Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Di Alun-alun Kotaraja Ju Ying


__ADS_3

“Berhenti…!!” bentak pria berbusana hitam ke arah Sima Yong.


   Tampaknya pria ini tidak sabar untuk menjajal kemampuan anak muda yang kabarnya seorang Alkemis itu. Dia mengambil kesempatan ketika mereka melintasi Lorong tinggi yang tidak diawasi siapapun.


   Sementara itu Pangeran ketiga tampaknya membiarkan pria berbaju hitam itu membentak Sima Yong. Rupa-rupanya Pangeran Ju Kai ini ingin mengetahui sejauh mana kemampuan Alkemis muda yang konon dapat membuka simpul energi Pangeran Ju Qin.


   Sambil memutar badan kearah berlawanan, Sima Yong menatap dingin kearah pria berbaju hitam itu…


“Tuan… sepertinya anda selalu mencari gara-gara dengan ku. Sejak awal tadi aku telah mencoba menahan diri, mengingat usia anda yang lebih senior dibanding diriku. Namun sekarang ijinkan aku bertanya… apakah yang menjadi kemauan anda???”


   Merasa terkejut melihat keberanian pemuda alkemis itu, sip ria berbaju hitam tertawa dengan paksa…


“Hahaha… tahan sabar dirimu anak muda. Jangan keburu emosi. Aku yang tua ini hanya telah mendengar kabar berita bahwa anda memiliki kemampuan tinggi sebagai seorang Alkemis, bahkan konon anda adalah alkemis Peringkat Sembilan….”


   Pria berbaju hitam itu lalu berjalan secara dramatis mengelilingi Sima Yong dan memperhatikan anak muda itu dari atas kepala hingga ke kaki….


“Sebagai seorang Praktisi yang berkultivasi didalam seni racun, aku merasa tertantang mendengar seseorang yang memiliki kemampuan lebih di dalam bidang alkemis seperti anda. Dengan jelas aku katakan… aku ingin menantang tukar ilmu dengan kemampuan anda” Kata pria itu.


Sambil mengernyitkan dahi, Sima Yong menjawab…


“Baiklah… anda ingin mencoba kemampuan aku yang muda ini dalam bidang apa??? Apakah dalam bidang pertempuran atau dalam bidang alkimia???”


   Pangeran Ketujuh telah terlihat gelisah, dia berbisik ke Sima Yong dan meminta pemuda itu menyudahi pertikaian diantara mereka. Terlalu beresiko untuk membuat keributan di Istana Kaisar..


“Pangeran tidak perlu kuatir, aku akan membereskan orang ini tanpa suara dan dengan cepat” bisik Sima Yong.


   Pangeran ke tujuh meskipun masih khawatir, namun dia percaya dengan kata-kata Sima Yong.


“Aku ingin menjajal kemampuan tempur dan kemampuan alkimia anda dalam sekali jalan… apakah anda berani???” tantang pria itu.


   Pria berbusana hitam ini sebenarnya adalah Master Sekte Du Hua atau Sekte Bunga Beracun. Dia Bernama Du Li yang memiliki kultivasi di ranah Kuasi Alam Melintas Sage.


   Meskipun Du Li memiliki kultivasi setengah Langkah menuju Alam Melntas SAGE, akan tetapi didukung dengan penggunaan racun didalam sebuah pertempuran… bahkan seorang Ahli di Ranah Alam Melintas SAGE level dua harus berhati-hati jika berhadapan dengan nya.


   Oleh karena itu, Du Li amat percaya diri untuk menantang Sima Yong si Alkemis yang di dengarnya memiliki Kultivasi sama dengan dia. Peringkat Setengah Langkah Melintas SAGE. Akan tetapi patut disayangkan…. Du Li tidak pernah tahu kalau pemuda alkemis itu telah menerobos ke ranah Melintas SAGE level dua beberapa waktu yang lalu.


