
Salah satu sosok bersayap yang kesemuanya mengenakan pakaian berwarna gelap itu melobangi dinding kamar di lantai dua yang paling ujung. Dia lalu memasukkan semacam bambu kecil melewati lubang dan meniupkan asap yang muncul dari dalam mulut - setelah sebelumnya mengunyah sesuatu pil.
(Perlu diketahui pada jaman itu, dinding kamar yang seperti jeruji kotak-kotak hanya dilapisi dengan kertas tertentu, sehingga pencuri atau pengintip hanya memerlukan satu jari untuk membuat lobang di pembatas kamar. Terkadang pula kertas tersebut bermotifkan corak khas daerah masing-masing di Benua Silver)
Wush !
Asap putih dengan cepat memenuhi kamar yang mereka tuju, membuat siapapun yang berada di dalam kamar itu, pasti akan jatuh tak sadarkan diri. Teknik seperti ini umumnya digunakan oleh tikus pencuri barang di penginapan atau digunakan Jai Hwa Cat (Lelaki hidung belang pemetik bunga) yang akan membuat korban menjadi tertidur pulas.
Mata-mata serakah terlintas berkilat-kilat di bola mata tiga sosok itu. Meskipun wajah mereka terselubung kain hitam, namun melihat mata berkilat-kilat seperti itu, jelas-jelas menunjukkan wajah tawa kemenangan di balik cadar mereka.
"Mari kita masuk" kata salah satu sosok itu.
Dengan tidak menimbulkan keributan sama sekali, mereka membongkar pintu kamar tersebut.
"Sesuai instruksi komandan, mari kita bunuh dia terlebih dahulu" kata salah satu nya.
Lalu dengan aba-aba tanpa suara, ketiga sosok itu lantas menusuk satu figur di ranjang yang tertutup dengan kain.
Sreeet !
Mata tombak yang tajam-tajam itu merobek-robek gulungan kain yang menutupi bantal diatas ranjang. Pecahan kain beterbangan, dan jatuh pelan-pelan membuat lantai di kamar itu menjadi berantakan.
"Dimana dia?" suara salah satu penyusup itu terdengar seperti tercekat. Dia menjadi sangat terkejut ketika melihat sosok di balik kain selimut, hanyalah sebatang kayu cukup besar, yang cukup memadai untuk mengelabui orang jika tertutup dengan kain atau selimut.
"Kita harus segera pergi.." suara ngeri terdengar dari salah satu sosok itu. Lanjutnya..
"Orang itu, target kita ternyata memiliki kepandaian yang tinggi" suara sayap dikepak dengan kencang lantas ribut terdengar membelah malam. Tiga sosok itu tanpa malu-malu kini membuka dan menampilkan dengan lebar sayap coklat mereka, lalu melompat menerobos dinding kayu dilapisi kertas - kini terbang tinggi untuk melarikan diri.
__ADS_1
Suiitt !
Suara siulan itu terdengar tak kalah kerasnya dibanding kepakan sayap tiga sosok penyusup yang kini berubah menjadi pelarian. Seketika itu juga tiga sosok itu merasa merinding mendengar siulan membelah malam. Tanpa mereka sadari, semuanya merasakan kulit kepala mereka seperti kesemutan dan semua bulu-bulu di punggung tangan seketika berdiri.
"Dia seorang ahli di peringkat Alam Melintas Immortal" tangis salah satu kawannya. Sementara itu dua kawan lainnya terlihat pucat - berusaha sekeras mungkin untuk terbang lebih tinggi dan menghilang di balik awan.
Sayang seribu sayang bagi tiga pelarian itu. Tiga pedang kristal yang terbentuk dari genangan embun, terlihat melesat cepat mengejar keberadaan mereka.
Tanpa sempat mengeluarkan jeritan apa-apa, tiga pelarian itu langsung meregang nyawa di tempat, tatkala pedang kristal itu dalam gerakan tanpa ampun menembus punggung dan mengoyak jantung mereka. Teknik lawan yang menggerakkan embun pagi menjadi pedang berbahaya seperti itu, amatlah jarang sekali dikuasai oleh siapapun dari ras manapun.
Tentu saja kalian semua dapat menebak siapa pengendali air yang membunuh tiga penyusup itu bukan? Benar itu adalah Sima Yong. Ia menatap hampa kearah tiga sosok yang jatuh bebas dari ketinggian awan, lalu berubah menjadi bubur tatkala jasad mereka menyentuh tebing cadas yang berbentuk seperti pedang-pedang tajam di bawah sana.
"Kapan kapan aku akan mengunjungi Nokin pemimpin pengawal penjaga gerbang kota.
