Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Kota Terminus


__ADS_3

"Kami hanya akan membayar senilai Empat Puluh Eliksir warna biru terang saja. NIlai itu sudah sesuai ketentuan amandemen dari rapat akbar Dewan antar Ras Realm Magical Beast ini" kata Mismaya ngotot.


   Jelas-jelas dalam hal ini Mismaya merasa dongkol. Sepuluh tentara penjaga gerbang kota itu dengan sengaja menaikkan biaya masuk demi keuntungan pribadi.


"Coba katakan satu alasan yang masuk akal, 


   Mengapa kami berdua mesti membayar tinggi kepada kalian bersepuluh" Mismaya memasang wajah angkuh.


   Sepuluh tentara itu lantas bingung menjawab. Kini mereka terlihat saling bisik. Sepertinya mereka tidak memiliki alasan khusus untuk membebankan biaya tinggi bagi dua orang ini. Kasak kusuk terjadi.. waktu berlalu sepuluh tarikan nafas. Dua puluh tarikan nafas lewat. Hingga pada akhirnya. Seorang yang menjadi pemimpin penjaga itu mengambil alih masalah.


Sesungguhnya dia melakukan hal beban biaya yang tinggi kepada Sima Yong dan Mismaya, disebabkan dia diam-diam mencermati dan menaksir isi tas membumbung gendut yang disampirkan pria muda berjubah kelabu itu. 


   Sejak pagi-pagi ketika melihat menggunakan teropong nya, terlihat dua orang - manusia dan peri - terbang mendaki ke Kota di Puncak Tebing yang kaum Klan Roc yang dinamakan Kota Terminus. Pemimpin penjaga gerbang bertubuh gemuk ini sangat yakin kalau anak muda berpakaian kelabu itu adalah saudagar kaya. Hal ini semata hanya memperkirakan saja tatkala melihat pria berbaju kelabu yang membawa tas tata ruang berisi banyak benda. . 


   


   Penampakan tas yang terlihat gendut menyembul, pertanda seperti isi didalamnya tidak muat lagi. Padahal itu adalah tas tata ruang yang mungkin menampung hingga puluhan tombak barang. Dengan cepat dan rasa serakah yang muncul, pemimpin penjaga itu menyimpulkan kalau pria baju kelabu itu pasti seorang seorang saudagar kaya.. 


"Aku yakin dia akan membawa membawa banyak barang langka untuk di jual di Toko Tuan Alrin.


Sudah sepantasnya dia memberikan Eliksir peringkat atas kepada kami, setelah nanti meraup keuntungan dengan cara berdagang di kota ras Roc kami" senyum tersungging di bibir ras Roc gemuk itu.


***


"Er.. begini nona.. setelah aku mencoba menghubungi atasanku, dia memberitahu kalau jumlah dua puluh Eliksir Merah Jambu itu kini mendapat diskon sehingga nona cukup membayar sepuluh Eliksir Merah jambu, untuk kalian berdua" kata Pemimpin pengawal itu tanpa malu-malu.


Dia pemimpin itu adalah seorang pria keturunan mahluk burung yang berbadan agak gemuk, dengan hidung bengkok seperti paruh burung. Wajahnya terkesan licik dan serakah. Nama si pemimpin penjaga itu adalah Nokin.


   Di lain pihak Sima Yong sendiri merasa terlalu malas untuk meladeni kawanan cacing dari ras burung ini, Ia terlihat langsung merogoh cincinya untuk membayar biaya masuk sepuluh Eliksir merah jambu.


"Tahan !" kata Mismaya menengahi. Gadis peri itu masih belum puas dengan pungutan liar itu. Menurutnya tindakan memungut sepuluh Eliksir merah jambu masih terlalu banyak. 

__ADS_1


"Itu masih terlalu banyak tuan muda" rengek Mismaya.


   Namun Sima Yong lantas melempar sepuluh Eliksir merah jambu ke arah Nokin dan berlalu memasuki gerbang kota. Mismaya langsung memasang wajah cemberut ketika melihat Nokin dengan kawan-kawannya terlihat sangat gembira. Pikir mereka, tuan muda ini terlalu manja dan uangnya ada terlalu sangat banyak. Dia tanpa segan-segan membayar sepuluh Eliksir peringkat tinggi hanya untuk memasuki Kota Terminus.


   Mismaya mengeluarkan kata-kata gerutuan ketika melewati Nokin dan kawan-kawannya. Kata Mismaya,


"Kalian tidak tahu siapa tuan muda aku. Jika saja kalian tahu keahlian dan kecakapannya ... aku yakin kalian akan berlutut minta ampun" desis Mismaya ketika melewati kerumunan tentara penjaga gerbang. Dia lalu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi seperti gaya seorang perempuan bangsawan yang angkuh.


   Begitu dua orang itu, manusia dan peri itu menghilang ke dalam keramaian di Kota Terminus, Nokin lantas memanggil semua bawahannya dan memulai rapat kecil-kecilan. Entah apa yang menjadi topik bahasan mereka.


Di sela-sela rapat kecil mereka, berulang kali Nokin memalingkan muka dan memandang ke arah mana Sima Yong dan Mismaya menghilang.


Setelah selesai dengan rapat mininya, salah satu anak buah penjaga gerbang kota berlari-lari mengejar ke arah mana Sima Yong dan Mismaya menghilang.