Sima Yong kini terlihat tersenyum…


“Baiklah jika anda menghendaki demikian. Pertempuran menggunakan racun… aku setuju”


“Suuiiitttt”


   Sebuah angin berisi serangan kombinasi antara energi Qi dengan hawa berbau busuk terlepas dari tangan Du Li dan mengunci kearah Sima Yong. Du Li berniat setidak nya pria yang di sebut alkemis itu setidaknya cacat dalam serangan beracun itu. Dia tidak bermaksud membunuh… terlalu beresiko melakukan pembunuhan di area istana seperti itu.


“Wush… “ hawa busuk yang menjijikkan itu hanya melewati kepala Sima Yong, tatkala anak muda itu menggoyang badannya dalam Gerakan yang nyaris tak terlihat. Dia bergerak begitu indah dan meliuk ibarat seonggok kapas tipis yang bergerak mengikuti angin.


   Melihat serangan nya gagal begitu saja, sebuah pedang saat itu juga telah berada dalam genggaman Du Li langsung ditusuk dengan mengeluarkan suara mencicit yang membuat kuping terasa pekak.


“Tsing…”


   Pedang berwarna hitam yang mengandung racun itu terhenti di tengah jalan, tatkala Sima Yong mengibas lengan bajunya.


   Du Li tercengang melihat atraksi tenaga Qi yang perlihatkan alkemis muda itu.


“Bukankah dia hanya praktisi di ranah setengah Langkah Melintas Sage sama seperti aku??? Dari mana kekuatan sebesar ini yang mampu menghentikan serangan ku??? Jangan-jangan informasi yang diberikan mengenai alkemis ini salah” perasaan dingin mulai melanda Du Li. Dia menjadi bimbang dengan kemampuan alkemis muda itu.

__ADS_1


“Kraak..!!”


“Duk…!!”


   Pedang yang terhenti di udara itu terlihat patah… Mata Du Li melotot. Dia sangat terkejut melihat kekuatan alkemis muda yang dengan mudah membuat rusak senjata pedang beracun itu.


“Wushh…”


   Du Li kehilangan akal ketika secara tak terduga tangan alkemis muda itu bergerak amat cepat, dan tanpa dia sangka tangan halus dan kurus itu kini telah mencekik lehernya.


   Du Li perperanjat didalam takut. Sedikit saja anak muda itu menggerakkan cengkeraman nya, niscaya leher Du Li akan patah… keringat dingin berguguran di keningnya.


“Mohon berbelas kasihan anak muda ….” Suara Du Li yang tadi nya terdengar angkuh kini merendah.


“Ini hanyalah sebuah uji kekuatan, mohon berbelas kasih untuk tidak mengambil nyawa”


   Sima Yong menatap dingin kearah Du Li, lalu dengan keras dia membanting pria itu ketanah… Du Li jatuh membentur tanah seperti karung basah yang di lempar.


“Untuk sekali ini, aku masih berbelas kasih. Jika di pertemuan selanjutnya maka aku tidak akan segan mencabut nyawa anda…” Sima Yong lalu berputar dan mengajak Pangeran Ketujuh untuk pergi.


   Tersisa Du Li yang masih duduk di tanah dengan dada yang masih sesak dan berkeringat dingin. Jika saja alkemis itu berniat lebih… nyawanya telah pergi sejak awal. Pangeran ke tiga hanya terbengong menyaksikan kepergian Sima Yong Bersama Pangeran ke tujuh. Sepertinya dia harus semakin berhati-hati dengan Pangeran ke tujuh.


>>>>>>


   Kapal Roh Raksasa itu terlihat melayang diatas alun-alun Kotaraja Ju Ying. Tampak berbaris kurang lebih 150 tentara yang di sebut 1 kompi pasukan khusus kekaisaran Rajawali Agung (1 kompi terdiri dari 3 peleton. 1 peleton berisi 30 sd 40 prajurit).


