling bekerja sama dengan pria ini, lalu merampok informasi keberadaan relikui itu dari kelompok Sekte Black Dragon" itu adalah suara pria berambut botak dan memegang kapak berkilauan. Disisinya tampak berdiri dua orang lainnya yang ikut menghalangi langkah Nyonya Hua dan kawanannya.


Pria botak ini mengenakan jaket dari kulit macan tutul, yang melapisi tunik hitamnya. Dia menghias kupingnya dengan anting-anting besar di kedua telinganya. Dia juga memulas matanya dengan garis mata yang tebal menggunakan jelaga pewarna khusus untuk mempertegas kekejaman di wajah yang sudah terlihat sadis itu.


Berdiri di belakangnya, dua orang perempuan muda, berpakaian seksi dengan belahan dada yang rendah, menonjolkan dua gunungan yang tampak sesak mau meledak dari baju ketat itu. Rok berwarna kuning tipis, dengan belahan tinggi memunculkan dua kaki jenjang dan putih mulus.


Wajah Nyonya Hua mendadak berubah menjadi tidak sedap..


"Well - well -well... Vanug sang Macan Tutul dengan dua ****** dari Serikat Musafir Bayangan. Rupa-rupanya kelompok serikat kalian menjadi kurang kerjaan, dan berbalik memata-matai kami dari Serikat Penguasa Pedang kami" kata Nyonya Hua mengejek.


Walaupun berbicara dengan santai, diam-diam perempuan tua bongkok ini telah meloloskan pedang. Vanug - pria botak dengan jaket macan tutul itu hanya tertawa ketika memergoki si bongkok yang meraba pedang - suara Vanug sungguh tidak enak di dengar.


"Sebenarnya aku tidak berniat memata-matai satu perempuan tua dan bongkok seperti anda.


Namun ketika kami dalam perjalanan menuju Rawa Berkabut, tanpa aku sadari hembusan angin bertiup dan suara gagak hutan berbisik ke telinga ku..."Vanug mengarang cerita.


"Seisi hutan menceritakan bahwa ada seorang perempuan tua dengan punggung yang bongkok. Pada tengah malam tadi dia telah bersekongkol dengan kaki tangannya dari Serikat Penguasa Pedang mereka dengan niat mengambil keuntungan...


Dengar-dengar, tiga manusia licik dari serikat itu tengah mengatur siasat untuk menjebak seseorang pria, setelah mereka mengangkangi informasi penting dari praktisi Black Dragon.." Wajah Vanug berubah semakin mengejek sementara wajah Nyonya Hua menjadi merah padam.


Nyonya Hua jelas-jelas menjadi marah. Orang-orang dari Serikat Musafir Bayangan ini betul-betul memata-matai mereka, sampai-sampai semua kata-kata mereka pun di hapal mati oleh si botak itu.


"Tutup mulut mu !" bentak Nyonya Hua. Pedang yang sejak awal-awal telah di dalam genggamannya, seketika berkelabat dingin, melayang menusuk tenggorokan Vanug.


"Lebih baik kau mati !" suara Nyonya Hua terdengar ngeri dari balik kilat pedang berwarna perak itu.


Bai Er dan Chen Yi pun langsung mengambil langkah. Golok mereka juga mengeluarkan cahaya perak, berkelebat mengunci dada dua perempuan yang datang bersama Vanug.

__ADS_1


Bersambung


Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3


__ADS_2