Aku tidak akan berbelas kasihan pada siapapun yang berniat membunuh dan melenyap kan diriku"
Sima Yong lantas berbalik dan berjalan tenang ke arah Villa Atmotide. Beberapa orang yang mendengar ada suara ribut-ribut, terlihat keluar dari rumah mereka. Namun kini diluar sana terlihat tenang-tenang saja. Pertempuran tadi terjadi terlalu amat cepat, yang kini hanya menyisakan kabut malam yang mulai berjalan pelan menyelubungi Kota Terminus.
******
Keesokan paginya, ketika matahari baru saja bersinar, Sima Yong telah siap. Ia lalu mengajak Mismaya untuk mengunjungi kawasan pertokoan di Kota Terminus itu. Diantara jejeran banyak toko yang terlihat menjajakan barang menarik di display toko mereka, Sima Yong memilih memasuki toko yang terlihat tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil.
"Aku harus buru-buru menyuling Artefak Sarung Tangan (Gloves) pengendali petir dan kilat itu.
Peperangan dan pertempuran di masa depan, akan semakin membutuhkan keahlian khusus" batin Sima Yong. Ia membayangkan Mahluk-mahluk jelmaan Bijuu yang menguasai hingga lima elemen dunia.
"Setidaknya dengan mengendalikan Elemen petir nanti, aku dapat meningkatkan kualitas tempur, sehingga chakra angin dan air ku akan layak diperhitungkan Bijuu terakhir - Yamato no Orochi" batin Sima Yong antusias.
__ADS_1
Ia teringat akan penjelasan mengenai Bijuu terkuat Yamato yang membentuk aliansi dengan Bijuu lain yang disebut Nekomata - di masa lalu perang para dewa, hampir membuat Benua Timur menjadi hancur. Sehingga Sima Yong berpikir, bahwa ia harus menguasai lebih banyak elemen sebagai pengendali cakra mengingat rata-rata Bijuu yang akan dihadapinya adalah penguasa berbagai elemen yang amat mengerikan.
******
Toko yang memasang merek dagang "Toko Aros - menjual segala macam barang kebutuhan seorang alkemis atau ahli sihir" itu, terlihat menarik perhatian si anak muda.
Di dalam toko, ia melihat tidak terlalu banyak pelanggan yang datang untuk berbelanja. Ada tidak lebih dari lima petugas toko yang merupakan jajaran makhluk ras burung-burung atau Avianse yang bertugas memberi penjelasan kepada calon pembeli.
Pada kenyataannya, Kota Terminus ini memang merupakan kota yang menjadi tempat atau markas utama Klan Roc, salah satu jenis Avianse keturunan Roc makhluk mitology yang memiliki garis darah amat perkasa.
Namun di kota ini juga, ada banyak sekali jenis-jenis ras avianse dari jenis yang berbeda dari ras Roc. Armadyl adalah salah satu ras burung-burungan ini yang konon merupakan Dewa pelindung burung dan unggas. Sayang sekali di dalam peperangan antara para dewa Armadyl ini mengalami kemerosotan setelah kehilangan pemimpin-pemimpin kuat mereka.
Dan disini, di Kota Terminus inilah, beberapa sisa-sisa kelompok Armadyl ini berdiam dan bekerja pada pemilik Toko Alkimia Aros yang dimiliki Tuan Alrin, salah satu keturunan dari dewa Armadyl itu. Tuan Alrin sendiri pada akhirnya lebih mengkhususkan diri dalam bidang alkimia dan menjadi pedagang besar sekaligus alkemis ternama. Tuan Alrin mempekerjakan beberapa kelompok Armadyl untuk bekerja di toko alkimia miliknya.
"Tuan muda.. apakah anda membutuhkan sesuatu yang khusus?" tanya.
Seorang pria usia empat puluhan berbadan kekar, mengenakan ikat kepala dengan raut wajah tegas mendekat dan dengan sopan bertanya.
Sima Yong memasang wajah ramah, lalu bertanya dengan ramah,
"Aku membutuhkan inti batang Pohon Saga Benua Timur berusia 500 tahun. Juga Jamur Shiitake asli dari Timur berusia minimal 500 tahun.
Akan lebih baik jika kalian menjual tulang naga muda yang berumur setidaknya 1000 tahun" pungkas Sima Yong.
Wajah pria Armadyl itu langsung berubah seperti orang terperanjat. Katanya,
"Itu semua adalah bahan yang amat langka dan di pasang harga sangat mahal sekali. Apakah Tuan muda memang berniat untuk membeli barang-barang langka itu?" tanya penjaga Armadyl.
__ADS_1
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3