   Pasukan ini terbagi tiga, masing -masing kompi menggunakan bendera berwarna merah, biru dan hijau. Pasukan ini di  pimpin seorang Komandan Kompi berpangkat Kapten bernama Liao Quon. Liao Quon ini memiliki Kultivasi di ranah SAINT bumi level satu.


   Sedangkan rata-rata prajurit itu memiliki kultivasi setara Alam Raja Bintang 3 sd bintang 5. Kelompok prajurit ini benar-benar prajurit pilihan. Kultivasi mereka menyamai ahli kelas menengah di Wilayah Tengah, bahkan masuk kategori ahli kelas atas di wilayah lain benua Penyaringan Dewa.


   Dengan Gerakan teratur, satu demi satu pasukan tentara pilihan itu melompat lalu terbang melayang keatas kapal roh raksasa yang berlabuh di langit Alun-alun. Nyata benar ketika orang-orang menonton penampilan pasukan khusus itu melompat kearah kapal.


   Orang-orang yang menonton di alun-alun langsung bergemuruh dalam tepuk tangan dan sorak sorai melihat ketrampilan prajurit pasukan khusus itu.


“Hidup Kekaisaran Rajawali Agung”


“Hidup Pangeran ke Tujuh….”


   Alun-alun serasa akan meledak dengan tepuk tangan dan sorak sorai itu. Perjalanan ke Timur itu seketika membangkitkan rasa bangga di hati penduduk setelah melihat para pahlawan muda kekaisaran mereka tampil dengan trampil.


   Setelah keadaan menjadi tenang, kini tampak sepuluh orang berbalut pakaian tentara namun berwarna serba hitam berjalan di alun-alun. Penampilan mereka amat menarik perhatian.


   Sepuluh orang itu terdiri dari ras Nanren dan Jingling. Tiga diantara mereka adalah Wanita.


“Tahukah kamu??? Mereka sepuluh orang itu adalah penyihir…” bisik bisik diantara penonton.


“Benarkah??? Apakah di perlukan penyihir didalam kunjungan persahabatan seperti itu??” tanya yang lain.


“Lalu… apakah kamu berpikir bahwa angin untuk menerbangkan kearah mana kapal pergi… hanya mengandalkan angin alam semata??? Tidak kah kamu tahu bahwa penyihirlah yang mengendalikan angin untuk mengarahkan kapal roh menuju kemana tujuan mereka??” dengan sinis penonton itu menatap orang yang menanyakan keberadaan penyihir didalam perjalanan Pangeran ketujuh.


   Setelah sepuluh penyihir itu melayang terbang dan mendarat di atas kapal roh, kini terlihat Pangeran Ke tujuh melompat terbang keatas kapal roh raksasa. Tampak dari jauh, pangeran ketujuh di damping empat orang lainnya.


   Kembali penonton di buat ribut dengan diskusi untuk menggali informasi. Siapa saja yang pergi mendampingi Pangeran Ketujuh Ju Qin.


“Pria yang mengenakan pakaian tentara kekaisaran itu adalah Guru pangeran ke tujuh Bernama Ju Lianyi. Sedangkan tiga yang lain aku tidak tahu siapa”.

__ADS_1


    Seorang penonton menyela dan memberi informasi melengkapi penjelasan penonton lainnya…


“Dua diantara tiga orang tersisa itu adalah masing-masing ketua Sekte Pedang Pembasmi Iblis Zhang Junda serta Master Hua Shen dari Sekte Gunung Bunga Lanhua. Dua orang ini adalah ketua sekte bintang 8 yang khusus mendalami ilmu pedang”


   Suara decak kagum terdengar diantara penonton setelah mengetahui kemampuan ahli yang mendampingi Pangeran ke tujuh.


“Akan tetapi saudara-saudara… siapakah pemuda tampan yang mengenakan jubah kelabu itu??? sepertinya kami belum pernah mendengar seorang ahli seperti itu”.


   Yang di maksud oleh penonton itu tentu saja Sima Yong. Akan tetapi karena dia belum menunjukkan kemampuan di wilayah tengah ini, tentu saja Namanya belum dikenal khalayak ramai.