******


   Kota Terminus adalah kota ketiga terbesar di Realm Magical Beast ini. Tentu saja hal ini karena selain besar dan modern, ada banyak sekali ras mahluk-makhluk ajaib dan langka yang berseliweran di jalanan kota. Namun menurut pendapat Sima Yong, mungkin ia adalah satu-satunya ras manusia atau Elf yang memasuki kota itu.


   Sinar ufuk barat yang lembut itu jatuh menimpa kulit Sima Yong ketika ia tengah melihat-lihat tempat penginapan yang pantas untuk mereka. Kemudian pilihannya jatuh kepada Villa Atmotide - yang dalam pandangannya Villa ini memiliki fasilitas restoran dan rumah teh.


"Mari kita memesan kamar lalu duduk-duduk menikmati keindahan kota dari loteng restoran dan rumah teh Villa Atmotide" kata Sima Yong.


Suasana kota yang indah membuat siapapun akan segera kepingin untuk bersantai-santai.


Mismaya tidak segera mengiyakan. Dengan ragu-ragu dia menjelaskan.


"Menurutku, penampilan tuan muda sudah seharusnya diubah. Rata-rata pria di Kota Terminus ini terlihat amat elegan dalam balutan busana terkini" Mismaya ragu-ragu mengeluarkan pendapat. Dia hanya menatap busana Sima Yong dan tidak berkata-kata lebih lanjut.


   Memang seingat Sima Yong, terakhir kali ia mengganti pakaian nya adalah di Negeri Tanaman Obat wilayah Barat Laut lalu. Pakaian ini telah mengalami banyak terpaan hujan, badai dan sinar matahari. Sehingga meskipun tidak kotor namun warna baju dan jubahnya mulai memudar (ia membersihkannya secara rutin dengan membacakan mantra pembersih).


"Aku melihat ada toko pakaian yang menjual berbagai bahan terbaik di toko sebelah Villa Atmotide" kata Mismaya.

__ADS_1


"Kudengar .. Toko Busana di sebelah Villa Atmotide ini, menjual bahan-bahan yang langka dan mahal. Ahli-ahli kelas tinggi dan kaum bangsawan di Realm ini, rata-rata membeli bahan kain bermutu buatan kelompok pengrajin ras burung ini" Mismaya melihat bola mata tuan mudanya bergerak.


"Ah semoga ia mau mengganti pakaiannya dengan yang terbaru. Kemudian aku akan membawanya ke toko perhiasan.. hm" Mismaya tekikik di dalam hati membayangkan rencananya.


    Ras burung adalah sama seperti keturunan ras Roc ini. Mereka adalah kelompok yang terbaik dalam memintal bulu-bulu burung mereka yang rontok menjadi satu lembar kain bermutu tinggi. 


   Proses nya amat rumit, dimulai dengan melakukan pengumpulan bulu rontok tersebut yang memakan waktu hingga bertahun-tahun, kemudian menenun secara manual yang membutuhkan keterampilan khusus. Olehnya, selembar kain tenunan dari bulu yang mereka buat di jual dengan harga yang amat mahal.


   Di toko busana eksklusif bernama Toko Bintang Nebula, Sima Yong sibuk memilih-milih bahan yang cocok. Pemilik toko yang juga seorang keturunan Roc - juga merupakan praktisi di ranah Alam Spirit Agung, sesuai hasil pindaian Sima Yong, menyodorkan beberapa opsi untuk dipilih anak muda itu.


   Memang sejak awal-awal mereka memasuki Toko Bintang Nebula, peri kecil itu telah mewanti-wanti pemilik Bintang Nebula agar menyodorkan bahan-bahan terbaik dan paling mahal..


"Tuan muda ku ini adalah seorang bangsawan ras Elf. Tentu saja dia tidak suka dengan barang-barang kualitas rendah, yang dibuat secara masal.


   Tolong keluarkan hanya bahan terbaik yang anda miliki dari koleksi rumah busana ini" kata Mismaya menyombong.


   Bos atau Laopan Toko Busana Bintang Nebula tentu saja percaya. Seseorang dengan membawa pelayan dari Ras Peri - itu bukanlah seorang yang dapat dianggap sederhana. Kaum Peri amat tinggi menilai diri mereka dan tidak sudi untuk menjadi sekedar pelayan dari ras lain. 


   Jadi Laopan ini menduga Sima Yong memang seorang bangsawan Elf - Elf adalah salah satu ras mulia yang sangat dihormati di kalangan Magical Beast. Kemampuan mereka mengolah sihir membuat semua magical beast terpesona sekaligus ketakutan untuk mencari masalah dengan ras Elf ini. 


"Ah.. pilihan anda sangatlah tepat tuan muda.


   Kain yang ditenun dari sisa bulu Roc itu amatlah lembut dan nyaman ketika di jadikan busana.


   Semua keajaiban yang dimiliki kelompok keturunan burung perkasa ini akan menjadi bagian dari tuan muda. Anda dapat melayang lebih ringan jika menggunakan busana bahan ini.." kata Laopan itu memuji.


"Aku kepingin yang berwarna kelabu. Apakah itu tersedia?" tanya Sima Yong.


Bersambung


    Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3

__ADS_1


__ADS_2