“SSttttt… saat nya petunjukkan dimulai” kata seseorang yang langsung membuat kawanan penggosip itu diam.


“Wusshh”


Alun-alun mendadak sepi Ketika seorang yang menjadi Kapten Pasukan Tentara itu melompat keatas tiang kapal yang paling tinggi..


Lalu suara kapten itu terdengar demikian keras, dia meneriakkan aba-aba….


“Lepaskan tali…..” tampak para prajurit di lapangan alun-alun berlari melepaskan tali kapal yang terikat di 4 tiang di alun-alun.


   Penonton bergemuruh berdesakan untuk melihat lebih dekat kapal roh yang melayang 10 meter diudara itu.


“Kembangkan layar….” Aba aba terdengar ….


“Wushhh…”


   Dengan sigap prajurit yang telah siap di tempatnya melepaskan tali yang mengikat gulungan layar, sehingga kini Ketika layar telah terkembang penuh, kapal roh itu semakin terlihat indah. Penonton semakin ribut didalam pekik pujian penuh kekaguman.


   Ketika pada akhirnya, aba-aba terakhir yang diteriakkan komandan itu adalah…


“Angin ke Timur….” Dua orang Penyihir yang terdiri dari ras Nanren dan Jingling terlihat membentuk segel khusus, lalu didalam sebuah teriakan melengking kedua nya bersamaan melambaikan tangan kearah layar yang terkembang itu.


   Seolah-olah di terpa angin yang keras, seketika layar kapal raksasa itu terkembang, dan kapal bergerak mengangkasa lebih tinggi….


   Penonton bersorak-sorai melihat penampilan 2 penyihir yang secara dramatis mampu mengendalikan angin itu. Seolah ingin mem- pertontonkan keahlian mereka sekali lagi dua penyihir membentak dengan keras…


“Pergi….”


   Bagaikan kapas yang di tiup angin kencang, seketika itu juga kapal roh raksasa itu melejit berpindah hingga jarak 1 lie jauhnya. Penonton semakin bersorak sorai meng-elu-elukan Pangeran ke tujuh bersama semua yang mendampinginya, sementara pangeran Ju Qin berdiri di buritan kapal sambil melambaikan tangan.


   Sekali lagi dua penyihir itu melambaikan tangan dan kapal langsung berpindah  lie. Kapal roh itu terlihat mengecil…. Lalu tidak terlalu lama untuk kapal itu menghilang dari pandangan semua orang………..


   Jerit histeris penuh rasa kagum serta doa menyertai Pangeran ke tujuh menuju Negri Embun Timur. Sementara itu dari kejauhan di sebuah Menara yang tidak terlihat oleh Pangeran ketujuh, tampak Pangeran Ju Kai membanting alat teropong jarak jauhnya.


   Dia mencaci maki Ketika melihat rencananya untuk mencelakakan Ju Qin, malahan membuat Pangeran ke tujuh itu memperoleh panggung dan pujian di mata rakyat Negri Rajawali Agung. Secara khusus rakyat di Kotaraja.


  Ju Kai tahu benar, berita mengenai kemegahan keberangkatan Ju Qin ini akan membuat heboh serta menjadi kisah heroik yang di nyanyikan atau di jadikan puisi oleh pelantun dan sastarawan Negri ini.


   Dengan nada penuh amarah Ju Kai berkata kepada Kasim Xia Feng…


“Guru… kirim berita kepada ronin Negri Matahari Timur. Pastikan kelompok ronin itu akan membunuh seisi kapal terkutuk itu, tiada tersisa….”


(Gaes… beberapa hari kedepan author hanya dpt menerbitkan satu chapter saja. Alasan adalah kesibukan dunia nyata. Jika ada waktu lowong makan author akan melakukan tambahan chapter. Terima kasih dan dukung terus karya author).


*Bersambung*

__ADS_1


*   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.*


*   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.*


__ADS_2